Hidup Berbagi

Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Oktober 2012

Beriman: Belajar dari Bunda Maria

Tanggal 7 Oktober 2012 adalah hari pesta Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Sehubungan dengan pesta perayaan Santa Perawan Maria Ratu Rosario, Paus Yohanes Paulus II (1986) melalui ensiklik “Redemptoris Mater” (Bunda Penebus), pernah mengingatkan kita umat beriman untuk menjadikan Bunda Maria sebagai model atau panutan dalam hidup beriman. Dalam surat pastoral “Porta Fidei” (Pintu Menuju Iman) Bapa Suci Benediktus XVI (2011) mengajak kita umat beriman untuk mengenali kembali peran Bunda Maria dalam misteri keselamatan Allah, untuk mencintai dan mengikuti Bunda Maria sebagai panutan dalam hidup beriman dan berkeutamaan. Pada hari ini, kita akan belajar dari Bunda Maria mengenai keutamaan iman.

Untuk itu marilah kita renungkan kembali apa artinya hidup beriman itu bagi kita. Pertanyaan awal yang pantas kita ajukan adalah: “Apa sebenarnya iman itu?” Iman itu bukan ajaran. Iman itu relasi kita dengan Tuhan. Iman adalah relasi pribadi antara kita dengan Allah. Karena kekuatan dan kepastiannya mutlak, iman itu dapat menjamin keselamatan hidup kita. Allah dalam Perjanjian Lama adalah Allah yang membebaskan umat Israel dari perbudakan di Mesir, yang berbicara melalui para nabi, dan yang menyemangati para penulis Mazmur untuk menyanyikan puji-pujian dan memohon belaskasih-Nya.

Dalam Perjanjian Baru, iman itu mengacu pada relasi kita dengan Tuhan Yesus Kristus yang telah bangkit, yang mengklaim setiap pengikut-Nya untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya. Beriman dalam Yesus Kristus berarti menyerahkan seluruh keberadaan kita kepada Dia, dan menemukan di dalam keberadaan kita itu kegembiraan yang lebih mendalam daripada melewatkan kegembiraan dan kesedihan di dalam hidup kita. Bagi Santo Paulus, iman adalah relasi yang mesra dan terus menerus dengan Yesus yang telah bangkit.

Kata-kata dalam surat kepada umat di Ibrani barangkali adalah kata-kata yang paling tepat mengungkapkan apa yang disebut “iman”. Kata-kata itu bunyinya demikian: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr 11: 1). Kata-kata itu sungguh menakjubkan dan memang benar, tetapi iman itu tetap merupakan rahasia besar yang tidak ada batasnya untuk dipahami. Iman itu sedemikian dalam sehingga kita tidak bisa menyelaminya. Iman itu sedemikian tinggi sehingga kita tidak bisa meraihnya. Iman itu sedemikian luas sehingga kita tidak bisa menjangkaunya. Salah satu jalan untuk dapat mengetahui iman adalah memeluk iman itu.

Santo Alfonsus de Liguori pernah menyatakan bahwa Bunda Maria adalah Bunda yang patut menjadi teladan dalam hidup beriman. Bunda Maria bukan hanya Bunda yang bisa menjadi teladan dalam hidup saling mengasihi dan teladan dalam hidup yang berpengharapan, tetapi juga teladan dalam hidup beriman.
Dengan mengutip kata-kata Santo Paulus: “Karena suami yang tidak beriman itu dikuduskan oleh isterinya, dan isteri yang tidak beriman itu dikuduskan oleh suaminya.” (1Kor 7: 14), Santo Richardus mengatakan bahwa “Maria adalah seorang wanita yang percaya dan karena imannya itu Adam yang tidak percaya dan semua orang lain diselamatkan.” Karena itu, atas dasar pertimbangan iman, Elisabeth menyebut Bunda Maria: “Berbahagialah ia yang telah percaya sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan terlaksana” (Luk 1: 45). Dan Santo Agustinus menambahkan bahwa Maria diberkati oleh Allah karena ia menerima iman akan Kristus, dan bukan karena mengandung tubuh Kristus.

