Hidup Berbagi

Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja
Tampilkan postingan dengan label santa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label santa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Februari 2011

Santa Theresia Lisieux: Jalan Kecil



Kisah tentang Santa Theresia Lisieux adalah unik dalam sejarah Gereja. Ini adalah sebuah kisah tentang seorang suster Karmelit yang masih muda, tidak pernah meninggalkan biara, meninggal pada umur 24 tahun, dan menjadi santa yang terbesar di jaman modern (Paus Pius X), mendapat gelar pujangga Gereja, yang tulisannya telah memberikan inspirasi bagi berjuta-juta orang di seluruh dunia.
Tidak hanya dinyatakan sebagai pelindung bagi karya misi dan pelindung bagi tanah Perancis, tetapi ia juga dipilih sebagai pelindung bagi karya kerasulan doa yang anggota-anggotanya jutaan orang di seluruh dunia. Dia sendiri adalah seorang anggota kerasulan doa yang setia selama bertahun-tahun lamanya. [Dan sekarang kita memakai nama Santa Theresia sebagai pelindung bagi lingkungan, pelindung bagi Gereja, nama sekolah, bahkan nama jalan].
Beratus-ratus judul buku dan artikel ditulis mengenai santa ini dan “Jalan Kecil”nya yaitu sebuah spiritualitas yang menekankan cinta Allah, dan bukan takut akan Dia. Hidupnya dikenal oleh banyak orang sebagai anak perempuan dari pasangan suami isteri Bapak Louis Martin dan ibu Zelie Marie Guerin. Ibunya meninggal ketika Theresia masih berumur 4 tahun pada tahun 1877 di Alencon, Perancis. Keluarga Martin kemudian pindah ke Buissonets di Lisieux, sebuah rumah yang sampai sekarang banyak dikunjungi oleh para pejiarah.
Ketika kakaknya Pauline masuk biara Karmelit tahun 1882, Theresia juga berkeingingan untuk masuk biara juga. Lima tahun kemudian ketika dia sudah berumur 14 tahun, dia membujuk Paus Leo XII ketika dalam perjalanan bersama dengan ayahnya berjiarah. Tetapi ia masih terlalu muda untuk masuk biara. Namun, pada umur 15 tahun dia akhirnya boleh masuk ke biara Karmel dengan ijin Paus. Saudara perempuannya yang lain, yaitu Marie juga telah masuk ke biara Karmel, dan berikutnya kemudian Celine juga bergabung dengannya masuk biara Karmel. Saudara perempuannya yang kelima, Leonie masuk ke Orde Visitasi; jadi lima bersaudara dari sebuah keluarga semua masuk menjadi suster.
Theresia menjadi suster hanya selama sembilan tahun. Setelah menderita sakit TBC ia meninggal dunia pada tanggal 30 September 1897. Tiga tahun lebih awal Pauline sudah menjadi Pemimpin tarekat Karmelit (dengan nama Bunda Agnes dari Yesus) meminta kepada Theresa (dari Kanak-kanak Yesus dan Wajah Kudus) untuk menulis ingatan akan pengalaman rohaninya, yang berjudul “the Story of a Soul”.
Setelah setahun kematiannya 2000 exemplar bukunya telah tersebar di kalangan para suster Karmelit dan teman-temannya. Permintaan cetak ulang semakin bertambah dan permintaan itu berasal dari seluruh dunia. Tulisan dia menjadi besar karena permintaan yang luar biasa banyak jumlahnya, dan bahkan sampai diterjemahkan ke dalam 60 bahasa di seluruh dunia.
