Hidup Berbagi

Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja

Selasa, 18 Januari 2011

Menggugat Kelelakian Lelaki

Pengantar

Perempuan bicara tentang lelaki, itu biasa. Sama biasanya ketika lelaki bicara tentang perempuan. Tetapi perempuan bicara tentang perempuan sungguh luar biasa. Naning Pranoto, penulis buku “HerStory: Sejarah Perjalanan Payudara, Mengungkap Sisi Terang - Sisi Gelap Permata Perempuan” (Kanisius, 2010), bicara blak-blakan menggugat jati diri perempuan. Dia mengatakan dengan tajam: “Musuh yang paling menindas kaum perempuan bukanlah lelaki, tetapi suatu sistem yang sangat kejam tetapi tidak berkelamin. Dalam sistem budaya patriarki, perempuan ditempatkan dan distereotipekan sebagai warga kelas dua di dalam masyarakat, setelah laki-laki. Bahkan setelah menikah pun, perempuan masih menempati posisi itu.”

“Lebih parahnya lagi, penilaian “cantik”-nya perempuan itu menggunakan kacamata laki-laki. Misalnya, perempuan yang cantik itu berkulit putih dan berdada montok. Berlomba-lombalah para perempuan untuk bisa “dinilai” cantik oleh laki-laki dengan berbagai macam cara agar kulitnya putih dan dadanya montok. Itu artinya, bahwa mereka sebenarnya “tidak” mengenal tubuhnya sendiri. Tetapi apakah penilaian terhadap perempuan hanya sebatas itu? Tidak adakah yang lebih berharga dari seorang perempuan untuk dilihat?”, tambahnya tegas.

Begitu pula, sungguh luar biasa ketika lelaki bicara tentang lelaki. Sebab, di sana ada perwahyuan jati diri yang unik tentang siapa lelaki itu sebenarnya. Deshi Ramadhani, teolog Katolik dan biarawan Yesuit lulusan Universitas Gregoriana Roma, dalam bukunya yang terbaru: “Adam Harus Bicara” (Kanisius, 2011) mengupas tuntas makna lelaki sejati dengan segala atributnya: suami, ayah, putra, saudara, lelaki seksual, lelaki kristiani, lelaki pejuang, lelaki selibat, lelaki pecinta, lelaki berkuasa, lelaki yang Allah dan lelaki yang Yesus.

Topik Menarik

Lelaki adalah topik yang hangat, seperti juga perempuan. Pertemuan, rapat umum, kampanye, seminar, lokakarya, pelatihan, dan bahkan buku mendorong lelaki untuk menegaskan kembali kelelakian yang hilang, dan mengajak untuk menjadi manusia lelaki sebagaimana telah dirancangkan oleh Allah. Di tengah hiruk pikuk peran dan kiprah lelaki dalam kehidupan masyarakat, sesuatu yang vital dari lelaki telah hilang. Apakah manusia lelaki telah memahami siapa sebenarnya dirinya sebagai lelaki. Pernahkah mereka merumuskan perihal kelelakian mereka? Apakah mereka menangkap secara benar panggilan Allah agar mereka menjadi manusia lelaki seperti dirancang oleh Allah sendiri dan betapa uniknya panggilan itu untuk mereka kaum lelaki?

Dalam buku “Adam Harus Bicara”, Dr. Deshi Ramadhani SJ, dosen Kitab Suci di STF Driyarkata Jakarta ini, menawarkan suatu penglihatan yang segar tentang bagaimana Allah telah merancang lelaki. Penulis yang menarik data dari hasil refleksi atas pengalaman hidup sebagai lelaki dan bergaul dengan lelaki, pengalaman mendampingi kaum muda lelaki dalam proses pembentukan diri, dan kemudian mengkonfrontasikan dengan data dari Kitab Suci, membantu pembaca untuk mengeksplorasi masalah-masalah kelelakian, masalah visi mengenai lelaki, yang menjadi daya kekuatan untuk dapat membimbing orang lain dalam mengembangkan relasi. Berpijak dari pengalaman hidupnya sendiri dan dalam pergaulan dengan para lelaki, dan kemudian mencari pengukuhannya dari pandangan-pandangan yang bersumber pada Kitab Suci dan tradisi kristiani, penulis menyajikan suatu pemahaman mengenai kelelakian yang memberikan inspirasi bagi kaum lelaki untuk menegaskan kembali tentang kelelakian mereka dan untuk saling mengingatkan satu sama lain tentang atribut kelelakian mereka.

Lelaki dewasa ini telah terjebak dalam issue paling hangat bahwa dirinya adalah makhluk paling perkasa yang jati dirinya tercermin dalam kelelakiannya. Tetapi di tengah gegap gempita kekaguman akan keperkasaan lelaki, apakah lelaki sedang kehilangan jati dirinya yang vital? Apa yang mereka berikan pada definisi dan makna mengenai kelelakian? Lelaki sejati adalah lelaki yang bisa bercinta paling lama di ranjang? Lelaki perkasa adalah lelaki yang badannya tegap, dadanya bidang, menonjolkan kekuatan otot-ototnya? Alangkah hinanya, jika manusia lelaki hanya dipersepsikan sedemikian sederhana seperti itu. Buku “Adam Harus Bicara” membahas dengan jujur perjuangan hidup lelaki dan usahanya yang tekun dalam menghadapi kesulitan dalam berelasi dengan orang lain.

Buku “Adam Harus Bicara” ini menunjukkan panggilan yang kaya untuk manusia lelaki sebagaimana diwahyukan oleh Allah dengan cara maskulin yang paling unik. Buku ini mengajak kaum lelaki untuk menjadi diri sendiri yang mampu mengatasi rasa takutnya akan kegagalan dalam bertindak, dalam mengambil resiko yang berat, dalam usaha memiliki spiritualitas yang dalam, dan mampu menghayati hidup secara sepenuh hati.

Adam Lelaki Gagal

Di mana Adam ketika ular mencobai Hawa? Kitab Suci mengatakan bahwa setelah Hawa terkena bujuk Setan, ia mengambil buah terlarang lalu memakannya. Ia mengambil juga memberikan buah itu kepada suaminya, yang ada bersama dengan dia. Dan suaminya itu pun memakannya (bdk. Kej 3: 6). Apakah Adam berada di tempat itu, dalam seluruh waktu, ketika peristiwa penipuan itu terjadi? Apakah Adam berdiri di samping kanan isterinya, ketika ular itu menipu dia dengan kecerdikannya? Apakah Adam di sana, dan mendengarkan setiap kata yang muncul ketika peristiwa pembujukan oleh ular itu berlangsung? Jika Adam berada di sana, dan Adam memiliki akal sehat, yang menjadi pertanyaan besar adalah: Mengapa dia diam saja, dan tidak mengatakan apa-apa? Bukankah Adam juga tahu tentang buah yang dilarang untuk dimakan itu?

Memang Adam tidak mengatakan apa-apa. Dia berdiri di sana, mendengar, dan menyaksikan seluruh peristiwa, dan tidak mengatakan apa-apa, tidak berkata-kata sepatah kata pun. Dia adalah lelaki yang gagal; gagal menyelamatkan perempuan; gagal menyelamatkan dirinya. Gagal dalam menunjukkan kehidupan rohani yang mendalam di hadapan Tuhan. Diamnya Adam, tidak bicaranya Adam, kebungkamannya adalah awal kegagalan dari setiap manusia lelaki, dari pembunuhan Kain atas Abil sampai ketidaksabaran Musa, dari kelemahan Daud atas Urias sampai pada kegagalan suami mencintai isterinya. Inilah gambar dari hakikat kegagalan kita sebagai lelaki. Sejak Adam setiap manusia lelaki memiliki kecenderungan untuk tetap tinggal diam, ketika seharusnya ia berbicara. “Diam tidak selalu emas”, kata Deshi Ramadhani penuh kearifan.