Pater Suarez pernah mengatakan bahwa Santa Perawan Maria itu memiliki iman yang lebih daripada semua orang yang lain dan para malaikat. Maria melihat putera-Nya di kandang kewan Betlehem, dan Maria mempercayai Yesus sebagai Pencipta dunia. Maria melihat bahwa Yesus dibawa pergi lari menjauh dari Herodes, dan ia mempercayai bahwa Yesus adalah raja dari segala raja. Maria melihat Yesus lahir, dan ia mempercayai Yesus sebagai raja abadi; Maria melihat Yesus yang miskin, membutuhkan makanan, dan Maria mempercayai bahwa Yesus adalah raja semesta alam. Maria melihat Yesus berbaring di tempat jerami, dan Maria mempercayai Yesus sebagai kuasa yang hadir dalam banyak peristiwa kehidupan. Maria melihat bahwa Yesus tidak bicara, dan dia mempercayai Yesus sebagai kebijaksanaan tanpa batas. Maria mendengar Yesus menangis, dan dia mempercayai bahwa Yesus adalah kegembiraan Firdaus. Maria melihat Yesus di saat kematian-Nya, ketika sengsara dan disalib, dan Maria tetap teguh dalam iman bahwa Dia adalah Allah.

Berdasarkan pada kata-kata dalam Injil, “Dan di dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya, dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.” (Yoh 19: 25), maka Santo Antonius menyatakan, “Maria berdiri, didukung oleh imannya, dia tetap teguh percaya akan keilahian Kristus.” Dan karena alasan ini Santo Antonius menambahkan sebutan untuk Bunda Maria bahwa Maria adalah satu-satunya lilin yang masih menyala; dan Santo Leo mengenai hal ini menyebut Maria dengan kata-kata yang diambil dari Kitab Amsal “Pada malam hari, pelitanya tidak padam.” (Amsal 31: 18).  Dan dengan mengutip kata-kata dari Nabi Yesaya “Aku seorang dirilah yang melakukan pengirikan” (Yes 63: 3); Santo Thomas menyatakan bahwa Nabi Yesaya pernah mengatakan bahwa ada seorang manusia, yaitu Santa Perawan Maria, yang imannya tak pernah luntur. Santo Albertus Agung meyakinkan kita bahwa “Maria memiliki iman yang sempurna; meski pun para murid Yesus ragu-ragu, tetapi Maria tidak pernah ragu-ragu dalam iman.”

Santo Ildephonsus menganjurkan kepada kita untuk meniru iman Maria. Tetapi bagaimana caranya? Apa yang mesti kita lakukan? Iman adalah anugerah; dan iman adalah keutamaan. Iman itu anugerah dari Allah, Sebagai anugerah dari Allah iman itu menerangi jiwa kita. Sebagai keutamaan, iman itu memerintahkan jiwa kita untuk memprakterkkan iman itu. Jadi, iman tidak berhenti sebagai aturan kepercayaan tetapi menjadi tindakan.

Karena itu Santo Gregorius mengatakan, “Ia sungguh mempercayai siapa yang menaruh apa yang ia percayai untuk dipraktekkan.” Dan Santo Agustinus menyatakan, “Kamu mengatakan: Aku percaya; kerjakan apa yang kamu katakan, dan itulah iman.” Inilah yang disebut penghayatan iman: hidup sesuai dengan yang diimani. “Orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman” (Ibr 10: 38). Jadi, Bunda Maria hidup sungguh berbeda dengan orang-orang lain yang tidak hidup sesuai dengan apa yang mereka percayai, dan orang-orang yang imannya telah mati. Maka, Santo Yakobus menyatakan, “Seperti tubuh tanpa roh adalah mati; demikian jugalah iman tanpa perbuatan adalah mati.” (Yak 2: 26).

Maka, marilah pada hari ini, kita memohon kepada Allah dengan perantaraan Bunda Maria, agar kita dianugerahi keutamaan iman yang hidup seperti telah dihayati oleh Bunda Maria, sehingga kita tetap tangguh dalam menghadapi segala tantangan kehidupan sebagai umat beriman yang dihadapkan pada atheisme, materialisme dan hedonisme seperti sekarang ini.***

Tujuh Jalan Menumbuh-kembangkan Iman

Dalam rangka perayaan “Tahun Iman”, yang dibuka pada tanggal 11 Oktober 2012 dan ditutup pada tanggal 24 Nopember 2013, Paus Benediktus XVI melalui surat apostolik Porta Fidei (2011), mengajak umat kristiani di seluruh dunia untuk menyisihkan waktu yang khusus untuk menemukan kembali dan berbagi satu sama lain, anugerah yang sangat bernilai bagi hidup, yakni iman yang dipercayakan kepada Gereja, dan anugerah pribadi berupa iman yang kita terima masing-masing dari Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus.

