Hidup Berbagi

Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja

Kamis, 17 November 2011

Bersyukur dalam Segala


Hidup ini sungguh berat. Berbagai masalah silih berganti. Yang lama belum selesai, yang baru sudah datang. Di saat anak-anak sedang mencari sekolah baru dan memerlukan banyak uang, muncul berita di berbagai media massa bahwa bahan bakar minyak akan naik; dan tentu saja akan berpengaruh pada biaya hidup yang makin berat. Ketika biaya hidup makin berat, banyak orang menjadi putus asa. Rasanya hidup tidak ada sela, tidak ada jeda untuk bisa bernafas lega. Kapan ada waktu untuk bersyukur, sementara malapetaka datang bertubi-tubi.Rasanya harapan untuk hidup bahagia itu jauh sekali. Hidup menjadi gelap.

Dalam kondisi hidup yang makin berat seperti sekarang ini, kita kerapkali melupakan nasihat St. Paulus: “bersyukurlah dalam segala hal”, termasuk di saat-saat di mana kita harus berjuang di dalam kegelapan. Dalam suratnya kepada umat di Tesalonika Santo Paulus menulis: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1Tes 5: 18). Ada beberapa alasan mengapa kita harus bersyukur.

Pertama, dalam kegelapan orang dapat berlatih mengendalikan diri sendiri. Masyarakat menempatkan nilai tinggi di dalam hal kemandirian dan kemampuan untuk bisa memenuhi diri sendiri dan berprestasi. Di saat sukses orang acapkali lupa akan Tuhan, dan Tuhan dijauhkan. Di dalam kegelapan, orang justru cenderung berpaling dan mendekatkan diri pada Allah. Inilah juga yang terjadi pada diri seorang penulis buku yang sukses, bernama Dan Wakefield. Ketika dia sedang menjalani masa studi di perguruan tinggi terkenal, dia menjauhi untuk bergabung dengan organisasi-organisasi keagamaan. Tetapi ketika dalam tahun-tahun sulit, dia mengalami hal yang sebaliknya: mempunyai kesadaran yang mendalam akan cintakasih Allah.

Dua belas bulan setelah kedua orangtuanya meninggal, dia mengalami bahwa hubungan dirinya dengan seorang wanita yang dicintainya harus berakhir. Bahkan di saat seperti itu ia mengalami kehilangan pekerjaan di sebuah perusahaan di mana lebih dari 15 tahun dia telah mendapatkan nafkah darinya. “Berhadapan dengan sekian masalah yang membuat aku menjadi stres, aku mencoba membaca Mazmur 23”, katanya. “Kata-kata dalam Mazmur itu sungguh lebih banyak berbicara padaku katimbang buku-buku filsafat yang pernah aku baca, baik buku-buku karangan Hemingway, Kafka, Popper, Heidegger, Freud maupun Sartre.

Kedua, dalam kegelapan kita belajar untuk melihat betapa bermaknanya terang itu. Kerapkali berkat yang kita terima dan kita nikmati kita terima sebagai sesuatu yang sudah sepantasnya kita terima. Kita menerima berkat itu sebagai sesuatu yang “taken for granted”. Ketika kita mencoba membandingkan antara terang dan gelap, antara baik dan buruk, antara positif dan negatif, maka kita dibuat mampu untuk bisa menghargai betapa indahnya terang. “Kekayaan pengalaman manusia yang indah akan kehilangan bagian kegembiraannya manakala pengalaman keindahan itu tidak ada batas-batas yang dapat melampauinya,” kata Helen Keler. “Demikian juga sebuah puncak bukit tidak akan kelihatan keindahannya manakala tidak ada bagian gelap dari lembah yang muncul di sebelah bukit itu.”

