Hidup Berbagi

Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja
Tampilkan postingan dengan label hening. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hening. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Februari 2011

Jalan Menuju Damai



"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah" (Mat 5: 9)

Salah seorang murid bertanya kepada sang Guru: "Kapankah sang Guru dapat membedakan antara anjing dan domba, dari jarak yang agak jauh?"

"Tidak!", jawab sang Guru.

"Kapankah sang Guru dapat membedakan antara pohon ara dan pohon anggur?", tanya murid yang lain.

"Tidak!", kata sang Guru.

"Tolong, katakan kepada kami apa jawabannya", kata seorang murid.

"Ya", kata sang Guru yang bijak itu, "ketika kamu melihat wajah manusia, dan kamu memiliki terang di dalam dirimu untuk mengenali saudaramu dan saudarimu. Sampai kemudian malam tiba, dan pada saat kegelapan masih berada bersama dengan kita."

Marilah kita berdoa, dan mohon terang. Sebab, itulah damai yang tidak dapat diberikan oleh dunia.

Henri NJ. Nouwen, 2001, dalam "Finding My Way Home", p. 87.

Senin, 07 Februari 2011

Nyanyian Kehidupan Ibu Teresa


Hidup adalah kesempatan,
gunakanlah dia.

Hidup adalah impian,
wujudkanlah dia.

Hidup adalah tuntutan,
penuhilah dia.

Hidup adalah nilai berharga,
berhati-hatilah mengurus dia.

Hidup adalah kekayaan,
rawatlah dia.

Hidup adalah teka-teki,
pecahkanlah dia.

Hidup adalah nyanyian,
kidungkanlah dia.

Hidup adalah petualangan,
beranilah terhadap dia.

Hidup adalah cinta,
nikmatilah dia.

Kamis, 03 Februari 2011

Kepercayaan yang Tulus


Andrew Gilles (1870-1942) pernah menulis sebuah cerita pendek demikian:

"Tadi malam anakku yang masih kecil mengakui di hadapanku apa yang dia rasakan sebagai sesuatu yang salah. Dia berlutut di depan kakiku, dan berdoa sambil menangis: Tuhan yang mahakasih, jadikan aku seorang pria seperti ayahku, bijaksana dan kuat. Aku percaya bahwa Engkau bisa."

"Kemudian, ketika ia sudah tidur, aku berlutut di sisi tempat tidurnya, sambil mengakui dosaku, dan kemudian aku berdoa sambil menundukkan kepala rendah-rendah: Ya Tuhan, jadikanlah aku seorang anak, seperti anakku, yang sekarang ini berada di sisiku, murni, terus terang, dan percaya kepada-Mu dengan iman yang tulus."

Hidup yang Sukses


Seorang pemimpin perusahaan bertanya, apa yang dipikirkan sang Guru tentang rahasia hidup yang sukses.

“Membuat orang bahagia setiap hari.”

Setelah berpikir sebentar, sang Guru menambahkan: “Bahkan jika orang itu adalah anda sendiri.”

Satu menit berlalu. Dan sang Guru berkata lagi: “Terutama jika orang itu adalah anda sendiri.”

Keutamaan Suatu Bangsa


Ketika terjadi arak-arakan besar menyusuri desa-desa, para petani yang memakai pakaian compang-camping berdiri di pinggir jalan, menyaksikan kereta kuda yang dihiasi dengan kain sutra indah, tampak seperti kendaraan yang sedang melaju turun dari surga. Berlian bergantungan di jaket kuda, dan manik-manik emas menghiasi seluruh pakaian yang membalut tubuh kuda dan keretanya. Para petani yang menonton terheran-heran, siapa gerangan yang duduk di tengah kereta dengan berhiaskan kain sutra indah gemerlapan seperti itu. Para petani itu tidak pernah bisa membayangkan bahwa kekayaan seperti itu mungkin didapatkan dan mungkin dimilikinya.