Katekismus Gereja Katolik  (No. 162) menyatakan: “Iman adalah satu anugerah rahmat yang Allah berikan kepada manusia. Kita dapat kehilangan anugerah yang tak ternilai itu. Santo Paulus memperingatkan Timotius mengenai hal ini: Hendaklah engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni. Beberapa telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka.” (1Tim 1: 18-19).

Jika iman merupakan harta kekayaan yang paling berharga, bagaimanakah kita dapat meningkatkannya dan melindunginya dari bahaya erosi materialistik di mana orang-orang Katolik juga nampak kehilangan iman mereka? Para penulis di bidang kehidupan rohani menganjurkan beberapa cara yang sangat berharga untuk membantu kita mampu menjaga anugerah Allah yang paling bernilai itu bertumbuh. Inilah beberapa anjuran yang bisa diajukan.

Pertama, berterimakasih dan bersyukur atas anugerah Allah yang sangat indah dan menakjubkan, yakni: anugerah iman. Salah satu pengajar iman yang paling besar, yakni Santo Paulus, pernah mengungkapkan penghargaannya yang mendalam mengenai hal ini. Santo Paulus mengatakan: “Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!” (2Kor 9: 15).

Kedua, kerap melakukan tindakan iman, yakni: tindakan iman kepada Allah yang sederhana, iman kepada Allah Tritunggal, iman kepada Kristus yang hadir dalam Ekaristi, iman kepada apa saja yang kita yakini dan diajarkan oleh Gereja. Iman akan semua hal itu menegaskan kembali di dalam pikiran-pikiran kita kebenaran ilahi yang sudah berjalan hingga millennium ketiga ini.

Ketiga, baca dan belajar dari buku-buku dan artikel-artikel yang mengulas mengenai iman kita, iman Katolik. Banyak buku yang baik yang tersedia sekarang, misalnya: Katekismus Gereja Katolik (1993) atau Iman Katolik (1996) yang diterbitkan oleh Konperensi Waligereja Indonesia. Tentu saja, buku yang paling penting adalah Kitab Suci, yakni sabda Allah sendiri.

Keempat, bergabung dengan kelompok-kelompok, masuklah ke paguyuban-paguyuban yang mengembangkan hidup beriman. Carilah renungan-renungan atau kotbah-kotbah yang ditulis oleh para pengkotbah Katolik yang baik. Hadirlah dalam kelompok-kelompok yang membangun hidup beriman dengan doa bersama dan melaksanakan devosi-devosi.

Kelima, mengikuti Perayaan Ekaristi sekerap mungkin. Tidak ada peristiwa lain di dunia ini yang lebih berharga daripada Perayaan Ekaristi, di mana Kristus menjadi sungguh nyata hadir di dalam Ekaristi, sumber segala kesucian dan iman.

Keenam, lebih dekat dengan Gereja, yakni: Gereja Katolik. Sebagai ibu seluruh umat beriman Gereja melindungi dan menjaga iman kita yang berharga itu, melalui para rasul dan penggantinya yang diutus dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi. Makin dekat dengan Gereja kita makin dekat dengan Allah Bapa, makin dekat dengan Kristus yang wakil Allah di dunia ini, dan dengan demikian makin kuatlah iman kita. Katekismus Gereja Katolik secara resmi mengajarkan bahwa Paroki kita adalah “persekutuan ekaristi dan hati kehidupan liturgi keluarga-keluarga kristiani”. Ekaristi memberikan tempat yang cocok untuk katekese anak dan orangtua.” ( bdk. Katekismus Gereja Katolik, No. 2226, halaman 540).

Ketujuh, menghayati iman! St. Paulus mengatakan: “Orang benar akan hidup dengan iman” (Rom 1: 17). Tetapi hal ini juga berarti menaruh iman kita di dalam perbuatan. St. Yakobus mengatakan bahwa “iman tanpa perbuatan adalah kosong.” (Yak 2: 26). Bagaimana kita dapat menghayati iman kita? Kita bisa membaca dan belajar dari kisah kehidupan para santo/santa yang memperlihatkan keperkasaan iman mereka yang dihayati di dalam hidup sehari-hari.

Dengan iman, mereka melihat Allah berada di mana-mana, di dalam ciptaan, di dalam diri banyak orang, di dalam alam semesta yang indah, di dalam peristiwa sehari-hari yang serba biasa. Seperti Bunda Teresa, para santa/santo membantu orang miskin, melihat Kristus di dalam diri mereka “Kristus yang hadir di dalam diri orang-orang yang tidak beruntung, mengalami kemalangan dalam hidup.” Mereka mengajak kembali kepada Allah untuk meminta bantuan kepada-Nya agar mereka mampu mengambil keputusan-keputusan.