Pada tahun 1923 ia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI yang juga mengkanonisasi dia sebagai seorang santa di lapangan santo Petrus pada tahun 1925 ketiga setengah juta orang pejiarah berkumpul di Roma. Karena usahanya untuk karya misi, dia diberi gelar pelindung karya misi bersama dengan Santo Fransiskus Xaverius pada tahun 1927. Paus Pius XII pada tahun 1944 menyebut dia dengan gelar “penyembuh ulung pada abad modern dan menjadikan dia pelindung untuk tanah Perancis. Pada tahun 1977, setelah 100 tahun kematiannya, Paus Yohanes Paulus II menyatakan dia sebagai pujangga Gereja setelah Santa Teresia Avila dan Catharina Siena.
“AKu harus menjadi santa”, kata Theresia ketika dia masuk biara. Dan kemudian dia memang mendapat ijin untuk masuk biara; motivasinya adalah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dan untuk mendoakan para imam”.
Hidup baginya tidaklah mudah. Ruang-ruang biara itu dingin dan dia sangat menderita ketika mendengar ayahnya jatuh sakit pada tahun 1888 karena terkena gangguan cerebral arteriosclerosis. Ketika ayahnya meninggal tahun 1894 Celine yang merawat ayahnya, masuk biara Karmel dan untung membawa kameranya, dan berhasil mengabadikan gambar-gambar Theresia di biara.
“Apa itu Jalan Kecil?”, suatu ketika Theresia ditanya. Lalu ia menjawab: “Jalan kecil itu adalah jalan kehidupan rohani seorang anak kecil, yakni jalan kepercayaan dan jalan kepasrahan diri secara mutlak kepada Tuhan.” Dasar dari jalan yang baru ini ditemukan di dalam teks Matius 18: 3, ketika Kristus mengatakan: “Jika kamu tidak menjadi seperti anak kecil ini, maka kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga”.
Dia membaca riwayat para santo dan dia menemukan jalan baru untuk kesempurnaan. “AKu terlalu kecil untuk mampu mendaki tangga kesempurnaan itu,” ia menulis “karena itu aku melihat ke dalam Kitab Suci untuk menemukan indikasi tentang apa yang mungkin bisa mengantar saya untuk mencapai keingingan saya.” Kemudian dia menemukan tangga kehidupan rohani “tangga yang bisa mengantar saya ke surga adalah tangan-tangan-Mu ya Tuhan Yesus.”
“Kamu tanya kepadaku tentang jalan menuju kesempurnaan. Aku tahu cinta dan hanya cinta. Hatiku dibuat demi cinta itu. Cinta mengenal bagaimana menarik keuntungan dari segala sesuatu.” Dia menulis: “Panggilanku akhirnya aku temukan. Panggilan itu adalah mencintai. Di dalam hati Gereja, di dalam Ibuku, aku akan menjadi cinta.”
“Hidup karena cinta, inilah surgaku … inilah tujuan hidupku.”
Hidup rohani kanak-kanak Yesus itu adalah “kehidupan rohani seorang anak kecil yang tidur tanpa ketakutan di dalam pelukan tangan ayahnya, semangat penyerahan diri itulah yang menjadi pedomanku satu-satunya. Aku tidak punya pedoman arah yang lain”. Theresia.menambahkan: “Jangan berpikir bahwa kita dapat menemukan cinta tanpa penderitaan … tetapi penderitaan itu ada di dalam perjalanan kita menjangkau cita-cita kesempurnaan itu.” Dia membuktikan cinta itu dengan “menaburkan bunga” untuk Yesus, dengan mempersembahkan kurban-kurban kecil.
Ketika ia meninggal, kata-katanya terakhir yang diucapkan: “Allahku, aku mencintai-Mu.” Dia menulis: “Aku tidak sedang meninggal. Aku sedang memasuki kehidupan.” Katanya juga: “Aku akan menikmati waktuku di surga dengan mengerjakan kebaikan di dunia.”

