Hidup Berbagi

Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja
Tampilkan postingan dengan label saints. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label saints. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Maret 2011

Teresa Bracco: Teguh dalam Prinsip

Teresa Bracco memilih mati daripada menyerahkan diri kepada tentara yang mengancam dirinya mau merenggut keperawanannya. Hal ini terjadi di Italia, ketika Perang Dunia II masih berkecamuk.
Teresa Bracco lahir pada tanggal 24 Februari 1924 di sebuah desa bernama Santa Giulia, yang termasuk wilayah keuskupan Acqui. Ia adalah seorang anak perempuan yang lahir dari pasangan suami isteri Katolik: Giacomo Bracco dan Anna Pera. Kedua orangtuanya ini adalah petani yang sungguh saleh dan rendah hati. Sejak usia muda Teresa sudah mempunyai perasaan cinta yang besar kepada Kristus yang hadir dalam Ekaristi dan memiliki devosi yang kuat kepada Bunda Maria. Dia belajar berdoa di rumah, dibimbing oleh ayahnya sendiri dalam hal bagaimana dia harus berdoa Rosario, setiap malam, sesudah semua pekerjaannya selesai.
Pastor Natale Olivieri, yaitu pastor parokinya, membantu membentuk wataknya sebagai orang kristiani dengan cara memberikan kepadanya buku bacaan rohani dan keagamaan untuk dibaca. Bacaan itu sungguh memberikan inspirasi dan membimbing dia ke arah kesucian dalam hidup. Ketika dalam masa pembelajarannya di sekolah, guru-gurunya memberikan kesaksian bahwa perilakunya sungguh bisa menjadi suri teladan. Sebagai seorang gadis yang masih muda dan baru menginjak usia remaja, dia sudah selalu tampil dan menyempatkan diri pergi ke gereja dan mengikuti perayaan ekaristi setiap hari, setelah menempuh perjalanan satu kilometer dari rumahnya. Dia kerapkali terlihat berada di dalam gereja, dan matanya selalu tertuju dan terpusat ke tabernakel, seperti mengalami ekstase di depan Sakramen Mahakudus.
Menurut pengamatan para guru yang pernah mengajarnya, Teresa adalah seorang pribadi yang sungguh berbeda bila dibandingkan dengan gadis-gadis yang lain yang sebaya: caranya berbicara, dan penampilannya yang sederhana dalam berpakaian. Ketika ia berumur sembilan tahun, ia terkesan dan sangat senang melihat gambar Santo Dominico Savio, yang pernah mengatakan: “Lebih baik mati daripada berdosa.” Lalu ia menerapkan pernyataan Santo Dominico Savio itu untuk dirinya juga: “Itu juga yang akan terjadi padaku.”, dan karena itu ia menempatkan gambar itu di atas tempat tidurnya.