Santo-santa memiliki devosi yang kuat,  terutama devosi pada Kristus di dalam Ekaristi dan cinta pada Bunda-Nya, Maria. St. Paulus menulis: “Kami berjalan karena iman, dan bukan karena penglihatan.” (2Kor 5: 7). Tidak saatnya lagi sekarang kita tidak dapat menghayati iman melalui doa dan tindakan, tidak ada penderitaan lagi yang dapat kita persembahkan di dalam kesatuan dengan Kristus yang menderita untuk orang lain, tidak ada pekerjaan yang dapat kita laksanakan di luar iman; tidak ada bagian hidup ini yang dapat diangkat demi kehidupan keabadian.

“Supaya hidup dalam iman, dapat bertumbuh dan dapat bertahan dalam iman sampai akhir, kita harus memupuknya dengan sabda Allah; kita meminta kepada Tuhan supaya menumbuhkan iman itu. Iman itu harus bekerja melalui cintakasih (Gal 5: 6), ditopang oleh pengharapan dan berakar dalam iman Gereja.” (Katekismus Gereja Katolik, No.162). Maka, seperti para Rasul, kita harus selalu berdoa: “Tuhan, tumbuhkanlah iman kami.”

Jumat, 27 April 2012

Memento Mori

Minggu yang lalu saya pergi ke Makam Romo Sanjaya di Muntilan untuk berziarah. Ketika sampai di muka makam saya tertarik untuk memperhatikan kata-kata yang tertulis di pagar pintu gerbang yang sudah nampak kusam dan tidak kelihatan jelas lagi. Saya mendekati pintu itu dan saya baca di sana: “Memento Mori”. Memento Mori adalah ungkapan Latin yang berarti “Ingatlah akan kematian!”. Orang Inggris mengatakan “Remember, you will die!”. Orang Jawa mengatakan “Elinga, manungsa, kowe iku mesti bakal mati!”

Saya tertegun sejenak. Saya ingat akan kisah Kain dan Abil di Kitabsuci Perjanjian Lama. Ketika Tuhan bertanya kepada Kain yang telah membunuh adiknya karena irihati: “Di mana adikmu?”, Kain menjawab “Aku tidak tahu, Tuhan. Haruskah aku bertanggungjawab atas adikku?”. Hari-hari ini pun banyak orang kejangkitan penyakit yang sama: "Tidak tahu". Pemandangan yang sangat jelas di pikiranku adalah peristiwa di ruang pengadilan tipikor (tindak pidana korupsi). Ketika di ruang pengadilan orang yang menjadi saksi perkara korupsi ditanya oleh hakim, ia kerapkali menjawab dengan kata-kata: “Saya tidak tahu. Saya tidak ingat. Saya lupa, yang mulia.”

Ada seorang pelukis Spanyol, namanya Salvador Dali. Dia digolongkan dalam aliran yang disebut dengan sur-realisme. “Sur” (bahasa Perancis) berarti di atas. Ada lagu Perancis yang syairnya masih saya ingat, berjudul "Sur le pont d’Avignon", artinya di atas jembatan Avignon. Jadi sur-realisme berarti di atas yang nyata. Dia mengambil inspirasinya dari Psikoanalisis Sigmund Freud. Surrealisme menekankan dorongan-dorongan irrasional dan nafsu dalam diri manusia. Banyak sekali hasil karya Dali ini. Di antara bermacam-macam lukisannya, ada satu lukisan yang menarik perhatian saya, yaitu lukisan jam. Jam ini bukan seperti jam yang biasanya. Jam ini tidak lurus, tidak tegak, tapi bengkok. Ada yang tergantung di atas dahan kering, ada yang di atas meja, ada yang mengawang-awang. Semua bentuk jam ini bengkok, leleh, tidak lurus. Inilah gambaran mengenai waktu. Waktu itu tidak selalu sama. Waktu itu relatif, kadang-kadang terasa cepat, kadang-kadang lambat, sering-sering juga molor.

