Hidup Berbagi

Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja

Kamis, 23 Juni 2011

Maria Ratu Rosario

Setiap tanggal 7 Oktober, umat Katolik merayakan pesta Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci. Hari pesta perayaan Ratu Rosario Suci ini ditetapkan oleh Paus Pius V bertepatan dengan hari perayaan kemenangan perang yang pernah terjadi di Lepanto, pada tanggal 7 Oktober 1571, antara armada angkatan laut gabungan dari kerajaan-kerajaan Eropa yang dipimpin oleh Spanyol dengan armada angkatan laut gabungan dari kerajaan-kerajaan di kawasan Timur Tengah yang dipimpin oleh Turki.

Kemenangan dalam Perang Lepanto ini diklaim oleh umat Katolik sebagai anugerah kemenangan dari Allah karena pertolongan Bunda Maria, yang dimohon melalui doa Rosario. Pesta perayaan Maria Ratu Rosario Suci ini mengundang umat Katolik untuk merenungkan kembali misteri Kristus, dan mengikuti keteladanan Bunda Maria, yang terlibat aktif dalam karya penjelmaan, penebusan dan penyelamatan jiwa-jiwa.

Paus Yohanes Paulus II dalam surat apostolic “Rosarium Virginis Mariae”, mengatakan bahwa Rosario Santa Perawan Maria adalah sebuah doa yang sangat disukai oleh banyak para santo/santa, dan didukung oleh kuasa mengajar Gereja (magisterium). Doa ini punya makna yang sungguh berarti karena membawa orang kepada kesucian. Doa Rosario pada intinya adalah doa kristosentris, doa yang berpusat pada Kristus. Doa ini memiliki kedalaman pesan Injil secara menyeluruh. Bahkan dapat dikatakan bahwa doa Rosario adalah compendium atau ringkasan dari seluruh pesan Injil.

Doa Rosario merupakan gema dari doa Maria, seperti dirumuskan dalam “Magnificat”, yang menyatakan bahwa karya penebusan dimulai dari rahim Bunda Maria. Dengan doa Rosario orang-orang kristiani duduk di bangku sekolah Maria, dan mengkontemplasikan keindahan memandang wajah Kristus dan mengalami kedalaman cinta-Nya. Melalui Rosario, umat beriman menerima rahmat berkelimpahan, melalui tangan Maria, Bunda Penebus.

Pada tanggal 29 Oktober 1978, Paus Yohanes Paulus menyatakan: “Rosario adalah doa yang disukai oleh banyak orang, doa favorit umat. Doa yang menakjubkan karena kesederhanaannya dan karena kedalamannya. Doa yang sederhana ini menandai irama kehidupan manusia, yakni: gembira, bercahaya, sedih, dan mulia.”

“Doa Rosario banyak kali dilakukan demi perdamaian. Masih segar dalam ingatan kita, tragedi yang mengerikan terjadi pada tanggal 11 September 2001, penyerangan terhadap gedung WTC di Amerika Serikat, yang menelan kurban ribuan orang. Peristiwa ini akan tetap diingat sebagai hari gelap dalam sejarah kemanusiaan. Peristiwa ini mengajak kita untuk kembali menemukan sarana Rosario untuk membenamkan diri dalam kontemplasi tentang misteri hidup Kristus, yang adalah  “damai kita” karena Dia yang membuat kita bersatu dan merobohkan dinding tembok permusuhan (Ef 2: 14). Akibatnya, tidak seorang pun orang kristiani berdoa Rosario lepas dari komitmen perjuangan untuk menciptakan perdamaian.”

Paus Yohanes Paulus II menyatakan: “Dalam berhadapan dengan peristiwa ini Gereja mencoba untuk tetap setia pada kharisma kenabian dan mengingatkan umat manusia akan kewajibannya membangun masa depan damai untuk manusia. Damai tidak bisa dipisahkan dari keadilan, tetapi kedamaian harus diperjuangkan dan dipelihara dengan belas kasih dan cinta.”

