“Tidak ada buku lain selain Katekismus ini. Distribusinya sungguh luar biasa hebat. Selama seratus tiga puluh tahun peredarannya sejak terbit, buku ini sudah mengalami cetak ulang sampai hampir 400 kali. Keseluruhan perencanaan penulisan dan tata letak buku ini mendapatkan sentuhan ketrampilan tingkat tinggi, dan di antara buku-buku Katolik Katekismus ini tidak ada bandingnya,” kata Drews, seorang sejarawan yang beragama Kristen Protestan.
Petrus Kanisius dilahirkan di kota Nijmegen, Negeri Belanda, tanggal 8 Mei 1521. Kanisius lahir sebagai anak sulung dari keluarga terpandang. Jakob Kanisius, ayahnya yang kaya raya itu, adalah seorang pejabat walikota di Nijmegen. Ibunya, Aegidia van Houweningen, telah meninggal dunia, tidak lama sesudah Kanisius lahir.
Kanisius menuduh dirinya telah membuang waktu sia-sia sebagai anak yang suka berfoya-foya, tetapi pada kenyataannya ia telah memperoleh gelar master di Universitas Koln, ketika ia masih berumur 19 tahun. Ini bukti nyata bahwa dia tidak bisa disebut sebagai orang yang suka menganggur.
Meski Kanisius mengalami nasib malang karena kehilangan ibunya pada saat dia masih dalam usia balita, isteri kedua dari ayahnya membesarkan Kanisius dengan penuh kasih sayang. Isteri kedua dari ayahnya membuktikan diri sebagai seorang ibu tiri yang sungguh amat baik dan penuh kasih terhadap anak-anaknya.
Untuk menyenangkan ayahnya, yang menginginkan dia menjadi seorang ahli Hukum, pada tahun 1536 Kanisius pergi ke Koln untuk belajar Hukum.
Menyadari bahwa dirinya tidak terpanggil untuk karir di bidang Hukum, dan dia bermaksud menolak untuk dikawinkan oleh ayajnya dengan seorang wanita kaya, Petrus Kanisius mengambil langkah sebaliknya, yaitu: mau mengucapkan kaul selibat, dan kembali ke Koln untuk belajar Teologi. Di sana dia menyelesaikan studi sampai mendapatkan gelar Master of Arts pada 1540. Kanisius kerapkali menuduh dirinya telah membuang waktu sia-sia sebagai anak yang
suka berfoya-foya, tetapi pada kenyataannya ia telah memperoleh gelar
master di Universitas Koln, ketika ia masih berumur 19 tahun. Ini bukti
nyata bahwa dia adalah seorang pekerja keras, dan tidak suka menganggur.
Sementara ia menjadi mahasiswa di Universitas Koln ia secara teratur mengunjungi para rahib Kartusian di biara St. Barbara, yang menjadi pendorong hidup Katolik. Di biara ini para lelaki yang setia menanamkan spiritualitas “devotio moderna” atau devosi modern.
Karena tertarik dengan kotbah-kotbah yang disampaikan oleh Petrus Faber, murid pertama St. Ignatius, pada tahun 1543, Kanisius mempercayakan diri untuk mengikuti retret di bawah bimbingan Petrus Faber di Mainz. Setelah mengikuti retret pada Minggu kedua, ia memutuskan untuk bergabung menjadi anggota Serikat Yesus; dan mengucapkan kaul. Pada tanggal 8 Mei 1543, dia diterima masuk sebagai anggota Serikat Yesus, di Mainz. Dia adalah orang Belanda pertama yang masuk Serikat Yesus.
Sebagai novis, dia hidup selama beberapa tahun dalam sebuah komunitas SJ di Koln. Di sana dia menghabiskan waktunya untuk berdoa, belajar dan mengunjungi orang sakit dan mengajar orang-orang yang bodoh. Uang yang diwarisi dari ayahnya yang sudah meninggal dipersembahkan untuk orang-orang yang tidak punya dan untuk membangun rumah.
Di tempat itu Petrus Kanisius juga sudah mulai menulis buku, dan buku terbitan pertamanya adalah tentang karya St. Cyrilus dari Aleksandria dan tentang St Leo Agung (di mana dia menjadi editornya, 1543). Setelah ditahbiskan, ia makin terkenal karena kotbah-kotbahnya. Sebagai seorang delegatus yang diutus oleh Ignatius ke Konsili Trente, dia mengikuti dua sesi, yang satu di Trente dan yang satunya lagi di Bologna.
Petrus Kanisius adalah pemuda yang cerdas tetapi rendah hati. Dia menyelesaikan studi di Koln dan menerima ijazah sebagai doktor di bidang Hukum. Kemudian dia pergi ke Louvain Belgia untuk belajar Hukum Gereja. Pada hari ia mengucapkan kaul terakhir, sesaat berlutut, Tuhan Yesus menampakkan Hati Kudus-Nya kepadanya. Sejak saat itu, dia tidak pernah gagal untuk mempersembahkan semua karyanya kepada Hati Kudus Yesus.
Dia ditahbiskan menjadi imam Yesuit pada 1546. Ia memberikan pelayanan dan pengajaran di lembaga-lembaga di dalam masyarakat dan di dalam Gereja, baik di Jerman maupun di Austria. Dikirim ke Jerman, ia bekerja selama bertahun-tahun melalui tulisan dan ajaran untuk meneguhkan iman Katolik. Di antara buku-buku hasil karyanya, Katekismus adalah buku yang sangat terkenal. Buku itu menjadi monument Gereja untuk melawan ajaran-ajaran yang pada waktu itu dikembangkan oleh Luther.
Petrus Kanisius adalah orang yang memiliki semangat kerja yang tinggi. Dia mengajar di beberapa Universitas, mendirikan Kolese sejumlah 18 buah, dan menulis buku 37 buah. Buku karyanya yang terpenting adalah “Triple Catechism”, yang diterbitkan sampai edisi ke-400, dan dipakai dari abad ke-17 sampai abad ke-18.
Santo Petrus Kanisius merupakan salah satu tokoh paling penting di dalam gerakan Kontra-Reformasi di Jerman, dan dipandang sebagai rasul kedua di Jerman setelah St. Bonifacius. Tetapi dia dihormati juga sebagai salah satu
dari para pencipta percetakan Katolik. Dia adalah “sastrawan” pertama
dari anggota Serikat Yesus. Dialah pelopor dalam bidang kepenulisan.
Petrus Kanisius wafat di Fribourg, Swis, 21 Desember 1597. Paus Pius XI menyatakan dia kudus pada 21 Mei 1925, dan mengumumkan dirinya sebagai pujangga Gereja. Dia adalah santo pelindung bagi para penulis Katolik. Hari pestanya di dalam Gereja Katolik dirayakan pada setiap tanggal 27 April.
Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 27 April 2013
Rabu, 17 April 2013
Kesabaran: Belajar dari Bunda Maria
Saudara-saudara terkasih di dalam Tuhan, pernah kita mendengar suatu ungkapan yang menyatakan bahwa dunia tempat kita tinggal ini adalah tempatnya kesusahan, dan bahkan disebut sebagai lembah air mata. Karena kita manusia berada dalam penderitaan, maka diharapkan bahwa mudah-mudahan dalam penderitaan itu, kita masih bisa bertahan dan sabar, supaya akhirnya nanti kita boleh memperoleh keselamatan bagi jiwa-jiwa kita, atau memperoleh hidup kekal. Tuhan sendiri pernah mengatakan: “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” (Luk 21: 19) Dan Allah memang telah memberikan kepada kita Santa Perawan Maria sebagai panutan dalam segala keutamaan. Dan secara khusus, Bunda Maria adalah teladan dalam hal keutamaan kesabaran.
Santo Fransiskus Sales menyatakan bahwa ketika Yesus dan Bunda Maria berada di tengah-tengah pesta perkawinan di Kana, Yesus memberikan jawaban kepada Bunda Maria atas permohonan yang diungkapkan dalam doa Bunda Maria kepada-Nya: “Ibu, apa yang kau kehendaki dari Aku” (Yoh 2: 4). Dan akhirnya Yesus melakukan apa yang menjadi doa Bunda-Nya, yakni memberikan kepada kita keteladanan dalam hal kesabaran. Tetapi apa yang kita cari dari keteladanan Bunda Maria tentang keutamaan kesabaran?
Seluruh hidup Bunda Maria adalah latihan yang berlangsung terus menerus tentang kesabaran. Sebab, ketika malaikat Tuhan menyatakan diri kepada Santa Brigitta, “Ketika sekuntum bunga mawar tumbuh di antara tanaman berduri, maka demikianlah juga Bunda Maria tumbuh di dalam saat-saat yang sulit, susah dan sengsara.” Belarasa terhadap penderitaan sang Penebus pun sudah cukup membuat diri Bunda Maria menderita dan menjadi martir dalam hal kesabaran.
Tetapi St. Bonaventura mengatakan, “bahwa Bunda yang tersalib telah mengandung Puteranya yang disalib.” Ketika kita berbicara tentang kesusahan, kita telah menimbang-menimbang sejauh mana Bunda Maria itu telah mengalami penderitaan, baik ketika dalam perjalanannya menuju ke Mesir, selama tinggal di sana, maupun selama ia hidup bersama dengan Puteranya di Nazareth. Apa yang paling membuat Maria menderita adalah ketika ia hadir pada saat kematian Yesus di Gunung Kalvari. Hal itu menunjukkan kepada kita bahwa kesabaran Maria begitu hebat: Di sana Maria Bunda-Nya berdiri di bawah kaki salib Yesus. Itulah kemanfaatan kesabaran Maria. Dan karena itu Santo Albertus Agung pernah mengata
kan “Maria membawa kepada kita kehidupan berahmat untuk seterusnya.”
Untuk selanjutnya, jika kita ingin menjadi anak-anak Bunda Maria, maka kita mesti berusaha untuk meniru Bunda Maria dalam hal kesabaran. “Oleh karena itu”, kata Santo Cyprianus, “masih ada manfaat apa lagi yang bisa kita warisi dalam hidup ini, dan kemuliaan yang lebih besar macam apa yang masih dapat kita nikmati di masa yang akan datang, selain kesabaran bertahan untuk menanggung penderitaan?” Allah bersabda, melalui Nabi Hosea (2: 6), “Aku akan menyekat jalannya dengan duri-duri.” Kepada Santo Gregorius, Allah juga mengatakan bahwa “jalan yang dipilih akan disekat dengan duri-duri.” Sekat duri itu akan melindungi kebun anggur, sehingga Allah melindungi para hamba-Nya dari bahaya ketika mempekerjakan mereka di atas bumi, dengan cara melindungi mereka dari kesulitan, kesusahan dan kesengsaraan. Karena itu Santo Cyprianus mengambil kesimpulan bahwa kesabaran adalah keutamaan yang penting yang dapat membebaskan kita dari dosa dan dari neraka. Menurut Santo Yakobus, kesabaran itu membuahkan kematangan, kesempurnaan, keutuhan, seperti dituliskan dalam suratnya: “Dan biarkanlah kete¬kunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna, dan utuh, dan tak kekurangan suatu apa pun.” (Yak 1: 4).
Menanggung penderitaan dalam damai, tidak hanya sewaktu berhadapan dengan salib yang datang dari Tuhan secara tiba-tiba, seperti: sakit dan kemiskinan, tetapi juga yang datang dari manusia sendiri, misalnya: pengejaran, pe¬nyiksaan, luka dan harus beristirahat. Santo Yohanes melihat semua orang kudus memegang ranting daun palma di tangannya, lambang kemartiran, sebagaimana ditulis dalam Kitab Wahyu: “Setelah itu aku melihat banyak palma di tangan mereka (Why 7: 9); yang berarti bahwa semua orang dewasa yang disela¬matkan harus menjadi martir, dengan cara mencurahkan darahnya untuk Kristus atau dengan cara bertindak sabar.
“Bersukacitalah,” kata Santo Gregorius, “kita dapat menjadi martir tanpa harus dieksekusi dengan pedang, jika kita bersedia untuk menjadi sabar.” “Bersiap-sedialah saja,” kata Santo Bernardus, “kita bertahan dalam penderitaan hidup dengan sabar dan gembira.” Karena itu, Rasul Paulus meneguhkan kita dengan mengatakan, “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, yang jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” (2Kor 4: 17).
Pernyataan Santa Theresia mengenai hal ini sungguh indah. Dia mengatakan, “Barangsiapa memeluk salib, dia tidak akan merasakan betapa beratnya salib itu”, dan di tempat lain dia menyatakan, “Jika kita memutuskan untuk menderita, maka berhentilah pedih perih penderitaan itu.” Jika salib-salib kita berat di pundak, marilah kita kembali datang kepada Bunda Maria, yang disebut oleh Gereja sebagai “Penghibur bagi Orang yang Sengsara”, dan yang oleh Santo Yohanes Damascena disebut sebagai “Obat bagi Hati yang Susah”.
Ya, Bunda Maria yang tersuci, engkau telah menghadapi penderitaan dengan begitu sabar; dan apakah kami yang ingin masuk ke surga, juga harus menderita, seperti engkau? Bunda Maria, ya Bunda kami, kami sekarang memohon kepadamu rahmat, tidak supaya kami dibebaskan dari salib, tetapi diberi kemampuan untuk memanggul salib dengan sabar. Karena cinta Yesus kepada kami, maka kami percayakan permohonan ini kepadamu agar kami boleh memperoleh rahmat ini dari Allah bagi kami, dan karena pengantaraanmu kami juga boleh memiliki harapan untuk memperoleh rahmat itu dengan penuh percaya.
Santo Fransiskus Sales menyatakan bahwa ketika Yesus dan Bunda Maria berada di tengah-tengah pesta perkawinan di Kana, Yesus memberikan jawaban kepada Bunda Maria atas permohonan yang diungkapkan dalam doa Bunda Maria kepada-Nya: “Ibu, apa yang kau kehendaki dari Aku” (Yoh 2: 4). Dan akhirnya Yesus melakukan apa yang menjadi doa Bunda-Nya, yakni memberikan kepada kita keteladanan dalam hal kesabaran. Tetapi apa yang kita cari dari keteladanan Bunda Maria tentang keutamaan kesabaran?
Seluruh hidup Bunda Maria adalah latihan yang berlangsung terus menerus tentang kesabaran. Sebab, ketika malaikat Tuhan menyatakan diri kepada Santa Brigitta, “Ketika sekuntum bunga mawar tumbuh di antara tanaman berduri, maka demikianlah juga Bunda Maria tumbuh di dalam saat-saat yang sulit, susah dan sengsara.” Belarasa terhadap penderitaan sang Penebus pun sudah cukup membuat diri Bunda Maria menderita dan menjadi martir dalam hal kesabaran.
Tetapi St. Bonaventura mengatakan, “bahwa Bunda yang tersalib telah mengandung Puteranya yang disalib.” Ketika kita berbicara tentang kesusahan, kita telah menimbang-menimbang sejauh mana Bunda Maria itu telah mengalami penderitaan, baik ketika dalam perjalanannya menuju ke Mesir, selama tinggal di sana, maupun selama ia hidup bersama dengan Puteranya di Nazareth. Apa yang paling membuat Maria menderita adalah ketika ia hadir pada saat kematian Yesus di Gunung Kalvari. Hal itu menunjukkan kepada kita bahwa kesabaran Maria begitu hebat: Di sana Maria Bunda-Nya berdiri di bawah kaki salib Yesus. Itulah kemanfaatan kesabaran Maria. Dan karena itu Santo Albertus Agung pernah mengata
Untuk selanjutnya, jika kita ingin menjadi anak-anak Bunda Maria, maka kita mesti berusaha untuk meniru Bunda Maria dalam hal kesabaran. “Oleh karena itu”, kata Santo Cyprianus, “masih ada manfaat apa lagi yang bisa kita warisi dalam hidup ini, dan kemuliaan yang lebih besar macam apa yang masih dapat kita nikmati di masa yang akan datang, selain kesabaran bertahan untuk menanggung penderitaan?” Allah bersabda, melalui Nabi Hosea (2: 6), “Aku akan menyekat jalannya dengan duri-duri.” Kepada Santo Gregorius, Allah juga mengatakan bahwa “jalan yang dipilih akan disekat dengan duri-duri.” Sekat duri itu akan melindungi kebun anggur, sehingga Allah melindungi para hamba-Nya dari bahaya ketika mempekerjakan mereka di atas bumi, dengan cara melindungi mereka dari kesulitan, kesusahan dan kesengsaraan. Karena itu Santo Cyprianus mengambil kesimpulan bahwa kesabaran adalah keutamaan yang penting yang dapat membebaskan kita dari dosa dan dari neraka. Menurut Santo Yakobus, kesabaran itu membuahkan kematangan, kesempurnaan, keutuhan, seperti dituliskan dalam suratnya: “Dan biarkanlah kete¬kunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna, dan utuh, dan tak kekurangan suatu apa pun.” (Yak 1: 4).
Menanggung penderitaan dalam damai, tidak hanya sewaktu berhadapan dengan salib yang datang dari Tuhan secara tiba-tiba, seperti: sakit dan kemiskinan, tetapi juga yang datang dari manusia sendiri, misalnya: pengejaran, pe¬nyiksaan, luka dan harus beristirahat. Santo Yohanes melihat semua orang kudus memegang ranting daun palma di tangannya, lambang kemartiran, sebagaimana ditulis dalam Kitab Wahyu: “Setelah itu aku melihat banyak palma di tangan mereka (Why 7: 9); yang berarti bahwa semua orang dewasa yang disela¬matkan harus menjadi martir, dengan cara mencurahkan darahnya untuk Kristus atau dengan cara bertindak sabar.
“Bersukacitalah,” kata Santo Gregorius, “kita dapat menjadi martir tanpa harus dieksekusi dengan pedang, jika kita bersedia untuk menjadi sabar.” “Bersiap-sedialah saja,” kata Santo Bernardus, “kita bertahan dalam penderitaan hidup dengan sabar dan gembira.” Karena itu, Rasul Paulus meneguhkan kita dengan mengatakan, “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, yang jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” (2Kor 4: 17).