Itulah waktu yang relatif, bisa panjang, bisa pendek, bisa cepat, bisa lambat. Ketika saya masih kanak-kanak, waktu rasanya begitu panjang. Begitu bangun tidur, langsung yang dipikirkan adalah bermain; bermain dari pagi sampai petang. Mengejar layang-layang yang putus karena adu sambitan, pergi ke sawah mencari jangkrik, mandi di sungai atau di laut, ikut menggembalakan kambing di padang, dsb. Pendek kata waktu terasa tidak ada habis-habisnya. Tetapi, semakin dewasa, semakin besar, waktu rasanya semakin pendek. Sekarang ini waktu 24 jam sehari rasanya kurang, karena ada banyak hal yang belum terselesaikan. Itulah relativitas waktu.

Mazmur 90: 6 mengatakan bahwa hidup manusia itu seperti rumput, pagi hari tumbuh, siang hari berkembang, sore hari menjadi kering, layu dan mati. Ada sebuah teka-teki: Makhluk apakah yang kalau pagi berkaki empat, siang berkaki dua dan sore berkaki tiga? Jawabannya jelas: manusia. Periode hidup manusia dimulai dengan berkaki empat (bayi), kemudian menjadi dewasa (kaki dua), menjadi tua (berkaki tiga: dua ditambah satu tongkat, bahkan bisa juga tongkat yang berkaki tiga, atau bahkan berkaki bundar, kursi roda). Ada pepatah dalam bahasa Jawa yang mengatakan: urip iku mung kaya wong sing mampir ngombe (hidup itu seperti orang yang hanya mampir minum). Seberapa lamanya orang mampir minum? Hanya sebentar saja dan orang harus pergi lagi.

Mazmur 90:10 melanjutkan, masa hidup manusia itu tujuh puluh tahun dan jika kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan manusia melayang lenyap. Masa hidup tidak bisa diperlambat atau dipercepat. Umur manusia tidak bisa ditawar-tawar dan tidak bisa diundur. Pertanyaannya, apa yang bisa dilakukan dengan masa hidup itu? Mau digunakan untuk apakah masa hidup yang diberikan kepada kita ini? Hanya ada dua kemungkinan: digunakan sebaik mungkin, ataukah disia-siakan dengan percuma.

Orang yang tidak menemukan waktu untuk berbuat baik, selalu menemukan waktu untuk berbuat jahat. Orang yang tidak menemukan waktu untuk berbuat jujur, selalu menemukan waktu untuk korupsi, kolusi dan ngapusi. Orang yang tidak menemukan waktu untuk menolong orang, selalu menemukan waktu untuk menipu orang. Orang yang tidak menemukan waktu untuk berdamai, selalu menemukan waktu untuk bermusuhan dan menebar teror. Orang yang tidak pernah menemukan waktu untuk memanggil nama Tuhan, akhirnya akan menemukan waktu untuk dipanggil Tuhan. Terserah kepada manusia, makna apa yang akan dia berikan untuk mengisi waktu yang diberikan kepadanya. Masalahnya bukan panjang atau pendeknya waktu yang tersedia, tetapi apa yang akan dia perbuat dengan waktu yang ada. Isi apa yang akan dia berikan selama kurun waktu hidup yang dianugerahkan kepadanya.

Hidup di dunia ini hanya sementara, tidak akan berlangsung selama-lamanya. Masalahnya, banyak orang yang hidup seolah-olah tidak pernah akan mati. Karena itu melakukan apa saja sekehendak hatinya, tidak peduli orang lain menderita, tidak peduli orang lain sengsara, bahkan mati sekali pun. Yang penting dirinya sendiri tetap jaya, tetap berkuasa, memiliki segala-galanya. Apakah pernah berpikir bahwa suatu saat semuanya ini akan berakhir? Kapan akan sampai? Tak seorang pun yang tahu! “Karena itu berjaga-jagalah., karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga” (Luk 12:40).

Kita tidak tahu kapan Putera Manusia datang, kita tidak tahu kapan Tuhan akan memanggil kita. Tapi satu hal kita tahu pasti: kita bisa mempersiapkannya. Bagaimana? Dengan memberi makna pada hidup ini, entah panjang, entah pendek. Yang penting bukan panjang atau pendeknya waktu hidup kita, tapi makna apakah yang akan kita berikan kepadanya. Terserah kepada manusia, kehidupan macam apa yang akan kita rajut. Apakah kita mau menjaga dan memelihara kehidupan, mau peduli terhadap sesama kita, mau saling menolong, mau saling memperhatikan, ataukah mau merusak kehidupan, saling menginjak, saling membunuh, saling tidak peduli, saling cakar, saling membasmi, karena takut kehilangan “kekuasaan”? Makna apakah yang akan kita berikan kepada kehidupan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita? @@@