Francisco Garate lahir pada tanggal 3 Februari 1857 dari keluarga petani yang tinggal di Azpeitia, daerah di mana orang-orang Basque, seperti Ignatius Loyola, pernah lahir dan hidup. Pada umur 17 tahun dia masuk Novisiat Serikat Yesus di Poyanne Perancis, dan mengucapkan kaul pertamanya dalam Serikat Yesus sebagai Bruder pada tahun 1876. Selama 10 tahun ia mengabdikan dirinya untuk bekerja sebagai koster dan perawat di rumah sakit di Kolese La Guardia. Dia mengucapkan kaul terakhirnya pada tanggal 15 Agustus 1887. Sejak akhir Maret 1888 dia ditugaskan untuk menjadi koster dan penjaga pintu di Universitas Duesto, di Bilbao Spanyol.
Selama 42 tahun Bruder Francisco menjadi koster dan penjaga pintu Universitas Duesto milik Yesuit ini. Dia dikenal sebagai Bruder yang Baik Hati. Kinerjanya sebagai penjaga pintu sungguh dikagumi banyak orang: ramah, trampil dalam bernegosiasi, rendah hati, bijaksana, dekat dan akrab dengan Allah. Keutamaan-keutamaan dipraktekkan di dalam segala aspek kehidupannya secara luar biasa.
Sebagai penjaga pintu, Bruder Francisco mampu secara sempurna meneladan keutamaan yang dimiliki oleh seorang Bruder lain yang pernah hidup sebelumnya, yaitu Bruder Alphonsus Rodriguez SJ (1533-1617). Banyak orang menilai bahwa Bruder Francisco itu meniru persis Bruder pendahulunya yang secara konsisten ramah, sabar, dan cara bertindak yang tak kenal lelah ketika ia menjalankan tugasnya sehari-hari.
Ketika Pietro Boetto SJ, yang kemudian menjadi Uskup di Keuskupan Agung Genoa, bertanya kepadanya tentang bagaimana dia dapat menjaga diri untuk tetap ramah, tenang, tidak grundelan, tidak menggerutu, tidak bersungut-sungut, tidak mengeluh, dan tidak marah, tetapi tetap sabar sementara tuntutan pekerjaan begitu padat menyibukkannya, dia menjawab: “Sejauh saya bisa, saya mengerjakan tugas-tugas saya dengan sebaik-baiknya, dan memang saya melaksanakan tugas-tugas saya itu dengan sebaik-baiknya. Tuhan mengerjakan sisanya. Dengan bantuan-Nya, segala sesuatu menjadi mudah dan indah untuk dikerjakan karena kita memiliki Tuhan yang baik.”
Bruder Francisco dipanggil Tuhan pada tanggal 9 September 1929. Jenasahnya semula dimakamkan di kuburan setempat, tetapi kemudian dipindahkan ke Universitas Duesto dan di tempatkan di halaman kapel. Proses investigasi dilakukan oleh Keuskupan Victoria dan dikirim ke Roma pada Februari 1941. Paus Pius XII pernah menyatakan bahwa Bruder Francisco memiliki keutamaan-keutamaan yang bisa dijadikan teladan bagi banyak orang. Karena itu, jenasahnya dipindahkan ke dalam kapel kecil yang sudah dipersiapkan di Universitas Duesto.
Ketika acara beatifikasi berlangsung pada tanggal 6 Oktober 1985, Beato Yohanes Paulus II mengatakan: “Pesan pengudusan yang diberikan oleh Beato Francisco Garate kepada kita sungguhlah amat sederhana dan jelas. Dari muda, Francisco membuka hati lebar-lebar untuk Kristus yang mengetuk pintu hatinya dan mengundang dia untuk menjadi sahabat dan pengikutnya yang setia.
Seperti Maria, yang dicintai Tuhan sebagai ibu-Nya, Francisco menjawab dengan murah hati dan percaya tanpa batas terhadap panggilan yang penuh rahmat itu… Kemurahan hatinya telah dibuktikan kebenarannya oleh para mahasiswa, para professor/dosen, para karyawan, para orangtua yang datang berkunjung ke Universitas, yang menyapa Bruder dengan kata-kata mesra “Bruder yang Baik Hati”, dan yang melihat di dalam diri Bruder sikap ramah dan menyenangkan, yang mencerminkan seorang pribadi yang penuh perhatian pada orang lain dan seorang pribadi yang sungguh dekat dengan Tuhan.