Pernyataan Santa Theresia mengenai hal ini sungguh indah. Dia mengatakan, “Barangsiapa memeluk salib, dia tidak akan merasakan betapa beratnya salib itu”, dan di tempat lain dia menyatakan, “Jika kita memutuskan untuk menderita, maka berhentilah pedih perih penderitaan itu.” Jika salib-salib kita berat di pundak, marilah kita kembali datang kepada Bunda Maria, yang disebut oleh Gereja sebagai “Penghibur bagi Orang yang Sengsara”, dan yang oleh Santo Yohanes Damascena disebut sebagai “Obat bagi Hati yang Susah”.
Ya, Bunda Maria yang tersuci, engkau telah menghadapi penderitaan dengan begitu sabar; dan apakah kami yang ingin masuk ke surga, juga harus menderita, seperti engkau? Bunda Maria, ya Bunda kami, kami sekarang memohon kepadamu rahmat, tidak supaya kami dibebaskan dari salib, tetapi diberi kemampuan untuk memanggul salib dengan sabar. Karena cinta Yesus kepada kami, maka kami percayakan permohonan ini kepadamu agar kami boleh memperoleh rahmat ini dari Allah bagi kami, dan karena pengantaraanmu kami juga boleh memiliki harapan untuk memperoleh rahmat itu dengan penuh percaya.
Selasa, 26 Maret 2013
Ketaatan: Belajar dari Bunda Maria
Saudara-saudari terkasih, pada hari ketujuh dalam rangkaian Novena yang mengangkat tema umum: “Kokoh dalam Iman bersama Maria”, kali ini kita akan belajar dari Bunda Maria tentang keutamaan “ketaatan.” Bunda Maria mencintai ketaatan sedemikian rupa sehingga ketika malaikat menyampaikan berita yang mengagetkan, dia menanggapi berita panggilan itu dan menyebut dirinya sebagai hamba Allah: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1: 38).
Sesuai dengan pandangan Santo Thomas Villanova, “Hamba yang setia ini tidak pernah melawan kehendak Allah, baik dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan. Maria senantiasa menghayati kehendak apa pun yang datang dari luar dirinya, dan dalam segala hal Maria senantiasa taat akan kehendak Allah.” Maria sendiri melakukan hal itu dengan kesadaran penuh bahwa Allah berkenan karena ketaatannya itu, sebagaimana Maria pernah mengatakan: “Allah telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya (Luk 1: 48).
Kerendahan hamba itu memuat keinginan untuk taat secara tepat. Santo Irenaeus mengatakan bahwa dengan ketaatannya Maria telah memperbaiki kejahatan yang dilakukan oleh ketidak-taatan Hawa: “Karena dengan ketidak-taatanya Hawa telah menjadi sebab dari kematiannya sendiri dan kematian seluruh umat manusia, maka Maria dengan ketaatannya telah menjadi sebab dari keselamatan dirinya dan keselamatan seluruh umat manusia.”
Ketaatan Maria jauh lebih sempurna katimbang ketaatan orang-orang kudus. Semua orang yang lain memiliki kecenderungan untuk berbuat jahat, dan mereka menemukan kesulitan untuk melakukan kebaikan, karena dosa asal. Tetapi tidak begitu untuk Maria. Santo Bernardinus menulis bahwa karena Maria terbebaskan dari dosa asal, maka dia tidak menemukan kesulitan untuk taat kepada Allah. “Maria itu seperti sebuah roda”, kata Santo Bernardinus, “mudah bergerak karena dorongan ilham yang datang dari Roh Kudus. Tujuan satu-satunya di dunia ini adalah memusatkan perhatiannya kepada Allah, mempelajari kehendak-Nya dan kemudian melaksanakannya.”
Maria membuktikan cintanya pertama-tama demi taat, demi menyenangkan Allah, Maria taat kepada kaisar Roma, dan memutuskan untuk melakukan perjalanan panjang menuju Betlehem. Waktu itu adalah musim dingin. Jarak yang ditempuh kira-kira tujuh puluh mil. Maria sedang mengandung dan begitu miskin sehingga ia harus melahirkan anaknya di sebuah kandang khewan. Maria juga taat ketika dia harus melakukan perjalanan di malam hari ketika Yosef menyarankan agar Maria dan anaknya harus menyingkir ke Mesir. Maria tidak mau kehilangan kesempatan untuk melaksanakan ketaatannya, karena Maria sudah senantiasa siap sedia untuk taat.
Bunda Maria memperlihatkan ketaatannya yang paling berani, ketika dia menaati kehendak Allah: mempersembahkan anaknya untuk mati. Dengan ketaatannya yang sempurna itu, Maria telah siap sedia ketika puteranya harus disalibkan. Itulah mengapa Santo Anselmus mengatakan: “Maria diberkati oleh Allah karena telah menjadi Bunda Allah, tetapi selalu lebih diberkati lagi oleh Allah karena Maria selalu mencintai dan selalu menaati kehendak Allah.
Karena alasan itu, semua orang yang mencintai ketaatan sungguh membuat Bunda Maria sangat berkenan. Pada suatu ketika Bunda Maria menerima seorang biarawan dari ordo Fransiskan bernama Accorso, yang sedang berada di dalam sel tahanan. Sementara Bunda Maria hadir di sana, ketaatan telah menuntut Accorso untuk pergi mendengarkan pengakuan dari seorang yang sedang menderita sakit. Kemudian Accorso pergi ke tempat orang sakit itu, dan melayani sakramen tobat. Sekembalinya Accorso dari tugas, Bunda Maria telah menunggunya di sel tahanan, dan di sana Bunda Maria memuji ketaatan Accorso menjalankan tugas pelayanannya.
Pada suatu ketika Bunda Maria pernah menyatakan kepada Santa Brigitta tentang perlunya taat kepada bapa rohaninya, dengan mengatakan: “Ketaatan kepada bapa rohani adalah ketaatan yang mampu membawa jiwa-jiwa kepada kemuliaan.” Santo Filipus Neri mengatakan: “Allah tidak memperhitungkan segala-sesuatu yang sudah dilakukan dengan taat, karena Dia sendiri telah mengatakan: “Barang siapa mendengarkan kamu ia mendengarkan Aku, dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Luk 10: 16). Maria telah menyatakan kepada Santa Brigitta bahwa oleh karena warisan ketaatannya dia memperoleh daya kekuatan besar sehingga tak ada seorang pun pendosa yang dipanggil tidak memperoleh pengampunan, betapa pun besarnya kejahatan yang pernah dilakukannya.
Ya Maria, Ratu Surga dan Bunda kami yang tersuci, jadilah bagi kami pengantara kepada Yesus. Karena warisan ketaatan yang engkau miliki perkenankanlah kami juga boleh mendapatkan kesetiaan dalam menaati kehendak Allah dan selalu setia dalam melaksanakan arahan dan bimbingan dari para bapa rohani kami. Amin.
Sesuai dengan pandangan Santo Thomas Villanova, “Hamba yang setia ini tidak pernah melawan kehendak Allah, baik dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan. Maria senantiasa menghayati kehendak apa pun yang datang dari luar dirinya, dan dalam segala hal Maria senantiasa taat akan kehendak Allah.” Maria sendiri melakukan hal itu dengan kesadaran penuh bahwa Allah berkenan karena ketaatannya itu, sebagaimana Maria pernah mengatakan: “Allah telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya (Luk 1: 48).
Kerendahan hamba itu memuat keinginan untuk taat secara tepat. Santo Irenaeus mengatakan bahwa dengan ketaatannya Maria telah memperbaiki kejahatan yang dilakukan oleh ketidak-taatan Hawa: “Karena dengan ketidak-taatanya Hawa telah menjadi sebab dari kematiannya sendiri dan kematian seluruh umat manusia, maka Maria dengan ketaatannya telah menjadi sebab dari keselamatan dirinya dan keselamatan seluruh umat manusia.”
Ketaatan Maria jauh lebih sempurna katimbang ketaatan orang-orang kudus. Semua orang yang lain memiliki kecenderungan untuk berbuat jahat, dan mereka menemukan kesulitan untuk melakukan kebaikan, karena dosa asal. Tetapi tidak begitu untuk Maria. Santo Bernardinus menulis bahwa karena Maria terbebaskan dari dosa asal, maka dia tidak menemukan kesulitan untuk taat kepada Allah. “Maria itu seperti sebuah roda”, kata Santo Bernardinus, “mudah bergerak karena dorongan ilham yang datang dari Roh Kudus. Tujuan satu-satunya di dunia ini adalah memusatkan perhatiannya kepada Allah, mempelajari kehendak-Nya dan kemudian melaksanakannya.”
Maria membuktikan cintanya pertama-tama demi taat, demi menyenangkan Allah, Maria taat kepada kaisar Roma, dan memutuskan untuk melakukan perjalanan panjang menuju Betlehem. Waktu itu adalah musim dingin. Jarak yang ditempuh kira-kira tujuh puluh mil. Maria sedang mengandung dan begitu miskin sehingga ia harus melahirkan anaknya di sebuah kandang khewan. Maria juga taat ketika dia harus melakukan perjalanan di malam hari ketika Yosef menyarankan agar Maria dan anaknya harus menyingkir ke Mesir. Maria tidak mau kehilangan kesempatan untuk melaksanakan ketaatannya, karena Maria sudah senantiasa siap sedia untuk taat.
Bunda Maria memperlihatkan ketaatannya yang paling berani, ketika dia menaati kehendak Allah: mempersembahkan anaknya untuk mati. Dengan ketaatannya yang sempurna itu, Maria telah siap sedia ketika puteranya harus disalibkan. Itulah mengapa Santo Anselmus mengatakan: “Maria diberkati oleh Allah karena telah menjadi Bunda Allah, tetapi selalu lebih diberkati lagi oleh Allah karena Maria selalu mencintai dan selalu menaati kehendak Allah.
Karena alasan itu, semua orang yang mencintai ketaatan sungguh membuat Bunda Maria sangat berkenan. Pada suatu ketika Bunda Maria menerima seorang biarawan dari ordo Fransiskan bernama Accorso, yang sedang berada di dalam sel tahanan. Sementara Bunda Maria hadir di sana, ketaatan telah menuntut Accorso untuk pergi mendengarkan pengakuan dari seorang yang sedang menderita sakit. Kemudian Accorso pergi ke tempat orang sakit itu, dan melayani sakramen tobat. Sekembalinya Accorso dari tugas, Bunda Maria telah menunggunya di sel tahanan, dan di sana Bunda Maria memuji ketaatan Accorso menjalankan tugas pelayanannya.
Pada suatu ketika Bunda Maria pernah menyatakan kepada Santa Brigitta tentang perlunya taat kepada bapa rohaninya, dengan mengatakan: “Ketaatan kepada bapa rohani adalah ketaatan yang mampu membawa jiwa-jiwa kepada kemuliaan.” Santo Filipus Neri mengatakan: “Allah tidak memperhitungkan segala-sesuatu yang sudah dilakukan dengan taat, karena Dia sendiri telah mengatakan: “Barang siapa mendengarkan kamu ia mendengarkan Aku, dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Luk 10: 16). Maria telah menyatakan kepada Santa Brigitta bahwa oleh karena warisan ketaatannya dia memperoleh daya kekuatan besar sehingga tak ada seorang pun pendosa yang dipanggil tidak memperoleh pengampunan, betapa pun besarnya kejahatan yang pernah dilakukannya.
Ya Maria, Ratu Surga dan Bunda kami yang tersuci, jadilah bagi kami pengantara kepada Yesus. Karena warisan ketaatan yang engkau miliki perkenankanlah kami juga boleh mendapatkan kesetiaan dalam menaati kehendak Allah dan selalu setia dalam melaksanakan arahan dan bimbingan dari para bapa rohani kami. Amin.
Keutamaan Ketaatan dalam Semangat Ignatian
Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan, menurut Dr. S. Ignacimuthu SJ, dalam bukunya “Values for Life” (1999: 102), ketaatan adalah kesiapsediaan untuk tunduk pada perintah, keinginan, dan bimbingan orang lain. Dengan taat, kita mengesampingkan egoisme kita, menyingkirkan dorongan-dorongan pribadi kita yang sifatnya egoistis. Ketaatan melatih kita untuk mengurbankan keinginan dan kehendak pribadi kita, demi sesuatu yang lebih mulia. Ketaatan mengajarkan kepada kita untuk menyangkal diri. Ketaatan mendorong kita untuk bertindak menurut keinginan orang lain. Ketaatan memberikan daya kekuatan moral dan kekuatan spiritual untuk diperintah oleh orang lain. Semakin taat, maka orang semakin mudah untuk bersedia diatur.
Sebagai ilustrasi, Ignacimuthu mengingatkan kita tentang seorang misionaris ulung yang pernah singgah di negeri kita, yakni: Fransiskus Xaverius. Franciscus Xaverius, sudah mengajar di Universitas Paris, ketika Ignatius Loyola menantang dia untuk menerima dan mengikuti panggilan Tuhan. Setelah bergabung dengan Ignatius, ia menjadi sahabat yang dekat dan bekerja demi keselamatan manusia. Kemudian Franciscus Xaverius menanggalkan kepentingan dirinya dan taat kepada Ignatius sebagai pemimpinnya, dan pergilah dia ke India. Karena ketaatannya itu dia menjadi salah satu misionaris yang terbesar yang pernah hidup di dunia ini. Jenasahnya yang masih utuh dan tidak rusak sampai hari ini masih bisa kita lihat wujudnya.
Ketaatan adalah keutamaan yang dianggap penting oleh Santo Ignatius. Santo Igna-tius pernah meminta kepada para pengikutnya untuk unggul dalam keutamaan ketaatan dan menegaskan kepada mereka agar ketaatan itu menjadi ciri-khas mereka. Karena pentingnya ketaatan itu, Santo Ignatius menegaskan kepada para pengikutnya melalui suratnya demikian: “Meskipun dalam segala keutamaan dan rahmat rohani aku menghendaki kesempurnaan dari anda semua, namun di dalam nama Allah Tuhan kita Yesus Kristus, aku menghendaki supaya anda semua unggul dalam keutamaan ketaatan, melebihi keutamaan yang lain.” Dengan pernyataan seperti itu Santo Ignatius mau mengatakan bahwa keutamaan ketaatan merupakan tumpuan hidup dan kesejahteraan Serikat Yesus. Dengan kata lain, kehidupan dan kesejahteraan Serikat bertumpu pada keutamaan ketaatan yang dimiliki oleh para anggota Serikat.
Dalam perspektif spiritualitas Ignasian, konsep ketaatan berakar pada Latihan Rohani Santo Ignatius. Ketika memasuki Latihan Rohani, para peserta retret diajak untuk mendalami Asas dan Dasar (LR 23), yang merupakan permenungan awal dalam Minggu Pertama. Asas dan Dasar merupakan dasar untuk mengikuti retret karena Asas dan Dasar itu merumuskan tujuan hidup manusia diciptakan, dan merupakan landasan bagaimana orang harus membangun relasi dasar dengan Allah dan relasi dengan alam ciptaan. Asas dan Dasar menyatakan bahwa “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati dan melayani Allah Tuhan kita.” (LR 23), dan segala sesuatu yang berada di muka bumi ini diciptakan untuk manusia untuk membantu dia mencapai tujuan dia diciptakan.
Manusia harus menggunakan ciptaan sejauh membantu dia mencapai tujuan hidupnya, dan harus meninggalkannya sejauh menghalangi dia untuk mencapai tujuan hidupnya itu. Karena itu, sikap dasar dari manusia dalam relasinya dengan semua ciptaan harus merupakan sikap yang mengijinkan dirinya menjadi terbuka untuk menggunakan atau tidak menggunakan ciptaan itu. Faktor yang penting di sini adalah bahwa manusia tidak boleh mendisposisikan dirinya untuk mencegah dirinya untuk menggunakan atau tidak menggunakan ciptaan itu. Manusia harus terbuka terhadap segala sesuatu yang dapat membantu dirinya mencapai tujuan hidupnya. Santo Ignatius melukiskan unsur sikap itu dengan istilah indifference, indifferentia, atau lepas-bebas.
Indifferentia itu bukanlah sikap pasif atau apatis, tetapi sikap yang dinamis dan terlibat aktif. Karena itu Ignatius menggunakan istilah “hacernos indifferentes” (lihat LR 23). Makna kata Spanyol hacernos indifferentes itu adalah “membuat diri lepas bebas”, suatu prinsip aktif dari manusia yang menyerahkan diri dan membuat dirinya lepas bebas, sehingga dirinya secara sempurna dapat menempatkan dirinya ke arah tujuan manusia diciptakan. Di dalam diri manusia, sikap lepas bebas itu membantu manusia untuk menempatkan dirinya ke arah tujuan hidupnya, yaitu: memuji, menghormati dan melayani Allah. Jadi indifferentia itu membimbing orang dan menjadi dasar untuk siap-sedia (disponibilitas, disponibilidad). Istilah “disponibilidad” dalam bahasa Spanyol berarti “keterbukaan yang siap-sedia” dan “ketersediaan yang siaga”.
Manusia itu bersikap lepas bebas sehingga dia mampu bersiap-sedia. Bersiap-sedia manusia itu diarahkan kepada Allah. Melalui sikap lepas bebas, manusia mengarahkan dirinya kepada Allah. Disponibilitas dirumuskan sebagai disposisi dinamis dari manusia dalam relasinya dengan Allah, siap-sedia menerima untuk menyelaraskan kehendaknya dengan kehendak Allah. Pada hakikatnya, dasar dari ketaatan Ignatian adalah keselarasan yang disponible (siap-sedia) dari kehendak manusia terhadap kehendak Allah.
Keterarahan manusia kepada Allah menemukan ungkapannya di dalam usaha manusia memenuhi kehendak Allah, (ungkapan yang paling baik adalah ungkapan yang tersirat dalam doa Bapa Kami): “Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga.” (Mat 6: 10). Kita masih ingat bahwa ketika kita melakukan colloquium dalam Latihan Rohani, kita menutup renungan dan doa kita dengan doa Bapa Kami. Pelayanan kepada Allah terjadi di atas bumi; dan di situlah ketaatan Ignatian menemukan bentuknya yang konkret. Pelayanan adalah bentuk dari ketaatan Ignatian.