Rabu, 19 Januari 2011

Gianna Mencintai Kehidupan


Kisah mengenai St. Gianna Beretta Molla (1922-1962) yang mengurbankan hidupnya demi anaknya yang lahir dengan selamat, telah menyentuh hati jutaan orang di seluruh dunia. Dia adalah seorang ibu, seorang isteri, seorang dokter yang mencintai keluarganya. Ia menghayati hidupnya yang sehari-hari itu dengan penuh dedikasi dan secara rohani memang berlandaskan pada semangat cintakasih Kristus yang kehadirannya dirasakan di dalam Ekaristi. Ia juga menghayati hidupnya berlandaskan pada suatu keyakinan bahwa semua ciptaan ini, terutama anak-anak, adalah anugerah dari Allah sendiri.

Sebagai seorang dokter, ia melihat Kristus di dalam diri orang lain: “Seperti imam dapat menyentuh Yesus (di dalam Perayaan Ekaristi), begitu juga kami para dokter dapat menyentuh Yesus di dalam tubuh orang-orang yang menderita sakit,” katanya.

Gianna Beretta Molla lahir dari pasangan suami-isteri Alberto dan Maria Beretta, pada tanggal 4 Oktober 1922 di Magenta, Milan, Italia. Dia adalah anak kesepuluh dari 13 saudara; dan lima orang di antaranya sudah meninggal dalam usia dini. Sejak usia mudanya ia telah menerima anugerah iman dan pendidikan kristiani yang jelas, yang dia terima dari ayah ibunya. Oleh karena itu, dia mengalami hidup ini sebagai suatu anugerah yang istimewa dari Allah. Dia memiliki iman yang kuat akan penyelenggaraan ilahi dan yakin akan perlunya doa dan efektivitasnya.

Orangtuanya mempertimbangkan pendidikan anak-anak sebagai cara bagi Tuhan untuk bekerja melalui dan mempersiapkan jiwa-jiwa mereka bagi karya-Nya melalui anak-anak mereka. Orangtua Gianna memang tidaklah miskin, tetapi dihayati dengan kesederhanaan, ugahari dan penuh dengan kegembiraan. Pelajaran agama bagi anak-anak merupakan masalah yang serius bagi orangtua dan membiasakan anak-anak mereka untuk mengikuti perayaan Ekaristi setiap pagi dan doa rosario setiap sore hari. Dengan doa harian dan studi di bawah pengawasan orangtua dan kakat tertuanya Amelia, Gianna siap dan mendapatkan ijin untuk menerima komuni pertama pada umur lima tahun dan kemudian menerima sakraman krisma dua tahun kemudian. Ia membiasakan diri untuk dapat menerima komuni setiap hari sampai hari meninggalnya tiba.

Kedua orangtuanya meninggal ketika Gianna berumur 20 tahun. Karena itu, dia dan saudara-saudara kandung pindah ke rumah kakek-neneknya. Pada saat itulah Gianna mulai tekun di dalam studi dan terlibat aktif dalam berbagai organisasi. Ia dengan rajin menyelesaikan pendidikannya di sekolah menengah dan di perguruan tinggi selama bertahun-tahun. Sementara itu ia juga memberikan pelayanan yang murah hati di kalangan kaum muda dalam organisasi “Aksi Katolik”. Dan sebagai anggota dari Paguyuban Santo Vincentius a Paulo, ia melakukan pekerjaan-pekerjaan karitatif untuk orang-orang jompo yang membutuhkan pelayanan.

Orangtuanya memang mendorong anak-anaknya untuk mengembangkan profesi yang membuat mereka mampu untuk melakukan karya pelayanan kemanusiaan. Di antara 9 orang saudara kandungnya yang masih hidup ada 2 orang yang menjadi imam, satu orang suster, dua dokter, satu insinyur, dan satu ahli farmasi. Gianna sendiri memilih studi kedokteran dan mempraktekkannya kemudian.

Setelah menyelesaikan studi kedokteran di Universitas Pavia pada tahun 1949, ia membuka sebuah klinik pelayanan kesehatan di Mesero, dekat Magenta, pada tahun 1950. Ia melanjutkan studi spesialisasi di bidang kesehatan anak-anak di Universitas Milan pada tahun 1952, dan setelah itu ia memberikan perhatian khusus kepada ibu-ibu, anak-anak, bayi, orang-orang jompo dan orang-orang miskin.

