Pater Pedro Arrupe SJ, adalah Pater Jendral Serikat Yesus yang memimpin Serikat Yesus dari tahun 1965 sampai dengan 1983. Dia adalah pemimpin umum Serikat Yesus yang ke-28. Lahir di Bilbao, Spanyol pada tahun 1907. Dia belajar kedokteran sebelum masuk ordo Serikat Yesus. Sebelum menjadi pemimpin umum SJ, beliau adalah provincial SJ yang pertama di Jepang. Karya pelayanan yang paling mengesankan dalam hidupnya adalah memelihara orang-orang kurban bom atom di Hirosima. Beliau wafat di Roma, tanggal 5 Februari 1991, sebagai akibat dari stroke yang terjadi pada tanggal 7 Agustus 1981, persis ketika pesawat yang dia tumpangi mendarat dari perjalanannya ke Timur Jauh.
Pater Pedro Arrupe banyak menulis mengenai Spiritualitas Ignatian. Tulisan yang sangat menarik perhatian banyak orang dan tak pernah dapat dilupakan adalah refleksinya mengenai Hati Kudus Yesus. Berikut ini adalah salah satu kisah pengalaman rohani beliau yang berkait dengan Sakramen Mahakudus, yang beliau alami sebelum masuk ordo Serikat Yesus.
“Beberapa minggu setelah ayah saya meninggal, saya pergi ke Lourdes bersama dengan keluarga saya, karena kami ingin menghabiskan waktu musim panas di lingkungan rohani, tenang dan damai. Waktu itu adalah pertengahan bulan Agustus. Saya berada di Lourdes selama satu bulan penuh. Karena saya adalah mahasiswa kedokteran, maka saya dapat memperoleh izin khusus untuk mempelajari lebih dekat orang-orang yang sakit yang datang ke Lourdes mencari kesembuhan.
“”Pada suatu hari saya berada di lapangan terbuka bersama dengan saudari-saudari perempuan saya, persis sedikit di depan perarakan Sakramen Mahakudus. Sebuah kereta dorong yang didorong oleh seorang wanita tengah umur lewat di depan kami. Salah satu dari saudari saya berseru: “Lihat pada anak lelaki miskin di kereta dorong itu!”
“Anak lelaki itu berumur kira-kira 20 tahun, semua anggota badannya lunglai tak berbentuk normal karena polio. Ibunya berdoa Rosario dengan suara keras dan dari waktu ke waktu meneriakkan kata-kata dengan mengeluh: “Maria sanctissima [Maria yang tersuci], bantulah kami.”
“Sungguh terjadi, ada suatu pandangan yang bergerak, dan saya mengingat permintaan orang sakit yang menghadap Yesus: “Tuhan, jika Engkau menginginkan, Engkau dapat membuat aku bersih.” Ibu itu mempercepat jalannya untuk mengambil tempat di barisan di mana Uskup lewat membawa Sakramen Mahakudus dalam monstrans. Saatnya tiba ketika Uskup memberkati anak lelaki yang masih muda itu dengan hosti.
“Anak lelaki itu melihat ke monstrans dengan penuh iman, persis sama dengan iman yang dimiliki oleh orang lumpuh yang ditunjukkan dalam Injil, yang memandang Yesus. Setelah Uskup memberikan tanda salib dengan Sakramen Mahakudus, anak lelaki itu melompat dari kereta dorong, dan anak itu sembuh total. Karena itu, banyak kerumunan orang berteriak: “Mukjizat! Mukjizat!”
“Saya berterima kasih atas izin khusus yang saya miliki, sehingga saya kemudian bisa membantu pada saat dilakukan pengujian medis. Tuhan sungguh telah menyembuhkan dia… Tiga bulan kemudian (1927), saya masuk novisiat Serikat Yesus di Loyola.”
@@@
Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja
Sabtu, 25 Juni 2011
Jumat, 24 Juni 2011
Jalan Kecil Theresia Lisieux
Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus terkenal dengan pemikiran tentang “Jalan Kecil”. Untuk menjadi suci, orang tidak memerlukan tindakan yang besar apalagi hebat. Untuk menjadi suci, orang hanya perlu mencintai Allah. Dia menulis demikian: “Cinta membuktikan diri dalam perbuatan. Oleh karena itu bagaimana aku harus menunjukkan cinta itu? Pekerjaan hebat itu tidak perlu bagiku. Cara yang bisa aku buktikan adalah menyebar bunga-bunga dan bunga-bunga itu adalah kurban-kurban yang sangat kecil, yaitu setiap kata dan perbuatanku. Maka, aku mengerjakan semua tindakan itu demi cinta itu”.