Jadi, hakikat dari ketaatan Ignatian berakar pada semangat manusia untuk disponible, untuk senantiasa bersiap-sedia, sebagai buah dari sikap lepas bebas yang aktif (membuat diri sendiri lepas bebas). Karena itu, seperti disponibilitas merupakan tujuan dari lepas bebas, demikian juga pelayanan merupakan tujuan dari ketaatan ignatian. Karena ketaatannya, maka setiap penganut spiritualitas Ignatian senantiasa bersiap-sedia untuk diutus ke mana saja, seturut dengan apa yang dibutuhkan dan diperintahkan oleh pemimpin Gereja. ***
Sebagai ilustrasi, Ignacimuthu mengingatkan kita tentang seorang misionaris ulung yang pernah singgah di negeri kita, yakni: Fransiskus Xaverius. Franciscus Xaverius, sudah mengajar di Universitas Paris, ketika Ignatius Loyola menantang dia untuk menerima dan mengikuti panggilan Tuhan. Setelah bergabung dengan Ignatius, ia menjadi sahabat yang dekat dan bekerja demi keselamatan manusia. Kemudian Franciscus Xaverius menanggalkan kepentingan dirinya dan taat kepada Ignatius sebagai pemimpinnya, dan pergilah dia ke India. Karena ketaatannya itu dia menjadi salah satu misionaris yang terbesar yang pernah hidup di dunia ini. Jenasahnya yang masih utuh dan tidak rusak sampai hari ini masih bisa kita lihat wujudnya.
Ketaatan adalah keutamaan yang dianggap penting oleh Santo Ignatius. Santo Igna-tius pernah meminta kepada para pengikutnya untuk unggul dalam keutamaan ketaatan dan menegaskan kepada mereka agar ketaatan itu menjadi ciri-khas mereka. Karena pentingnya ketaatan itu, Santo Ignatius menegaskan kepada para pengikutnya melalui suratnya demikian: “Meskipun dalam segala keutamaan dan rahmat rohani aku menghendaki kesempurnaan dari anda semua, namun di dalam nama Allah Tuhan kita Yesus Kristus, aku menghendaki supaya anda semua unggul dalam keutamaan ketaatan, melebihi keutamaan yang lain.” Dengan pernyataan seperti itu Santo Ignatius mau mengatakan bahwa keutamaan ketaatan merupakan tumpuan hidup dan kesejahteraan Serikat Yesus. Dengan kata lain, kehidupan dan kesejahteraan Serikat bertumpu pada keutamaan ketaatan yang dimiliki oleh para anggota Serikat.
Dalam perspektif spiritualitas Ignasian, konsep ketaatan berakar pada Latihan Rohani Santo Ignatius. Ketika memasuki Latihan Rohani, para peserta retret diajak untuk mendalami Asas dan Dasar (LR 23), yang merupakan permenungan awal dalam Minggu Pertama. Asas dan Dasar merupakan dasar untuk mengikuti retret karena Asas dan Dasar itu merumuskan tujuan hidup manusia diciptakan, dan merupakan landasan bagaimana orang harus membangun relasi dasar dengan Allah dan relasi dengan alam ciptaan. Asas dan Dasar menyatakan bahwa “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati dan melayani Allah Tuhan kita.” (LR 23), dan segala sesuatu yang berada di muka bumi ini diciptakan untuk manusia untuk membantu dia mencapai tujuan dia diciptakan.
Manusia harus menggunakan ciptaan sejauh membantu dia mencapai tujuan hidupnya, dan harus meninggalkannya sejauh menghalangi dia untuk mencapai tujuan hidupnya itu. Karena itu, sikap dasar dari manusia dalam relasinya dengan semua ciptaan harus merupakan sikap yang mengijinkan dirinya menjadi terbuka untuk menggunakan atau tidak menggunakan ciptaan itu. Faktor yang penting di sini adalah bahwa manusia tidak boleh mendisposisikan dirinya untuk mencegah dirinya untuk menggunakan atau tidak menggunakan ciptaan itu. Manusia harus terbuka terhadap segala sesuatu yang dapat membantu dirinya mencapai tujuan hidupnya. Santo Ignatius melukiskan unsur sikap itu dengan istilah indifference, indifferentia, atau lepas-bebas.
Indifferentia itu bukanlah sikap pasif atau apatis, tetapi sikap yang dinamis dan terlibat aktif. Karena itu Ignatius menggunakan istilah “hacernos indifferentes” (lihat LR 23). Makna kata Spanyol hacernos indifferentes itu adalah “membuat diri lepas bebas”, suatu prinsip aktif dari manusia yang menyerahkan diri dan membuat dirinya lepas bebas, sehingga dirinya secara sempurna dapat menempatkan dirinya ke arah tujuan manusia diciptakan. Di dalam diri manusia, sikap lepas bebas itu membantu manusia untuk menempatkan dirinya ke arah tujuan hidupnya, yaitu: memuji, menghormati dan melayani Allah. Jadi indifferentia itu membimbing orang dan menjadi dasar untuk siap-sedia (disponibilitas, disponibilidad). Istilah “disponibilidad” dalam bahasa Spanyol berarti “keterbukaan yang siap-sedia” dan “ketersediaan yang siaga”.
Manusia itu bersikap lepas bebas sehingga dia mampu bersiap-sedia. Bersiap-sedia manusia itu diarahkan kepada Allah. Melalui sikap lepas bebas, manusia mengarahkan dirinya kepada Allah. Disponibilitas dirumuskan sebagai disposisi dinamis dari manusia dalam relasinya dengan Allah, siap-sedia menerima untuk menyelaraskan kehendaknya dengan kehendak Allah. Pada hakikatnya, dasar dari ketaatan Ignatian adalah keselarasan yang disponible (siap-sedia) dari kehendak manusia terhadap kehendak Allah.
Keterarahan manusia kepada Allah menemukan ungkapannya di dalam usaha manusia memenuhi kehendak Allah, (ungkapan yang paling baik adalah ungkapan yang tersirat dalam doa Bapa Kami): “Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga.” (Mat 6: 10). Kita masih ingat bahwa ketika kita melakukan colloquium dalam Latihan Rohani, kita menutup renungan dan doa kita dengan doa Bapa Kami. Pelayanan kepada Allah terjadi di atas bumi; dan di situlah ketaatan Ignatian menemukan bentuknya yang konkret. Pelayanan adalah bentuk dari ketaatan Ignatian.
Jadi, hakikat dari ketaatan Ignatian berakar pada semangat manusia untuk disponible, untuk senantiasa bersiap-sedia, sebagai buah dari sikap lepas bebas yang aktif (membuat diri sendiri lepas bebas). Karena itu, seperti disponibilitas merupakan tujuan dari lepas bebas, demikian juga pelayanan merupakan tujuan dari ketaatan ignatian. Karena ketaatannya, maka setiap penganut spiritualitas Ignatian senantiasa bersiap-sedia untuk diutus ke mana saja, seturut dengan apa yang dibutuhkan dan diperintahkan oleh pemimpin Gereja. ***
Kamis, 07 Maret 2013
Cinta Mengatasi Segalanya
Pada suatu hari Tuhan Yesus bersabda, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan kamu akan mendapatkan kelegaan bagi jiwamu. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Mat 11: 28-30) .
Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, yang dimaksud dengan “kuk” itu adalah Hukum Allah. Berbeda dengan tafsiran para ahli Taurat yang cenderung legalistik, Yesus memberikan arti baru tentang “kuk”. Menurut Yesus, “kuk” itu adalah tuntutan hidup beriman kristiani, yaitu: mencintai. Jadi, kuk itu adalah kuk mencintai. Karena itu, kuk itu tidaklah membebani. Kuk cinta itu ringan. Kuk itu membuat segala sesuatu menjadi mudah. Kuk itu jauh dari membebani, tetapi memberikan makna sejati kepada hidup. Kata-kata Yesus itu menjadi mudah dipahami ketika kemudian kita membaca pernyataan St. Agustinus yang mengatakan: “Ubi amatur, non laboratur, aut si laboratur, labor amatur. Di mana ada cinta, susah-payah itu tidak ada; atau jika susah-payah itu ada, maka susah-payah itu dicinta.”
Theresia Lisieux (1873-1897) adalah seorang suster Karmelit yang terkenal dengan “jalan kecil” yang ditawarkan kepada siapa saja yang sedang mencari jalan hidup yang lebih bermakna. Menurut dia, untuk menjadi suci orang tidak perlu tindakan besar. Untuk menjadi suci tidak perlu perbuatan hebat. Untuk menjadi suci orang hanya perlu mencintai Allah. Theresia pernah menulis, “Cinta membuktikan diri di dalam perbuatan. Karena itu, bagaimana aku harus menunjukkan cinta itu? Perbuatan besar itu tidak cukup bagiku. Cara yang bisa aku buktikan adalah menyebarkan bunga-bunga, dan bunga-bunga itu adalah kurban-persembahan kecil, setiap kata dan perbuatanku. Maka, aku kerjakan setiap perbuatan demi cinta.”
Theresia menemukan bahwa cinta itu memberikan alasan kepada orang untuk hidup dan berharap. Sebagai anak kecil ia mengatakan bahwa ia dikelilingi oleh cinta dan ia pun mempunyai kodrat untuk mencintai itu. Tetapi pengalaman dicintai itu berhenti ketika ia kehilangan ibunya sewaktu ia masih berumur 4 tahun; dan kemudian ketika akhirnya Pauline kakaknya yang menjadi “ibunya yang kedua” juga meninggalkan dia masuk biara Lisieux. Adakah cinta yang berlangsung terus tanpa henti? Apa artinya cinta jika masih ada penderitaan? Setiap orang bertanya tentang cinta. Apa sesungguhnya cinta itu?
Theresia percaya bahwa Yesus bersama dia dan mencintai dia sejak kecil. Ia belajar tentang Yesus dari cerita-cerita yang ia baca dan dari keluarganya sendiri, dan setelah dewasa melalui Kitab Suci. Ia juga membaca buku “Mengikuti Jejak Kristus”, karangan Thomas Kempis. Lalu pada umur 17 tahun ia membaca buku tentang Santo Yohanes dari Salib dan melihat bagaimana cinta Allah menyemangati hidupnya. Theresia ingin memenuhi apa yang pernah ditulis oleh Santo Yohanes dari Salib itu: “Di senja hidup, kita akan diadili oleh cinta kita ...”. Theresia percaya bahwa cinta adalah segalanya. Ia mengenal betapa pentingnya cinta itu ketika ia membaca madah cinta dalam 1Kor 13. Ia berkeinginan untuk memeluk panggilan mencinta itu.
Ia menerjemahkan keinginan mencintai itu dengan mengembangkan relasinya dengan Tuhan Yesus. Ia mempersembahkan setiap harinya kepada Tuhan Yesus sebagai suatu cara untuk mewujudkan cintanya kepada Yesus. Ketika ia menemukan bahwa hidup di biara itu tidak mudah, karena harus hidup bersama dengan beberapa orang suster yang kasar dan sulit dalam berkomunitas. Meski situasi biara tidak menyenangkan dia tetap tinggal di sana dan tidak pergi. Dia memutuskan untuk tetap hidup di sana dan hidup dengan situasi seperti itu. Dia menemukan “Jalan Kecil”, yaitu: menerima bahwa setiap orang itu datang dari Allah, dan setiap orang dicintai oleh Allah untuk selama-lamanya. Karena itu ia mencintai mereka sebaik-baiknya sejauh dia bisa. Ia berkata sopan, tersenyum, dan membantu mereka jika ia bisa melakukannya. Pada kenyataannya, ia belajar di dalam proses bahwa ada kesatuan yang mendalam antara cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama. Ia menulis: “Semakin hidup ini berfokus pada Kristus, maka aku semakin mampu mencintai para suster.”
Apa artinya “Jalan Kecil” itu bagi Theresia? Jalan Kecil adalah gambaran yang ditangkap oleh Theresia tentang apa artinya menjadi murid Kristus. Jalan kecil artinya jalan menuju kesucian melalui hal-hal kecil yang biasa dan nyata dalam hidup sehari-hari. Jalan kecil ini dia yakini berdasarkan pada dua pertimbangan: (1) Allah menunjukkan cinta dan pengampunan; dan (2) ia tidak bisa menjadi sempurna di dalam mengikuti Yesus. Theresia percaya bahwa orang-orang pada zamannya hidup dalam ketakutan terhadap pengadilan Allah. Ketakutan itu tidak membuat orang mengalami kebebasan sebagai anak-anak Allah. Dari hidupnya Theresia tahu bahwa Allah itu adalah cintakasih. Theresia tidak bisa memahami bagaimana orang bisa takut pada Allah yang berkenan menjadi anak kecil. Ia juga tahu bahwa ia tidak akan pernah sempuma. Karena itu, ia pergi kepada Allah sebagai anak yang mendekati orangtua, dengan tangan terbuka dan percaya secara mendalam.
Theresia menerjemahkan “Jalan Kecil” itu dengan komitmen terhadap tugas-tugasnya dan komitmen terhadap orang-orang yang dia temui di dalam hidup sehari-hari. Ia menjalankan tugas-tugas di biara Lisieux sebagai cara-cara mewujudkan cintanya kepada Allah dan cintanya kepada orang lain. Ia bekerja sebagai koster yang menyiapkan altar dan kapel. Ia menjadi pelayan di ruang makan (refter) untuk menyediakan makan-minum bagi para anggota komunitas. Ia membantu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di kamar cuci. Ia menulis drama untuk acara hiburan (rekreasi) di dalam komunitas. Dengan cara begitu ia mencoba memperlihatkan cintanya untuk semua suster dalam komunitas. Ia melakukan pekerjaan-pekerjaan itu tidak hanya untuk para suster yang dia sukai. Tetapi ia juga memberikan dirinya untuk para anggota komunitas yang lain yang dianggapnya sulit.
Hidupnya memang nampak terasa rutin dan biasa, tetapi itu merupakan bentuk penghayatan komitmennya untuk mencintai itu. Itulah “jalan kecil”. Jalan kecil adalah tindakan langsung, nyata dan sederhana tetapi mengandung makna keberanian dan komitmen untuk mencintai. Jalan kecil memberi kemungkinan orang biasa menjadi mampu meraih kesucian. Theresia berpesan: “Hayatilah hari-harimu dengan percaya akan cintakasih Allah untuk kamu. Ingatlah bahwa setiap hari merupakan hadiah di mana hidupmu bisa dibuat berbeda dengan cara bagaimana kamu menghayatinya. Cinta adalah komitmen yang setiap hari harus diulangi dan dikerjakan di dalam hidupmu sehari-hari”. ***
Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, yang dimaksud dengan “kuk” itu adalah Hukum Allah. Berbeda dengan tafsiran para ahli Taurat yang cenderung legalistik, Yesus memberikan arti baru tentang “kuk”. Menurut Yesus, “kuk” itu adalah tuntutan hidup beriman kristiani, yaitu: mencintai. Jadi, kuk itu adalah kuk mencintai. Karena itu, kuk itu tidaklah membebani. Kuk cinta itu ringan. Kuk itu membuat segala sesuatu menjadi mudah. Kuk itu jauh dari membebani, tetapi memberikan makna sejati kepada hidup. Kata-kata Yesus itu menjadi mudah dipahami ketika kemudian kita membaca pernyataan St. Agustinus yang mengatakan: “Ubi amatur, non laboratur, aut si laboratur, labor amatur. Di mana ada cinta, susah-payah itu tidak ada; atau jika susah-payah itu ada, maka susah-payah itu dicinta.”
Theresia Lisieux (1873-1897) adalah seorang suster Karmelit yang terkenal dengan “jalan kecil” yang ditawarkan kepada siapa saja yang sedang mencari jalan hidup yang lebih bermakna. Menurut dia, untuk menjadi suci orang tidak perlu tindakan besar. Untuk menjadi suci tidak perlu perbuatan hebat. Untuk menjadi suci orang hanya perlu mencintai Allah. Theresia pernah menulis, “Cinta membuktikan diri di dalam perbuatan. Karena itu, bagaimana aku harus menunjukkan cinta itu? Perbuatan besar itu tidak cukup bagiku. Cara yang bisa aku buktikan adalah menyebarkan bunga-bunga, dan bunga-bunga itu adalah kurban-persembahan kecil, setiap kata dan perbuatanku. Maka, aku kerjakan setiap perbuatan demi cinta.”
Theresia menemukan bahwa cinta itu memberikan alasan kepada orang untuk hidup dan berharap. Sebagai anak kecil ia mengatakan bahwa ia dikelilingi oleh cinta dan ia pun mempunyai kodrat untuk mencintai itu. Tetapi pengalaman dicintai itu berhenti ketika ia kehilangan ibunya sewaktu ia masih berumur 4 tahun; dan kemudian ketika akhirnya Pauline kakaknya yang menjadi “ibunya yang kedua” juga meninggalkan dia masuk biara Lisieux. Adakah cinta yang berlangsung terus tanpa henti? Apa artinya cinta jika masih ada penderitaan? Setiap orang bertanya tentang cinta. Apa sesungguhnya cinta itu?
Theresia percaya bahwa Yesus bersama dia dan mencintai dia sejak kecil. Ia belajar tentang Yesus dari cerita-cerita yang ia baca dan dari keluarganya sendiri, dan setelah dewasa melalui Kitab Suci. Ia juga membaca buku “Mengikuti Jejak Kristus”, karangan Thomas Kempis. Lalu pada umur 17 tahun ia membaca buku tentang Santo Yohanes dari Salib dan melihat bagaimana cinta Allah menyemangati hidupnya. Theresia ingin memenuhi apa yang pernah ditulis oleh Santo Yohanes dari Salib itu: “Di senja hidup, kita akan diadili oleh cinta kita ...”. Theresia percaya bahwa cinta adalah segalanya. Ia mengenal betapa pentingnya cinta itu ketika ia membaca madah cinta dalam 1Kor 13. Ia berkeinginan untuk memeluk panggilan mencinta itu.
Ia menerjemahkan keinginan mencintai itu dengan mengembangkan relasinya dengan Tuhan Yesus. Ia mempersembahkan setiap harinya kepada Tuhan Yesus sebagai suatu cara untuk mewujudkan cintanya kepada Yesus. Ketika ia menemukan bahwa hidup di biara itu tidak mudah, karena harus hidup bersama dengan beberapa orang suster yang kasar dan sulit dalam berkomunitas. Meski situasi biara tidak menyenangkan dia tetap tinggal di sana dan tidak pergi. Dia memutuskan untuk tetap hidup di sana dan hidup dengan situasi seperti itu. Dia menemukan “Jalan Kecil”, yaitu: menerima bahwa setiap orang itu datang dari Allah, dan setiap orang dicintai oleh Allah untuk selama-lamanya. Karena itu ia mencintai mereka sebaik-baiknya sejauh dia bisa. Ia berkata sopan, tersenyum, dan membantu mereka jika ia bisa melakukannya. Pada kenyataannya, ia belajar di dalam proses bahwa ada kesatuan yang mendalam antara cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama. Ia menulis: “Semakin hidup ini berfokus pada Kristus, maka aku semakin mampu mencintai para suster.”