Sementara bekerja di bidang pelayanan kesehatan – yang dia pandang sebagai sebuah “perutusan” dan dilakukan dengan sepenuh hatinya – ia juga meningkatkan pelayanan yang murah hati terutama kepada kaum muda, dan pada saat yang sama ia mengungkapkan kegembiraan hidup dan cintanya kepada alam ciptaan, melalui berbagai kegiatan: melukis, bermain tenis, menonton musik dan teater, mendaki gunung, dan bermain ski. Melalui doa-doanya dan doa-doa orang lain, ia merefleksikan panggilannya, yang ia sebut sebagai hadiah dari Allah.

Sebagai dokter, Gianna memandang pekerjaannya di bidang medis sebagai perutusannya untuk membantu para anggota “Tubuh Kristus” yang menderita. Para pasiennya dipandang secara utuh sebagai makhluk ciptaan Tuhan, yang berbadan dan berjiwa, di hadapan Tuhan. Dia merumuskan tentang profesinya demikian: “Setiap orang bekerja dalam karya pelayanan kepada manusia. Kami sebagai dokter bekerja langsung pada manusia itu sendiri. Misteri besar dari manusia adalah Yesus: “Ia yang mengunjungi orang sakit, membantu aku” kata Yesus … Justru sebagai imam orang bisa menyentuh Yesus, demikian juga kami menyentuh Yesus di dalam diri para pasien. Kami memiliki peluang untuk melakukan hal-hal baik yang tidak bisa dikerjakan oleh para imam. Perutusan kami tidak selesai ketika obat sudah tidak dipakai lagi. Kami harus membawa jiwa itu kepada Tuhan; kata kami memiliki otoritas.. Dokter Katolik sungguh-sungguh dibutuhkan.”

Kerapkali dia mengalami konfrontasi dengan situasi di mana para orangtua mengalami kepanikan yang luar biasa ketika berhadapan dengan sebuah resiko kehamilan yang tidak diinginkan. Dalam perannya sebagai tenaga medis, Gianna mendorong orangtua-orangtua yang mengalami situasi seperti itu dapat melalui saat-saat yang gelap itu dengan bertindak benar. Mengatasi kasus-kasus di mana hidup sang ibu dalam keadaan berbahaya, ia mengungkapkan keyakinannya mengenai kehidupan yang suci dengan pernyataan tertulis seperti ini: “Dokter itu tidak boleh mencampuri urusan orang lain. Hak hidup anak sama dengan hak hidup ibunya. Dokter tidak dapat memutuskan; membunuh anak di dalam rahim adalah dosa.”

Gianna mulai menjalin persahabatan dengan Pietro Molla pada tahun 1954; dan kemudian mereka bertunangan pada April 1955. Pada umur 33 tahun dia menikah dengan Pietro Molla pada tanggal 24 September 1955, di Basilika St. Martinus di Magenta. Gianna sungguh mengalami menjadi seorang isteri yang bahagia. Jauh sebelum melangsungkan pernikahannya dia pernah menulis surat kepada Pietro Molla demikian: “Cinta adalah suatu perasaan yang paling indah, yang Tuhan taruh di dalam jiwa lelaki dan perempuan”. Ia sangat berbahagia ketika kemudian mempunyai tiga orang anak, yakni: Pierluigi, yang lahir Nopember 1956; Mariolina, yang lahir Desember 1957; dan Laura, yang lahir Juli 1959. Dengan hidupnya yang sederhana dan seimbang, ia menyelaraskan tuntutan-tuntutan hidup dan perannya sebagai ibu, isteri, dokter dengan penuh perjuangan.