Pada tanggal 30 September 2001, setelah misa pembukaan sinode para Uskup, Paus Yohanes Paulus II meminta umat katolik untuk berdoa Rosario. Pesannya adalah: “Oktober adalah bulan di mana Bunda Maria Ratu Rosario dihormati. Dalam konteks situasi internasional sekarang ini, saya mengundang anda semua: individu, keluarga, komunitas, untuk mendoakan Rosario, mungkin setiap hari, memohon perdamaian, sehingga dunia dapat terlindungi dari bencana terorisme yang jahat.”

Paus Yohanes Paulus menambahkan: “Kita tidak dapat melupakan orang-orang Yahudi, orang-orang kristiani, orang-orang Muslim, bahwa mereka itu menyembah Allah yang satu dan sama. Tiga agama itu mempunyai panggilan demi kesatuan dan perdamaian. Semoga Allah berkenan memanggil dan mengutus orang-orang beriman menjadi agen perdamaian di garis depan perjuangan keadilan dan pelarangan kekerasan. Semoga Santa Perawan Maria, Ratu Damai, Ratu Rosario, melindungi semua umat manusia, sehingga kebencian dan kematian tidak pernah menjadi kata akhir.” @@@

Rabu, 22 Juni 2011

Maria Mediatrix dalam Tradisi Gereja

“Mediator” adalah kata Latin yang berarti “perantara” (lelaki). “Mediatrix” juga berarti “perantara” (perempuan); Santa Perawan Maria (perempuan) diberi gelar “Mediatrix”, artinya Maria Perantara. Pada awal abad ke-4, Bapa-bapa Gereja dan para santo telah mengenal Maria Mediatrix, Maria Perantara. Pada abad ke-4, Antipater dari Bostra, salah satu dari Bapak Konsili Efesus (AD 431), menulis: “Salam engkau yang menjadi perantara manusia.”

Pada abad ke-8, St. Germanus mengatakan: “Tidak seorang memberikan anugerah, tanpa melalui dia, yaitu yang tersuci; tidak ada rahmat belas kasih diperlihatkan kepada siapa pun juga kecuali oleh dia, yang sangat dihormati.” Pada abad ke-15, St Bernardine dari Siena menulis: “Ada proses mengenai rahmat ilahi, yaitu: dari Allah rahmat itu mengalir kepada Kristus, dari Kristus mengalir kepada Bunda Maria, dan dari Bunda Maria mengalir kepada Gereja.”

Menurut Santo Thomas Aquinas, hanya Kristuslah pengantara yang sempurna antara Allah dan umat manusia. Tetapi juga tidak disangkal suatu fakta bahwa pribadi lain disebut juga sebagai perantara karena mereka membantu dan menyiapkan kesatuan hubungan antara Allah dan manusia. Tidak ada masalah di antara orang kristiani dan para teolog Katolik bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya perantara antara Allah dan manusia. Tetapi tidak mengesampingkan partisipasi Santa Perawan Maria dalam keperantaraan dengan Putera-nya. Pada abad ke-19 kata “Mediatrix” sudah dipakai pada surat apostolic “Ineffabilis Deus” dari Paus Pius XI, pada ensiklik “Rosario” dari Paus Leo XIII, pada ensiklik “Ad Diem Illium” dari Paus Benediktus XV.

Paus Yohanes Paulus II adalah orang yang memiliki keyakinan yang teguh terhadap ajaran tentang Maria perantara segala rahmat, yang dibuktikan melalui tulisan dan pengumuman mengenai perihal itu.
Dalam ensiklik “Redemptoris Mater” (1987), Paus Yohanes Paulus II mengatakan: “Maria menempatkan diri sebagai Perantara antara Puteranya dan umat manusia dalam realitas keinginan, kebutuhan, dan penderitaan. Dalam posisinya sebagai Bunda, Maria menempatkan dirinya di tengah, bertindak sebagai perantara. Dalam posisi seperti itu Maria bisa menunjukkan kepada Puteranya apa yang dibutuhkan umat manusia. Pada kenyataannya, ia punya hak-hak untuk melakukan posisi itu.”