Ketiga, di dalam kegelapan kita bisa belajar lebih siap. Ada perbedaan antara kesadaran intelektual dengan kesadaran akan kebenaran, dan kebenaran itu merobek hati karena pengalaman kegelapan. “Kebenaran yang diceritakan cepat dilupakan; kebenaran yang ditemukan tak akan pernah terlupakan sepanjang waktu”, kata William Barclay, seorang sarjana Kitab Suci. Saat kegelapan kerapkali merupakan saat di mana kita dapat belajar dan bertumbuh. Justru dalam lembah kegelapan itu kita dapat menata hidup, memperjenih nilai, menyeleksi prioritas-prioritas, dan menemukan manakah teman yang sejati dan manakah teman yang bukan sejati.

Keempat, dalam kegelapan kita lebih terbuka pada Allah. Di dalam kegelapan tidak ada kesempatan untuk melihat secara jernih. Karena penglihatan kita kabur, pikiran kita bingung, dan jiwa kita terluka, maka kita kembali kepada Tuhan dengan kehausan yang sesungguhnya. Inilah pengalaman seorang penyanyi terkenal Naomi Judd. 

Pada tahun 1991 Judd terpaksa menjalani pensiun dini karena terkena hepatitis kronis. Karena menderita sakit lever, maka Judd tidak bisa tampil lagi sebagai penyanyi. Pengalaman itu membawa Judd pada kesadaran bahwa penyakitnya itu merupakan tanda bahwa Judd harus mengakhiri karirnya sebagai penyanyi dan kembali kepada Tuhan untuk meminta penyembuhan dan pulih kembali seperti sediakala. “Saya sungguh berusaha untuk tetap beriman dan meminta kesembuhan kepada Tuhan,” katanya. “Saya duduk di kursi roda, dalam posisi terlentang di tempat tidur. Saya menjadi tahanan tubuh saya sendiri. Saya membayangkan flu melanda dunia. Apakah anda dapat merasakannya betapa menyakitkan flu yang anda derita selama lebih dari seminggu? Anda tentu tak akan bisa merasakan betapa hebat penderitaan itu tanpa mengalaminya.”

Di dalam kegelapan orang menjadi lebih terbuka untuk membuka diri dalam berelasi dengan Allah; dan menemukan bahwa ketakutan dirinya bisa digantikan dengan harapan akan Tuhan. “Pengharapan adalah teman dalam penderitaan. Pengharapan adalah pegangan bagi saya untuk bisa melalui segala perjuangan selama masa-masa sulit dan kegelapan”, kata Naomi Judd.

Kelima, di dalam kegelapan kita belajar hidup dengan iman dan bukan dengan penglihatan semata. Inilah ajaran dari Perjanjian Baru: “Kita hidup karena iman, dan bukan karena penglihatan,” kata Paulus (bdk. 2Kor 5:7). Di saat-saat kegelapan dan kesulitan kita mengakui keringkihan dan ketakberdayaan kita dan menyerahkan hidup kita pada pemeliharaan dan bimbingan-Nya. “Dalam ketakberdayaanku tidak ada alternatif lain kecuali menyerahkan segala sesuatunya kepada tangan Allah”, katanya. “Aku berdoa semoga buku yang akan aku terbitkan itu merupakan hasil karya Allah sendiri. Aku berharap buku itu akan tersebar luas di seluruh dunia”, katanya.

Keenam, dalam kegelapan kita bisa belajar untuk tidak lagi sewenang-wenang menghakimi orang lain. Tuhan Yesus bersabda: “Jangan kamu menghakimi, supaya kami tidak dihakimi.” (Mat 7:1). Cobaan, pengalaman pahit, kesulitan, tragedi, mengejawantahkan kepada kita keringkihan dan kelemahan kita. Saat seperti itu membawa kita untuk tidak sombong, membuat kita tidak mudah lagi untuk sewenang-wenang menghakimi orang lain. Kita menjadi lebih mudah menerima, memahami, lebih ramah, setelah kita sendiri masuk ke dalam masa pencobaan dan kesulitan.