Masih dalam masa Perang Dunia II, pada musim gugur tahun 1943, di daerah di mana Teresa tinggal, yakni di daerah Acqui, terjadilah perang gerilya antara angkatan bersenjata melawan tentara Jerman, di jalan antara Cairo Montenotte dan Cortemilia. Hari berikutnya, pada tanggal 28 Agustus 1944, tentara Jerman datang kembali untuk mengumpulkan tentara mereka yang menjadi kurban perang, sambil membakar rumah dan tanah pertanian, dan menteror masyarakat. Sementara itu pula, mereka menangkap tiga gadis, yang salah satu di antaranya adalah Teresa. Salah seorang tentara memaksa dia ke suatu tempat sepi di dalam hutan.
Ketika ia mencoba melarikan diri untuk mendapatkan bantuan dari keluarga yang tinggal dekat di situ, salah seorang tentara mendorong dia dengan paksa hingga jatuh terbentur di tanah. Teresa mencoba melawan, tetapi akibatnya tentara itu marah, lalu mencekiknya, menembakkan senjatanya dua kali, dan akhirnya menginjak kepala Teresa dengan sepatu boot-nya. Keteguhan hati Teresa sungguh kuat dan keinginannya menjadi kenyataan: “Aku lebih memilih mati dibunuh daripada menyerahkan diri.”
Setelah beatifikasi di Turin’s Square pada tanggal 24 Mei 1998, Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa inilah keutamaan kemurnian yang mau diwartakan oleh Beata Teresa Bracco. “Ia adalah juara dan menjadi saksi kemartiran. Ketika ia belajar tentang apa yang pernah terjadi pada diri kaum perempuan muda di saat terjadi kekacauan dan kekerasan, ia meneriakkan sebuah pesan tanpa keraguan: “Aku memilih mati daripada diperkosa.”
“Kemartiran telah memahkotai perjalanannya sebagai orang kristiani yang matang, yang berusaha mengembangkan diri dari hari ke hari, dengan menimba kekuatan dari perayaan Ekaristi dan penerimaan komuni, dan dari devosi yang mendalam kepada Santa Perawan Maria Bunda Allah.”
Paus Yohanes Paulus II menetapkan Beata Teresa Bracco sebagai model bagi kaum muda untuk melawan roh dunia. Paus mengatakan: “Sungguh merupakan pesan pengharapan bagi semua saja yang berjuang melawan roh dunia. Kepada orang-orang muda, khususnya kaum perempuan, saya mengharapkan mereka mau belajar dari iman yang jelas yang telah dimiliki oleh Teresa, belajar dari keberaniannya untuk mengurbankan diri, bahkan mengurbankan hidupnya sendiri jika perlu, dan tidak mau mengkhianati nilai-nilai yang sungguh memberikan makna bagi kehidupan itu sendiri.”
Tindakan yang sungguh berani itu adalah “konsekuensi logis dari keinginannya yang teguh untuk tetap setia kepada Kristus”.