Lelaki enak dalam situasi di mana ia tahu secara persis apa yang harus dikerjakan. Ketika segala sesuatu itu membingungkan dan menakutkan, batinnya tertekan dan mengelak. Ketika hidup membuat dirinya frustrasi karena banyak hal tidak bisa diprediksi, maka dia merasakan bahwa kemarahannya timbul dalam dirinya. Dan kemudian, dipenuhi oleh ketakutan dan kemarahan, ia lupa akan kebenaran Allah, dan cenderung mencari dirinya sendiri. Akibatnya, semua menjadi keliru: nafsu seksual yang tak terkendali, menjadi suami dan ayah yang tidak terlibat, tidak memiliki komitmen, menjadi lelaki pemarah ketika duduk di kursi sopir, dan lain-lain.

Semua itu mulai ketika Adam menolak berbicara. Setiap lelaki dipanggil untuk mengingat kembali apa yang pernah Allah sabdakan dan setiap lelaki dipanggil untuk berbicara sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah, memasuki situasi ketidakpastian yang berbahaya dengan penuh percaya diri dan bijaksana, dengan cara mendengarkan Allah. Tidak seperti Adam, kita melupakan Tuhan dan tinggal diam.

Lelaki Pejuang

Lelaki pejuang itu mau dibentuk sesuai dengan budaya kristiani. Orang lelaki kristiani diharapkan menjadi orang yang tetap bersemangat dan menyemangati orang lain; yang bergairah mewujudkan visinya, dan berdaya upaya dan bekerja keras untuk memecahkan berbagai masalah. Manusia lelaki yang matang tidak diharapkan menjadi orang yang berjuang dengan pemikiran-pemikiran yang sembrono dan gegabah, dengan kecenderungan penuh dosa, atau dengan perasaan-perasaan putusasa.

Kita percaya bahwa Roh Allah tidak atau kurang berminat untuk menasihati kita tentang bagaimana kita harus membangun hidup. Dia lebih berminat untuk menggerakkan kita di tengah-tengah kesulitan hidup kita, kepada kesengsaraan Kristus, dan bukan memecahkan masalah. Tetapi menggunakan masalah-masalah itu untuk: membuat kita tidak mandeg, tidak berhenti berusaha dan mengelola hidup kita agar tetap berjalan, mendorong kita untuk mengajukan pertanyaan yang kadang sulit kita ajukan ketika kita menjalankan tugas-tugas kita.

Kita tidak percaya bahwa Kitab Suci menyediakan sesuatu rencana untuk membuat hidup ini tetap berjalan seperti kita pikirkan. Kita berpikir bahwa Kitab Suci menyediakan sesuatu alasan agar hidup ini tetap berjalan, tetapi jalannya hidup ini tidak sesuai dengan yang kita harapkan, sesuai dengan yang Tuhan harapkan. Dalam pikiran kita, manusia sejati mengijinkan takut akan kebingungan tetapi tidak berjalan dengan mengikuti ketakutan itu. Manusia sejati yakin dalam menjalani hidup dengan perencanaan cara selangkah demi selangkah. Kita yakin bahwa sebagian dari hidup kita dapat dikelola, dapat diatur. Mobil tidak mungkin berjalan tanpa bensin. Gigi keropos menimbulkan banyak masalah. Keluarga tidak berjalan dengan baik tanpa keterlibatan suami-isteri. Di mana hidup dapat dikelola, hidup itu dapat dikelola dengan baik. Tetapi bagian hidup yang paling penting adalah bagian yang membuat kita menjadi orang kristiani, sesuatu yang nampak misterius bagi kita.

Penutup

Lima belas tahun yang lalu Larry Grabb (psikolog klinis), bersama Don Hudson (sarjana di bidang Kitab Suci) dan Al Andrew (konselor), menerbitkan buku “Silence of Adam: Becoming a Man of Courage in the World of Chaos” (1995). Crabb mengajak pembacanya untuk menjadi seorang lelaki yang melampaui diri Adam yang digambarkan dalam kitab Kejadian. Lelaki zaman sekarang harus keluar dari kebisuan, kebungkaman, kediaman (silence); dia harus mampu berbicara menanggapi situasi yang berkembang di linkungannya.

Deshi Ramadhani mengembangkan ide Grabb secara lebih luas, bersumber pada studi literatur yang jauh lebih luas dan terbaru, terutama berdasarkan pada Theology of Body dari Paus Yohanes Paulus II, untuk memberikan edukasi kepada masyarakat pembaca mengenai lelaki yang sejati. Tidak hanya dalam kacamata pandang filsafat dan psikologi tetapi juga dari perspektif teologi dan Kitab Suci. ”Adam Harus Bicara” mengkombinasikan pendekatan psikologi, filosofi dan teologi biblis dalam rangka melihat lelaki. Adalah panggilan yang realistik untuk kaum lelaki pertama-tama untuk menjadi makhluk ilahi. Kita kaum lelaki diajak untuk melihat kembali mimpi yang telah hilang sebagai ayah, putra, saudara lelaki, dari makhluk Allah. Dengan kisah-kisah kehidupan lelaki yang diungkapkan di buku ini kita disadarkan dan dikukuhkan kembali sebagai lelaki yang sesungguhnya menemukan kesejatian dirinya.

Buku ini merupakan kabar baik bagi setiap lelaki, bagi kaum perempuan dan anak-anak yang mencintai lelaki entah sebagai ayah, saudara, atau sahabat. Juga kabar baik bagi Gereja, dan bagi masyarakat zaman kini. Buku ini menantang para lelaki untuk meneladan, menjadi serupa dengan seorang lelaki yang bernama Yesus, lelaki sejati dari Nazareth itu.

Adam Harus Bicara” menawarkan kepada para lelaki suatu pendekatan yang segar untuk mendefinisikan kejantanan lelaki, yang membimbing kepada sosok Kristus di tengah kehidupan yang serba susah dan sulit seperti sekarang ini. Jika kita mau berbicara tentang misteri kegelapan dan kekacauan pribadi, buku ini membuka suatu cara pandang baru dalam usaha mencari dan menemukan jati diri lelaki dalam relasinya yang akrab dan erat dengan Tuhan.

@@@

Senin, 17 Januari 2011

Cinta Mengatasi Segalanya


“Kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan”, sabda Tuhan.


Ketika merenungkan kata-kata Yesus seperti ditulis pada judul tulisan ini, saya ingat akan kata-kata yang pernah diucapkan oleh St Agustinus dalam bahasa Latin: “Ubi amatur, non laboratur, aut si laboratur, labor amatur". Dalam bahasa Inggris, kata-kata St. Agustinus itu diterjemahkan menjadi: “Where there is love; there is no toil; or if there is toil, the toil is loved”. “Di mana ada cinta, kelelahan itu tidak ada; atau jika kelelahan itu ada, maka kelelahan itu dicinta.”

Tuhan Yesus bersabda, “Kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan”. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, yang dimaksud dengan “kuk” itu adalah Hukum Allah. Berbeda dengan tafsiran para ahli Taurat yang cenderung legalistik, Yesus memberikan arti baru tentang “kuk”. Menurut Yesus, “kuk” itu adalah tuntutan hidup beriman kristiani, yaitu: mencintai. Jadi, kuk itu adalah kuk mencintai. Karena itu, kuk itu tidaklah membebani. Kuk cinta itu ringan. Kuk itu membuat segala sesuatu menjadi mudah. Kuk itu jauh dari membebani, tetapi memberikan makna sejati kepada hidup.

Sewaktu saya masih umur SD, saya ingat betul peristiwa ketika kakek saya, si tukang bajak itu, pulang dari sawah merangkak dengan kaki bersimbah darah, karena terjatuh di pematang sawah tertimpa mata bajak. Telapak kakinya yang sebelah kanan tertusuk mata bajak tembus dari atas sampai ke bawah. Saya bisa membayangkan betapa beratnya bajak itu dan ketika menjatuhi telapak kaki, langsung menembus telapak kaki kakek. Bajak adalah alat pembajak tanah di sawah, untuk membalik tanah, meratakan tanah, dan menggemburkan tanah lagi untuk tanaman baru.