Apa artinya “Jalan Kecil” itu bagi Theresia? Jalan Kecil adalah gambaran yang ditangkap oleh Theresia tentang apa artinya menjadi murid Kristus. Jalan kecil artinya jalan menuju kesucian melalui hal-hal kecil yang biasa dan nyata dalam hidup sehari-hari. Jalan kecil ini dia yakini berdasarkan pada dua pertimbangan: (1) Allah menunjukkan cinta dan pengampunan; dan (2) ia tidak bisa menjadi sempurna di dalam mengikuti Yesus. Theresia percaya bahwa orang-orang pada zamannya hidup dalam ketakutan terhadap pengadilan Allah. Ketakutan itu tidak membuat orang mengalami kebebasan sebagai anak-anak Allah. Dari hidupnya Theresia tahu bahwa Allah itu adalah cintakasih. Theresia tidak bisa memahami bagaimana orang bisa takut pada Allah yang berkenan menjadi anak kecil. Ia juga tahu bahwa ia tidak akan pernah sempuma. Karena itu, ia pergi kepada Allah sebagai anak yang mendekati orangtua, dengan tangan terbuka dan percaya secara mendalam.
Theresia menerjemahkan “Jalan Kecil” itu dengan komitmen terhadap tugas-tugasnya dan komitmen terhadap orang-orang yang dia temui di dalam hidup sehari-hari. Ia menjalankan tugas-tugas di biara Lisieux sebagai cara-cara mewujudkan cintanya kepada Allah dan cintanya kepada orang lain. Ia bekerja sebagai koster yang menyiapkan altar dan kapel. Ia menjadi pelayan di ruang makan (refter) untuk menyediakan makan-minum bagi para anggota komunitas. Ia membantu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di kamar cuci. Ia menulis drama untuk acara hiburan (rekreasi) di dalam komunitas. Dengan cara begitu ia mencoba memperlihatkan cintanya untuk semua suster dalam komunitas. Ia melakukan pekerjaan-pekerjaan itu tidak hanya untuk para suster yang dia sukai. Tetapi ia juga memberikan dirinya untuk para anggota komunitas yang lain yang dianggapnya sulit.
Hidupnya memang nampak terasa rutin dan biasa, tetapi itu merupakan bentuk penghayatan komitmennya untuk mencintai itu. Itulah “jalan kecil”. Jalan kecil adalah tindakan langsung, nyata dan sederhana tetapi mengandung makna keberanian dan komitmen untuk mencintai. Jalan kecil memberi kemungkinan orang biasa menjadi mampu meraih kesucian. Theresia berpesan: “Hayatilah hari-harimu dengan percaya akan cintakasih Allah untuk kamu. Ingatlah bahwa setiap hari merupakan hadiah di mana hidupmu bisa dibuat berbeda dengan cara bagaimana kamu menghayatinya. Cinta adalah komitmen yang setiap hari harus diulangi dan dikerjakan di dalam hidupmu sehari-hari”. ***
Sabtu, 02 Maret 2013
Kemiskinan: Belajar dari Bunda Maria
Tentang kemiskinan kita bisa belajar tidak hanya dari Tuhan kita Yesus Kristus tetapi juga dari Bunda Maria.
Dari Tuhan Yesus, kita dapat belajar bagaimana Dia memandang rendah barang-barang duniawi. Kita juga bisa meneladan Dia, yang telah berkenan memilih hidup miskin di muka bumi ini. “Sekalipun kaya,” kata Santo Paulus, “Dia telah berkenan menjadi miskin demi kamu, yang oleh karena kemiskinan-Nya kamu bisa menjadi kaya” (2Kor 8: 9). Karena itu, Yesus Kristus menasihati setiap orang yang hendak menjadi murid-Nya, “Jika kamu ingin sempurna, pergilah, juallah segala milikmu, dan berikan semuanya kepada orang miskin …. Dan datanglah ke mari dan ikutilah Aku.” (Mat 19: 21).
Maria, yang adalah murid Tuhan yang paling sempurna, meniru keteladanan-Nya secara paling sempurna. Santo Petrus Kanisius membuktikan bahwa Maria berkenan hidup dalam kemiskinan, dengan meneladan hidup orangtuanya, tetapi dia lebih suka untuk tetap hidup miskin. Dia hanya menikmati sebagian kecil dari apa yang dia miliki untuk memenuhi kebutuhan dirinya, dan sisanya dipersembahkan ke Kenisah dan dibagikan untuk orang-orang yang membutuhkan.
Banyak para penulis percaya bahwa Maria sudah mengucapkan kaul kemiskinan. Mungkin dengan berdasarkan pada keyakinan seperti ini, betullah apa yang dikatakan oleh Santa Brigitta: “Sejak dari awal, aku telah berjanji dalam hati bahwa aku tidak akan memiliki apa pun di dunia ini.” Hadiah-hadiah yang pernah diterima dari para sarjana dari Timur sungguh tak ternilai harganya. Tetapi kita diyakinkan oleh Santo Bernardus bahwa Maria membagi-bagikan hadiah-hadiah itu untuk orang-orang miskin melalui tangan SantoYosef. Sungguh amat jelas bahwa Maria menyerahkan hadiah-hadiah itu kepada orang lain karena suatu fakta bahwa pada saat pentahiran di kenisah ia tidak mempersembahkan anak domba, seperti dituntut oleh hukum Taurat (bdk. Kitab Ulangan 12: 6), tetapi mempersembahkan dua ekor merpati, seperti layaknya persembahan dari orang miskin (Luk 2: 24).
Bunda Maria pernah menyatakan kepada Santa Brigitta: “Aku menyerahkan semua itu kepada orang miskin; dan aku hanya memerlukan sedikit saja makanan dan pakaian untuk diriku.” Karena cintanya pada kemiskinan Bunda Maria ingin menikah dengan Santo Yosef yang hanya seorang tukang kayu yang sederhana. Maria membantu memelihara keluarga dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan tangan, entah memintal benang, atau menjahit, sebagaimana dikatakan oleh Santo Bonaventura.
Malaikat Tuhan menyatakan kepada Santa Brigitta bahwa “kekayaan dunia tidak punya nilai menurut kacamata pandang Bunda Maria.” Bunda Maria selalu menjalani hidupnya yang miskin, dan dia juga meninggal dunia dalam kemiskinan. Metaprastes dan Nicephorus mengatakan kepada kita bahwa pada saat kematian, Maria tidak meninggalkan apa-apa, kecuali dua pakaian sederhana. Dia meninggalkan harta kekayaannya itu kepada dua wanita yang pernah melayani dia selama bertahun-tahun dalam masa hidupnya kemudian.
Santo Filipus Neri pernah mengatakan bahwa “Tidak ada orang yang mencintai dunia akan menjadi santo.” Kita bisa menambahkan juga kata-kata Bunda Teresa dari Kalkuta tentang perihal yang sama, bahwa keutamaan kemiskinan adalah harta warisan yang mampu memuat segala warisan kekayaan yang lain. Bunda Teresa mengatakan bahwa keutamaan kemiskinan tidak hanya memuat pemikiran “menjadi miskin” tetapi “mencintai kemiskinan”. Karena itu, Tuhan Yesus Kristus bersabda: “Berbahagialah orang yang miskin dalam Roh, sebab merekalah yang memiliki Kerajaan Sorga.” (Mat 5: 3).
Orang-orang macam itulah yang berbahagia karena mereka tidak menginginkan sesuatu yang lain kecuali Allah, dan menemukan segala sesuatunya di dalam Allah. Kemiskinan bagi mereka adalah surga di dunia. Inilah yang dikatakan oleh Santo Fransiskus ketika dia berseru: “Tuhanku adalah segalanya.” Marilah kita bersama-sama dengan Santo Ignatius menyerukan kata-kata ini kepada Tuhan kita: “Berikanlah kepadaku rahmat dan cinta-Mu, dan dengan itu saja aku sudah akan cukup kaya.” “Ketika kita harus menderita karena kemiskinan,” kata Santo Bonaventura, “marilah kita menghibur diri kita dengan berpikir bahwa Yesus dan Bunda-Nya telah juga miskin seperti diri kita sendiri.”
Ya Bunda Maria, Bunda yang tersuci, Engkau memiliki alasan untuk mengatakan kepada kami bahwa seluruh kegembiraanmu adalah kegembiraan di dalam Allah; dan semangat kami bergembira di dalam Allah, penyelamat kami. Di dunia ini Engkau menghendaki kami untuk mencintai Allah semata. Doronglah kami agar kami dapat meneladan engkau. Ya Bunda Maria, jauhkanlah kami dari dunia, supaya kami dapat hanya mencintai Tuhan, yang sudah terlebih dahulu mencintai kami. Amin.
Dari Tuhan Yesus, kita dapat belajar bagaimana Dia memandang rendah barang-barang duniawi. Kita juga bisa meneladan Dia, yang telah berkenan memilih hidup miskin di muka bumi ini. “Sekalipun kaya,” kata Santo Paulus, “Dia telah berkenan menjadi miskin demi kamu, yang oleh karena kemiskinan-Nya kamu bisa menjadi kaya” (2Kor 8: 9). Karena itu, Yesus Kristus menasihati setiap orang yang hendak menjadi murid-Nya, “Jika kamu ingin sempurna, pergilah, juallah segala milikmu, dan berikan semuanya kepada orang miskin …. Dan datanglah ke mari dan ikutilah Aku.” (Mat 19: 21).
Maria, yang adalah murid Tuhan yang paling sempurna, meniru keteladanan-Nya secara paling sempurna. Santo Petrus Kanisius membuktikan bahwa Maria berkenan hidup dalam kemiskinan, dengan meneladan hidup orangtuanya, tetapi dia lebih suka untuk tetap hidup miskin. Dia hanya menikmati sebagian kecil dari apa yang dia miliki untuk memenuhi kebutuhan dirinya, dan sisanya dipersembahkan ke Kenisah dan dibagikan untuk orang-orang yang membutuhkan.
Banyak para penulis percaya bahwa Maria sudah mengucapkan kaul kemiskinan. Mungkin dengan berdasarkan pada keyakinan seperti ini, betullah apa yang dikatakan oleh Santa Brigitta: “Sejak dari awal, aku telah berjanji dalam hati bahwa aku tidak akan memiliki apa pun di dunia ini.” Hadiah-hadiah yang pernah diterima dari para sarjana dari Timur sungguh tak ternilai harganya. Tetapi kita diyakinkan oleh Santo Bernardus bahwa Maria membagi-bagikan hadiah-hadiah itu untuk orang-orang miskin melalui tangan SantoYosef. Sungguh amat jelas bahwa Maria menyerahkan hadiah-hadiah itu kepada orang lain karena suatu fakta bahwa pada saat pentahiran di kenisah ia tidak mempersembahkan anak domba, seperti dituntut oleh hukum Taurat (bdk. Kitab Ulangan 12: 6), tetapi mempersembahkan dua ekor merpati, seperti layaknya persembahan dari orang miskin (Luk 2: 24).
Bunda Maria pernah menyatakan kepada Santa Brigitta: “Aku menyerahkan semua itu kepada orang miskin; dan aku hanya memerlukan sedikit saja makanan dan pakaian untuk diriku.” Karena cintanya pada kemiskinan Bunda Maria ingin menikah dengan Santo Yosef yang hanya seorang tukang kayu yang sederhana. Maria membantu memelihara keluarga dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan tangan, entah memintal benang, atau menjahit, sebagaimana dikatakan oleh Santo Bonaventura.
Malaikat Tuhan menyatakan kepada Santa Brigitta bahwa “kekayaan dunia tidak punya nilai menurut kacamata pandang Bunda Maria.” Bunda Maria selalu menjalani hidupnya yang miskin, dan dia juga meninggal dunia dalam kemiskinan. Metaprastes dan Nicephorus mengatakan kepada kita bahwa pada saat kematian, Maria tidak meninggalkan apa-apa, kecuali dua pakaian sederhana. Dia meninggalkan harta kekayaannya itu kepada dua wanita yang pernah melayani dia selama bertahun-tahun dalam masa hidupnya kemudian.
Santo Filipus Neri pernah mengatakan bahwa “Tidak ada orang yang mencintai dunia akan menjadi santo.” Kita bisa menambahkan juga kata-kata Bunda Teresa dari Kalkuta tentang perihal yang sama, bahwa keutamaan kemiskinan adalah harta warisan yang mampu memuat segala warisan kekayaan yang lain. Bunda Teresa mengatakan bahwa keutamaan kemiskinan tidak hanya memuat pemikiran “menjadi miskin” tetapi “mencintai kemiskinan”. Karena itu, Tuhan Yesus Kristus bersabda: “Berbahagialah orang yang miskin dalam Roh, sebab merekalah yang memiliki Kerajaan Sorga.” (Mat 5: 3).
Orang-orang macam itulah yang berbahagia karena mereka tidak menginginkan sesuatu yang lain kecuali Allah, dan menemukan segala sesuatunya di dalam Allah. Kemiskinan bagi mereka adalah surga di dunia. Inilah yang dikatakan oleh Santo Fransiskus ketika dia berseru: “Tuhanku adalah segalanya.” Marilah kita bersama-sama dengan Santo Ignatius menyerukan kata-kata ini kepada Tuhan kita: “Berikanlah kepadaku rahmat dan cinta-Mu, dan dengan itu saja aku sudah akan cukup kaya.” “Ketika kita harus menderita karena kemiskinan,” kata Santo Bonaventura, “marilah kita menghibur diri kita dengan berpikir bahwa Yesus dan Bunda-Nya telah juga miskin seperti diri kita sendiri.”
Ya Bunda Maria, Bunda yang tersuci, Engkau memiliki alasan untuk mengatakan kepada kami bahwa seluruh kegembiraanmu adalah kegembiraan di dalam Allah; dan semangat kami bergembira di dalam Allah, penyelamat kami. Di dunia ini Engkau menghendaki kami untuk mencintai Allah semata. Doronglah kami agar kami dapat meneladan engkau. Ya Bunda Maria, jauhkanlah kami dari dunia, supaya kami dapat hanya mencintai Tuhan, yang sudah terlebih dahulu mencintai kami. Amin.
Selasa, 15 Januari 2013
Kemurnian: Belajar dari Bunda Maria
Saudara-saudari terkasih, pada hari ini kita sampai pada rangkaian Novena hari yang keenam, dengan tema umum: “Kokoh dalam Iman bersama Maria”. Tema yang diangkat dalam doa Novena ini adalah belajar dari Bunda Maria tentang keutamaan “kemurnian.” Setelah terjatuhnya Adam ke dalam dosa, manusia bersikap memberontak terhadap akal. Sebagai akibatnya, kemurnian menjadi keutamaan yang paling sulit untuk dipraktekkan. Santo Agustinus mengatakan: “Di antara konflik-konflik batin yang terjadi, konflik yang paling sulit adalah konflik yang berkait dengan kemurnian. Peperangan dalam hal kemurnian itu terjadi setiap hari, dan kemenangan jarang diperoleh.
Namun, mudah-mudahan Allah dipuji sepanjang masa karena di dalam diri Maria Dia telah memberikan kepada kita keteladanan dalam hal kemurnian itu. “Maria disebut Perawan di antara para perawan,” kata Santo Albertus Agung. Tanpa nasihat dan keteladanan orang lain, Maria adalah wanita pertama yang mampu mempersembahkan keperawanannya kepada Allah.” Dengan cara itu, Maria mengarahkan kepada Allah siapa saja yang bisa meneladan keperawanannya, seperti pernah dikatakan oleh nabi Daud: “Dengan pakaian bersulam berwarna-warna ia dibawa kepada raja; anak-anak dara mengikutinya, yakni teman-temannya, yang didatangkan untuk dia.” (Mzm 45: 15).
Tanpa nasihat dan tanpa teladan! Kata Santo Bernardus: “Ya, Perawan, siapakah orang yang telah mengajarmu untuk menyenangkan Allah dengan keperawananmu dan membawa kehidupan malaikat di atas bumi?” Santo Sophronius menjawab: “Allah telah memilih keperawanan murni bagi ibu-Nya, sehingga dia bisa menjadi teladan kemurnian bagi setiap orang.” Itulah alasannya mengapa Santo Ambrosius menyebut Maria sebagai “teladan dalam hal keperawanan”.
Karena kemurnian Maria, maka Roh Kudus menyatakan bahwa Maria itu cantik, yakni secantik kuda betina: Pipi-pipimu itu seindah pipi kuda betina Firaun (bdk. Kid 1: 9). “Seperti kuda betina yang indah pipinya” adalah sebutan yang diberikan oleh Aponius kepada Maria. Dengan alasan yang hampir sama, Maria juga disebut sebagai bunga bakung: “Seperti bunga bakung di antara duri-duri, demikianlah manisku di antara gadis-gadis.” (Kid 2: 2). Denis, seorang biarawan Karthusian, pernah mengatakan: “Maria dibandingkan dengan bunga bakung di antara duri-duri karena gadis-gadis yang lain adalah duri, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, sementara Maria sang Perawan yang tersuci itu tidaklah begitu, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.”
Santo Thomas menegaskan perihal kemurnian Bunda Maria ini dengan mengatakan bahwa keelokan Santa Perawan Maria, mendorong siapa saja yang melihatnya ke arah kemurnian. Santo Hieronimus menyatakan bahwa Santo Yusup tetap perawan sebagai akibat dari hidup bersama dengan Maria. Melawan ajaran Helvidius yang menyangkal keperawanan Maria, Santo Hieronimus menyatakan: “Kamu mengatakan bahwa Maria tidak perawan. Saya mengatakan bahwa Maria tidak hanya tetap perawan, tetapi bahkan Yusup pun tetap perawan karena Maria.”