Akhirnya, karena pernah mengalami kegelapan, kita menjadi lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih tabah. Karena pernah mengalami kegelapan, kita mendapatkan apresiasi yang baru terhadap kehadiran Allah, rahmat dan dukungan di situasi yang sangat rentan dan ringkih. Justru pada saat terjatuh terjerembab itu kita mengalami daya kekuatan Allah yang luar biasa di dalam hidup kita, seperti yang pernah dijanjikan: “Allah abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada tangan-tangan yang kekal.” (Ul 33: 27).

Karena Cinta dan Ketekunan

Don't judge the book by its cover, jangan menilai sesuatu dari penampilan luarnya saja. Mungkin ini ungkapan yang tepat saat melihat sosok Hee Ah Lee. Betapa tidak, fisiknya jauh dari ukuran normal. Tangannya hanya punya empat jari berbentuk capit, sedangkan kakinya pun pendek sebatas ukuran lutut. Orang pasti akan kasihan melihat sosok wanita kelahiran Korea 22 tahun lalu ini. Tapi, rasa kasihan ini akan segera berubah menjadi kekaguman jika melihat Hee Ah Lee memainkan piano.

Bayangkan, nada-nada sulit musik klasik karya komponis kenamaan seperti Chopin, Beethoven, Mozart, bisa dimainkannya dengan sangat apik. Padahal, tidak ada not balok dari musik klasik itu yang khusus dibuat untuk dimainkan dengan hanya empat jari. Hee sendirilah, yang mengubah empat jarinya sehingga mampu menari di atas tuts-tuts piano dengan lincah, layaknya sepuluh jari orang normal. "Dari awal belajar piano memang saya diperlakukan sebagai orang normal,"sebut Hee.
Terlahir dari seorang ibu bernama Woo Kap Sun, Hee sebenarnya sangat beruntung. Sebab, Woo yang tahu akan melahirkan bayi cacat dari awal menolak mentah-mentah anjuran beberapa orang dekatnya untuk menitipkan anaknya ke panti asuhan setelah lahir. Woo juga yang merawat, mendidik, dan mengajari Hee seperti orang normal lain. Woo bahkan menyebut anaknya itu sebagai anugerah Tuhan meski terlahir kurang sempurna. Ibunya itu juga yang kemudian dengan kesabaran ekstra mengajari Hee bermain piano sejak usia enam tahun.
Saat mulai main piano, Hee bahkan tidak bisa memegang pensil. Butuh waktu dan kerja keras, serta dilandasi keuletan yang luar biasa untuk melatih jari-jari Hee. Belum lagi untuk mengenalkan not balok pada Hee yang punya keterbelakangan mental. Awalnya, untuk menguasai sebuah lagu saja, dibutuhkan waktu sekitar satu tahun. Itu pun bisa dilakukan hanya dengan latihan intensif minimal sepuluh jam dalam sehari.
Sungguh, gabungan cinta kasih seorang ibu ditambah ketekunan Hee sebagai anak, merupakan sebuah kekuatan yang mampu mengubah kekurangan dan keterbatasan menjadi kelebihan yang luar biasa. Hee menyebut, ibunyalah yang telah menggembleng dirinya agar tumbuh mandiri, percaya diri, dan bersemangat baja menghadapi hidup. Dengan kemampuan yang diperoleh dari ketekunan dan keuletan berlatih itu, Hee kini telah berkeliling dunia. Ia menginspirasi orang dengan keyakinan bahwa tidak ada yang tak mungkin di dunia ini jika kita mau bekerja keras dan sungguh-sungguh berusaha mewujudkannya.
Meski begitu, sebagai manusia biasa ia pun mengaku pernah mengalami patah semangat. "Bayangkan Anda makan satu jenis makanan terus menerus sampai bosan. Tapi, aku memakannya terus. Aku berlatih terus menerus," sebut Hee tentang bagaimana menaklukkan kebosanannya.
Kini, sederet penghargaan atas keterampilan bermain piano telah diterimanya. Ia juga telah mempunyai album musik sendiri berjudul Hee-ah, Pianist with Four Fingers. Dengan berbagai kelebihan yang diolah dari kekurangan itu lah, kini ia juga mempunyai kehendak lain yang mulia, "Aku akan berkeliling dunia, bermain piano dari sekolah ke sekolah untuk memberi motivasi kepada kaum muda bahwa mereka bisa melakukan apa pun kalau berusaha," kata Hee.