Pada pertemuan umum yang terjadi pada tanggal 24 September 1997, Paus Yohanes Paulus II mengatakan: “Orang-orang kristiani berdoa kepada Maria sebagai penasihat, penolong, pembantu dan perantara. Maria mengantarai kita, membela kita dan melindungi kita; Maria membantu kita dalam hal kebutuhan-kebutuhan kita; Maria mendukung mereka yang mengalami kejatuhan, dan menyampaikan doa-doa kita kepada Kristus, membela kita terus menerus.” @@@

Maria Perantara Segala Rahmat

Pada suatu sore, di bulan September, Sr. Teresita Castillo, sedang berdoa di kebun biara. Tiba-tiba dia melihat bahwa pohon anggur yang berada di kebun biara itu bergoyang-goyang meski tidak ada terpaan angin. Lalu terdengar suara seorang wanita: “Jangan takut, anakku. Ciumlah tanah. Apa yang aku katakan, harus kamu lakukan. Makanlah rumput itu, anakku. Selama lima belas hari berturut-turut, datanglah ke tempat ini.” Dan sebelum pergi, suara wanita itu terdengar lagi: “Aku adalah perantara segala rahmat.” Itulah kata terakhir yang diucapkan Bunda Maria, pada hari ke-12 penampakkannya kepada Sr. Teresita Castillo, seorang novis muda dari biara Karmel di kota Lipa, Batangas, Filipina, pada jam 5 sore, tanggal 12 September 1948.

Pada hari berikutnya, tanggal 13 September 1948, pada waktu yang sama jam 5 sore, Sr. Teresita datang ke tempat yang sama, lalu bersujud dan bermaksud untuk memanjatkan doa “Salam Maria”. Ketika sampai pada ucapan “penuh rahmat”, pohon anggur itu bergerak dan bergoyang lagi. Seorang wanita cantik menampakkan diri, tangannya mendekap di dada. Sebuah Rosario berwarna kuning keemasan bergantung pada tangan kanannya. Gaunnya sederhana dan berwarna putih jernih. Ikat pinggangnya yang terbuat dari kain melingkar di tubuhnya. Kakinya telanjang dan wanita itu berdiri di awan setinggi 2 meter di atas tanah. Wajahnya berkilauan, dan cantiknya tak dapat dilukiskan.

Pada tanggal 14 September 1948, peristiwa yang menakjubkan sungguh-sungguh terjadi lagi. Daun-daun bunga mawar tersebar di area kebun biara. Beberapa suster, yang terbangun pada pagi hari, menemukan daun-daun bunga mawar itu kelihatan tersebar di luar pintu. Lagi pada jam 5 sore, Bunda Maria menampakkan diri lagi pada pohon anggur yang sama, dan dia mengatakan: “Aku ingin agar besuk tempat ini diberkati.” “Kapan, Bunda?”, tanya Sr Teresita. “Kapan saja Bunda pemimpin biara ini menginginkannya, anakku. Aku menginginkan kamu tidak melupakan peristiwa-peristiwa selama lima belas hari ini.” Dan kemudian Bunda Maria menghilang.

Ketika mendengar laporan dari Suster Teresita mengenai peristiwa yang menakjubkan itu, Suster Maria Cecilia Zialcita, Suster pemimpin biara Karmel di Lipa, memutuskan untuk berkonsultasi dengan Bapa Uskup Alfredo Obviar, pembantu Uskup Lipa dan pembimbing rohani para suster di biara Karmel itu. Kepada Bapa Uskup, Suster Cecilia mengkonsultasikan apa yang harus dikerjakan sehubungan dengan peristiwa-peristiwa penampakan yang menakjubkan itu. Bapa Uskup menganjurkan agar Suster Cecilia memohon kepada Bunda Maria agar Bunda Maria berkenan memberikan bukti bahwa peristiwa penampakan itu memang datang dari surga.