Bruder Francisco Garate SJ telah memberikan kepada kita kesaksian nyata dan konkret tentang nilai kehidupan batin seorang manusia yang merasul melalui pekerjaannya. Hasilnya, ketika orang menyerahkan dirinya kepada Allah dan memusatkan seluruh hidupnya di dalam Dia, maka orang itu tidak perlu menunggu apa yang akhirnya nanti menjadi buah dari kerasulan itu. Dari pintu masuk Universitas, seorang Bruder Yesuit membuat kebaikan Allah menjadi nyata hadir pada diri orang lain dengan mewartakan Injil melalui karya pelayanan yang sederhana, yang dilaksanakan dengan tenang dan rendah hati.”
Apakah kita juga bersedia untuk menjadi seorang pewarta Injil seperti itu? Beato Francisco Garate, doakanlah kami selama Tahun Iman ini. ***
Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja
Tampilkan postingan dengan label Kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah inspiratif. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 02 Maret 2013
Senin, 25 Juni 2012
Visi yang Mengobarkan Semangat
Kita sering merasa bosan dan jemu dengan pekerjaan kita
sehari-hari. Dari hari ke hari, itu-itu saja yang kita kerjakan. Tak ada
variasi, tak ada yang baru sama sekali. Akhirnya, dengan mudah kita tenggelam
dalam perasaan depresi yang tak mudah kita atasi. Perlahan-lahan kita mulai
benci dengan pekerjaan kita sendiri. Dan kita sungguh tak tahu lagi arti dari
pekerjaan kita lagi. Mungkinkah kita kisa mengalahkan rasa bosan, jemu,
depresi, dan tak berpengharapan itu dalam pekerjaan kita lagi? Daniel O’Leary, seorang penulis, guru dan pastor yang bekerja di salah satu paroki di Amerika, pernah penulis cerita seperti ini:
Ada
dua tukang sedang membangun tembok. Mereka menyusun dan melekatkan batu bata,
satu di ujung sini, lainnya di ujung sana.
Tukang yang satu selalu merasa malas untuk memulai bekerja. Ia tidak mempunyai
minat sama sekali untuk mengerjakan pembangunan tembok itu. “Tembok, ya tembok.
Saya sungguh-sungguh jemu, selalu harus menata bata demi bata, hari demi hari,
bulan demi bulan. Saya mengharap agar akhir minggu segera tiba. Saya membenci
hari Senin, di mana saya harus memulai pekerjaan ini lagi,” katanya. Tanpa
minat dan perhatian, pekerjaan itu akhirnya membunuh dia pelan-pelan.
Tukang lainnya berbeda pendirian dengannya. “Saya sedang
membangun gereja katedral,” katanya. Memang, batu bata yang ditatanya akan
menjadi tembok katedral di bagian barat. “Saya telah melihat paket rencana
pembangunannya. Katedral itu akan menjadi bagian yang indah. Saya tak dapat
percaya pada diri saya sendiri bahwa saya adalah bagian dari pembangunan itu,”
kata tukang ini. Ia bertutur lagi, bila
ia melihat anak-anak sedang bermain di sekitar tembok, ia akan melihat mereka
dan kelak anak-cucunya berdoa di dalam gereja, tempat yang suci dan indah itu
bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun lamanya.
Pastor O’Leary kerap menceritakan hal tersebut pada guru-guru,
pada para pekerja, bahkan pada para imam, atau siapa saja yang tak menemukan
lagi arti dalam pekerjaannya. Tiap kali mereka mendengar, mereka merasa digugah
lagi. Mereka merasa dihadapkan pada suatu horizon baru, yang tak terbatas
luasnya. Pekerjaan mereka adalah bagian dari horizon yang tak terbatas itu.