Santo Gregorius dari Nyssa mengatakan bahwa Bunda Maria yang tersuci mencintai kemurnian dan menjaganya sedemikian rupa sehingga dia diperkenankan untuk meninggalkan martabat dirinya sebagai Bunda Allah. Hal ini merupakan bukti atas jawabannya terhadap malaikat Gabriel: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum bersuami”? (Luk 1: 34). Dan dari kata-kata yang dia tambahkan kemudian: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1: 38), yang menyatakan bahwa dia menerima pernyataan malaikat dengan segala kondisinya, yang telah menegaskan bahwa dia harus menjadi seorang ibu yang akan berada dalam naungan Roh Kudus semata.”
Santo Ambrosius mengatakan bahwa “barangsiapa menjaga kemurnian, dia adalah malaikat; barangspai menghilangkan kemurnian dia adalah setan.” Tuhan kita menegaskan bahwa siapa saja yang hidupnya murni dia akan menjadi malaikat: “Mereka akan hidup seperti malaikat di surga.” (Mat 22: 30).
Seperti telah dikatakan oleh Santo Agustinus bahwa kemenangan dalam memperjuangkan kemurnian ini jarang diperoleh. Mengapa? Karena sarana-sarana untuk memperoleh kemenangan atas kemurnian itu tidak dipakai. Menurut Santo Robertus Bellarminus dan para ahli di bidang hidup rohani, sarana-sarana untuk memperjuangkan kemenangan atas kemurnian itu adalah: berpuasa, menghindarkan diri dari kesempatan berbuat dosa, dan berdoa.
Sarana yang pertama adalah puasa. Yang dimaksud dengan puasa terutama adalah matiraga, mematikan hawa nafsu. Meskipun Bunda Maria dipenuhi dengan rahmat Allah, dia tidak pernah berhenti untuk melakukan matiraga. Menurut pendapat Santo Epifanius dan Santo Yohanes Damascena, penampilan Maria senantiasa sederhana, prasaja, dan dia tidak pernah menatap mata orang lain. Dia tidak berlagak; bahkan sejak masa kanak-kanak. Setiap orang yang melihatnya mengatakan bahwa Maria itu cantik karena sikap hati-hatinya. Santo Lukas menyatakan bahwa ketika Maria datang mengunjungi Elisabeth, Maria pergi dengan tergesa-gesa (Luk 1: 39), untuk menghindarkan diri dari tatapan dan kejaran publik. Philibertus menyatakan bahwa ada seorang saksi bernama Felix yang menyatakan bahwa Maria senantiasa memperhatikan soal makan. Ketika masih bayi, Maria hanya menyusu sekali sehari. Santo Gregorius dari Tours menyatakan bahwa Maria senantiasa melakukan puasa dalam hidupnya. Santo Bonaventura menjelaskan hal ini dengan mengatakan: “Maria tidak pernah menemukan sedemikian banyak rahmat jika dia tidak menyederhanakan makanannya, karena rahmat dan rakus tidak akan pernah bisa berjalan seiring.” Singkatnya, Maria melakukan matiraga dalam segala hal, sehingga sungguh benar bila dikatakan tentang dia: “Tanganku berteteskan mur” (Kid 5: 5).
Sarana yang kedua adalah “menghindarkan diri dari peluang untuk berbuat dosa”: “Siapa membenci pertanggungan, amanlah dia.” (Ams 11: 15). Maria bergegas secepat mungkin untuk menghindarkan diri dari pengelihatan orang. Santo Lukas pernah menyatakan bahwa ketika Maria berkunjung ke rumah Elisabeth, dia pergi tergesa-gesa untuk segera sampai di desa daerah perbukitan itu. Seorang penulis memperhatikan kepada suatu fakta bahwa Bunda Maria meninggalkan Elisabeth sebelum Yohanes Pembaptis lahir. Maria tinggal bersama Elisabeth hanya selama 3 bulan dan kemudian pulang ke rumah sendiri. Mengapa Maria tidak menunggu sampai Yohanes Pembaptis lahir? Karena dia ingin menghindari kebisingan dan daya tarik yang biasa menyertai sebuah peristiwa kelahiran seperti itu.
Sarana ketiga adalah doa. Orang bijak pernah mengatakan: “Setelah aku tahu bahwa aku tidak akan memiliki kebijaksanaan, kalau tidak dianugerahkan oleh Allah, maka aku akan menghadap Tuhan dan berdoa kepada-Nya.” (Keb 8: 21). Maria menyatakan diri kepada Elisabeth Hungaria bahwa dia tidak menerima keutamaan itu tanpa usaha,k dan tanpa doa yang berkelanjutan. Santo Yohanes Damascena menyebut Bunda yang tak Bercela itu sebagai “pencinta kemurnian”. Dia tidak dapat menahan orang-orang yang puas dengan hidup tidak murni. Jika orang memanggil Maria untuk dikirim dari hidup yang tidak murni, dia pasti akan membantu dirinya. Siapa saja yang dipanggil adalah dipanggil oleh Maria dengan cara yang meyakinkan. Yohanes dari Avila biasa mengatakan bahwa banyak orang memerangi pencobaan melalui devosi kepada Bunda Maria yang dikandung tanpa noda dosa.
Ya Bunda Maria, engkau merpati yang paling murni, betapa banyak orang yang sekarang tinggal di neraka karena hidupnya tidak murni. Bunda Maria yang dipenuhi oleh banyak rahmat dari Allah, perkenankan kami untuk menerima rahmat dari Allah sehingga kamu dapat mencari perlindungan kepadamu ketika kami berada dalam pencobaan, dan perkenankan kami untuk menyebut namamu, dengan mengatakan: “Ya Maria, Bunda kami, bantulah kami anakmu!”. Amin.
Namun, mudah-mudahan Allah dipuji sepanjang masa karena di dalam diri Maria Dia telah memberikan kepada kita keteladanan dalam hal kemurnian itu. “Maria disebut Perawan di antara para perawan,” kata Santo Albertus Agung. Tanpa nasihat dan keteladanan orang lain, Maria adalah wanita pertama yang mampu mempersembahkan keperawanannya kepada Allah.” Dengan cara itu, Maria mengarahkan kepada Allah siapa saja yang bisa meneladan keperawanannya, seperti pernah dikatakan oleh nabi Daud: “Dengan pakaian bersulam berwarna-warna ia dibawa kepada raja; anak-anak dara mengikutinya, yakni teman-temannya, yang didatangkan untuk dia.” (Mzm 45: 15).
Tanpa nasihat dan tanpa teladan! Kata Santo Bernardus: “Ya, Perawan, siapakah orang yang telah mengajarmu untuk menyenangkan Allah dengan keperawananmu dan membawa kehidupan malaikat di atas bumi?” Santo Sophronius menjawab: “Allah telah memilih keperawanan murni bagi ibu-Nya, sehingga dia bisa menjadi teladan kemurnian bagi setiap orang.” Itulah alasannya mengapa Santo Ambrosius menyebut Maria sebagai “teladan dalam hal keperawanan”.
Karena kemurnian Maria, maka Roh Kudus menyatakan bahwa Maria itu cantik, yakni secantik kuda betina: Pipi-pipimu itu seindah pipi kuda betina Firaun (bdk. Kid 1: 9). “Seperti kuda betina yang indah pipinya” adalah sebutan yang diberikan oleh Aponius kepada Maria. Dengan alasan yang hampir sama, Maria juga disebut sebagai bunga bakung: “Seperti bunga bakung di antara duri-duri, demikianlah manisku di antara gadis-gadis.” (Kid 2: 2). Denis, seorang biarawan Karthusian, pernah mengatakan: “Maria dibandingkan dengan bunga bakung di antara duri-duri karena gadis-gadis yang lain adalah duri, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, sementara Maria sang Perawan yang tersuci itu tidaklah begitu, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.”
Santo Thomas menegaskan perihal kemurnian Bunda Maria ini dengan mengatakan bahwa keelokan Santa Perawan Maria, mendorong siapa saja yang melihatnya ke arah kemurnian. Santo Hieronimus menyatakan bahwa Santo Yusup tetap perawan sebagai akibat dari hidup bersama dengan Maria. Melawan ajaran Helvidius yang menyangkal keperawanan Maria, Santo Hieronimus menyatakan: “Kamu mengatakan bahwa Maria tidak perawan. Saya mengatakan bahwa Maria tidak hanya tetap perawan, tetapi bahkan Yusup pun tetap perawan karena Maria.”
Santo Gregorius dari Nyssa mengatakan bahwa Bunda Maria yang tersuci mencintai kemurnian dan menjaganya sedemikian rupa sehingga dia diperkenankan untuk meninggalkan martabat dirinya sebagai Bunda Allah. Hal ini merupakan bukti atas jawabannya terhadap malaikat Gabriel: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum bersuami”? (Luk 1: 34). Dan dari kata-kata yang dia tambahkan kemudian: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1: 38), yang menyatakan bahwa dia menerima pernyataan malaikat dengan segala kondisinya, yang telah menegaskan bahwa dia harus menjadi seorang ibu yang akan berada dalam naungan Roh Kudus semata.”
Santo Ambrosius mengatakan bahwa “barangsiapa menjaga kemurnian, dia adalah malaikat; barangspai menghilangkan kemurnian dia adalah setan.” Tuhan kita menegaskan bahwa siapa saja yang hidupnya murni dia akan menjadi malaikat: “Mereka akan hidup seperti malaikat di surga.” (Mat 22: 30).
Seperti telah dikatakan oleh Santo Agustinus bahwa kemenangan dalam memperjuangkan kemurnian ini jarang diperoleh. Mengapa? Karena sarana-sarana untuk memperoleh kemenangan atas kemurnian itu tidak dipakai. Menurut Santo Robertus Bellarminus dan para ahli di bidang hidup rohani, sarana-sarana untuk memperjuangkan kemenangan atas kemurnian itu adalah: berpuasa, menghindarkan diri dari kesempatan berbuat dosa, dan berdoa.
Sarana yang pertama adalah puasa. Yang dimaksud dengan puasa terutama adalah matiraga, mematikan hawa nafsu. Meskipun Bunda Maria dipenuhi dengan rahmat Allah, dia tidak pernah berhenti untuk melakukan matiraga. Menurut pendapat Santo Epifanius dan Santo Yohanes Damascena, penampilan Maria senantiasa sederhana, prasaja, dan dia tidak pernah menatap mata orang lain. Dia tidak berlagak; bahkan sejak masa kanak-kanak. Setiap orang yang melihatnya mengatakan bahwa Maria itu cantik karena sikap hati-hatinya. Santo Lukas menyatakan bahwa ketika Maria datang mengunjungi Elisabeth, Maria pergi dengan tergesa-gesa (Luk 1: 39), untuk menghindarkan diri dari tatapan dan kejaran publik. Philibertus menyatakan bahwa ada seorang saksi bernama Felix yang menyatakan bahwa Maria senantiasa memperhatikan soal makan. Ketika masih bayi, Maria hanya menyusu sekali sehari. Santo Gregorius dari Tours menyatakan bahwa Maria senantiasa melakukan puasa dalam hidupnya. Santo Bonaventura menjelaskan hal ini dengan mengatakan: “Maria tidak pernah menemukan sedemikian banyak rahmat jika dia tidak menyederhanakan makanannya, karena rahmat dan rakus tidak akan pernah bisa berjalan seiring.” Singkatnya, Maria melakukan matiraga dalam segala hal, sehingga sungguh benar bila dikatakan tentang dia: “Tanganku berteteskan mur” (Kid 5: 5).
Sarana yang kedua adalah “menghindarkan diri dari peluang untuk berbuat dosa”: “Siapa membenci pertanggungan, amanlah dia.” (Ams 11: 15). Maria bergegas secepat mungkin untuk menghindarkan diri dari pengelihatan orang. Santo Lukas pernah menyatakan bahwa ketika Maria berkunjung ke rumah Elisabeth, dia pergi tergesa-gesa untuk segera sampai di desa daerah perbukitan itu. Seorang penulis memperhatikan kepada suatu fakta bahwa Bunda Maria meninggalkan Elisabeth sebelum Yohanes Pembaptis lahir. Maria tinggal bersama Elisabeth hanya selama 3 bulan dan kemudian pulang ke rumah sendiri. Mengapa Maria tidak menunggu sampai Yohanes Pembaptis lahir? Karena dia ingin menghindari kebisingan dan daya tarik yang biasa menyertai sebuah peristiwa kelahiran seperti itu.
Sarana ketiga adalah doa. Orang bijak pernah mengatakan: “Setelah aku tahu bahwa aku tidak akan memiliki kebijaksanaan, kalau tidak dianugerahkan oleh Allah, maka aku akan menghadap Tuhan dan berdoa kepada-Nya.” (Keb 8: 21). Maria menyatakan diri kepada Elisabeth Hungaria bahwa dia tidak menerima keutamaan itu tanpa usaha,k dan tanpa doa yang berkelanjutan. Santo Yohanes Damascena menyebut Bunda yang tak Bercela itu sebagai “pencinta kemurnian”. Dia tidak dapat menahan orang-orang yang puas dengan hidup tidak murni. Jika orang memanggil Maria untuk dikirim dari hidup yang tidak murni, dia pasti akan membantu dirinya. Siapa saja yang dipanggil adalah dipanggil oleh Maria dengan cara yang meyakinkan. Yohanes dari Avila biasa mengatakan bahwa banyak orang memerangi pencobaan melalui devosi kepada Bunda Maria yang dikandung tanpa noda dosa.
Ya Bunda Maria, engkau merpati yang paling murni, betapa banyak orang yang sekarang tinggal di neraka karena hidupnya tidak murni. Bunda Maria yang dipenuhi oleh banyak rahmat dari Allah, perkenankan kami untuk menerima rahmat dari Allah sehingga kamu dapat mencari perlindungan kepadamu ketika kami berada dalam pencobaan, dan perkenankan kami untuk menyebut namamu, dengan mengatakan: “Ya Maria, Bunda kami, bantulah kami anakmu!”. Amin.
Kamis, 27 Desember 2012
Mencintai Sesama: Belajar dari Bunda Maria
Saudara-saudari terkasih, pada hari Minggu, 6 Januari 2013 nanti, umat Katolik yang mengikuti rangkaian Novena di Gua Maria Tritis sudah sampai pada rangkaian Novena hari kelima. Tema yang kita ambil untuk doa Novena dan Misa hari itu adalah “Belajar dari Bunda Maria tentang Keutamaan “Mencintai Sesama.”
Cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama diperintahkan oleh
Allah di dalam satu rumusan kalimat yang sama. Dan perintah yang kita terima
dari Allah itu adalah bahwa barangsiapa mencintai Allah harus mencintai
sesamanya juga (1Yoh 4: 21). Santo Thomas mengatakan bahwa alasan untuk hal ini
adalah bahwa pribadi yang mencintai Allah mencintai semua orang yang dicintai
oleh Allah.
Pada suatu hari, Santa Catharina dari Genoa menyatakan: “Tuhan,
Engkau mengatakan bahwa aku harus mencintai sesamaku, tetapi aku dapat
mencintai tak seorang pun kecuali Engkau.” Allah menanggapi pernyataan Santa
Catharina itu dengan mengatakan: “Siapa saja yang mencintai Aku mencintai siapa
saja yang Aku cintai.” Tetapi karena dulu tidak pernah ada orang yang mencintai
dan juga tidak akan pernah ada orang yang mencintai Allah seperti Maria
mencintai Allah, maka dulu tidak ada orang yang mencintai sesama dan tidak akan
pernah ada orang yang dapat mencintai sesamanya seperti Maria mencintai
sesamanya.
Ketika Bunda Maria masih berada di dunia, cintakasihnya begitu
besar sehingga dia bisa membantu banyak orang yang membutuhkan tanpa diminta.
Kita melihat hal ini dengan jelas pada peristiwa perkawinan di Kana, ketika
Bunda Maria meminta kepada Yesus karena didesak oleh situasi yang
menggelisahkan keluarga yang sedang berpesta: “Mereka kehabisan anggur” (Yoh 2:
3). Bunda Maria meminta Yesus untuk segera membuat mukjizat. Betapa cepatnya
dia ingin selalu bertindak ketika sesamanya membutuhkan. Ketika dia pergi
berkunjung ke rumah Elisabeth untuk memenuhi tugas cintakasih, dia pergi ke
desa yang berada di perbukitan dengan terburu-buru (Luk 1: 30).
Tetapi Maria tidak bisa menunjukkan secara lebih penuh
cintakasihnya daripada yang sudah dia kerjakan ketika dia mempersembahkan kematian
puteranya demi keselamatan kita. Melihat hal itu, Santo Bonaventura mengatakan:
“Maria begitu mencintai dunia sehingga dia mempersembahkan puteranya sendiri
satu-satunya.” Hal ini juga memberikan inspirasi bagi Santo Anselmus untuk
menyatakan: “Ya Bunda Maria yang terberkati, kemurnianmu mengatasi kemurnian
para malaikat, dan cintakasihmu melebihi cintakasih para santo-santa.” “Dan
cintakasih Maria untuk kita tak berhenti meski Bunda Maria sudah berada di
surga,” kata Santo Bonaventura. “Sebaliknya, cintakasihnya makin bertumbuh
karena dia sekarang berada di dalam posisi yang lebih baik untuk melihat
kesusahan manusia.”
Karena itu, Santo Bonaventura menambahkan dengan mengatakan
bahwa belas kasih Bunda Maria kepada orang-orang yang mengalami kesusahan
sungguh luar biasa ketika dia masih berada di dunia, tetapi hal itu masih jauh
dari luar biasa bila dibandingkan dengan belas kasih yang dilakukan oleh Bunda
Maria sekarang ketika dia sudah berada dan menjadi Ratu di surga.
Santa Agnes menegaskan kepada Santa Bridgita bahwa tidak ada
seorang pun yang pernah berdoa meminta rahmat tidak menerima rahmat itu melalui
belas kasih Bunda Maria. Kita sungguh malang dan tidak beruntung jika kita
tidak meminta kepada Bunda Maria supaya dia menjadi pengantara bagi kita. Yesus
sendiri, seperti dikatakan kepada Santa Bridgita, mengatakan: “Jika kita tidak
berdoa dan memohon kepada Bunda Maria, maka tidak ada harapan untuk dapat
memperoleh belas kasih.”
“Terberkatilah orang yang mendengarkan perintah-perintah-Ku,
orang-orang yang meneladan cintakasih-Ku, dan mempraktekkan bahwa cintakasih
kepada sesama,” kata Yesus kepada Maria, “Berbahagialah orang yang mendengarkan
daku … Berbahagialah orang yang setiap hari menunggu pada pintuku, dan menjaga
tiang pintu gerbangku.” (Amsal 8: 33-34).