Pier Giorgio Frassati Rasul Awam dari Turin

Anak muda zaman sekarang yang sedang dalam mencari sosok panutan menemukan seorang tokoh yang mampu mengkombinasikan antara cinta yang mendalam akan Kristus dengan keinginan untuk melayani kebutuhan misi, yakni: membangun masyarakat dan politik menurut gambaran ideal kristiani.
Pier Giorgio Frassati adalah aktivis berbagai organisasi yang lahir di Turin, Italia, pada Sabtu, 6 April 1901. Ayahnya adalah pendiri dan direktur sebuah koran liberal bernama La Stampa. Ia merupakan orang yang punya pengaruh besar di dalam dunia politik Italia; pernah menjadi anggota senat dan duta besar Italia untuk Jerman. Ia menghabiskan waktu mudanya di antara dua perang dunia, yakni: ketika Italia sedang berada di dalam situasi gejolak sosial, dan ketika fascisme Italia sedang bangkit dan merajalela.
Pier Giorgio Frassati mengembangkan suatu kehidupan rohani yang memungkinkan dia tidak pernah merasa ragu untuk bisa berbagi dengan teman-teman yang lain. Pada tahun 1918 ia bergabung dengan Serikat St. Vincentius a Paulo dan mempersembahkan segala waktunya untuk melayani orang sakit dan mereka yang membutuhkan. Ia memutuskan untuk menjadi seorang insinyur pertambangan agar ia dapat melayani Tuhan Yesus Kristus secara lebih baik di antara para pekerja tambang. Namun demikian, studinya tetap memungkinkan dia untuk terlibat dalam kegiatannya sebagai seorang aktivis sosial.
Pada tahun 1919, ia bergabung dengan organisasi Persekutuan Mahasiswa Katolik dan organisasi Partai Kerakyatan, sebuah partai politik yang mempromosikan ajaran sosial Gereja Katolik. Dia adalah juga orang yang pernah menggagas bagaimana Persekutuan Mahasiswa Katolik ini bisa bergabung dengan Serikat Pekerja Katolik. “Cintakasih itu tidaklah cukup. Kita masih membutuhkan perubahan sosial”, kata Pier Giorgio Frassati yang selalu memperjuangkan dua hal tersebut. Ia juga memberikan waktunya untuk membantu koran harian Katolik yang dikenal dengan nama Momento, sebuah koran harian yang melandaskan misinya pada ajaran sosial dari Paus Leo XIII, yakni: ensiklik Rerum Novarum.
Meskipun keluarga Frassati adalah keluarga berada, ayahnya tidak pernah memberikan banyak uang kepada anak-anaknya supaya mereka hidup berfoya-foya dan membelanjakan banyak uang. Sejak kecil, Pier Giorgio mempunyai kebiasaan memberikan bantuan kepada orang miskin, dan membelikan tiket kereta api untuk orang lain demi kasih sayang kepada mereka, dan pulang ke rumah tepat waktu supaya bisa makan bersama keluarga di rumah. Ketika ditanya oleh teman-temannya mengapa ia kerapkali naik kereta api yang klas III, dia memberikan jawabannya dengan senyum: “Karena yang kelas IV tidak ada.”
Ketika ia masil kecil, seorang ibu yang miskin bersama-sama dengan seorang anak lelaki yang dibawanya dengan kereta dorong, datang meminta-minta ke rumah Frassati. Pier Giorgio Frassati yang menemui pengemis itu di depan pintu. Ketika ia melihat kaki anak lelaki itu tidak memakai sepatu, maka tergeraklah hatinya dan kemudian dengan rela ia memberikan sepatunya sendiri untuk si anak lelaki itu. Setiap kali diberi uang oleh ayahnya, maka uang itu pun juga diberikan kepada orang miskin. Bahkan, kamar tidurnya sendiri diberikan kepada seorang ibu tua dan miskin. Ia menyediakan tempat tidur bagi orang cacat; memberikan dukungan dan bantuan kepada anak-anak janda yang sedang sakit dan dirundung duka. Sementara dia berbaring di tempat tidur karena sakit menanti saat kematian, ia tetap bisa memberikan pengarahan kepada saudara perempuannya, dan meminta kepadanya untuk melihat kebutuhan keluarga-keluarga yang tergantung pada perbuatan cintakasih yang selama ini telah dia lakukan.
Di kantor kedutaan besar di Berlin dia dikagumi oleh seorang reporter koran Jerman yang menulis: “Pada suatu malam di Berlin, dengan suhu udara pada tingkat 12 derajat di bawah nol, ia memberikan mantolnya kepada seorang lelaki tua yang kedinginan. Ketika ayahnya memarahi dia, Pier menjawab dengan tenang dan sederhana: “Tetapi lihat, papa, dia kedinginan!”