Pada bulan September 1961, pada akhir bulan keenam dari kehamilan anaknya yang nomer empat, ia mengalami rasa sakit dan penderitaan yang luar biasa karena adanya tumor di dalam rahimnya. Oleh karena itu ia merasa perlu untuk dilaksanakan operasi pembedahan segera. Gianna menceritakan soal operasi bedah itu demikian: “Ya, saya sudah berdoa begitu banyak pada hari-hari ini. Dengan iman dan harapan, saya sudah mempercayakan diri saya kepada Tuhan… Saya percaya akan Tuhan; ya, tetapi adalah tergantung pada saya untuk dapat memenuhi kewajiban saya sebagai seorang ibu. Saya berniat untuk mempersembahkan hidup saya kepada Tuhan. Saya siap untuk menghadapi segala sesuatunya, demi menyelamatkan bayi saya.”

Sebelum operasi pembedahan dilakukan, dan sadar akan resiko bagi kehamilannya, maka ia meminta dengan sangat agar pembedahan itu dilakukan demi keselamatan anaknya, meskipun dia tahu bahwa hal itu akan membawa resiko untuknya. Akhirnya pembedahan untuk mengangkat tumor itu pun dilakukan dan berhasil. Sementara menjalani masa kehamilannya dalam 7 bulan sisanya, Gianna selalu berdoa kepada Bunda Maria.

Setelah itu, ia masih bisa terus bekerja sebagai dokter dan sebagai seorang ibu, dengan kekuatan semangat yang tinggi. Namun demikian kenyataan tak dapat dielakkan. Dia merasa khawatir, jangan-jangan bayinya yang masih dalam kandungannya akan lahir dalam keadaan kesakitan. Oleh karena itu dia memohon agar Allah sendiri yang mencegahnya agar hal itu tidak akan pernah terjadi.

Beberapa hari sebelum anaknya lahir, meski ia selalu percaya kepada penyelenggaraan ilahi, Ia sudah siap apabila ia harus memberikan hidupnya dalam rangka menyelamatkan anaknya. Kepada suaminya ia menegaskan: “Jika kamu harus memutuskan untuk memilih antara aku dan anakmu, maka janganlah ragu-ragu: pilihlah anakmu. Aku tegaskan hal itu. Selamatkanlah dia.” Pada tanggal 21 April 1962, anaknya yang keempat lahir dan diberi nama Gianna Emanuela.

Segala usaha dan tindakan medis telah dilakukan untuk menyelamatkan anak dan ibunya, namun setelah anaknya lahir, pada tanggal 21 April 1962 Gianna merasakan adanya sakit yang tak tertahankan. Akhirnya dia meninggal seminggu kemudian, yakni pada tanggal 28 April 1962. Gianna mengakhiri hayatnya pada umur 39 tahun, dan sebelum ajalnya dia mengucapkan kata-kata ini berkali-kali: “Tuhan Yesus, aku mencintaimu. Tuhan Yesus, aku mencintaimu.” Penguburannya menjadi kenangan bagi banyak orang: penderitaan, iman dan doa. Jenasah Hamba Allah ini kemudian dimakamkan di tempat pemakaman Mesero, empat kilometer dari Magenta.

Pietro Molla menceritakan tentang isterinya setelah kematiannya: “Saya masih ingat akan kepercayaannya yang penuh kepada Penyelenggaraan Ilahi dan kegembiraan yang luar biasa dari isterinya ketika melahirkan anaknya.” Ia menambahkan: “Keputusan Gianna untuk mempersembahkan hidupnya untuk menyelamatkan anaknya sungguh memiliki akar yang dalam: di dalam perkawinan – yang dia rasakan sebagai sakramen, sakramen cinta – dan di dalam kepahlawanan cinta keibuannya dan keyakinan yang sungguh bahwa hak hidup anak yang belum lahir adalah suci.”