Memang, tak mungkin kita bisa tabah dan kuat dalam
pekerjaan kita, jika kita tidak berpengharapan bahwa pekerjaan kita yang rutin
itu adalah bagian dari rencana Tuhan yang besar dan luar biasa. Hanya dengan
cara ini kita dapat mengalahkan segala kejemuan dan kebosanan kita dalam
pekerjaan kita sehari-hari, yang rutin tanpa variasi. Sungguh, lewat pekerjaan yang paling rendah dan sepele pun kita sesungguhnya sedang menata batu bata bagi suatu katedral yang indah dan megah. Dan katedral itu bukan hanya untuk kita, tapi untuk anak cucu kita, turun-temurun. Anak cucu kita akan mengenang bahwa karya kita adalah tapak-tapak kaki Tuhan, yang akhirnya juga akan membimbing mereka untuk selalu teringat pada-Nya lewat pekerjaan mereka sendiri-sendiri.
Kamis, 31 Mei 2012
Kisah tentang Pensil
Seorang anak lelaki sedang memperhatikan neneknya yang
sedang menulis sebuah surat. Terhadap
butir pertama yang ditulis nenek, anak
itu bertanya: “Apakah nenek menulis sebuah kisah tentang apa yang telah nenek
kerjakan di masa lampau? Apakah kisah itu mengenai saya?”
Nenek itu berhenti menulis dan berkata kepada cucunya: “Aku
sedang menulis tentang kamu. Tapi hal yang jauh lebih penting daripada
kata-kata adalah pensil yang aku pakai untuk menulis ini. Aku mengharapkan kamu
kelak menjadi seperti pensil ini manakala
kamu nanti tumbuh menjadi dewasa.”
Anak lelaki itu tertegun, kemudian mengamati pensil
itu. Ternyata pensil itu bukan pensil yang istimewa. “Pensil itu pensil biasa,
tidak lebih daripada pensil yang lain. Pensil itu seperti pensil yang pernah
aku lihat”, kata anak lelaki itu.
“Tergantung pada bagaimana kamu melihat segala sesuatu. Ada
lima kualitas dari pensil itu. Jika kamu dapat mengelola lima kualitas itu,
kamu akan menjadi pribadi yang selalu damai bersama dunia.”
“Kualitas pertama: Kamu mampu menguasai segala sesuatu,
tetapi kamu tidak pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing
langkah-langkahmu. Kita menyebut tangan itu Allah, dan Ia selalu membimbing
kita sesuai dengan kehendak-Nya.”
“Kualitas kedua: Sekarang dan pada waktu yang akan datang,
aku akan berhenti menulis, dan menggunakan alat peraut pensil. Peraut pensil
itu akan membuat pensil sedikit menderita. Tapi setelah itu, pensil itu menjadi
jauh lebih tajam. Karena itu, kamu juga harus belajar untuk menanggung penderitaan dan kesedihan tertentu, karena
penderitaan dan kesedihan itu akan membuatmu menjadi seorang pribadi yang lebih
baik.”
“Kualitas ketiga: Pensil itu selalu mengizinkan kita untuk
menggunakan karet penghapus untuk meralat kesalahan. Hal itu berarti bahwa
mengoreksi sesuatu yang kita kerjakan itu bukan sesuatu yang jelek. Koreksi itu
membantu kita untuk tetap menapaki jalan yang benar menuju keadilan.”
“Kualitas keempat: Apa yang bermakna dari pensil, tidak
terletak pada unsur luarnya, tapi pada unsur dalamnya. Bukan pada kayunya, tapi
pada batu grafitnya. Karena itu perlu selalu diperhatikan bagian dalam dirimu,
apa yang terjadi pada bagian dalam dirimu.”
“Dan yang terakhir,
kualitas yang kelima: Pensil selalu
meninggalkan tanda. Demikian juga kamu.
Hendaknya kamu tahu segala sesuatu yang kamu kerjakan dalam hidup, yaitu:
meninggalkan tanda, sehingga kamu mencoba menjadi sadar akan setiap hal yang
kamu kerjakan.”
Sumber:
Paulo Coelho (2010), Like the Flowing River: Thoughts and Reflections, Harper Collins Publishers, London, p. 10-11.
Langganan:
Postingan (Atom)