Santo Gregorius Nazianzen memberikan keyakinan kepada kita
bahwa tidak ada jalan yang lebih baik kecuali jalan yang membuat Maria
mencintai kita, yaitu jalan mempraktekkan cintakasih kepada sesama. Pernyataan
Santo Gregorius itu persis sama dengan apa yang dikatakan Yesus kepada kita,
“Berbelaskasihlah sebab Bapa itu berbelas kasih. Demikian juga Maria mengatakan
kepada kita, “Berbelaskasihlah sebab Ibumu berbelas kasih.”
Kita menerima bahwa cintakasih kepada sesama akan menjadi
ukuran yang dipakai Allah dan Maria, yang ditunjukkan kepada kita ketika kita
membaca kembali sabda Tuhan berikut ini: “Berilah dan kamu akan diberi: suatu
takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan
dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan
diukurkan kepadamu.” (Luk 6: 38).
Santo Methodius pernah mengatakan: “Jika orang memberikan
sesuatu kepada orang miskin, dia akan mendapatkan Firdaus sebagai imbalan.”
Santo Paulus menambahkan bahwa cintakasih kepada sesama membuat kita bahagia,
baik bahagia di dunia maupun bahagia di dunia yang akan datang. Kebajikan
menguntungkan dalam segala aspek, karena hal itu sudah merupakan janji bahwa
cinta kepada sesama membawa kebahagiaan bagi hidup yang sekarang dan bagi hidup
yang akan datang (1Tim 4: 8).
Santo Yohanes Chrysostomus mengomentari teks Kitab Amsal “Siapa
menaruh belaskasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan
membalas perbuatannya itu,” (Amsal 19: 17), dengan mengatakan: “Barangsiapa
membantu orang yang membutuhkan, dia telah membuat Allah punya hutang padanya.”
Maka, pada hari ini, kita secara khusus memohon kepada Allah
agar kita diperkenankan untuk meneladan Bunda Maria dalam hal keutamaan
mencintai.
Ya Bunda Maria yang berbelas kasih, engkau
memiliki perhatian yang sungguh besar pada siapa saja sehingga mereka boleh
mengalami hidup yang sejahtera. Kami mohon kepadamu juga, sudilah kiranya
engkau memberikan perhatian pada masalah, kesusahan dan tantangan hidup yang
sedang kami hadapi. Sudilah kiranya engkau mengerti dengan baik apa yang
menjadi masalah dan kesusahan kami. Bimbinglah kami agar kami dapat hadir
menghadap Allah yang akan memberikan kepada kami segala sesuatu yang kami
butuhkan. Kami mohon dengan perantaraanmu, semoga Allah berkenan mengizinkan
kami untuk bisa meneladan engkau dalam hal mencintai, mencintai Allah dan
mencintai sesama kami. Amin.
Selasa, 13 November 2012
Mencintai Allah: Belajar dari Bunda Maria
Sesuai dengan tema Novena yang diselenggarakan pada tanggal 2 Desember 2012 di Gua Maria Tritis Wonosari, kali ini kita diajak untuk merenungkan kembali makna keutamaan cintakasih, seperti diteladankan oleh Bunda Maria. Dalam katekismus Gereja Katolik kita baca bahwa “kasih itu adalah kebajikan ilahi, yang dengannya kita mengasihi Allah di atas segala-galanya demi diri-Nya sendiri, dan karena kasih kepada Allah itu kita mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri.” (CCC 1822).
Di dalam Injil Yohanes, Yesus menjelaskan kepada para murid bahwa dia memberikan kepada mereka perintah baru, yaitu: “Hendaknya kamu saling mengasihi satu sama lain seperti Aku telah mencintai kamu.” (Yoh 13: 1). Ketika Yesus mempersembahkan hidup-Nya di kayu salib, Ia menunjukkan “kebaruan” dari perintah-Nya, yakni kasih seperti yang Dia harapkan, kasih yang dilakukan Dia untuk kita.
Perintah itu perintah baru, karena perintah itu melukiskan relasi yang berbeda antara Allah dengan ciptaan-Nya. Peristiwa inkarnasi telah mengubah relasi antara Allah dan manusia. Ketika Allah menjadi manusia, maka Allah masuk ke dalam lingkungan ciptaan-Nya, masuk ke dalam komunitas manusia. Yesus mengungkapkan relasi yang berubah itu, ketika Dia mengatakan kepada para murid, “Aku tidak menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya. Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku sudah mengatakan kepadamu segala sesuatu yang telah Aku dengar dari Bapa-Ku.” (Yoh 15: 15).
Menurut Santo Thomas Aquinas, keutamaan cintakasih merupakan aspek persahabatan dengan Allah, dan bersama dengan semua anak-anak Allah (II.II, 23, 1). Dalam setiap persaha-bat¬an, ada kegiatan berbagi antara dua individu yang bersahabat. Tetapi dengan Allah, apa yang dapat kita bagikan? Kita dapat mencintai Allah hanya karena “Allah telah mencintai kita terlebih dahulu”. St. Yohanes menulis di dalam suratnya yang pertama, “Di dalam cinta ini, bukan bahwa kita telah mencintai Allah, tetapi bahwa Dia telah mencintai kita … kita mencintai karena Dia sudah mencintai kita lebih dahulu” (1Yoh 4: 10,19).
Cinta Allah kepada kita adalah dasar. Cinta Allah itu memberikan kepada kita kemampuan untuk mencintai Dia, dan cinta Allah itu adalah sumber kapasitas kita untuk mencintai dunia yang sudah Allah ciptakan. Setelah Allah, giliran berikut yang harus kita cintai adalah diri kita sendiri. Kita diundang untuk mencintai diri kita sendiri. Cinta itu tidak boleh bersifat egois. Kita harus ingat bahwa Allah memerintahkan kita untuk mencintai sesama kita seperti diri kita sendiri (Ul 19: 18).
Thomas Aquinas mengutip kata-kata Aristoteles yang mengidentifikasi cinta pada diri sendiri sebagai pembanding untuk cinta kita kepada orang lain. Thomas mengatakan: “Asal-usul relasi persahabatan dengan orang lain diletakkan pada relasi kita dengan diri kita sendiri.” Kasih kepada Allah mendorong kita untuk mengasihi orang lain sesama kita, dan pada titik tertentu hal ini mengajak kita untuk memusatkan perhatian kita kepada apa yang pernah Kristus katakan: “Kasihilah musuh-musuhmu” (Mat 5: 44).
Kita harus memasukkan musuh ke dalam kelompok sesama kita. Kita tidak boleh memiliki kepedulian cinta yang kecil terhadap orang-orang yang tidak kita sukai. Kita harus mencintai secara tepat apa yang baik di dalam pribadi-pribadi, yaitu: kemanusiaan dan nilai sebagai makhluk ciptaan Allah. Kita harus siap untuk memasukkan musuh ke dalam doa-doa kita yang kita tawarkan bagi setiap orang, dan terutama memberikan bantuan kepada mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan bantuan kita.
Pelaksanaan semua kebajikan ini dijiwai dan digerakkan oleh kasih. “Inilah pengikat yang menyatukan dan menyempurnakan” (Kol 3: 14); ia adalah pembentuk kebajikan; ia menentukan dan mengatur kebajikan-kebajikan; kasih Kristen mengamankan dan memurnikan kekuatan kasih manusiawi kita. Ia meninggikannya sampai kepada kesempurnaan adikodrati, kepada kasih ilahi.” (CCC 1828).
“Bunda Maria adalah Ratu Cintakasih”, kata Franciscus de Sales. “Di mana ada kemurnian terbesar, di situ terdapat cinta yang terbesar.” Jadi, semakin hati ini murni, dan kosong dari diri sendiri, maka semakin penuhlah cinta kepada Allah. Bunda Maria yang tersuci, karena dia sangat rendah hati, dan tidak punya kepentingan untuk diri sendiri, dipenuhi dengan kasih ilahi, sehingga “cintanya kepada Allah melebihi cinta semua manusia dan malaikat.”, tulis Santo Bernardinus.
Santo Ricardus memberikan penegasan mengenai pendapat ini dengan mengatakan, “Bunda Emmanuel telah mempraktekkan keutamaan-keutamaan di dalam tingkat kesempurnaan yang paling tinggi. Siapakah orang yang dapat dibandingkan dengan Bunda Maria yang telah melakukan perintah Allah yang pertama, “Engkau akan mencintai Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu?”
Karena cintanya kepada Allah sedemikian mendalam, maka tidak ada suatu cacat apa pun dari cintanya kepada Allah.” “Cinta Bunda Maria kepada Allah sedemikian kuat merasuki jiwanya, sehingga tidak ada satu bagian pun dari dirinya yang tak terisi; dan karena itu Bunda Maria mampu mencintai Allah dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya, dan dengan segenap kekuatannya, dan penuh rahmat.”, kata St. Bernardus.
Allah yang adalah cinta (1Yoh 4: 8) datang ke dunia untuk mengobarkan di dalam hati semua orang api cintakasih Allah; tetapi tidak ada hati yang lebih berkobar daripada hati Bunda Allah, karena hati Bunda Allah itu sungguh murni dari ikatan-ikatan duniawi, dan sungguh dipersiapkan untuk mengobarkan api cintakasih yang terberkati. Santo Sophronius mengatakan bahwa ‘api cinta kasih Allah berkobar dalam hatinya sehingga tak ada ikatan duniawi mana pun yang dapat merasukinya; dia selalu mengobarkan api cinta surgawi seperti dikatakan: “Hati Maria telah menjadi api dari segala api yang menyala, seperti pernah kita baca tentang dia dalam Kidung Agung: “Nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api Tuhan.” (Kid 8: 6), nyala api yang terkabar karena cinta, nyala api yang bersinar karena keteladanan yang diberikan kepada semua orang melalui praktek keutamaan.
Bunda Maria sendiri pernah menyatakan kepada Santa Brigitta: “Aku berpikir tentang Allah saja, dan tidak tentang yang lain; tidak untuk menyenangkan diriku tetapi untuk menyenangkan Allah.” Santo Bernardinus menegaskan bahwa selama hidup di dunia Bunda Maria selalu mencintai Allah: “Pikiran Bunda Maria selalu dibungkus di dalam hasrat untuk mencintai Allah.” Santo Bernardinus menambahkan: “Bunda Maria tidak pernah melalukan sesuatu yang tidak menyenangkan Allah; Bunda Maria mencintai Allah karena dia berpikir bahwa Allah harus dia cintai.”
Bunda Maria pernah mengatakan kepada Santa Brigitta, “Anakku, jika kamu ingin dekat dengan aku, maka cintailah Puteraku.” Maksud Bunda Maria adalah menunjukkan kepada kita tentang Allah yang dia cintai. Karena Maria berada dalam nyala api cinta kepada Allah, maka siapa saja yang mencintai dan mendekati dia, dikobarkan oleh dia dengan cintakasih yang sama. Karena itu Santa Catherina dari Siena menyebut Maria sebagai pembawa nyala api cintakasih Allah. Jika kita ingin terbakar dengan nyala api Bunda Maria, maka kita perlu senantiasa ingin untuk dekat dengan Bunda Maria dengan berdoa.
Dalam ensiklik Deus Caritas Est (art. 41), Paus Benediktus XVI memberikan perhatian khusus pada Bunda Maria yang memberikan keteladanan bagi kita dalam hal keutamaan cintakasih yang menjadi pusat perhatian ensiklik. Paus menulis bahwa Maria, Bunda Tuhan, adalah cermin bagi kita dalam hal kesucian. Dalam Injil Lukas, kita menemukan bagaimana Bunda Maria melayani dengan cintakasih kepada Elisabeth, saudara sepupunya. Di tempat Elisabeth, Bunda Maria tinggal selama 3 bulan (Luk 1: 56), membantu dia pada saat-saat akhir kehamilannya.
“Jiwaku memuliakan Tuhan” (Magnificat anima mea Dominum) adalah kata-kata Maria ketika dia berjumpa dengan Elisabeth. Dengan kata-kata itulah Lukas mau menyatakan bahwa seluruh program hidup Maria adalah tidak untuk menjadikan dirinya pusat perhatian, tetapi untuk memberikan ruang bagi Allah, yang dijumpai dalam doa dan dalam pelayanan kepada sesama, dan karena itu kebaikan masuk ke dalam dunia. Kebesaran Maria terletak pada fakta bahwa dirinya ingin memuliakan Allah, dan bukan memuliakan dirinya sendiri. Maria adalah wanita yang bisa menjadi teladan bagi kita dalam hal mencintai. ***
Di dalam Injil Yohanes, Yesus menjelaskan kepada para murid bahwa dia memberikan kepada mereka perintah baru, yaitu: “Hendaknya kamu saling mengasihi satu sama lain seperti Aku telah mencintai kamu.” (Yoh 13: 1). Ketika Yesus mempersembahkan hidup-Nya di kayu salib, Ia menunjukkan “kebaruan” dari perintah-Nya, yakni kasih seperti yang Dia harapkan, kasih yang dilakukan Dia untuk kita.
Perintah itu perintah baru, karena perintah itu melukiskan relasi yang berbeda antara Allah dengan ciptaan-Nya. Peristiwa inkarnasi telah mengubah relasi antara Allah dan manusia. Ketika Allah menjadi manusia, maka Allah masuk ke dalam lingkungan ciptaan-Nya, masuk ke dalam komunitas manusia. Yesus mengungkapkan relasi yang berubah itu, ketika Dia mengatakan kepada para murid, “Aku tidak menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya. Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku sudah mengatakan kepadamu segala sesuatu yang telah Aku dengar dari Bapa-Ku.” (Yoh 15: 15).
Menurut Santo Thomas Aquinas, keutamaan cintakasih merupakan aspek persahabatan dengan Allah, dan bersama dengan semua anak-anak Allah (II.II, 23, 1). Dalam setiap persaha-bat¬an, ada kegiatan berbagi antara dua individu yang bersahabat. Tetapi dengan Allah, apa yang dapat kita bagikan? Kita dapat mencintai Allah hanya karena “Allah telah mencintai kita terlebih dahulu”. St. Yohanes menulis di dalam suratnya yang pertama, “Di dalam cinta ini, bukan bahwa kita telah mencintai Allah, tetapi bahwa Dia telah mencintai kita … kita mencintai karena Dia sudah mencintai kita lebih dahulu” (1Yoh 4: 10,19).
Cinta Allah kepada kita adalah dasar. Cinta Allah itu memberikan kepada kita kemampuan untuk mencintai Dia, dan cinta Allah itu adalah sumber kapasitas kita untuk mencintai dunia yang sudah Allah ciptakan. Setelah Allah, giliran berikut yang harus kita cintai adalah diri kita sendiri. Kita diundang untuk mencintai diri kita sendiri. Cinta itu tidak boleh bersifat egois. Kita harus ingat bahwa Allah memerintahkan kita untuk mencintai sesama kita seperti diri kita sendiri (Ul 19: 18).
Thomas Aquinas mengutip kata-kata Aristoteles yang mengidentifikasi cinta pada diri sendiri sebagai pembanding untuk cinta kita kepada orang lain. Thomas mengatakan: “Asal-usul relasi persahabatan dengan orang lain diletakkan pada relasi kita dengan diri kita sendiri.” Kasih kepada Allah mendorong kita untuk mengasihi orang lain sesama kita, dan pada titik tertentu hal ini mengajak kita untuk memusatkan perhatian kita kepada apa yang pernah Kristus katakan: “Kasihilah musuh-musuhmu” (Mat 5: 44).
Kita harus memasukkan musuh ke dalam kelompok sesama kita. Kita tidak boleh memiliki kepedulian cinta yang kecil terhadap orang-orang yang tidak kita sukai. Kita harus mencintai secara tepat apa yang baik di dalam pribadi-pribadi, yaitu: kemanusiaan dan nilai sebagai makhluk ciptaan Allah. Kita harus siap untuk memasukkan musuh ke dalam doa-doa kita yang kita tawarkan bagi setiap orang, dan terutama memberikan bantuan kepada mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan bantuan kita.
Pelaksanaan semua kebajikan ini dijiwai dan digerakkan oleh kasih. “Inilah pengikat yang menyatukan dan menyempurnakan” (Kol 3: 14); ia adalah pembentuk kebajikan; ia menentukan dan mengatur kebajikan-kebajikan; kasih Kristen mengamankan dan memurnikan kekuatan kasih manusiawi kita. Ia meninggikannya sampai kepada kesempurnaan adikodrati, kepada kasih ilahi.” (CCC 1828).
“Bunda Maria adalah Ratu Cintakasih”, kata Franciscus de Sales. “Di mana ada kemurnian terbesar, di situ terdapat cinta yang terbesar.” Jadi, semakin hati ini murni, dan kosong dari diri sendiri, maka semakin penuhlah cinta kepada Allah. Bunda Maria yang tersuci, karena dia sangat rendah hati, dan tidak punya kepentingan untuk diri sendiri, dipenuhi dengan kasih ilahi, sehingga “cintanya kepada Allah melebihi cinta semua manusia dan malaikat.”, tulis Santo Bernardinus.
Santo Ricardus memberikan penegasan mengenai pendapat ini dengan mengatakan, “Bunda Emmanuel telah mempraktekkan keutamaan-keutamaan di dalam tingkat kesempurnaan yang paling tinggi. Siapakah orang yang dapat dibandingkan dengan Bunda Maria yang telah melakukan perintah Allah yang pertama, “Engkau akan mencintai Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu?”
Karena cintanya kepada Allah sedemikian mendalam, maka tidak ada suatu cacat apa pun dari cintanya kepada Allah.” “Cinta Bunda Maria kepada Allah sedemikian kuat merasuki jiwanya, sehingga tidak ada satu bagian pun dari dirinya yang tak terisi; dan karena itu Bunda Maria mampu mencintai Allah dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya, dan dengan segenap kekuatannya, dan penuh rahmat.”, kata St. Bernardus.