Sungguh, sosok Hee Ah Lee adalah gambaran nyata keteladanan seseorang dengan ketekunan yang luar biasa. Hanya dengan keyakinan, keuletan, dan kerja keras disertai semangat pantang menyerah, seseorang dapat mengubah nasibnya. Jika Hee yang kurang sempurna saja mampu, bagaimana dengan kita yang terlahir sempurna? Tinggal keyakinan dan tekad kuat disertai usaha sungguh-sungguhlah yang akan mengubah kita.

Doa Menemukan Allah dalam Kerja dan Hidup Sehari-hari


Allah, Bapa kami, Engkau telah memilih hamba-Mu Santo Josemaria untuk menyatakan panggilan universal menuju kesucian dan kerasulan di dalam Gereja. Melalui keteladanan dan doa-doanya, berikanlah rahmat kesucian itu di dalam diri umat beriman sehingga mereka mampu membawa pekerjaan mereka sehari-hari dalam semangat Kristus, semoga kami pun juga mampu dibentuk menjadi serupa dengan Putera-Mu, dan bersama dengan Santa Perawan Maria yang terberkati, boleh melaksanakan karya penebusan dengan cinta yang membara. Kami mohon ini semua melalui Tuhan kami Yesus Kristus, Putera-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Jumat, 16 September 2011

Allah dalam Pekerjaan Kecil

Pada umumnya orang suka akan hal-hal yang besar dan hebat. Orang dianggap sukses kalau ia sudah melakukan hal-hal yang besar dan hebat. Para manajer pun acapkali menghindarkan diri dari pekerjaan-pekerjaan kecil. Mereka menganggap bahwa pekerjaan kecil itu pekerjaan bawahan, pekerjaan front line. Mereka sudah puas kalau sudah selesai menentukan tujuan, merumuskan strategi, dan membuat kebijakan. Tetapi pada kenyataannya, sebuah usaha tidaklah mungkin berjalan tanpa pekerjaan-pekerjaan kecil dan taktis. Meskipun tujuan, policy, strategi sudah dibuat tanpa eksekusi yang baik terhadap pekerjaan-pekerjaan kecil, perusahaan tidak akan mengalami kemajuan.

Seorang politikus yang ingin berhasil dalam pemilu dan dipilih menjadi pemimpin masyarakat, tidaklah cukup kalau dia sudah merasa berhasil ketika dia sudah merumuskan visi dan misi partai, dan sudah berhasil memasang poster-poster unjuk muka di jalan-jalan protokol kota. Untuk berhasil menjadi pemimpin masyarakat dia masih dituntut untuk mampu dan terbukti mampu menerjemahkan visi dan misi itu ke dalam tindakan-tindakan konkret untuk terjadinya perubahan kehidupan masyarakat yang lebih baik, lebih adil, lebih makmur dan sejahtera.

James Colllins, seorang pakar manajemen strategis pernah mengatakan: “Untuk membangun sebuah perusahaan yang hebat bisa diumpamakan sebagai sebuah proses seseorang yang sedang mendaki gunung dan ingin mencapai puncaknya. Ada unsur-unsur yang harus didiskusikan sejak dini, yaitu: tujuan yang jelas (visi yang disosialisasikan), kemampuan untuk membangun tim kerja yang kompak (gaya kepemimpinan), rencana strategis (strategi) dan solusi-solusi kreatif untuk menghadapi tantangan-tantangan sepanjang perjalanan perusahaan yang menuntut adanya inovasi-inovasi. Tidak hanya itu, masih ada unsur lain yang jauh lebih penting, yaitu: melaksanakan pekerjaan kecil-kecil secara detail (menjaga agar tali pengaman di badan tetap pada posisi yang benar); seperti layaknya juga memperhatikan kaki dan tangan yang kita pakai untuk mendaki. Kalau kita tidak memperhatikan tangan dan kaki kita, bisa jadi kita mati di tengah jalan dan tidak sampai di tujuan.