Maka, terjadilah peristiwa menakjubkan berikutnya. Pada hari-hari setelah penyebaran daun bunga mawar, suster Teresita mengalami kebutaan total. Suster pemimpin biara Karmel itu pun juga mendengar suara wanita yang meminta kepadanya untuk mencium mata suster novis itu supaya suster yang telah buta itu sembuh dan dapat melihat kembali. Dan memang demikian yang terjadi. Di hadapan Bapa Uskup Alfredo Obviar, suster kepala biara itu membuka kerudung kepala suster novis itu dan mencium kedua mata Sr Teresita. Segera sesudahnya, perempuan yang berkerudung itu sembuh dari kebutaannya. Bapa Uskup menjadi tidak ragu lagi bahwa penampakan Bunda Maria ini sungguh datang dari surga.

Selama penampakan pada tahun 1948, Bunda Maria menekankan keutamaan kerendahan hati, pertobatan, dan doa untuk kaum biarawan-biarawati, untuk Paus, dan untuk berdoa Rosario. Bunda Maria meminta agar pada setiap hari ke-12 dalam bulan, diselenggarakan perayaan ekaristi di tempat penampakan itu.

Paus Leo XIII, Paus Pius XII, dan Paus Yohanes Paulus II, mengakui kebenaran ajaran Gereja bahwa Maria menjadi pengantara rahmat dengan dua cara. Pertama, Maria adalah Bunda Yesus Kristus, Bunda yang melahirkan Tuhan. Yesus Kristus putera Maria itu adalah sumber segala rahmat. Karena itu, Maria berpartisipasi dalam memainkan peran perantara rahmat. Dan kedua, setelah diangkat ke surga, Maria berpartisipasi dalam mengantarai rahmat-rahmat ilahi dari puteranya.

Maria adalah perantara segala rahmat. Apa artinya bagi kita, bila kita menyebut Maria Perantara Segala Rahmat? Segala rahmat telah diserahkan oleh Allah kepada manusia, melalui tangan Maria. Rahmat adalah anugerah-anugerah batiniah yang diberikan oleh Allah kepada kita manusia melalui Bunda Maria, untuk membantu kita menjadi suci dan dengan demikian memperoleh kehidupan abadi. Rahmat adalah dorongan-dorongan nilahi yang memancarkan enerji rohani yang mendorong kita untuk mengerjakan hal-hal yang baik dan bukan hal-hal yang jahat. Tanpa rahmat, kita tidak akan mampu melawan bujuk rayu halus dari si jahat. Santo Antonius pernah menulis: “Barangsiapa meminta dan mengharapkan dapat memperoleh rahmat tanpa perantaraan Bunda Maria, berusaha keras untuk terbang tanpa sayap.” @@@

Minggu, 19 Juni 2011

Doa Mohon Kesetiaan dalam Tugas

Allah yang Mahakuasa, Engkau telah membuat manusia menjadi tahu akan misteri kehidupan-Mu melalui Yesus Kristus Putera-Mu di dalam Roh Kudus.

Terangilah pikiran kami sehingga kami menjadi tahu akan misteri yang menjadi kekayaan Gereja dan yang Gereja ajarkan kepada kami.

Gerakkan hati kami untuk mencintai ajaran-ajaran itu dan gerakkan kehendak kami untuk hidup sesuai dengan ajaran-ajaran itu.

Anugerahkanlah kepada kami kemampuan untuk mengajarkan iman ini kepada orang lain agar banyak orang akan menjadi tahu tentang hal-hal yang menakjubkan yang telah Engkau kerjakan bagi ciptaan-Mu.