Ketika arak-arakan itu menghilang saat menuruni jalan desa yang berdebu, Confucius menggeleng-gelengkan kepala dan berkata: “Kemakmuran suatu bangsa tidaklah terdiri dari kemakmuran material tetapi keadilan.”

Sambil menoleh kepada para muridnya, Confucius berkata: “Ingatlah akan hal ini. Mengumpulkan, menumpuk kekayaan itu memecah belah bangsa. Membagi, mendistribusikan kekayaan itu menyatukan bangsa!”

Minggu, 16 Januari 2011

Villa Dulcis



"Villa Dulcis" adalah dua kata dari bahasa Latin, “villa” (kata benda) dan “dulcis” (kata sifat), yang berarti: tempat istirahat yang manis; tempat istirahat yang indah, bagus, enak dan nyaman. Pemakaian dua kata Latin “villa dulcis” untuk blog ini, mendapatkan inspirasinya dari suatu pengalaman hidup yang menyegarkan, yang terjadi pada hari istimewa yang disebut “dies villae”, yaitu hari untuk berkunjung ke villa. Hari berkunjung ke villa itu terjadi pada hari libur, pada hari istirahat.

Pada suatu hari minggu, selepas makan pagi, saya bersama dengan beberapa teman yang sedang menjalani masa studi di Kolese Stanislaus Girisonta, pergi berlibur bersama ke sebuah villa di daerah Bandungan, yang dikenal dengan nama villa “Sine Wente”. Untuk acara liburan seperti ini biasanya sudah dipersiapkan lebih dulu: apa saja aktivitas yang akan dilakukan di sana. Ada doa bersama, jalan-jalan bersama, menikmati alam sekitar, makan bersama. Sudah barang tentu, tersedia juga waktu pribadi untuk diisi apa saja sesuai dengan selera. Tidak pernah terlupakan bahwa hari libur seperti itu karena hari istimewa, banyak waktu digunakan untuk relaksasi, refleksi dan baca-baca. Sepulang dari liburan, saya dan teman-teman sungguh merasakan adanya suatu kesegaran yang mampu memberikan energi baru untuk kembali menjalani hidup yang biasa dan rutin dengan semangat baru, penuh kegairahan.

Dewasa ini banyak orang tidak dapat menikmati liburan, entah karena biaya, karena waktu, karena kesempatan, atau karena situasi lain yang tidak memungkinkan. Karena kesibukan, orang tidak lagi bisa menyediakan waktu untuk hening sejenak, untuk menimbang-menimbang dan memberi makna dari peristiwa-peristiwa kehidupan. Banyak orang hanyut dalam kesibukan, dan mereka hidup dalam hiruk pikuk pengejaran. Dikejar oleh berbagai tuntutan: menyelesaikan studi dengan prestasi gemilang, mencari uang menumpuk kekayaan, mengejar target penjualan, menekan ongkos memaksimumkan keuntungan, mengejar kenaikan jabatan, menepati deadline laporan yang dijadwalkan, menentukan strategi untuk mendapatkan pendapatan optimal. Dewasa ini banyak orang terlena untuk mengejar uang, kekayaan, ketenaran, kehebatan, kekuasaan, tetapi mereka tidak mendapatkan kebahagian dan kedamaian hidup. Mereka mengalami kesepian, jauh dari sesama, dan lupa membangun relasi dengan sang pemberi hidup, yakni: Tuhan.

“Villa Dulcis” mengajak orang untuk singgah sebentar, meluangkan waktu hening, mendapatkan kesegaran, mendapatkan ruang untuk berefleksi, menimbang kehidupan, menimba visi baru dalam kehidupan, untuk merajut kehidupan baru yang lebih segar. “Villa Dulcis” adalah tempat yang nyaman bagi siapa saja untuk menyegarkan, merefleksikan, dan memperbarui hidup. Villa Dulcis is a convenient place for refreshing, reflecting, and renewing life. Saya berharap di tempat ini semakin banyak orang dapat berkumpul, berbagi refleksi, dan menikmati hari-hari istimewa, dies villae. @@@