Pier Giorgio Frassati juga meluangkan waktunya untuk bermain bersama dengan orang-orang sekampung; mendaki gunung adalah olahraga yang digemari. Teman-temannya dari kalangan kaum muda tidak ragu-ragu untuk bisa berbagi dengan dia mengenai inspirasi hidup beragama dan hidup rohani mereka. Ketika menjadi mahasiswa, Pier dikenal sebagai sosok mahasiswa yang aktif dan tak pernah berhenti beraktivitas. Semangat yang melandasi segala aktivitas yang ia lakukan itu adalah cinta pada Yesus. Ia membantu imam dalam perayaan ekaristi harian.
Ia merasakan adanya dorongan yang kuat dan misterius untuk selalu dekat dengan Sakramen Mahakudus. Selama adorasi malam hari, ia meluangkan seluruh waktu malam hari untuk bersujud di depan Sakramen Mahakudus dengan doa tak kunjung henti. Ia mempengaruhi mahasiswa-mahasiswa yang lain, untuk melakukan retret mahasiswa yang dibimbing oleh romo-romo Yesuit. Ia suka berdoa rosario dan mendoakan doa rosario itu tiga kali sehari setelah ia masuk menjadi anggota Ordo Ketiga Dominikan.
Pier mempunyai kebiasaan rutin sekembalinya dari main ski melakukan kunjungan kepada Sakramen Mahakudus, dan mengikuti Misa sebelum pergi naik gunung. Ia pernah menulis kepada seorang temannya: “Aku meninggalkan hatiku di puncak gunung dan aku harap aku dapat datang kembali, mendaki gunung ini dan mencapai puncaknya. Jika situasi studiku memungkinkan, aku akan menyempatkan diri mengagumi gunung-gunung dalam suasana yang indah yang merupakan bagian dari keagungan Tuhan.
Frassati juga dikaruniai pendidikan tinggi dan tinggal di lingkungan Turin. Di sana ia dapat mengunjungi museum, pusat seni teater dan drama dan ia sangat mencintai seni musik dan seni lukis.
Pada tahun 1922 ia bergabung dengan Ordo Ketiga Dominikan, dan memilih nama Girolamo (seorang pahlawan yang berasal dari Ordo Ketiga Dominikan dan tokoh reformasi pada zaman Renaissance. Meski banyak organisasi yang dia masuki, Pier bukanlah anggota yang pasif, dia selalu menunjukkan diri sebagai anggota yang aktif. Dia selalu memenuhi apa yang menjadi kewajibannya sebagai anggota dari organisasi-organisasi. Pier adalah anti-fasisme dan dia tidak pernah mau untuk menyembunyikan apa yang menjadi pandangan politiknya.
Pada akhir Juni 1922, Pier menderita sakit polio yang akut, yang oleh dokter diperkirakan tertular dari orang miskin dan sakit yang pernah ia kunjungi. Perjalanan sakitnya begitu cepat sementara kondisi badan Pier makin menjadi sangat lemah. Pada tanggal 4 Juli 1925, Pier meninggal dunia pada umur yang masih muda: 24 tahun.
Paus Yohanes Paulus II pada saat beatifikasi Beato Pier Giorgio Frassati ini, di dalam kotbahnya menyatakan: “Frassati adalah seorang anak muda modern yang hidupnya biasa-biasa saja, tidak luar biasa. Dia mampu mengintegrasikan peristiwa hidup sehari-hari dengan imannya, sehingga Injil diterjemahkan ke dalam tindakan mencintai untuk kaum miskin dan kebutuhannya secara kontinyu, sejak sakit hingga meninggalnya. Cintanya pada karya seni dan keindahan, hobinya di bidang olahraga dan naik gunung, perhatiannya pada masalah-masalah kemasyarakatan tidaklah mengisolasi dia dari usaha untuk tetap dapat berelasi dengan yang Mutlak.
Ia memenuhi panggilannya sebagai awam di berbagai gerakan politik dan sosial, di dalam sebuah masyarakat yang acapkali memusuhi Gereja. Di dalam semangat seperti ini, Pier Giorgio sukses dalam memberikan dorongan baru ke dalam pelbagai gerakan dan Aksi Katolik. Sekarang ia telah mati pada umur muda; namun hidupnya penuh dengan buah-buah kehidupan rohani. Biarlah ia sekarang boleh “menikmati tanah terjanji yang sejati dan di sana menyanyikan lagu pujian bagi Tuhan”. Ia sekarang telah meninggalkan dunia ini; tetapi karena kekuatan Baptisnya ia dapat mengatakan kepada setiap orang, terutama kepada generasi kaum muda sekarang dan yang akan datang: “Kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu akan hidup” (Yoh 14:19).