Bantulah kami untuk tetap setia pada tugas-tugas pengajaran yang telah Engkau percayakan kepada kami. Amin.

- St. Carolus Borromeus

Rabu, 15 Juni 2011

Pencuri Kehilangan Kepercayaan

Pada suatu hari sang Guru meneruskan kisahnya mengenai seorang pengemis yang menemukan tanda pada sebuah pintu pengamanan yang berbunyi sebagai berikut: “Jangan pakai bahan peledak. Pintu pengaman ini tidak dikunci. Anda tinggal pencet tombol ini.”

Segera sesudah itu, datanglah seorang pencuri memasuki kawasan pengamanan itu. Pencuri itu memencet tombol, maka jatuhlah karung berisi pasir menimpa tubuh pencuri itu; dan para penjaga pun bangkit, sirene meraung keras mengundang datang seluruh warga sekitar.

Sang Guru mengunjungi orang itu di penjara, dan menemukan dia dalam kepahitan. Dengan rasa kecewa dia bertanya: “Bagaimana mungkin saya bisa percaya lagi pada orang lain?”

Makna Persahabatan

Kata sang Guru: “Apa yang kamu sebut persahabatan itu sesungguhnya transaksi bisnis: Kerjarlah apa yang menjadi harapanku, dan berikanlah kepadaku apa yang aku inginkan; maka aku akan mencintai kamu. Tolaklah aku, maka cintaku akan berubah; aku akan menjadi marah dan tidak peduli.”

Kemudian sang Guru bercerita tentang seorang lelaki yang pada suatu sore hari pulang ke rumah menemui isteri dan anak perempuannya yang masih berumur lima tahun.

“Apakah kamu sudah memberikan ciuman pada papamu, sayang?”

“Belum, ma!”

“Aku malu dengan dirimu, sayang. Papamu itu pekerja keras sepanjang hari, dan ketika pulang membawa sedikit uang; tetapi bagaimana perilakumu ini! Datanglah sekarang, tunjukkan padanya ciumanmu, sayang?”

Sambil memandang papanya, anak perempuan itu mengatakan: “Di manakah uang itu, papa?”   

Anthony de Mello, Awakening: 
Conversations with the Master,
365 Daily Meditations, 
Chicago: Loyola Press. No. 4

Sabtu, 11 Juni 2011

Doa Mohon Bimbingan Roh Kudus

Allah Bapa yang Mahakudus, kami bersyukur kepada-Mu karena Roh Kudus dicurahkan dalam hati kami. Kehadiran-Nya di dalam hati kami akan menguatkan kami dalam karya kami sehari-hari. Dialah penghibur dan penolong yang Kau utus dalam nama Yesus Kristus. Dialah Roh Kebenaran yang memimpin kami kepada seluruh kebenaran.

Semoga Roh Kudus menerangi dan mengajarkan segala sesuatu kepada kami dan mengingatkan kami akan firman yang telah disampaikan oleh Yesus agar kami senantiasa dituntun oleh firman-Nya.

Melalui Roh Kudus ini sudilah Engkau membimbing Gereja-Mu, para pemimpin dan pembantu-pembantunya serta berikanlah kepada mereka kebijaksanaan yang sejati dalam membimbing umat-Mu. Semoga karena bimbingan-Nya kami dapat menikmati buah-buah Roh: kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelembutan, penguasaan dan pengendalian diri.

Melalui Roh Kudus-Mu, kiranya kami dibimbing untuk peka dan setia kepada kehendak Ilahi, tetap tabah dalam penderitaan, berani menjadi saksi Kristus, menjadi pelayan sesama dan menjadi terang bagi sesama kami.

Semoga Roh Kudus-Mu senantiasa memimpin kami dengan lemah lembut, dan menuntun kami dengan cermat, serta menjadi daya ilahi dalam kehidupan beriman dalam bermasyarakat serta menghantar kami ke dalam kemuliaan abadi di surga bersama Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Amin