Membangun sebuah perusahaan yang hebat bisa dianalogikan dengan menulis sebuah novel yang hebat. Untuk menulis novel yang hebat, orang membutuhkan konsep (visi), alur cerita (strategi), dan gagasan-gagasan kreatif untuk menggerakkan alur cerita yang menarik. Orang juga dituntut untuk bekerja keras, memeras keringat untuk menyusun gagasan-gagasan itu ke dalam kalimat-kalimat, menatanya dalam kata demi kata, baris demi baris, halaman demi halaman. Dapat dimengerti bahwa seorang penulis terkenal bernama Hemingway, ketika menulis novelnya yang berjudul A Farewell to Arms, menulis ulang bagian halaman terakhir dari novelnya sampai 39 kali. Ketika ditanya mengapa harus begitu, ia menjawab: “Getting the words right”, biar tercapai penyusunan kata-kata yang sungguh tepat.

Menurut penelitian, banyak perusahaan sukses terutama karena istimewa dalam mengeksekusi pekerjaan-pekerjaan taktis yang kecil-kecil itu. Sebuah majalah yang melakukan survei terhadap 500 orang pemimpin perusahaan dari perusahaan-perusahaan yang mengalami pertumbuhan paling cepat, menunjukkan bahwa di antara 88% di antara pemimpin perusahaan menunjukkan bahwa keberhasilan perusahaan disebabkan karena perusahaan berhasil melakukan eksekusi dengan baik pekerjaan-pekerjaan kecil secara luar biasa. Hanya 12% yang mengatakan bahwa keberhasilan perusahaan terletak pada ide-ide besar. Dengan demikian benar apa yang dikatakan Mies van der Rohe. “Allah itu ada dalam pekerjaan-pekerjaan kecil,” kata Mies van der Rohe. Karena itu melaksanakan pekerjaan-pekerjaan kecil dan detail itu adalah sarana menemukan Allah dalam hidup sehari-hari kita.

Pekerjaan kecil tidak hanya berarti bagi para pemimpin perusahaan untuk membawa perusahaannya berhasil menjadi perusahaan yang hebat, tetapi juga berarti besar bagi mereka yang sedang mencari jalan kepada kesucian hidup. Untuk menjadi suci, Theresia Lisieux menunjukkan jalan kepada kita, yang disebutnya dengan “Jalan Kecil”. Untuk menjadi suci, tidak perlu hal-hal besar dan hebat itu. Bagi Theresia Lisieux, untuk menjadi suci tidak perlu hal-hal besar. Untuk suci perlu perbuatan-perbuatan kecil tetapi dilakukan dengan penuh cinta.

Theresia menerjemahkan “Jalan Kecil” dengan istilah komitmen terhadap tugas-tugas dan terhadap orang-orang yang kita temui di dalam hidup sehari-hari. Ia ambil tugas-tugas di biara sebagai cara-cara mewujudkan cintanya pada Allah dan pada orang lain. Ia bekerja sebagai koster untuk menyiapkan altar dan kapel. Ia melayani di refter (kamar makan) dan kamar cuci. Ia menulis drama untuk acara hiburan di dalam komunitas. Dengan cara begitu ia mencoba untuk memperlihatkan cintanya untuk semua suster dalam komunitas. Ia memberikan dirinya bahkan juga untuk anggota komunitas yang dianggapnya sulit. Ia bermain drama tidak hanya untuk orang yang disukai tetapi juga untuk orang yang dianggapnya sulit itu.

Theresia ingin memenuhi apa yang pernah ditulis oleh Yohanes dari Salib: “Di senja hidup, kita akan diadili oleh cinta kita ...” Theresia yakin bahwa cinta adalah segalanya. Ia mengenal pusat cinta itu ketika ia membaca surat Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 13: 1-13); dan karena itu ia ingin memeluk panggilan ke arah cinta itu. Ia menerjemahkan keinginan mencintai itu dengan mengembangkan relasinya dengan Tuhan Yesus Kristus. Ia mempersembahkan setiap hari hidupnya kepada Tuhan Yesus sebagai suatu cara untuk mewujudkan cintanya kepada Yesus.