Bajak itu ditarik oleh dua ekor kerbau. Dua ekor kerbau itu dihubungkan dengan kayu palang (dalam bahasa Jawa: pasangan) yang diletakkan di tengkuk kedua kerbau itu, lalu pasangan dihubungkan ke belakang dengan bajak yang berujung mata besi. Kalau alat bajak itu dirasa kurang menukik ketika dipakai untuk membalikkan tanah, maka bagian belakang dari bajak itu ditunggangi oleh si tukang bajak sebagai pemberat supaya bajak lebih menukik membalik tanah sampai ke kedalaman tanah yang diharapkan. Beban yang ditanggung oleh punggung kerbau/sapi sudah barang tentu menjadi makin berat.

Kakek saya bekerja mengolah tanah dan sawah setiap hari. Pekerjaan itu dijalankan demi cintanya kepada keluarga: mengolah tanah, menanam padi, menanam palawija dan sayuran. Jika panen hasilnya bisa dipakai untuk menyambung hidup. Dan jika penggarapan kebun dan sawah miliknya sudah selesai, kakek masih bisa melayani permintaan membajak sawah milik orang lain di sekitarnya, dengan menerima upah. Meski sudah tua, kakek dengan setia menjalankan pekerjaan itu, karena cintanya kepada keluarga. Meskipun berat, pekerjaan membajak dan mengolah tanah dan sawah itu pun tetap dijalaninya dengan senang hati dan penuh cinta.

Theresia Lisieux (1873-1897) adalah seorang suster Karmelit yang terkenal dengan “jalan kecil” yang ditawarkan kepada siapa saja yang sedang mencari jalan hidup yang lebih bermakna. Menurut dia, untuk menjadi suci orang tidak perlu tindakan besar. Untuk menjadi suci tidak perlu perbuatan hebat. Untuk menjadi suci orang hanya perlu mencintai Allah. Theresia pernah menulis, “Cinta membuktikan diri di dalam perbuatan. Karena itu, bagaimana aku harus menunjukkan cinta itu? Perbuatan besar itu tidak cukup bagiku. Cara yang bisa aku buktikan adalah mempersembahkan bunga-bunga, dan bunga-bunga itu adalah kurban-persembahan kecil-kecil, setiap kata dan perbuatanku. Maka, aku kerjakan setiap perbuatan demi cinta.”

Theresia menemukan bahwa cinta itu memberikan alasan kepada orang untuk hidup dan berharap. Sebagai anak kecil ia mengatakan bahwa ia dikelilingi oleh cinta dan ia pun mempunyai kodrat untuk mencintai itu. Tetapi pengalaman dicintai itu berhenti ketika ia kehilangan ibunya sewaktu ia masih berumur 4 tahun; dan kemudian ketika akhirnya Pauline kakaknya yang menjadi “ibunya yang kedua” juga meninggalkan dia masuk biara Lisieux. Adakah cinta yang berlangsung terus tanpa henti? Apa artinya cinta jika masih ada penderitaan? Setiap orang bertanya tentang cinta. Apa sesungguhnya cinta itu?

Theresia percaya bahwa Yesus bersama dia dan mencintai dia sejak kecil. Ia belajar tentang Yesus dari cerita-cerita yang ia baca dan dari keluarganya sendiri, dan setelah dewasa melalui Kitab Suci. Ia juga membaca buku “Mengikuti Jejak Kristus”, karangan Thomas Kempis. Lalu pada umur 17 tahun ia membaca buku tentang Santo Yohanes dari Salib dan melihat bagaimana cinta Allah menyemangati hidupnya. Theresia ingin memenuhi apa yang pernah ditulis oleh Santo Yohanes dari Salib itu: “Di senja hidup, kita akan diadili oleh cinta kita ...”. Theresia percaya bahwa cinta adalah segalanya. Ia mengenal betapa pentingnya cinta itu ketika ia membaca madah cinta dalam 1Kor 13. Ia berkeinginan untuk memeluk panggilan mencinta itu.
Ia menerjemahkan keinginan mencintai itu dengan mengembangkan relasinya dengan Tuhan Yesus. Ia mempersembahkan setiap harinya kepada Tuhan Yesus sebagai suatu cara untuk mewujudkan cintanya kepada Yesus.

Ketika ia menemukan bahwa hidup di biara itu tidak mudah, karena harus hidup bersama dengan beberapa orang suster yang kasar dan sulit dalam berkomunitas. Meski situasi biara tidak menyenangkan dia tetap tinggal di sana dan tidak pergi. Dia memutuskan untuk tetap hidup di sana dan hidup dengan situasi seperti itu. Dia menemukan “jalan kecil”, yaitu: menerima bahwa setiap orang itu datang dari Allah, dan setiap orang dicintai oleh Allah untuk selama-lamanya. Karena itu ia mencintai mereka sebaik-baiknya sejauh dia bisa. Ia berkata sopan, tersenyum, dan membantu mereka jika ia bisa melakukannya. Pada kenyataannya, ia belajar di dalam proses bahwa ada kesatuan yang mendalam antara cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama. Ia menulis: “Semakin hidup ini berfokus pada Kristus, maka aku semakin mampu mencintai para suster.”

Apa artinya “jalan kecil” itu bagi Theresia? Jalan kecil adalah gambaran yang ditangkap oleh Theresia tentang apa artinya menjadi murid Kristus. Jalan kecil artinya jalan menuju kesucian melalui hal-hal kecil yang biasa dan nyata dalam hidup sehari-hari. Dari hidupnya Theresia tahu bahwa Allah itu adalah cintakasih. Theresia tidak bisa memahami bagaimana orang bisa takut pada Allah yang berkenan menjadi anak kecil. Ia juga tahu bahwa ia tidak akan pernah sempurna. Karena itu, ia pergi kepada Allah sebagai anak yang mendekati orangtua, dengan tangan terbuka dan percaya secara mendalam.

Theresia menerjemahkan “jalan kecil” itu dengan komitmen terhadap tugas-tugasnya dan komitmen terhadap orang-orang yang dia temui di dalam hidup sehari-hari. Ia menjalankan tugas-tugas di biara Lisieux sebagai cara-cara mewujudkan cintanya kepada Allah dan cintanya kepada orang lain. Ia bekerja sebagai koster yang menyiapkan altar dan kapel. Ia menjadi pelayan di ruang makan (refter) untuk menyediakan makan-minum bagi para anggota komunitas. Ia membantu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di kamar cuci. Ia menulis drama untuk acara hiburan (rekreasi) di dalam komunitas. Dengan cara begitu ia mencoba memperlihatkan cintanya untuk semua suster dalam komunitas. Ia melakukan pekerjaan-pekerjaan itu tidak hanya untuk para suster yang dia sukai. Tetapi ia juga memberikan dirinya untuk para anggota komunitas yang lain yang dianggapnya sulit.

Hidupnya memang nampak terasa rutin dan biasa, tetapi itu merupakan bentuk penghayatan komitmennya untuk mencintai itu. Itulah “jalan kecil”. Jalan kecil adalah tindakan langsung, nyata dan sederhana tetapi mengandung makna keberanian dan komitmen untuk mencintai. Jalan kecil memberi kemungkinan orang biasa menjadi mampu meraih kesucian. Theresia berpesan: “Hayatilah hari-harimu dengan percaya akan cintakasih Allah untuk kamu. Ingatlah bahwa setiap hari merupakan hadiah di mana hidupmu bisa dibuat berbeda dengan cara bagaimana kamu menghayatinya. Cinta adalah komitmen yang setiap hari harus diulangi dan dikerjakan di dalam hidupmu sehari-hari”. @@@

Hidup untuk Mencintai



“Kebahagiaan sejati ditemukan dalam cinta yang terbebaskan dari cinta diri,” kata Thomas Merton, “yaitu cinta yang menumbuhkan orang lain, proporsional dengan yang dibagikan.”