Jumat, 25 Februari 2011

Margaretha Bays: Kuat Karena Doa


Margaretha Bays adalah seorang wanita Katolik yang sederhana, lahir dari sebuah keluarga petani yang saleh, pada 8 September 1815, di La Pierraz, Siviriez, dekat Freibourg, Swis. Dia mendapatkan pendidikan di sekolah setempat dan bekerja sebagai penjahit pembuat pakaian jadi. Ia menghabiskan seluruh waktu hidupnya di kampung halamannya sendiri.

Di lingkungan paroki ia adalah seorang awam yang bisa menjadi teladan bagi banyak orang. Dia aktif di dalam kegiatan pewartaan iman, terutama di kalangan anak-anak kecil dan kaum perempuan. Ia kerapkali juga mengunjungi orang sakit dan orang yang menjelang ajalnya, dengan semangat yang tak kenal lelah. Dia betul-betul teman bagi orang-orang miskin, yang dianggapnya sebagai “orang-orang yang dicintai oleh Allah”.

Pada umur 35 tahun ia terkena penyakit kanker usus. Ia meminta kepada Bunda Maria agar bersama sang Putra dapat mengubah penderitaan yang dia alami itu menjadi suatu kemampuan untuk bisa lebih merasakan secara langsung Penderitaan Tuhan sendiri. Pada 8 Desember 1854 dia sembuh secara ajaib. Tetapi sebagai gantinya, ia mengalami penderitaan, yakni penderitaan yang pernah dialami Kristus dalam perjalanan-Nya dari Getsemani sampai ke puncak Kalvari. Dia juga menerima stigmata seperti St Fransiskus alami.

Margaretha sungguh percaya atas daya kuatnya doa sejak masa kecilnya. Ia mencintai Bunda Maria, yang ia hormati dengan doa rosario dan mengunjungi tempat-tempat ziarah. Ia juga memiliki cinta yang mendalam pada Tuhan Yesus yang hadir dalam Ekaristi, yang kerap dia hormati dalam adorasi berjam-jam lamanya. Dia menghayati kehadiran Tuhan yang terus menerus di dalam hidupnya sehari-hari. Menurut pendapatnya, penderitaan yang dialami adalah manifestasi dari iman yang lemah. Karena doa ia dikuatkan dalam menghadapi penderitaan itu.

Hidupnya terfokus pada kehidupan abadi dan karena itu ia berusaha menjauhkan diri dari kesenangan-kesenangan duniawi atau memisahkan diri dari segala unsur keuntungan yang sifatnya pribadi. Baginya Tuhan adalah cinta yang mahabesar. Dan inilah yang membedakan dia dari Allah. Maka ia tekun untuk memohon: “Apa yang dapat aku perbuat agar aku semakin dapat mencintai Tuhan?” Kepeduliannya yang terus menerus diperjuangkan adalah memusatkan perhatian pada Tuhan yang membuat dirinya semakin rendah hati. Ia merasa bahwa dirinya adalah ciptaan yang paling rendah dan pendosa yang paling berat. Karena itu dia berjuang melawan cinta diri yang selama ini menjadi semangatnya.

Margaretha sungguh bahagia dipanggil untuk mengikuti Dia, dan dia tidak pernah memperlihatkan tanda penderitaannya, dan apa yang terkandung di balik kata-katanya: “Perkenankanlah aku mendengarkan kata-kata yang datang dari adorasi dan ketundukan terhadap kehendak Allah yang Mahasuci”. Persis jam 3 sore, Jumat 27 Juni 1879, dia dipanggil Tuhan. Dia telah mendarma-baktikan seluruh cintanya pada Tuhan yang tersalib.

Dia dinyatakan suci pada tanggal 29 Oktober 1995 oleh Paus Yohanes Paulus II di Basilika St Petrus di Roma, Italia. Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa kaum wanita telah memiliki andil dalam menulis sejarah Gereja dengan bahasa hati yang khas mereka, yaitu intuisi dan dedikasi. Ia mengatakan bahwa Margaretha Bays adalah “seorang wanita awam yang rendah hati yang hidupnya tersembunyi bersama Tuhan Yesus Kristus di dalam Allah. Ia tidak mencapai sesuatu yang sifatnya luar biasa, tetapi hidupnya telah berada di jalan yang panjang, diam, dan mengarah kepada kesucian. Dengan merenungkan misteri sang Penyelamat, khususnya mengenai penderitaan, ia mencapai kesatuan dengan Tuhan.”

“Semakin mendalam orang berdoa, semakin dekat dengan Tuhan dan ingin melayani sesama yang menjadi saudara dan saudarinya.” “Doa tidak menjauhkan orang dari dunia”, kata Paus Yohanes Paulus II. “Tanpa meninggalkan negerinya, Margaretha Bays tetap menjaga hatinya untuk terbuka terhadap dimensi gereja universal dan dunia.” Dia juga mendorong kita semua untuk “membuat hidup kita menjadi jalan cinta, a way of love, dan untuk mewartakan Injil , khususnya kepada kaum muda.” Paus bertanya kepada kita: “Bagaimana kaum muda sekarang mengenal sang Penyelamat kita, mendekati meja Ekaristi dan Sakramen Tobat “jika tidak ada orang yang membuat mereka mampu untuk menemukan harta kekayaan mereka seperti telah dikerjakan oleh Margaretha.” @@@