Orang Katolik tertarik pada gaya hidup Theresia. Jalan kecilnya nampaknya membuat orang-orang biasa dapat menjangkau kesucian itu. Untuk dapat mencapai cita-cita kesucian itu kita perlu selalu mengingat pesan yang disampaikan oleh Santa Theresia kepada kita: “Hayatilah hari-hari anda dengan percaya pada cinta Allah untuk anda! Ingatlah bahwa setiap hari merupakan hadiah di mana hidup anda bisa dibuat berbeda dengan cara bagaimana anda menghayatinya. Pilihlah hidup. Cinta adalah komitmen yang setiap hari harus diulangi dan dan dikerjakan dalam setiap hari hidup kita.”

Kamis, 01 September 2011

Doa di Saat Sulit

Tuhan,
Hidupku dipenuhi dengan banyak tantangan. Ada banyak perubahan yang sedang bergerak di sekitarku. Nampak terasa bahwa perubahan-perubahan ini membanjiri diriku. Banyak hati terluka. Lukanya melebihi luka yang aku derita. Tetapi di kegelapan malam, aku tahu bahwa Engkau bersamaku, meski aku tidak dapat merasakannya bahwa diri-Mu berada di sana.

Aku pasrahkan hatiku kepada-Mu. Aku serahkan hidupku kepada-Mu. Aku serahkan semua kekecewaanku, kepedihanku, dan penderitaanku, karena hanya Engkaulah yang dapat memahaminya. Aku satukan penderitaanku dengan penderitaan-Mu; hatiku dengan hati-Mu.

Sudilah kiranya Engkau menganugerahkan kepadaku kekuatan untuk bergerak maju, untuk gigih berjuang, dan untuk mengumumkan kemenangan karena nama-Mu. Engkau adalah Terang dalam kegelapan, Engkaulah alasan mengapa aku hidup dan bergerak, dan mengapa aku menghayati keberadaanku sekarang.

Tidak ada hal lain di dalam hidup ini, yang sebanding dengan Engkau. Aku akan berpegang teguh pada-Mu. Aku akan mengkonsumsi Engkau, karena Engkau adalah roti kehidupan. Engkau memberikan kepadaku makanan untuk mengurus segala cobaan dan mengatasi segala cobaan itu. Engkau adalah Pembimbingku dan Penghiburku. Engkau adalah Kebangkitan dan Hidup. Engkau adalah Allahku, Engkau adalah segalanya. Hanya Engkaulah yang aku butuhkan dan aku inginkan, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

~ Jean M. Heimann

Rabu, 24 Agustus 2011

Doa sebagai Mendengarkan

Sejak dulu saya memahami bahwa doa itu adalah berbicara kepada Tuhan. Pada kenyataannya, definisi tentang doa semacam itu yang saya ingat: doa adalah berbicara kepada Tuhan. Dalam pengertian seperti itu, doa melibatkan aktivitas berbicara tentang keprihatinan kita, kebutuhan kita, dan dambaan kita kepada Tuhan. Doa kita mengerti sebagai bicara kepada Tuhan.

Tetapi saya kemudian belajar juga tentang sisi lain dari doa. Sisi lain itu adalah mendengarkan Tuhan. Doa itu mendengarkan, menciptakan ruang di dalam hidup kita dan meminta kepada Tuhan untuk mengisinya. Doa itu tidak lain membuka diri kepada Roh Kudus dan mencari panduan dan bimbingan Roh Kudus di dalam hidup kita. Bagian yang sungguh mengagumkan dari doa adalah mendengarkan Tuhan.

Doa sebagai aktivitas mendengarkan merupakan bagian dari pengajaran Kitabsuci mengenai doa. Penulis Kitabsuci tahu bahwa doa itu melibatkan usaha membuka ruang di dalam hidup kita dan meminta Tuhan untuk mengisinya. Doa itu mendengarkan dan mencari Roh Kudus. Doa itu membuka diri kita dengan suatu keyakinan bahwa Allah akan mengisi kita.