Sepuluh tahun kemudian, pada hari peringatan meninggalnya Gianna tanggal 23 September 1973, Paus Paulus VI menyebut sosok Gianna itu “pengorbanan yang sadar”. Paus Paulus VI mengatakan: “Seorang ibu muda dari Keuskupan Milan, yang memberikan hidup untuk anaknya itu, telah mempersembahkan dirinya, dengan pengurbanan yang sadar.” Bapa Suci di dalam kata-katanya itu dengan jelas merujuk pada Kristus yang di Kalvari dan di dalam Ekaristi.

Gianna Beretta Molla dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II, pada tanggal 24 April 1994, pada hari perayaan Tahun Keluarga Sedunia. Paus Yohanes Paulus II menyebut hidup ibu yang satu ini sebagai “sebuah nyanyian kehidupan sejati.” Mengikuti teladan Kristus yang “seperti Dia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya, demikianlah Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya.” (Yoh 13: 1), seorang ibu keluarga yang suci ini telah setia dengan komitmennya yang pernah dinyatakannya di dalam hari perkawinannya. Pengurbanan yang luar biasa dengan menyerahkan hidupnya untuk orang lain merupakan kesaksian bahwa hanya mereka yang mempunyai keberanian untuk memberikan dirinya secara total kepada Allah dan kepada orang lain, mampu memenuhi dirinya sendiri.

Pada tanggal 16 Mei 2004, di Roma, Beata Gianna ini dikanonisasi menjadi Santa Gianna. Dalam kotbahnya Paus Yohanes Paulus II mengatakan: “Santa Gianna ini adalah seorang perempuan yang sederhana tetapi ia telah menjadi utusan cintakasih ilahi yang sungguh bermakna, yang dengan setia menjalankan komitmennya dalam hidup berkeluarga”.

Paus Yohanes Paulus II berbicara mengenai “pengurbanan hidup yang luar biasa yang ia telah berikan demi hidup orang lain”. Paus mengharapkan agar melalui teladan Santa Gianna di zaman modern ini kita dapat menemukan indahnya cinta perkawinan yang murni, tahan uji, dan setia, dan menghayati cinta itu sebagai jawaban atas panggilan Allah yang telah lebih dulu memberikan cinta-Nya untuk kita.


Doa dari Santa Gianna Berreta Molla


Allah, Bapa kami, kami memuji-Mu dan kami bersyukur kepada-Mu karena di dalam diri Gianna Beretta Molla, yang Engkau berikan kepada kami, yang telah menjadi saksi Injil sebagai wanita, seorang isteri, seorang ibu, dan sebagai seorang dokter. Kami berterimakasih kepada-Mu karena melalui anugerah kehidupannya kami dapat belajar untuk menerima dengan baik dan menghormati setiap pribadi manusia.

Tuhan Yesus, Engkau telah menjadi teladan yang baik bagi Gianna. Ia belajar untuk mengenai Engkau di dalam kecantikan dari alam. Karena dia memperkarakan pilihan panggilannya yang ia jalani dalam pencarian akan Engkau, dan jalan terbaik untuk melayani Engkau. Melalui cinta perkawinannya ia telah menjadi tanda cinta kasih-Mu untuk Gereja dan untuk kemanusiaan. Seperti Engkau, orang Samaria yang murah hati, ia memelihara siapa saja yang sakit, yang miskin dan yang lemah. Meneladani keteladanan-Mu, karena didorong oleh cinta kepada-Mu dia memberikan dirinya secara penuh, sehingga menghasilkan kehidupan baru.

Ya Roh Kudus, sumber setiap kesempurnaan, berikanlah kepada kami kebijaksanaan, kecerdasan, dan keberanian sehingga kami karena terdorong oleh teladan Santa Gianna dan melalui perantaraannya, kami menjadi tahu bagaimana menempatkan diri kami pada karya pelayanan kepada manusa yang kami temui, dalam hidup pribadi, hidup keluarga dan hidup profesi kami, dan dengan demikian bertumbuhlah kami dalam cinta dan kesucian. Amin. y