Allah yang adalah cinta (1Yoh 4: 8) datang ke dunia untuk mengobarkan di dalam hati semua orang api cintakasih Allah; tetapi tidak ada hati yang lebih berkobar daripada hati Bunda Allah, karena hati Bunda Allah itu sungguh murni dari ikatan-ikatan duniawi, dan sungguh dipersiapkan untuk mengobarkan api cintakasih yang terberkati. Santo Sophronius mengatakan bahwa ‘api cinta kasih Allah berkobar dalam hatinya sehingga tak ada ikatan duniawi mana pun yang dapat merasukinya; dia selalu mengobarkan api cinta surgawi seperti dikatakan: “Hati Maria telah menjadi api dari segala api yang menyala, seperti pernah kita baca tentang dia dalam Kidung Agung: “Nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api Tuhan.” (Kid 8: 6), nyala api yang terkabar karena cinta, nyala api yang bersinar karena keteladanan yang diberikan kepada semua orang melalui praktek keutamaan.
Bunda Maria sendiri pernah menyatakan kepada Santa Brigitta: “Aku berpikir tentang Allah saja, dan tidak tentang yang lain; tidak untuk menyenangkan diriku tetapi untuk menyenangkan Allah.” Santo Bernardinus menegaskan bahwa selama hidup di dunia Bunda Maria selalu mencintai Allah: “Pikiran Bunda Maria selalu dibungkus di dalam hasrat untuk mencintai Allah.” Santo Bernardinus menambahkan: “Bunda Maria tidak pernah melalukan sesuatu yang tidak menyenangkan Allah; Bunda Maria mencintai Allah karena dia berpikir bahwa Allah harus dia cintai.”
Bunda Maria pernah mengatakan kepada Santa Brigitta, “Anakku, jika kamu ingin dekat dengan aku, maka cintailah Puteraku.” Maksud Bunda Maria adalah menunjukkan kepada kita tentang Allah yang dia cintai. Karena Maria berada dalam nyala api cinta kepada Allah, maka siapa saja yang mencintai dan mendekati dia, dikobarkan oleh dia dengan cintakasih yang sama. Karena itu Santa Catherina dari Siena menyebut Maria sebagai pembawa nyala api cintakasih Allah. Jika kita ingin terbakar dengan nyala api Bunda Maria, maka kita perlu senantiasa ingin untuk dekat dengan Bunda Maria dengan berdoa.
Dalam ensiklik Deus Caritas Est (art. 41), Paus Benediktus XVI memberikan perhatian khusus pada Bunda Maria yang memberikan keteladanan bagi kita dalam hal keutamaan cintakasih yang menjadi pusat perhatian ensiklik. Paus menulis bahwa Maria, Bunda Tuhan, adalah cermin bagi kita dalam hal kesucian. Dalam Injil Lukas, kita menemukan bagaimana Bunda Maria melayani dengan cintakasih kepada Elisabeth, saudara sepupunya. Di tempat Elisabeth, Bunda Maria tinggal selama 3 bulan (Luk 1: 56), membantu dia pada saat-saat akhir kehamilannya.
“Jiwaku memuliakan Tuhan” (Magnificat anima mea Dominum) adalah kata-kata Maria ketika dia berjumpa dengan Elisabeth. Dengan kata-kata itulah Lukas mau menyatakan bahwa seluruh program hidup Maria adalah tidak untuk menjadikan dirinya pusat perhatian, tetapi untuk memberikan ruang bagi Allah, yang dijumpai dalam doa dan dalam pelayanan kepada sesama, dan karena itu kebaikan masuk ke dalam dunia. Kebesaran Maria terletak pada fakta bahwa dirinya ingin memuliakan Allah, dan bukan memuliakan dirinya sendiri. Maria adalah wanita yang bisa menjadi teladan bagi kita dalam hal mencintai. ***
Sabtu, 03 November 2012
Maria Pengantara Wahyu
Pada tanggal 4 Maret 2012, tepat pada hari ketujuh Novena St. Perawan Maria, yang diselenggarakan oleh Paroki Wonosari bekerjasama dengan CLC-Indonesia, Mgr. Yohanes Pujasumarta berkenan memimpin Perayaan Ekaristi dan memberkati patung Bunda Maria yang baru untuk Gua Maria Tritis, dan memberi nama Gua Maria Tritis itu dengan gelar “Maria Pengantara Wahyu Ilahi”. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
Menjelang Natal 1974, di desa Singkil Wonosari, Rm. Al. Hardjasudarma SJ, mendengar cerita dari seorang anak bahwa di dekat ladangnya terdapat gua alami. Beberapa hari kemudian Rm. Hardjasudarma mendatangi lokasi gua itu dan mengupayakan supaya umat Katolik bisa berdoa di sana. Pada Oktober 1977, Rm. S. Zahnweh SJ menempatkan patung Maria di gua itu, dan memberkati tempat ini sebagai tempat ziarah dengan nama Gua Maria Tritis. Nama “Tritis” sendiri berkaitan dengan keadaan gua yang selalu meneteskan air dari langit-langitnya.
“Saya ingin membenahi Gua Maria Tritis dengan menggali sejarah kebudayaan supaya mendapatkan makna yang lebih mendalam mengenai keberadaan Gua Maria Tritis ini sebagai tempat ziarah. Gua Maria Tritis ternyata pernah berperan dalam sejarah karena menjadi jembatan Wahyu antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Mataram Yogyakarta”, kata Rm. SP. Bambang Ponco Santosa SJ, pastor kepala Paroki Wonosari, menerangkan.
“Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya tahun 1294, dengan membuka hutan Tarik di sekitar Trowulan, Jawa Timur. Majapahit mengalami kejayaan di bawah kepemimpinan Prabu Hayam Wuruk yang dibantu oleh Mahapatih Gajah Mada. Dalam Kitab Negara Kertagama, karya Empu Prapanca, dilukiskan wilayah Nusantara yang pemerintahannya tersusun dengan rapi dan dalam Kitab Sutasoma karya Empu Tantular dilukiskan Negara kesatuan dengan semangat Bhineka Tunggal Ika,” jelas Mgr. Yohanes Pujasumarta tentang seluk beluk sejarah Gua Maria Tritis.
“Pada akhir abad 15 Majapahit runtuh. Raja Majapahit terakhir, yaitu Prabu Brawijaya V menikahi seorang putri Cina Palembang yang memeluk Islam menjadi selirnya. Tahun 1480 anak mereka, yaitu Adipati Demak yang bernama Raden Patah memisahkan diri dari Majapahit dan membangun kerajaan atas dasar ajaran Islam. Raden Patah naik tahta di Demak dengan gelar Sultan Ayah Alam Akbar I. Demak semakin kuat karena dukungan cendekiawan yang tergabung dalam Dewan Wali Sanga,” jelas Bapa Uskup Pujasumarta.
“Orang-orang yang tidak mau menerima pemerintahan Demak melarikan diri sampai jauh, bahkan ada yang sampai ke Gunung Kidul. Tiga prajurit yang menolak pemerintahan Demak di bawah Raden Patah dan yang tetap setia kepada Majapahit, melarikan diri sampai ke Gunung Kidul. Mereka itu adalah Ki Ageng Giring, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Bondan Surati. Mereka bertapa di sebuah gua untuk mencari Wahyu yang pindah dari Majapahit. Gua tempat bertapa tiga prajurit Majapahit itulah yang sekarang menjadi Gua Maria Tritis,” tambahnya.
“Di gua Tritis ini Ki Ageng Pemanahan mendapatkan Wahyu tentang pewaris Kerajaan Majapahit. Meski Ki Ageng Pemanahan sudah wafat sebelum kerajaan Mataram berdiri pada tahun 1575, dia telah berhasil meletakkan dasar-dasar bagi kehidupan Kerajaan Mataram sebagaimana Kerajaan Majapahit yang bersatu di atas semangat Bhineka Tunggal Ika. Kepemimpinan Kerajaan Mataram diteruskan oleh Sutan Hadiwijaya sebagai raja pertama yang bergelar Panembahan Senopati (1575-1601). Raja Mataram inilah yang menjadi pewaris Wahyu Kerajaan Majapahit,” jelas Bapa Uskup Pujasumarta.
Maria Pengantara Wahyu Ilahi
Atas dasar latar belakang budaya setempat, maka Maria di Gua Tritis yang selama ini tidak diberi gelar, kemudian diberi gelar Maria Pengantara Wahyu Ilahi. Tangan Maria yang dilukiskan terbuka menandakan kesiapan-Nya untuk menyalurkan rahmat atau wahyu Allah kepada siapa saja yang memohon kepada Allah dengan pengantaraan-Nya. Maria telah memberikan sang Penebus, Sumber segala rahmat, kepada dunia, dan dengan jalan ini Maria adalah saluran segala rahmat.
Istilah “Pengantara” (Mediatrix) untuk Maria, pertama kalinya dipakai oleh Santo Efraim (ca. 306-373), yang menyatakan: “Aku menyebut engkau Pengantara dunia. Aku mohon perlindunganmu di saat-saat aku membutuhkannya.” Di dalam salah satu kotbahnya, Santo Efraim pernah menyatakan Maria sebagai “penyalur segala pemberian”. Santo Yohanes Vianney pernah mengatakan: “Semua orang kudus memiliki devosi yang kuat terhadap Bunda Maria. Tidak ada rahmat yang datang dari surga tanpa melalui tangan Maria. Kita tidak dapat masuk ke suatu rumah tanpa berbicara kepada penjaga pintu rumah. Santa Perawan Maria yang tersuci adalah penjaga pintu surga.”
Santo Alfonsus Liguori mengatakan: “Allah yang memberikan Yesus Kristus kepada kita, menghendaki agar segala rahmat yang ada tetap ada dan agar rahmat itu disalurkan kepada manusia sampai akhir dunia melalui jasa dan kebaikan Yesus Kristus, dan supaya disalurkan oleh tangan dan melalui pengantaraan Maria.”
Paus Pius X menyebut Maria sebagai penyalur segala pemberian. Paus Benediktus XV menyebut Maria sebagai pengantara segala rahmat. Paus Leo XIII mengatakan di dalam ensiklik tentang Rosario“Octobrae Mensae” (1891): “Dari warisan segala rahmat, yang dibawa oleh Yesus, tidak ada satu pun rahmat yang datang kepada kita kecuali melalui Maria, sesuai dengan kehendak Allah, sehingga seperti tidak seorang pun bisa mendekati Bapa yang Mahatinggi kecuali melalui Putera-Nya, demikian juga tidak seorang pun dapat mendekati Kristus kecuali melalui Bunda-Nya.”
Paus Pius XII dalam ensiklik “Ingravescentibus Malis” (1937), sepakat dengan pendapat St Bernardus dari Clairvaux, dengan menyatakan: “Jadi, inilah kehendak Allah, yakni bahwa kita harus mendapatkan segala sesuatu melalui Maria”. St Bernardus dari Clairvaux, yang wafat tahun 1153, pernah menyatakan tentang Maria, demikian: “Allah menghendaki bahwa kita tidak akan memiliki sesuatu, kecuali melalui tangan Maria.”
“Pada hari ini kita bersyukur kepada Tuhan karena Gereja boleh berkembang di tempat ini”, kata Mgr. Yohanes Pujasumarta dalam kotbahnya, 4 Maret 2012 di Gua Maria Tritis, sebelum memberkati patung Maria yang baru. “Gereja telah berkembang di tanah Jawa ini, berkat izin dari Raja Mataram Hamengku Buwono VIII, pada tahun 1914. Karena keterbukaan hati dari Raja Mataram ini Gereja di tanah Jawa berkembang sebagai bagian dari Gereja Kristus di dunia. Itulah sebabnya tahun 1939 Gereja mengadakan Kongres Ekaristi pertama yang diprakrasai oleh Mgr. Willekens SJ, untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas perkembangan Gereja setelah 25 tahun berdiri di bawah Vikariat Apostolik Batavia.”
Mgr. Yohanes Pujasumarta mengharapkan bahwa tempat ini bisa menjadi tempat yang terbuka, tempat untuk berdoa bagi siapa saja: “Yang menarik perhatian kita adalah mengapa Hamengku Buwono VIII dan raja-raja Mataram pada waktu itu punya hati yang terbuka bagi tumbuh berkembangannya misi Gereja di tempat ini? Banyak kerajaan buatan manusia berkembang dan selalu runtuh. Kerajaan Majapahit bertahan lama dan menjadi termasyur karena rajanya mempunyai sikap yang terbuka. Kata kuncinya ditemukan oleh Empu Tantular “Bhineka Tunggal Ika”. Atas dasar prinsip itu, para raja Majapahit membiarkan agama-agama tumbuh bersama. Majapahit runtuh ketika prinsip Bhineka Tunggal Ika disingkirkan dan bergeser ke Kerajaan Demak. Ada perbedaan ideologi dan ada perbedaan pendapat itu sesuatu hal yang wajar dalam menghadapi pilihan-pilihan hidup, supaya ada pencerahan baru: bagaimana wahyu Kerajaan Majapahit dapat ditemukan kembali.”
“Belajar dari tradisi budaya, kita ingin Gua Maria Tritis ini menjadi tempat yang terbuka bagi siapa saja, tempat berdoa, tempat mencari tahu tentang kehendak Allah, supaya melalui Bunda Maria semakin banyak orang mengenal Yesus, mencintai dan melayani-Nya. Benih-benih sabda (semina verbi) yang kita temukan dalam budaya, harus tumbuh, berkembang, dan digenapi dalam diri Yesus Kristus”, pesan Mgr. Yohanes Pujasumarta dalam kotbahnya. ***
Menjelang Natal 1974, di desa Singkil Wonosari, Rm. Al. Hardjasudarma SJ, mendengar cerita dari seorang anak bahwa di dekat ladangnya terdapat gua alami. Beberapa hari kemudian Rm. Hardjasudarma mendatangi lokasi gua itu dan mengupayakan supaya umat Katolik bisa berdoa di sana. Pada Oktober 1977, Rm. S. Zahnweh SJ menempatkan patung Maria di gua itu, dan memberkati tempat ini sebagai tempat ziarah dengan nama Gua Maria Tritis. Nama “Tritis” sendiri berkaitan dengan keadaan gua yang selalu meneteskan air dari langit-langitnya.
“Saya ingin membenahi Gua Maria Tritis dengan menggali sejarah kebudayaan supaya mendapatkan makna yang lebih mendalam mengenai keberadaan Gua Maria Tritis ini sebagai tempat ziarah. Gua Maria Tritis ternyata pernah berperan dalam sejarah karena menjadi jembatan Wahyu antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Mataram Yogyakarta”, kata Rm. SP. Bambang Ponco Santosa SJ, pastor kepala Paroki Wonosari, menerangkan.
“Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya tahun 1294, dengan membuka hutan Tarik di sekitar Trowulan, Jawa Timur. Majapahit mengalami kejayaan di bawah kepemimpinan Prabu Hayam Wuruk yang dibantu oleh Mahapatih Gajah Mada. Dalam Kitab Negara Kertagama, karya Empu Prapanca, dilukiskan wilayah Nusantara yang pemerintahannya tersusun dengan rapi dan dalam Kitab Sutasoma karya Empu Tantular dilukiskan Negara kesatuan dengan semangat Bhineka Tunggal Ika,” jelas Mgr. Yohanes Pujasumarta tentang seluk beluk sejarah Gua Maria Tritis.
“Pada akhir abad 15 Majapahit runtuh. Raja Majapahit terakhir, yaitu Prabu Brawijaya V menikahi seorang putri Cina Palembang yang memeluk Islam menjadi selirnya. Tahun 1480 anak mereka, yaitu Adipati Demak yang bernama Raden Patah memisahkan diri dari Majapahit dan membangun kerajaan atas dasar ajaran Islam. Raden Patah naik tahta di Demak dengan gelar Sultan Ayah Alam Akbar I. Demak semakin kuat karena dukungan cendekiawan yang tergabung dalam Dewan Wali Sanga,” jelas Bapa Uskup Pujasumarta.
“Orang-orang yang tidak mau menerima pemerintahan Demak melarikan diri sampai jauh, bahkan ada yang sampai ke Gunung Kidul. Tiga prajurit yang menolak pemerintahan Demak di bawah Raden Patah dan yang tetap setia kepada Majapahit, melarikan diri sampai ke Gunung Kidul. Mereka itu adalah Ki Ageng Giring, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Bondan Surati. Mereka bertapa di sebuah gua untuk mencari Wahyu yang pindah dari Majapahit. Gua tempat bertapa tiga prajurit Majapahit itulah yang sekarang menjadi Gua Maria Tritis,” tambahnya.
“Di gua Tritis ini Ki Ageng Pemanahan mendapatkan Wahyu tentang pewaris Kerajaan Majapahit. Meski Ki Ageng Pemanahan sudah wafat sebelum kerajaan Mataram berdiri pada tahun 1575, dia telah berhasil meletakkan dasar-dasar bagi kehidupan Kerajaan Mataram sebagaimana Kerajaan Majapahit yang bersatu di atas semangat Bhineka Tunggal Ika. Kepemimpinan Kerajaan Mataram diteruskan oleh Sutan Hadiwijaya sebagai raja pertama yang bergelar Panembahan Senopati (1575-1601). Raja Mataram inilah yang menjadi pewaris Wahyu Kerajaan Majapahit,” jelas Bapa Uskup Pujasumarta.
Maria Pengantara Wahyu Ilahi
Atas dasar latar belakang budaya setempat, maka Maria di Gua Tritis yang selama ini tidak diberi gelar, kemudian diberi gelar Maria Pengantara Wahyu Ilahi. Tangan Maria yang dilukiskan terbuka menandakan kesiapan-Nya untuk menyalurkan rahmat atau wahyu Allah kepada siapa saja yang memohon kepada Allah dengan pengantaraan-Nya. Maria telah memberikan sang Penebus, Sumber segala rahmat, kepada dunia, dan dengan jalan ini Maria adalah saluran segala rahmat.
Istilah “Pengantara” (Mediatrix) untuk Maria, pertama kalinya dipakai oleh Santo Efraim (ca. 306-373), yang menyatakan: “Aku menyebut engkau Pengantara dunia. Aku mohon perlindunganmu di saat-saat aku membutuhkannya.” Di dalam salah satu kotbahnya, Santo Efraim pernah menyatakan Maria sebagai “penyalur segala pemberian”. Santo Yohanes Vianney pernah mengatakan: “Semua orang kudus memiliki devosi yang kuat terhadap Bunda Maria. Tidak ada rahmat yang datang dari surga tanpa melalui tangan Maria. Kita tidak dapat masuk ke suatu rumah tanpa berbicara kepada penjaga pintu rumah. Santa Perawan Maria yang tersuci adalah penjaga pintu surga.”