Kutipan dari Kitabsuci berikut ini memberikan pengertian kepada kita bahwa dimensi vital dari doa adalah mendengarkan, membuka diri kepada Tuhan dan istirahat di dalam Tuhan.

Mazmur 46: “Tenanglah, dan ketahuilah bahwa aku adalah Allah.”
Mazmur 37: 7: “Istirahatlah di depan Tuhan, dan tunggulah dengan sabar untuk berjumpa dengan-Nya”
Ayub 33: 33: “Dengarkan Aku, tenanglah, dan aku akan mengajar kamu tentang kebijaksanaan”
Mateus 11: 28: Yesus sendiri mengundang kita untuk datang kepada-Nya ketika kita berbeban berat, dan mendapatkan istirahat.

Ada suatu pemahaman yang mendalam mengenai doa di sini. Kerapkali Tuhan bicara kepada kita di dalam keheningan. Kerapkali di dalam keheningan seperti itu Tuhan berbagi dengan kita. Bagian doa adalah belajar mendengarkan Tuhan dan membuka diri kepada Tuhan.

Pemazmur memahami keheningan  itu sebagai aktivitas menunggu di hadapan Tuhan. Bagi mereka, doa itu menunggu Tuhan. Doa menjadi suatu waktu untuk menunggu, menantikan, mendengarkan, dan mencari, ketika kita memfokuskan hidup kita kepada Tuhan.

Itu berarti bahwa dimensi penting dari doa adalah menunggu di hadapan Tuhan dan mendengarkan Tuhan. Doa berarti membuka diri dan menunggu karena kita mencari Tuhan yang secara nyata lebih dekat dengan kita daripada yang kita pernah sadari.

Dalam kehidupan modern kita menjadi orang sibuk. Kita tidak menunggu. Kita sibuk mengerjakan sesuatu. Kita ingin segala sesuatunya instan dalam mengakses segala sesuatu, dari uang tunai yang diambil dari amplop langsung jadi hamburger. Kita tidak menyukai keheningan. Kita lebih suka bicara dan mencoba mengisi setiap waktu dengan menyelesaikan sesuatu. Saya tidak tahu bagaimana keadaan anda semua; tetapi yang saya ceritakan ini adalah pengalaman saya.

Biasanya kalender sudah penuh acara untuk setiap tahun. Ada empat pertemuan setiap hari. Ada 6 telepon yang harus saya hubungi. Satu kotbah atau renungan pendek harus saya tulis. Dua bab bahan kuliah harus saya siapkan; mengantar anak kursus bahasa Inggris. Saya kadang takut kalau Tuhan mau bicara dengan saya dan sementara itu saya tidak punya waktu dan ruang yang tersisa untuk-Nya. Setiap orang sibuk dengan diri sendiri: mengerjakan segala sesuatu, menulis email, menjawab sms, mengakses internet, dll. Nokia menjadi santo/santa pujaan baru. Tuhan mengajar kita untuk menunggu, mendengarkan dan mencari.

Tuhan memberi nasihat kepada kita bagaimana menghadapi jaman modern, bagaimana gaya hidup kita harus diperbaiki. Waktu untuk refleksi adalah penting untuk kesehatan kita. Tuhan adalah Tuhan; dan bagian dari hidup yang beriman adalah belajar mencari Tuhan.

Ilmu yang baik di jaman modern adalah belajar untuk mendengarkan Tuhan. Untuk mendengarkan Tuhan, kita perlu membuka diri, menyediakan ruangan di dalam hidup kita, untuk meminta Tuhan untuk masuk ke dalam diri kita. Karena Tuhan berbicara dengan kita; dan kerapkali Tuhan bicara dalam keheningan.