Berbicara mengenai cinta, ingatan kita disegarkan kembali oleh ungkapan The Beatles, sekelompok penyanyi rock, yang pada tahun 1960-an pernah melantunkan sebuah lagu yang liriknya antara lain berbunyi demikian: “All you need is love”. Artinya, segala yang kamu butuhkan adalah cinta. Penulis lagu itu, yaitu: John Lennon dan McCartney, dengan sadar menuliskan kalimat itu dengan tujuan: mau mengajari orang tentang pentingnya cinta. Yang perlu mereka kerjakan adalah menunjukkan kepada dunia tentang pentingnya mencintai. Karena itu, pentinglah juga menyanyikan lagu tentang cinta itu. John Lennon dan McCartney sendiri mengharapkan agar orang lain yang mendengarkan lagu itu juga menjadi lebih paham mengenai apa artinya “cinta”, yang pada hakikatnya adalah “segala yang kamu butuhkan”.

Cinta yang otentik

Seorang penyair Itali, namanya Dante Alighieri (1265-1321), menulis puisi yang berjudul “The Divine Comedy”, dan isinya sepaham dengan pandangan dari para penyanyi rock the Beatles. Dia menulis: “Love is the heartbeat of the whole universe”. Cinta itu adalah degup jantung dari seluruh alam semesta. Segala sesuatu berpartisipasi di dalam degupan jantung itu, seiring dengan cinta mereka yang khas yang dapat mereka ungkapkan, kepada dirinya sendiri, kepada tanaman, kepada binatang dan kepada manusia.

Cinta otentik yang merupakan salah satu keutamaan kristiani yang utama bukanlah cinta yang romantik. Paham kristiani mengenai keutamaan cinta ini dapat diklarifikasi pada istilah yang berasal dari bahasa Latin dan Yunani. Kata Yunani untuk cinta adalah “agape”. Dalam bahasa Latin, kata cinta berasal dari kata “caritas”, yang dalam bahasa Inggrisnya “charity”. Dalam kedua bahasa itu arti kata cinta adalah “disposisi afektif terhadap pribadi orang lain yang timbul karena kualitas yang dipersepsikan sebagai menarik, entah karena naluri alami untuk berelasi, atau karena rasa simpati, dan mengakibatkan timbulnya perhatian demi kebaikan dan kesejahteraan pribadi lain itu dan biasanya juga membawa rasa senang pada diri pribadi orang lain itu karena oleh pribadi yang dicintai itu kehadirannya dan keinginannya diterima dan disetujui.”

Jika kita melihat cinta dari perspektif teologi, cinta itu biasanya dimengerti sebagai cinta Allah yang tanpa syarat, cinta yang tanpa pamrih. Untuk memperluas cakrawala pemahaman kita, kita perlu mendiskusikan cinta Allah bagi kita, cinta kita bagi Allah, cinta kita satu sama lain dengan sesama, cinta kita kepada ciptaan Allah, dan pemahaman yang tepat mengenai cinta kita pada diri kita sendiri. Haruslah menjadi jelas mulai sekarang bahwa bahwa “cinta” itu jauh dari sederhana. Keutamaan cinta adalah dasar bagi hidup kristiani, sehingga kita harus melakukannya dengan baik untuk memberikan cinta itu dengan sepenuh perhatian kita.
Agar keutamaan cinta itu menjadi otentik maka kita perlu aktif untuk membantu orang lain agar orang lain itu dapat merasakan bahwa dirinya itu dicintai. Anda dapat mengatakan kepada saya 30 kali sehari bahwa anda cinta pada saya, tetapi kalau anda tidak melakukan cinta itu dalam tindakan, maka saya tidak akan merasakan bahwa anda mencintai saya, dan saya juga tidak akan tahu bahwa anda memang mencintai saya. Cinta itu akan tinggal dalam pemikiran abstrak kalau cinta itu tidak diwujud-nyatakan, kalau cinta itu hanya dalam bentuk kata. Dalam artian yang seperti ini, supaya seorang isteri itu merasa dicintai, maka suaminya harus menungkapkan cintanya itu dengan cara-cara yang dapat dirasakan oleh isterinya. Adalah penting bagi suami dan isteri untuk mengatakan “I love you” satu sama lain. Tetapi penting juga bagi seorang suami untuk membawa bunga kepada isterinya, mengambil tanggung jawab urusan rumah tangga dan melaksanakan kewajiban mendidik anak-anak, dan melakukan semua itu dengan penuh cinta demi isterinya yang dia cintai.

Dalam Perjanjian Lama, kesatuan penuh cinta antara manusia dengan Allah digambarkan dengan amat jelas dalam Kitab Kidung Agung, sebagai suatu perayaan cinta seksual yang mesra antara mempelai lelaki dan mempelai perempuan. Di sana dikatakan: “Dinda pengantinku, kebun tertutup engkau, kebun tertutup dan mata air termeterai. Tunas-tunasmu merupakan kebun pohon-pohon delima, dengan buah-buahnya yang lezat, bunga pacar dan narwastu.” (Kid 4: 12-13). “Kekasihku memasukkan tangannya melalui lobang pintu, berdebar-debarlah hatiku” (Kid 5: 4).

Keutamaan cinta tidak dibatasi oleh ranah spiritual, karena cinta manusiawi, baik untuk Allah maupun untuk sesama manusia, tidak pernah dapat menjadi semata-mata spiritual. Terutama dalam sakramen perkawinan, kesatuan cinta baik secara rohani maupun secara fisik itu penting dan dipandang serius. Memang, kita ini adalah manusia, yang tidak melulu rohani tetapi juga jasmani, roh yang menubuh.

Di bagian lain dalam Kitab Suci, kita juga mengenal cinta Allah melalui gambaran hubungan suami isteri. Misalnya, kita bisa baca perikopa ini:
“Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, Tuhan semesta alam nama-Nya; yang menjadi penebusmu ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi. Sebab seperti isteri yang ditinggalkan dan yang bersusah hati Tuhan memanggil engkau kembali; masakan isteri dari masa muda akan tetap ditolak? Firman Allahmu. Hanya sesaat lamanya Aku meninggalkan engkau, tetapi karena kasih sayang yang besar Aku mengambil engkau kembali. Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihi engkau, firman Tuhan, Penebusmu.” (Yes 54: 5-8).

Cinta Allah terbukti di dalam tindakan-tindakan-Nya yang menyelamatkan manusia, bangsa-Nya. Allah memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Allah memberikan kepada bangsa Israel tanah yang mengalirkan susu dan madu. Dalam Kitab Ulangan pengalaman bangsa Israel akan cinta Allah adalah alasan untuk sebaliknya mencintai dan menaati Dia. “Dengarlah hai Israel: Tuhan itu Allah kita. Tuhan itu Esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul 6: 4-5).
Bagi umat Israel kuno, cinta itu sensual sekaligus afektif. Kitab Suci Perjanjian Lama menunjukkan kepada kita bahwa cinta itu adalah cinta kepada sesama, dan juga cinta yang setia kepada perjanjian dengan Allah dan setia kepada hukum Musa.

Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, model cinta itu adalah Yesus, dan keinginan diri-Nya untuk memberikan hidup-Nya bagi mereka yang dicintai. Santo Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus menyatakan: “iman, harapan dan kasih setia; dan di antara ketiga itu yang paling besar adalah cinta [agape]” (1Kor 13: 13). Kata-kata Paulus itu melukiskan cinta Allah bagi kita manusia, dan jalan-jalan di mana kita dipanggil untuk mencintai Allah dan sesama. Karena itu, cinta itulah yang sekarang menjadi jiwa dan hati dari hidup kristiani.