Santo Alfonsus Liguori mengatakan: “Allah yang memberikan Yesus Kristus kepada kita, menghendaki agar segala rahmat yang ada tetap ada dan agar rahmat itu disalurkan kepada manusia sampai akhir dunia melalui jasa dan kebaikan Yesus Kristus, dan supaya disalurkan oleh tangan dan melalui pengantaraan Maria.”
Paus Pius X menyebut Maria sebagai penyalur segala pemberian. Paus Benediktus XV menyebut Maria sebagai pengantara segala rahmat. Paus Leo XIII mengatakan di dalam ensiklik tentang Rosario“Octobrae Mensae” (1891): “Dari warisan segala rahmat, yang dibawa oleh Yesus, tidak ada satu pun rahmat yang datang kepada kita kecuali melalui Maria, sesuai dengan kehendak Allah, sehingga seperti tidak seorang pun bisa mendekati Bapa yang Mahatinggi kecuali melalui Putera-Nya, demikian juga tidak seorang pun dapat mendekati Kristus kecuali melalui Bunda-Nya.”
Paus Pius XII dalam ensiklik “Ingravescentibus Malis” (1937), sepakat dengan pendapat St Bernardus dari Clairvaux, dengan menyatakan: “Jadi, inilah kehendak Allah, yakni bahwa kita harus mendapatkan segala sesuatu melalui Maria”. St Bernardus dari Clairvaux, yang wafat tahun 1153, pernah menyatakan tentang Maria, demikian: “Allah menghendaki bahwa kita tidak akan memiliki sesuatu, kecuali melalui tangan Maria.”
“Pada hari ini kita bersyukur kepada Tuhan karena Gereja boleh berkembang di tempat ini”, kata Mgr. Yohanes Pujasumarta dalam kotbahnya, 4 Maret 2012 di Gua Maria Tritis, sebelum memberkati patung Maria yang baru. “Gereja telah berkembang di tanah Jawa ini, berkat izin dari Raja Mataram Hamengku Buwono VIII, pada tahun 1914. Karena keterbukaan hati dari Raja Mataram ini Gereja di tanah Jawa berkembang sebagai bagian dari Gereja Kristus di dunia. Itulah sebabnya tahun 1939 Gereja mengadakan Kongres Ekaristi pertama yang diprakrasai oleh Mgr. Willekens SJ, untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas perkembangan Gereja setelah 25 tahun berdiri di bawah Vikariat Apostolik Batavia.”
Mgr. Yohanes Pujasumarta mengharapkan bahwa tempat ini bisa menjadi tempat yang terbuka, tempat untuk berdoa bagi siapa saja: “Yang menarik perhatian kita adalah mengapa Hamengku Buwono VIII dan raja-raja Mataram pada waktu itu punya hati yang terbuka bagi tumbuh berkembangannya misi Gereja di tempat ini? Banyak kerajaan buatan manusia berkembang dan selalu runtuh. Kerajaan Majapahit bertahan lama dan menjadi termasyur karena rajanya mempunyai sikap yang terbuka. Kata kuncinya ditemukan oleh Empu Tantular “Bhineka Tunggal Ika”. Atas dasar prinsip itu, para raja Majapahit membiarkan agama-agama tumbuh bersama. Majapahit runtuh ketika prinsip Bhineka Tunggal Ika disingkirkan dan bergeser ke Kerajaan Demak. Ada perbedaan ideologi dan ada perbedaan pendapat itu sesuatu hal yang wajar dalam menghadapi pilihan-pilihan hidup, supaya ada pencerahan baru: bagaimana wahyu Kerajaan Majapahit dapat ditemukan kembali.”
“Belajar dari tradisi budaya, kita ingin Gua Maria Tritis ini menjadi tempat yang terbuka bagi siapa saja, tempat berdoa, tempat mencari tahu tentang kehendak Allah, supaya melalui Bunda Maria semakin banyak orang mengenal Yesus, mencintai dan melayani-Nya. Benih-benih sabda (semina verbi) yang kita temukan dalam budaya, harus tumbuh, berkembang, dan digenapi dalam diri Yesus Kristus”, pesan Mgr. Yohanes Pujasumarta dalam kotbahnya. ***
Berpengharapan: Belajar dari Bunda Maria
Hari tanggal 4 Nopember 2012, adalah hari Minggu Biasa XXXI. Gereja mengajak kita untuk merenungkan kembali perintah Tuhan yang utama, yakni: mencintai Tuhan dan mencintai sesama. Kita diingatkan kembali untuk hidup bagi sesama dan bersama-sama dalam persatuan dengan Tuhan. Dengan demikian hidup kita sehari-hari, rumah dan ruang kerja kita, dapat menjadi tempat di mana kita beribadat kepada Tuhan dan bertemu dan bersatu dengan Yesus, dengan kesadaran bahwa Dialah jalan kita satu-satunya. Dialah yang menyelamatkan kita dan kini menjadi pengantara di hadapan Bapa.
Pada hari pertama Novena (2 September 2012) di tempat ziarah Gua Maria Tritis, kita telah belajar dari Bunda Maria tentang kerendahan hati. Pada hari kedua Novena (7 Oktober 2012) kita belajar tentang keutamaan iman. Pada hari ketiga ini (4 Nopember 2012), kita akan belajar dari Bunda Maria tentang keutamaan harapan. Harapan itu timbul karena iman. Allah menerangi kita lewat iman sehingga kita mengenali kebaikan Allah dan janji-janji yang telah dibuat-Nya. Karena pengetahuan itu kita menjadi punya harapan akan keinginan memiliki Dia. Maria memiliki harapan dalam tingkatan yang istimewa. Harapan ini membuat dirinya dekat dengan Allah, seperti dikatakan oleh Daud penulis Mazmur, “Tetapi aku, aku dekat dengan Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Allah supaya aku dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya” (Mzm 72: 28).
Bunda Maria itu adalah mempelai Roh Kudus. Tentang dia dikatakan “Siapakah dia yang muncul dari padang gurun; yang bersandar pada kekasihnya?” (Kid 8: 5). Penulis Kitab Kebijaksanaan menggambarkan dunia sebagai padang gurun. Maria muncul dari padang gurun, artinya terikat dengan hal-hal yang sifatnya duniawi. Karena itu Maria tidak menyandarkan diri pada makhluk dunia dengan segala kebaikannya, tetapi kepada rahmat ilahi. Maria selalu maju dalam cintanya kepada Allah. Tentang Maria, Ailgrino mengatakan: “Ia naik dari padang gurun, yakni dari dunia, ia mengumumkan dan mempertimbangkan dunia itu sebagai padang gurun, ia kembali kepada ikatan emosinya dari ikatan dunia itu. Ia bersandar pada Pribadi yang tercinta. Dia percaya bukan pada kebaikan dirinya tetapi percaya pada rahmat yang diberikan oleh Allah sendiri.”
Santa Perawan Maria yang tersuci memberikan indikasi yang jelas mengenai keagungan kepercayaannya kepada Allah. Pada tempatnya yang pertama ia memperlihatkan keagungan kepercayaannya kepada Allah, adalah ketika dia memperlihatkan kekhawatirannya tentang Yusuf suaminya yang suci itu. Karena tidak mampu memahami kehamilan Maria, pikiran Yusuf terganggu. Dan Yusuf berniat untuk meninggalkan Maria. Tetapi “Yusuf yang tulus hati itu tidak mau mencemarkan nama baik isterinya dan karena itu dia tidak bermaksud untuk menceraikannya dengan diam-diam.” (Mat 1: 19).
Dan Maria merasa tidak perlu menyatakan kepada Yusuf bahwa dia telah menerima misteri tersembunyi itu. Dia tidak ingin dirinya mewahyukan rahmat yang telah dia terima. Maria berpikir bahwa adalah lebih baik jika dia menyerahkan diri kepada penyelenggaraan ilahi, dan percaya penuh bahwa Allah sendiri akan membela ketidaktahuan dan reputasinya. Persis inilah yang ditunjukkan oleh Cornelius Lapide yang menyatakan komentarnya menanggapi teks Kitab Suci yang dikutip itu, yakni: “Santa Perawan Maria tidak mau mengungkapkan rahasia itu kepada Yusuf, dia akan tetap merahasiakan anugerah dari Allah itu; karena itu dia menyerahkan semuanya kepada penyelenggaraan ilahi, dia sepenuhnya percaya bahwa Allah akan menjagai ketidaktahuan dan reputasinya.”
Maria sekali lagi menunjukkan kepercayaannya kepada Allah ketika dia tahu bahwa saat kelahiran Tuhan sudah dekat. Dia menyewa tempat miskin di Betlehem, membopong sang bayi di kandang, dan membaringkan-Nya di palungan, karena tidak ada ruang penginapan bagi-Nya. (Luk 2: 7). Dia tak mengeluh sepatah kata pun. Dia menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, dan dengan kepercayaannya yang penuh itu ia yakin bahwa Allah akan membantu dia.
Bunda Maria juga menunjukkan betapa besar kepercayaannya pada penyelenggaraan ilahi ketika dia menerima nasihat dari Yusuf bahwa mereka harus mengungsi ke Mesir. Pada suatu malam Maria melakukan perjalanan ke suatu tempat yang belum dikenali dan masih asing, tanpa persiapan, tanpa persediaan apa pun, tanpa uang. Dia hanya ditemani oleh Yesus sang bayi dan suaminya yang miskin, yang bangun, yang mengambil Anak serta ibu-Nya malam itu juga, dan menyingkir ke Mesir (Mat 2: 14).
Tetapi masih banyak lagi bukti kepercayaan Maria yang sungguh mengagumkan ketika dia meminta anaknya untuk menyediakan anggur pada pesta perkawinan di Kana. Karena Maria mengatakan “Mereka kekurangan anggur”, Yesus pun menjawab kepada ibu-Nya, “Mau apakah engkau dari pada Aku, ibu? Saatku belum tiba.” (Yoh 2: 3). Setelah menjawab dan terbukti bahwa Yesus menolak, kepercayaannya kepada Allah sebegitu besar bahwa Maria menginginkan para pelayan pesta akan melakukan apa saja yang Yesus katakan kepada mereka; dan betul anugerah itu diberikan. “Lakukan apa saja yang diperintahkan oleh-Nya kepadamu.” Demikianlah yang terjadi. Yesus memerintahkan kepada para pelayan untuk mengisi tempayan-tempayan dengan air; maka berubahlah air menjadi anggur.
Marilah kita sekarang belajar dari Bunda Maria bagaimana kita dapat memiliki kepercayaan kepada Allah, demi keselamatan abadi kita. Di dalam kerangka keselamatan abadi itu kita mesti bekerjasama dengan Allah, karena hanya dari Dialah kita berharap untuk mendapatkan rahmat yang kita butuhkan untuk memperoleh keselamatan abadi itu. Kita harus tidak percaya pada kekuatan diri kita sendiri, tetapi seperti dikatakan oleh St Paulus, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Flp 4: 13)
Dari Kitab Sirakh kita tahu bahwa Bunda Maria adalah Bunda Harapan Kudus (Sir 24: 24), Bunda Gereja Kudus, dan Bunda Harapan kita. Karena Yesus, Bunda Maria adalah Bunda Harapan. Santo Bernardus menyebut Maria sebagai “Engkaulah sumber pengharapanku”, dan bersama Santo Bonaventura kita juga dapat mengulangi lagi sebutan itu “Ya Maria engkaulah tumpuan harapan untuk keselamatan semua orang, selamatkanlah kami juga.” ***
Pada hari pertama Novena (2 September 2012) di tempat ziarah Gua Maria Tritis, kita telah belajar dari Bunda Maria tentang kerendahan hati. Pada hari kedua Novena (7 Oktober 2012) kita belajar tentang keutamaan iman. Pada hari ketiga ini (4 Nopember 2012), kita akan belajar dari Bunda Maria tentang keutamaan harapan. Harapan itu timbul karena iman. Allah menerangi kita lewat iman sehingga kita mengenali kebaikan Allah dan janji-janji yang telah dibuat-Nya. Karena pengetahuan itu kita menjadi punya harapan akan keinginan memiliki Dia. Maria memiliki harapan dalam tingkatan yang istimewa. Harapan ini membuat dirinya dekat dengan Allah, seperti dikatakan oleh Daud penulis Mazmur, “Tetapi aku, aku dekat dengan Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Allah supaya aku dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya” (Mzm 72: 28).
Bunda Maria itu adalah mempelai Roh Kudus. Tentang dia dikatakan “Siapakah dia yang muncul dari padang gurun; yang bersandar pada kekasihnya?” (Kid 8: 5). Penulis Kitab Kebijaksanaan menggambarkan dunia sebagai padang gurun. Maria muncul dari padang gurun, artinya terikat dengan hal-hal yang sifatnya duniawi. Karena itu Maria tidak menyandarkan diri pada makhluk dunia dengan segala kebaikannya, tetapi kepada rahmat ilahi. Maria selalu maju dalam cintanya kepada Allah. Tentang Maria, Ailgrino mengatakan: “Ia naik dari padang gurun, yakni dari dunia, ia mengumumkan dan mempertimbangkan dunia itu sebagai padang gurun, ia kembali kepada ikatan emosinya dari ikatan dunia itu. Ia bersandar pada Pribadi yang tercinta. Dia percaya bukan pada kebaikan dirinya tetapi percaya pada rahmat yang diberikan oleh Allah sendiri.”
Santa Perawan Maria yang tersuci memberikan indikasi yang jelas mengenai keagungan kepercayaannya kepada Allah. Pada tempatnya yang pertama ia memperlihatkan keagungan kepercayaannya kepada Allah, adalah ketika dia memperlihatkan kekhawatirannya tentang Yusuf suaminya yang suci itu. Karena tidak mampu memahami kehamilan Maria, pikiran Yusuf terganggu. Dan Yusuf berniat untuk meninggalkan Maria. Tetapi “Yusuf yang tulus hati itu tidak mau mencemarkan nama baik isterinya dan karena itu dia tidak bermaksud untuk menceraikannya dengan diam-diam.” (Mat 1: 19).
Dan Maria merasa tidak perlu menyatakan kepada Yusuf bahwa dia telah menerima misteri tersembunyi itu. Dia tidak ingin dirinya mewahyukan rahmat yang telah dia terima. Maria berpikir bahwa adalah lebih baik jika dia menyerahkan diri kepada penyelenggaraan ilahi, dan percaya penuh bahwa Allah sendiri akan membela ketidaktahuan dan reputasinya. Persis inilah yang ditunjukkan oleh Cornelius Lapide yang menyatakan komentarnya menanggapi teks Kitab Suci yang dikutip itu, yakni: “Santa Perawan Maria tidak mau mengungkapkan rahasia itu kepada Yusuf, dia akan tetap merahasiakan anugerah dari Allah itu; karena itu dia menyerahkan semuanya kepada penyelenggaraan ilahi, dia sepenuhnya percaya bahwa Allah akan menjagai ketidaktahuan dan reputasinya.”
Maria sekali lagi menunjukkan kepercayaannya kepada Allah ketika dia tahu bahwa saat kelahiran Tuhan sudah dekat. Dia menyewa tempat miskin di Betlehem, membopong sang bayi di kandang, dan membaringkan-Nya di palungan, karena tidak ada ruang penginapan bagi-Nya. (Luk 2: 7). Dia tak mengeluh sepatah kata pun. Dia menyerahkan sepenuhnya kepada Allah, dan dengan kepercayaannya yang penuh itu ia yakin bahwa Allah akan membantu dia.
Bunda Maria juga menunjukkan betapa besar kepercayaannya pada penyelenggaraan ilahi ketika dia menerima nasihat dari Yusuf bahwa mereka harus mengungsi ke Mesir. Pada suatu malam Maria melakukan perjalanan ke suatu tempat yang belum dikenali dan masih asing, tanpa persiapan, tanpa persediaan apa pun, tanpa uang. Dia hanya ditemani oleh Yesus sang bayi dan suaminya yang miskin, yang bangun, yang mengambil Anak serta ibu-Nya malam itu juga, dan menyingkir ke Mesir (Mat 2: 14).
Tetapi masih banyak lagi bukti kepercayaan Maria yang sungguh mengagumkan ketika dia meminta anaknya untuk menyediakan anggur pada pesta perkawinan di Kana. Karena Maria mengatakan “Mereka kekurangan anggur”, Yesus pun menjawab kepada ibu-Nya, “Mau apakah engkau dari pada Aku, ibu? Saatku belum tiba.” (Yoh 2: 3). Setelah menjawab dan terbukti bahwa Yesus menolak, kepercayaannya kepada Allah sebegitu besar bahwa Maria menginginkan para pelayan pesta akan melakukan apa saja yang Yesus katakan kepada mereka; dan betul anugerah itu diberikan. “Lakukan apa saja yang diperintahkan oleh-Nya kepadamu.” Demikianlah yang terjadi. Yesus memerintahkan kepada para pelayan untuk mengisi tempayan-tempayan dengan air; maka berubahlah air menjadi anggur.
Marilah kita sekarang belajar dari Bunda Maria bagaimana kita dapat memiliki kepercayaan kepada Allah, demi keselamatan abadi kita. Di dalam kerangka keselamatan abadi itu kita mesti bekerjasama dengan Allah, karena hanya dari Dialah kita berharap untuk mendapatkan rahmat yang kita butuhkan untuk memperoleh keselamatan abadi itu. Kita harus tidak percaya pada kekuatan diri kita sendiri, tetapi seperti dikatakan oleh St Paulus, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Flp 4: 13)
Dari Kitab Sirakh kita tahu bahwa Bunda Maria adalah Bunda Harapan Kudus (Sir 24: 24), Bunda Gereja Kudus, dan Bunda Harapan kita. Karena Yesus, Bunda Maria adalah Bunda Harapan. Santo Bernardus menyebut Maria sebagai “Engkaulah sumber pengharapanku”, dan bersama Santo Bonaventura kita juga dapat mengulangi lagi sebutan itu “Ya Maria engkaulah tumpuan harapan untuk keselamatan semua orang, selamatkanlah kami juga.” ***
Langganan:
Postingan (Atom)


_maria+bunda+Allah_theotokos_villadulcis.jpg)

_adi_vd_theresia+lisieux3_villadulcis.jpg)