Bagaimana kita bisa membuka waktu dan ruangan di dalam hidup kita untuk Tuhan? Kita menemukan berbagai cara untuk menyediakan waktu dan ruang bagi Tuhan untuk berbicara. Antara lain adalah refleksi dan meditasi dengan sumber Kitab Suci. Bacalah Kitabsuci dan renungkan apa yang dikatakan di sana. Bawalah teks Kitabsuci itu dalam kehidupan sehari; dengarkan dan pahamilah.@@@

Jumat, 05 Agustus 2011

Doa untuk Penderita Kanker

Doa Penderita Kanker dengan Perantaraan St. Peregrinus

Ya Santo Perigrinus, Bunda Gereja yang kudus menyatakan bahwa engkau adalah pelindung bagi siapa saja yang menderita sakit kanker. Dengan penuh percaya aku datang menghadapmu untuk meminta bantuanmu di saat-saat aku menderita sakit ini. Aku memohon kepadamu, sudilah kiranya engkau berkenan menjadi perantara bagiku. 

Mohonkan kepada Allah agar Dia berkenan menyembuhkan penyakitku, jika itu memang kehendak-Nya. Mohonlah bersama dengan Santa Perawan Maria yang tersuci, Bunda Sapta Duka, yang sungguh engkau cintai. Dalam kesatuan dengan Bunda Maria, dulu engkau telah menghadapi penderitaanmu karena sakit kanker, maka sudilah kiranya Bunda Maria juga berkenan membantu aku dengan doa dan penghiburannya yang sungguh berdaya-guna bagiku dalam menghadapi sakit dan penderitaan ini.

Tetapi jika memang kehendak Allah sehingga aku harus menanggung sakit ini, berikanlah kepadaku keberanian dan kekuatan untuk menerima segala kesulitan dan penderitaan yang datang dari tangan Allah yang mencintai, dengan penuh kesabaran dan penyerahan diri, karena Allah mengetahui apa yang terbaik untuk keselamatan jiwaku. 

Ya, Santo Peregrinus, jadilah sahabatku dan pelindungku. Bantulah aku untuk dapat meniru teladanmu dalam menerima penderitaan, dan menyatukan diriku bersama dengan Yesus yang tersalib dan Bunda Maria Bunda Sapta Duka, seperti engkau dulu pernah melakukannya. Aku persembahkan sakit dan penderitaanku ini kepada Allah dengan segala cinta yang mendalam dari lubuk hatiku, demi kemuliaan-Nya dan demi keselamatan jiwa-jiwa, terutama jiwaku. Amin.


Doa untuk Penderita Kanker dengan Perantaraan St. Peregrinus

Ya, Santo Peregrinus, engkau terkenal sebagai “pembuat mukjizat”, karena memang telah membuat banyak mukjizat dan memiliki kemampuan khusus yang dianugerahkan oleh Allah kepada engkau. Selama bertahun-tahun engkau sendiri telah mengalami penderitaan karena sakit kanker yang merusak urat-urat dalam tubuhmu. Kami percaya bahwa engkau bisa menjadi sumber rahmat bagi kami ketika kekuatan manusia sudah tidak mampu lagi menanggung penderitaan karena sakit. Engkau telah mengalami sendiri bagaimana Tuhan Yesus berkenan turun dari salib, mendatangi engkau dan menyembuhkan engkau dari segala sakit yang engkau derita. 

Sudilah kiranya sekarang engkau menjadi perantara bagi kami, untuk berkenan memintakan kepada Allah dan kepada Bunda Maria, rahmat kesembuhan bagi saudara kami, yang sedang menderita sakit kanker. Kami percayakan saudara kami ini (hening sejenak, dan sebut nama si sakit) kepadamu. Bantulah kami dengan perantaraanmu yang penuh kuat-kuasa, agar Allah berkenan memberikan rahmat kesembuhan itu bagi saudara kami yang sakit, jika Allah berkenan menghendaki demikian. Dan kami berjanji akan memuji Allah, sekarang dan sepanjang masa, dengan nyanyian penuh syukur atas segala kebaikan dan belaskasih Allah yang turun atas kami karena perantaraanmu. Amin.