Cinta yang menjadi nyata

Santo Thomas Aquinas (abad 13), adalah salah satu teolog yang paling berpengaruh dalam seluruh jaman. Ia mengatakan bahwa mencintai berarti menginginkan kebaikan terjadi pada diri orang yang dicintai. Thomas Aquinas menangkap arti mendasar dari cinta itu. Untuk mencintai, kita tidak harus menyukai lebih dulu terhadap orang yang kita cintai itu. Tetapi sebaliknya. Cinta kristiani, agape, itu mewujud dalam pelayanan yang didedikasikan kepada kebaikan orang lain, dan “menyukai” itu tidak ada kaitannya dengan tindakan mencintai itu sendiri.

Ada banyak contoh cinta yang dilakukan oleh banyak orang dalam jaman ini. Bunda Teresa dari Kalkuta, dikenal sebagai pribadi yang memberikan hidupnya untuk melayani orang-orang termiskin dari orang-orang yang miskin. Tetapi sebagus contoh pribadi yang menghayati cinta sedemikian besar, sosok itu begitu jauh dari antara kita. Bagi kebanyakan dari kita, guru cinta yang terbesar dapat kita temu dalam diri orang-orang yang dekat dengan kita, siapa saja, yang dari hari ke hari, memperlihatkan makna cinta itu sendiri. Barangkali itu adalah orangtua kita, nenek-kakek kita, pasangan kita, teman kita. Bagi banyak orang, pengalaman “jatuh cinta” dan “sedang bercinta” juga membawa kita pada pengalaman akan cinta Allah yang menyelamatkan. Kitab Suci pun tidak ragu menempatkan pengalaman yang manusiawi itu untuk mengajarkan kepada kita tentang cinta Allah untuk kita.

Seorang psikolog bernama Erich Fromm, yang sepemikiran dengan Thomas Aquinas, pernah mengatakan pada tahun 1950-an bahwa cinta itu adalah tindakan dan bukan perasaan. Dia mengatakan: “Love is the active concern for the life and the growth of that which we love. Where this active concern is lacking, there is no love.” “Cinta adalah perhatian aktif untuk kehidupan dan pertumbuhan orang-orang yang kita cintai. Di mana perhatian aktif itu kurang, di sana cinta itu tidak ada,” kata Erich Fromm.

Dibentuk oleh sabda Tuhan

Keutamaan cinta adalah lem perekat hidup bersama. Jika tidak ada cinta, segala sesuatunya menjadi udhar, ambyar, terpecah-belah, tidak ada kesatuan. Keutamaan cinta bisa diumpamakan sebagai batu penjuru dalam sebuah bangunan. Jika batu penjuru itu tidak ada, maka runtuhlah bangunan itu. Banyak orang tidak memahami bahwa iman kristiani mengutamakan kesatuan cinta dengan Allah dan cinta kepada sesama, dan kebutuhan yang vital bagi keduanya adalah menjadi bagian dari eksistensi kita sebagai manusia.

Kita perlu mengikuti waktu Allah untuk memperlihatkan cinta-Nya bagi kita, dan kita perlu memberikan waktu untuk membalas mencintai Allah. Jika keutamaan cinta itu menjadi kenyataan, maka kita perlu menyediakan waktu kita untuk berdoa. Melalui doa itu kita mengenal cinta Allah bagi kita, dan kemudian kita membalas cinta Allah itu, dan mencintai orang lain dengan setia. Berlandaskan pada cinta itu, kita akan menjadi mampu setia pada komitmen kita, seperti komitmen dalam perkawinan, imamat, hidup religius, atau hidup membujang.
Keutamaan cinta itu memiliki komitmen untuk hidup yang berakar pada hubungan mesra dengan Yesus Kristus yang sudah bangkit. Jika keutamaan cinta itu sungguh kristiani, maka keutamaan itu mewujud dalam tindakan dalam kesatuannya dengan Yesus dan membawa semangat Yesus. Inilah keutamaan cinta yang merupakan gema dari kata-kata Yesus dalam Injil Yohanes: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh 15: 12-13).

Inilah ukurannya: mencintai seperti Yesus sudah mencintai, yaitu: menyerahkan hidup-Nya untuk sahabat-sahabat-Nya.” Bahkan secara radikal, mencintai seperti Yesus mencintai adalah masuk ke dalam cinta yang aktif bagi siapa saja yang bukan termasuk “sahabat-sahabat-Nya”: “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata kepadamu: ‘Kasihanilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.” (Luk 6: 27-29).

Ketika kita mendengar sabda Tuhan yang berbunyi seperti itu, kecenderungan kita adalah berpikir secara literer, berpikir tentang situasi yang luar biasa, di mana kita sesungguhnya dipanggil untuk mencintai seseorang dengan cara memberikan apa yang kita miliki pada orang lain, mantol kita atau baju kita. Inilah cara berpikir yang gagal memahami bahwa keutamaan cinta itu jarang dibutuhkan dalam situasi yang luar biasa seperti itu. Tetapi, cinta itu dibutuhkan dalam situasi sehari-hari dalam hubungan kita dalam keluarga, dengan teman, dan teman kerja kita. Kita dipanggil untuk menyerahkan hidup kita kepada teman kita dan melakukan apa yang baik bagi mereka yang perilakunya melukai kita, atau sekurang-kurangnya pernah membuat kita marah.

Maka berpikirlah peristiwa-peristiwa yang paling sederhana dalam hidup. “Musuh” yang harus kita cintai itu adalah pasangan hidup kita, yang kerapkali membuat kita marah, karena mematahkan sikat gigi kita, atau anak kita yang tidak mempunyai rasa hormat pada orangtua, atau teman kerja kita yang membuang banyak waktu di kantor dengan ngobrol. “Teman” yang disebut oleh Yesus, yang kepadanya hidup kita harus diserahkan, adalah terutama anggota-anggota keluarga kita: pasangan kita, anak-anak kita, orangtua kita. Keutamaan cinta tidaklah sesuatu yang kita hayati di dalam situasi yang luar biasa. Keutamaan cinta harus mewujud dalam hidup kita sehari-hari yang serba biasa ini.

Kebanyakan dari kita mampu menangkap pentingnya cinta di dalam hidup. Kita semua ingin mencintai, dan kita semua ingin dicintai. Tetapi jika kita jujur terhadap diri sendiri, kita harus mengakui bahwa keinginan kita yang pertama-tama adalah untuk dicintai. Apa yang gagal kita pahami atau kita lihat adalah bahwa pencarian untuk dicintai itu adalah jalan yang paling pasti untuk tidak dicintai. “Kebahagiaan sejati ditemukan dalam cinta yang terbebaskan dari cinta diri,” kata Thomas Merton, “yaitu cinta yang menumbuhkan orang lain, proporsional dengan yang dibagikan.”

Hidup punya makna hanya sejauh berkembang karena kita menjadi lupa diri sendiri dalam rangka mencintai orang lain; inilah cinta yang dewasa. Tetapi ini bukanlah segalanya karena kita tidak dapat mencintai tanpa kita mau menerima cinta orang lain kembali. Mencintai berarti menerima cinta; tetapi kita hanya dapat menerima cinta karena mencintai lebih dulu. Inilah paradoks dari cinta itu.

Penutup

Jika kita ingin melihat keutamaan cinta, kita harus menghafalkan dalam pikiran kita bahwa kita tidak akan pernah melihat cinta itu lalu selesai. Kita akan melihat cinta itu menurut pandangan dua belah pihak yang saling mencintai. Tetapi kita akan melihat cinta itu dengan daya kekuatan untuk menyentuh hati di dalam cinta seorang perawat yang mengunjungi tempat tidur pasien yang sedang berproses meninggalkan dunia.

Kita akan melihat kekuatan cinta yang besar di dalam kesetiaan seorang ayah atau ibu yang hari demi hari, minggu demi minggu menjemput anak-anak pulang dari sekolah. Kita akan melihat kekuatan cinta di dalam diri seorang imam yang mau menghabiskan waktu berbulan-bulan di dalam penjara karena konsekuensinya memberikan kesaksian public atas ketidakadilan sosial.
Kita akan melihat cinta dalam kaca mata pandang seorang pribadi yang dalam seluruh hidupnya membaktikan diri untuk pengajaran di kelas untuk bidang matematika, sejarah, kimia, fisika, biologi, bahasa, sastra, musik, seni suara. Kita akan melihat cinta, di dalam kaca mata pandang dan tindakan seorang mekanik motor atau mobil yang tidak hanya terutama memperhatikan motor atau mobil untuk dirawatnya dari tahun ke tahun, tetapi juga memberikan perhatikan terutama bagi orang-orang yang mengendarai motor atau mobil tersebut.Kita tidak akan berhenti untuk memberi arti apa artinya cinta. Tidak ada akhirnya kita mencari arti cinta dalam kehidupan. Hanya hal ini yang perlu diiingat, yaitu bahwa tanpa cinta yang memberi dan menerima maka hidup ini akan menjadi kosong dan tanpa tujuan. Dengan cinta, tidak ada masalah apa pun yang terjadi, hidup ini menjadi bernilai. @@@

Dipanggil untuk Memaknai Hidup


Setiap orang mempunyai garis kehidupannya sendiri yang khas. Demikian juga aku. Aku pernah dilahirkan, mengalami masa kanak-kanak, lalu bersekolah, dan kemudian berkarya. Nanti setelah berkarya, aku akan memasuki masa pensiun. Masa pensiunku berjalan, tetapi nampaknya waktu pensiun itu juga terbatas. Waktu pensiun tidak bisa diperpanjang lagi. Setiap kehidupan ada akhirnya. Masa tugas kehidupanku di dunia ini akan selesai. Kehidupanku di dunia ini akan berhenti setelah Sang Pencipta memanggil aku kembali kepada-Nya, kembali kepada sang Sumber Kehidupan.

Bagaimana kehidupanku nanti setelah hidupku di dunia yang fana ini berakhir? Aku tidak tahu. Aku bertanya pada diriku sendiri: apa yang telah aku lakukan di waktu-waktu yang sudah berlalu? Dan dalam periode hidupku yang sedang aku jalani sekarang ini, apa yang mau aku lakukan? Mengapa aku menjalani periode kehidupan ini? Nampaknya aku perlu memaknai kehidupanku; karena setiap waktu yang aku lewati di dalam kehidupan ini, tidak akan pernah kembali lagi. Setiap satuan waktu yang aku miliki adalah unik. Waktu yang sudah berlalu tetap berlalu dan tidak bisa aku minta kembali.

Seperti yang terjadi sekarang ini, aku menulis renungan ini, dan anda semua para pembaca, menikmati kata demi kata, kalimat demi kalimat yang aku tulis, adalah peristiwa yang sangat khas dan tak kan terulang kembali. Setiap kata selesai dibaca, waktu periode itu pun sudah lewat. Dan aku tidak bisa kembali ke waktu, di mana aku pernah menulis kata-kata yang sudah berada di depan. Jadi kemarin malam yang sudah aku lewati itu juga satu-satunya malam yang ada di dalam hidupku. Kini waktu yang kemarin itu tidak akan kembali lagi.

Kalau aku melakukan sesuatu yang baik, pada tetanggaku, pada pada anggota keluargaku, pada teman-teman sekerjaku, pada teman-temanku belajar dan teman-temanku bermain, pada guru dan pada pembimbingku, pada ayah dan ibuku, aku melakukan semua itu untuk selama-lamanya. Ini sungguh luar biasa. Jadi, kalau aku sakiti mereka, kalau aku melukai hati mereka: ayah-ibu, saudara-saudariku, teman-temanku, guru dan pembimbingku, tetanggaku, itu semua akan terpatri untuk selama-lamanya, dan tak kan pernah dapat dicabut kembali. Memang aku bisa segera menghadap ke pastor, kepada imam, untuk mengakukan dosa-dosaku; dan setelah itu dosaku telah diampuni. Tetapi aku sadari bahwa aku tidak bisa mencabut apa yang pernah aku lakukan? Apakah aku bisa menghapusnya? Aku rasa itu tidak mungkin. Meski dosaku sudah diampuni oleh Tuhan, aku tidak bisa menghapus, tidak bisa mengoreksi apa yang sudah terjadi di masa lampauku. Kaca yang sudah pecah, tidak bisa disambung lagi. Yang lalu itu sudah terpatri untuk selama-lamanya.

Maka, pertanyaannya adalah: apa dan bagaimana aku akan memaknai kehidupanku setiap saat, setiap detik. Mengapa begitu? Karena kita punya waktu di dunia ini sangat singkat dan terbatas. Karena itu, aku perlu memaknai hidupku. Sekali aku memaknai hidupku ini, akan terpatri untuk selamanya. Ketika aku sudah sampai pada periode akhir kehidupanku, aku tidak bisa mengulang kembali.

Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah 100 tahun yang akan datang, aku masih diperkenankan oleh sang Sumber Kehidupan untuk hidup di dunia ini? Waktuku terbatas. Waktuku sekarang adalah waktunya untuk memberi makna kehidupan.

Merenungkan makna kehidupan

Dalam keheningan, aku membayangkan bagaimana keadaanku sebelum aku ada di dunia ini. Namun sang Pencipta telah memutuskan untuk melahirkan aku di dunia ini. Dan karena itu Dia pilih orang yang terbaik, yaitu ayah-ibuku. Mereka menjadi alat di tangan-Nya untuk menciptakan aku menjadi manusia baru. Aku memang tidak tahu bagaimana semua proses dan peristiwanya waktu itu terjadi. Tetapi aku dapat membayangkannya bagaimana aku memulai kehidupanku dalam sebuah keluarga. Aku menjadi seorang bayi, penuh dengan kelembutan. Aku senantiasa dilindungi, dirawat, dibesarkan, dengan penuh rasa kasih sayang.

Maka, aku coba membayangkan sejenak, bagaimana saat-saat aku dulu masih kanak-kanak. Aku bayangkan lorong-lorong jalan, tempat aku bermain. Aku bayangkan wajah orang-orang yang berada di sekitarku, yang selalu siap untuk memegang tanganku, memberikan bantuan, menggendong bila aku mengantuk, dan merawat aku ketika aku sakit.
Aku melihat kembali ruangan di dalam rumahku, penuh dengan kisah-kisah kasih yang telah membuat aku mencintai kehidupan. Kalau aku berjalan, di dalam lorong-lorong perjalanan kehidupanku, aku melihat semua kisah kasih sayang. Pada saat-saat yang sulit aku diselamatkan oleh kasih sayang mereka.

Aku dapat melihat kembali saat-saat aku mengalami kesulitan-kesulitan di dalam kehidupan, waktu aku masih sekolah, waktu aku menjalani masa remaja, menjadi pemuda-pemudi, aku menyaksikan kembali apa yang mereka perbuat untuk aku. Mereka telah membantu aku. Mereka telah rela berkurban, menanggung segala sesuatu, agar aku berhasil mencapai cita-citaku. Ternyata aku memulai kehidupanku di dunia ini penuh dengan nilai-nilai kehidupan.
Dan ketika aku menyadari sekarang, aku masih hidup, studi dan bekerja di tempat ini, itu karena tetes keringat dan pengurbanan dari orang-orang yang memberikan apa yang terbaik bagi kehidupanku. Dan itulah hakikat yang aku alami pada saat ini. Maka, kalau aku ada dalam keheningan seperti sekarang ini, hatiku merasa tergoncang, merasa terharu, merasakan apa nilai yang telah membuat aku masih hidup sampai saat ini. Nilai-nilai itu juga telah membuat aku bisa bertahan untuk tinggal di rumah di mana aku hidup sekarang ini, untuk bekerja di tempat ini untuk mencari penghidupan dan aktualisasi diri.

Aku membayangkan setiap hari perjalanan hidupku. Kadang ketika aku hendak keluar dari rumah, dan pergi ke kantor, sebenarnya aku sudah mau menyerah, putusasa, nglokro karena keadaan begitu sulit. Tetapi ketika aku kembali ke rumah, aku disambut oleh wajah-wajah yang membutuhkan aku, wajah-wajah yang mengharapkan aku berhasil dalam pekerjaanku. Akhirnya aku kembali ke kantor juga, untuk melaksanakan pekerjaanku dengan baik. Aku kembali menekuni studiku; aku menekuni pekerjaanku.

Kadang-kadang karena orang-orang yang aku cintai dan orang-orang yang aku beri kehidupan, aku rela untuk menunda berobat, rela menunda belanja untuk kepentingan diriku sendiri, hanya asal orang-orang yang aku cintai itu semua merasa bahagia dan senang. Itulah yang mau aku coba rasakan, nilai-nilai kehidupan itu yang menjadikan aku seperti ada sekarang ini. Aku hidup di dunia ini karena nilai-nilai kasih sayang. Dan aku bertahan hidup karena nilai-nilai kasih sayang itu, yang telah ditanam oleh sang Pencipta dalam hatiku. Aku sekarang menyadari bahwa Sang Pencipta sudah menanamkan nilai-nilai kehidupan itu di dalam diriku, juga di dalam diri setiap orang lain, yang menyadari kasih Allah yang bekerja melalui tangan banyak orang lain di sekitarku. Sekarang aku dipercaya oleh sang Pencipta itu untuk menjadi alat-Nya juga, untuk bisa mewujud-nyatakan nilai-nilai kehidupan itu untuk sesamaku. @@@

Minggu, 16 Januari 2011

Hidup yang Memuliakan Allah


“The Glory of God is a human being who is fully alive”. “Memuliakan Allah berarti menjadi manusia yang sungguh hidup secara penuh utuh”, kata Santo Irenaeus (abad ke-4).


Dalam sebuah seminar yang mengangkat tema pembicaraan “Kerasulan Awam yang Berbasis pada Spiritualitas Ignasian” di kampus Universitas Sanata Dharma (2009) pernah muncul suatu pertanyaan dari salah satu peserta seminar: “Bagaimana mungkin kita manusia bisa memuliakan Allah, bukankah Allah itu sudah mulia dan tidak perlu dipermuliakan; dan apa yang bisa kita buat jika kita mau memuliakan Allah?”
Santo Ignatius dan para pengikutnya pun sangat gemar menulis semboyan: “Ad Maiorem Dei Gloriam”; bahkan di dinding kapel Universitas Sanata Dharma Mrican juga dipajang tulisan yang sama, yang artinya: “Demi Kemuliaan Allah yang Lebih Besar”. Mungkinkah kita manusia mampu membuat Allah lebih mulia?

Pertanyaan seperti itu sungguh dapat dimengerti, karena kita terbiasa memberikan “kemuliaan” kepada pribadi tertentu, membuat pribadi itu “dimuliakan”. Kita sudah terbiasa mendengar sapaan pada awal sebuah pidato: “Saudara-saudara terkasih, para hadirin yang kami muliakan”. Tetapi untuk Allah, tidak mungkin ada manusia yang dapat membuat-Nya lebih mulia. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama ditulis: “Jikalau engkau benar, apakah yang kauberikan kepada Dia? Atau apakah yang diterima-Nya dari tanganmu?” (Ayub 35: 7).
Kita manusia tidak bisa menambah kemuliaan Allah; Allah sudah mulia, dan kemuliaan-Nya tak terbatas. Allah tidak membutuhkan sesuatu dari apa yang kita kerjakan, karena Dia-lah yang memberi hidup, memberi nafas dan segala sesuatu yang lain kepada kita manusia (bdk. Kis 17: 25). Apa pun yang kita kerjakan demi kemuliaan Allah akhirnya adalah demi pertumbuhan kita sendiri dalam hal kesucian.

Mengakui dan memuji kebaikan Allah

Bicara mengenai kemuliaan Allah berarti bicara mengenai kebesaran-Nya, keindahan-Nya, kesempurnaan-Nya. Bicara tentang kemuliaan Allah berarti juga bicara tentang martabat Allah, kebijaksanaan Allah, kemahakuasaan Allah, keadilan Allah dalam memelihara seluruh ciptaan-Nya. Hanya kepada-Nya semua kemuliaan itu diberikan.
“Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa, sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.” (Why 4: 11). “Aku berkata kepada Tuhan: Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau.” (Mzm 16: 2). Doa “Kemuliaan” yang kerapkali kita ucapkan secara hafalan, menjadi suatu doa yang mengarahkan hati kita pada suatu makna “kemuliaan” yang tersembunyi: Semoga cinta kasih Allah Bapa dinyatakan, diakui, dipuji, dan demikian juga cinta Allah Putra dan cinta Allah Roh Kudus, seperti pada permulaan, dahulu, sekarang, dan sepanjang segala abad, selama-lamanya. Amin.”

Aspek lain dari kemuliaan Allah adalah karakter atau sifat Allah. Kemuliaan itu adalah representasi fisik dari sifat Allah, representasi fisik dari kehadiran-Nya. Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, St. Yohanes mengajarkan kepada kita bahwa “Allah adalah cinta”. God is love. Deus est caritas. Kemuliaan Allah dinyatakan di dalam cinta. Jika kita menerima cinta Allah, maka kita memancarkan kemuliaan Allah itu.

Menurut Dante, kemuliaan Allah itu adalah cinta yang bercahaya: “cinta yang menggerakkan matahari dan segala bintang; cinta yang bersinar melalui segala ciptaan-Nya.” Cinta yang bercahaya itu nampak dalam wajah dua remaja yang sedang jatuh cinta. Cinta yang bercahaya itu juga memancar keluar dari sorot mata lembut seorang ibu yang menatap kelahiran baru puteranya. Cinta yang bercahaya itu juga memancar dari wajah pribadi-pribadi suci, seperti Bunda Teresa dari Kalkuta dan Paus Yohanes XXIII. Cinta itu bercahaya, bersinar, indah, mulia!
Jika saya menghayati hidup saya sebagai “kemuliaan bagi Allah”, maka saya menghayati hidup ini dengan semakin memancarkan cinta Allah itu kepada orang lain. Segala sesuatu yang saya pikirkan, segala sesuatu yang saya katakan, segala sesuatu yang saya kerjakan, harus menjadi perwahyuan diri Allah yang adalah cinta itu melalui “diri pribadi saya”. Hidup saya, pekerjaan saya harus merupakan perwahyuan belaskasih Allah, belarasa Allah, kelemah-lembutan Allah, bagi orang lain.

Menghayati hidup secara penuh

Kita dipanggil untuk memuliakan Allah di dalam hidup kita, lahir dan batin: “Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri [tetapi milik Allah]” Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dalam [dengan menggunakan] tubuhmu” (1Kor 6: 19-20).

Kita dipanggil untuk memuliakan Allah dengan mengembangkan karakter yang baik: “Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah [bertumbuh] dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian sehingga kamu dapat memilih apa yang [paling] baik, supaya kamu suci dan tidak bercacat menjelang hari Kristus, [dan hidupmu] penuh dengan buah kebenaran [kualitas yang baik] yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah” (Flp 1: 9-11).

Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya: “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku” (Yoh 15: 8).
Menurut Santo Irenaeus, memuliakan Allah berarti menjadi pribadi manusia yang sungguh hidup secara penuh. Hidup secara penuh merupakan cirikhas pribadi kristiani yang memandang dan menghargai kehidupan ini sebagai hadiah yang datang dari Allah, dan menggunakan tubuh, pikiran, hati, dan jiwanya sebagai kesatuan utuh untuk memancarkan dan mewujud-nyatakan gambaran diri Allah yang adalah CINTA.

Ketika kita mempersembahkan pikiran kita, tutur kata kita, tindakan-tindakan kita demi kemuliaan Allah, maka kita mengakui suatu fakta bahwa kita adalah anak-anak Allah dan bahwa hidup ini adalah pemberian atau hadiah dari Allah, dan bahwa kita adalah hadiah dari Allah untuk dunia. Kita mengakui bahwa hidup ini hadiah dari Allah dan kita menghayati hidup ini dengan menggunakan hadiah dan talenta itu secara penuh dan membagikannya kepada orang lain untuk membangun dunia menjadi tempat yang lebih baik, dan untuk mempengaruhi orang lain agar mereka melakukan segala sesuatu demi kemuliaan Allah yang lebih besar.

Hendaknya terangmu bercahaya

“Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan [mengenal, mengakui, memuji cinta) Bapamu yang di surga” (Mat 5: 16) adalah perintah Yesus. Yesus dengan jelas menyatakan bahwa tujuan hidup kita adalah berperilaku sedemikian rupa sehingga Allah dimuliakan melalui hidup kita. Hidup semacam apa itu? Hidup yang dilihat oleh orang lain, dan di dalam hidup seperti itu Allah yang berada di surga dimuliakan; bukan diri kita yang dimuliakan. Jadi, memuliakan Allah bukan hanya di dalam doa atau ibadat, tetapi juga di dalam suatu cara hidup tertentu.

Jika kita membiarkan Allah mengendalikan hidup kita, dengan mendengarkan dorongan-Nya, mengikuti kehendak-Nya, kita akan merasakan inspirasi ilahi untuk mengerjakan perbuatan baik. Pekerjaan baik kita akan mengalir secara spontan dari hati kita dan mewujud-nyatakan cintakasih Allah yang mengisi keberadaan kita. Ketika kita menyadari bahwa Yesus dan Allah yang adalah Terang (Cinta) itu yang menggerakkan tindakan kita, dan bukan diri kita sendiri, maka kita akan mulai mencintai Dia secara lebih dan akan menghasilkan cinta yang lebih pula di dalam diri kita, yang membuat Terang itu bersinar lebih.

Kita mencintai karena Allah telah mencintai kita lebih dulu. Maka, semakin kita menyadari cintakasih-Nya untuk kita, kita akan makin mencintai, dan Terang (yang adalah Cinta) itu makin bersinar. Mengapa makin bersinar? Karena kita akan menyadari betapa Allah mencintai kita. Cinta-Nya mendorong kita untuk melakukan pekerjaan baik. Kemudian, barulah terang kita bersinar dengan benar. Inilah artinya bahwa Allah dimuliakan. Ketika kita dipanggil menjadi “terang dunia”, kita tidak hanya diminta untuk bertindak baik dengan tubuh kita, tetapi juga untuk bersikap baik dan bermotivasi baik. Jadi harus ada Roh (spirit) yang menggerakkan perbuatan baik itu; dan jika demikian maka perbuatan baik itu akan memuliakan Allah dan membuat Allah berkenan.

Memuliakan Allah dalam hidup sehari-hari

Allah memanggil kita untuk memuliakan Dia di dalam segala sesuatu yang kita kerjakan, tidak hanya di dalam aktivitas peribatan dan doa. “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semua itu untuk kemuliaan Allah.” (1Kor 10: 31). Ada dua hal yang mau dikatakan oleh Santo Paulus melalui suratnya ini, yaitu: pekerjaan kita dan kemuliaan Allah. Tujuan utamanya adalah memuliakan Allah. Maka pekerjaan kita apa pun bentuknya [makan, minum, studi, kerja, tidur] harus dikembalikan kepada tujuan utama itu: apakah pekerjaan kita itu bisa merupakan bentuk usaha kita untuk memuliakan Allah?

Dengan kata lain, kita dipanggil untuk memuliakan Allah melalui hidup kita yang serba biasa kita lakukan ini. Kita makan, minum, studi, bekerja, beristirahat itu tidak hanya memuaskan rasa dahaga-lapar-lelah kita, tetapi menikmati hidup ini dengan rasa syukur kepada Allah dan mengakui bahwa semua itu diselenggarakan oleh Allah bagi kita. Kita diajak untuk mengingat bahwa Allah itu lebih penting daripada hanya sekedar makanan, minuman, studi, kerja dan tidur. Kita dipanggil untuk menggunakan segala kekuatan dan hidup kita untuk menghormati dan memuliakan Allah.” @@@

Villa Dulcis



"Villa Dulcis" adalah dua kata dari bahasa Latin, “villa” (kata benda) dan “dulcis” (kata sifat), yang berarti: tempat istirahat yang manis; tempat istirahat yang indah, bagus, enak dan nyaman. Pemakaian dua kata Latin “villa dulcis” untuk blog ini, mendapatkan inspirasinya dari suatu pengalaman hidup yang menyegarkan, yang terjadi pada hari istimewa yang disebut “dies villae”, yaitu hari untuk berkunjung ke villa. Hari berkunjung ke villa itu terjadi pada hari libur, pada hari istirahat.

Pada suatu hari minggu, selepas makan pagi, saya bersama dengan beberapa teman yang sedang menjalani masa studi di Kolese Stanislaus Girisonta, pergi berlibur bersama ke sebuah villa di daerah Bandungan, yang dikenal dengan nama villa “Sine Wente”. Untuk acara liburan seperti ini biasanya sudah dipersiapkan lebih dulu: apa saja aktivitas yang akan dilakukan di sana. Ada doa bersama, jalan-jalan bersama, menikmati alam sekitar, makan bersama. Sudah barang tentu, tersedia juga waktu pribadi untuk diisi apa saja sesuai dengan selera. Tidak pernah terlupakan bahwa hari libur seperti itu karena hari istimewa, banyak waktu digunakan untuk relaksasi, refleksi dan baca-baca. Sepulang dari liburan, saya dan teman-teman sungguh merasakan adanya suatu kesegaran yang mampu memberikan energi baru untuk kembali menjalani hidup yang biasa dan rutin dengan semangat baru, penuh kegairahan.

Dewasa ini banyak orang tidak dapat menikmati liburan, entah karena biaya, karena waktu, karena kesempatan, atau karena situasi lain yang tidak memungkinkan. Karena kesibukan, orang tidak lagi bisa menyediakan waktu untuk hening sejenak, untuk menimbang-menimbang dan memberi makna dari peristiwa-peristiwa kehidupan. Banyak orang hanyut dalam kesibukan, dan mereka hidup dalam hiruk pikuk pengejaran. Dikejar oleh berbagai tuntutan: menyelesaikan studi dengan prestasi gemilang, mencari uang menumpuk kekayaan, mengejar target penjualan, menekan ongkos memaksimumkan keuntungan, mengejar kenaikan jabatan, menepati deadline laporan yang dijadwalkan, menentukan strategi untuk mendapatkan pendapatan optimal. Dewasa ini banyak orang terlena untuk mengejar uang, kekayaan, ketenaran, kehebatan, kekuasaan, tetapi mereka tidak mendapatkan kebahagian dan kedamaian hidup. Mereka mengalami kesepian, jauh dari sesama, dan lupa membangun relasi dengan sang pemberi hidup, yakni: Tuhan.

Villa Dulcis” mengajak orang untuk singgah sebentar, meluangkan waktu hening, mendapatkan kesegaran, mendapatkan ruang untuk berefleksi, menimbang kehidupan, menimba visi baru dalam kehidupan, untuk merajut kehidupan baru yang lebih segar. “Villa Dulcis” adalah tempat yang nyaman bagi siapa saja untuk menyegarkan, merefleksikan, dan memperbarui hidup. Villa Dulcis is a convenient place for refreshing, reflecting, and renewing life. Saya berharap di tempat ini semakin banyak orang dapat berkumpul, berbagi refleksi, dan menikmati hari-hari istimewa, dies villae. @@@