Theresia menemukan bahwa cinta itu memberikan alasan kepada setiap orang untuk hidup dan memiliki harapan. Sebagai seorang anak kecil ia menyatakan bahwa ia dikelilingi oleh cinta dan ia mempunyai kodrat untuk mencintai itu. Tetapi pengalaman dicintai itu berhenti ketika ia kehilangan ibunya sesaat ia masih berumur empat tahun, dan kemudian ketika akhirnya Pauline kakaknya yang menjadi “ibunya yang kedua” juga lalu masuk biara di Lisieux. Apakah ada cinta yang permanent, cinta yang berlangsung tetap dan terus menerus? Apa artinya cinta ketika masih ada penderitaan? Setiap orang bertanya tentang cinta: apa sesungguhnya cinta itu?
Theresia yakin bahwa Yesus bersama dia dan mencintai dia sejak masa kecilnya. Ia belajar tentang Yesus dari cerita-cerita yang dia baca dan dari keluarganya sendiri, melalui Kitab Suci setelah ia menjadi dewasa. Ia juga membaca buku “Imitatio Christi” (Mengikuti Jejak Kristus [Indonesia] atau Napak Tilas Pada Dalem Sang Kristus [Jawa]), karangan Thomas a Kempis. Lalu pada umur 17 tahun ia membaca Yohanes dari Salib, dan melihat bagaimana cinta Allah menyemangati hidupnya. Theresia ingin memenuhi apa yang pernah ditulis oleh Yohanes dari Salib: “Di senja hidup, kita akan diadili oleh cinta kita ...” Theresia yakin bahwa cinta adalah segalanya. Ia mengenal pusat cinta itu ketika ia membaca surat Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 13: 1-13); ia ingin memeluk panggilan ke arah cinta itu.
Ia menerjemahkan keinginan mencintai itu dengan mengembangkan relasinya dengan Tuhan Yesus Kristus. Ia mempersembahkan setiap hari hidupnya kepada Tuhan Yesus sebagai suatu cara untuk mewujudkan cintanya kepada Yesus. Ketika ia menemukan bahwa hidup di biara itu tidak mudah, karena beberapa orang suster yang kasar dan sulit dalam hidup berkomunitas. Meskipun situasi biara tidak menyenangkan dia tetap tinggal di sana dan tidak pergi. Dia memutuskan untuk tetap hidup di sana dan hidup dengan situasi seperti itu. Dia menemukan “Jalan Kecil”, yaitu: menerima bahwa setiap orang itu datang dari sang Pencinta Ilahi dan setiap orang dicintai oleh Allah selama-lamanya. Oleh karena itu ia mencintai mereka sebaik-baiknya sejauh dia bisa melakukannya. Pada kenyataannya, ia belajar di dalam proses bahwa ada kesatuan yang mendalam antara cinta pada Allah dan cinta pada sesama. Ia menulis bahwa “semakin hidup ini berfokus pada Kristus maka saya akan semakin mampu untuk mencintai para suster.” Kata-kata Theresia itu bisa dirumuskan secara lain begini: “semakin kita mencintai Tuhan, semakin pula kita mampu mencintai anggota keluarga kita: anak, isteri/suami pasangan kita, saudara-saudara kita, teman-teman sekerja kita, tetangga di sekitar lingkungan hidup kita.”
Pada akhir hidupnya Theresia menemukan bahwa cinta itu diuji dalam cara-cara yang luar biasa. Ia mencari tahu selama 18 bulan merasakan kekosongan tetapi pencobaan melawan segala sesuatu yang ia yakini. Mungkin surga itu tidak ada; dan hidupnya memiliki komitmen yang bodoh. Ia mengalami konsolasi atau penghiburan rohani dan juga harus menderita sakit TBC yang tidak bisa disembuhkan sampai akhir abad 19. Tetapi Theresia menolak untuk meninggalkan hidup iman, harapan dan cinta kasih. Ia menerima kesulitan dan ujian untuk dapat memberikan dirinya untuk cinta. Pada akhirnya ia meninggal dunia dalam damai dan di dalam cinta. Cerita hidupnya untuk selanjutnya menarik hati siapa saja yang tak kunjung henti mencari jalan hidup atau cara berada yang bernilai di dunia ini.
Apa artinya “Jalan Kecil” itu bagi Theresia? Jalan kecil adalah gambaran Theresia mengenai apa artinya menjadi orang kristiani, apa artinya menjadi murid Kristus Yesus, yaitu: mencari kesucian (hidup) di dalam hal-hal biasa dan di dalam (hidup) sehari-hari yang serba biasa ini. Jalan kecil itu diyakini dia berdasarkan pada dua pertimbangan, yaitu: (1) Allah menunjukkan cinta dengan belas kasih dan pengampunan; (2) Ia tidak bisa menjadi sempurna di dalam mengikuti Yesus Tuhan kita. Theresia percaya bahwa orang-orang di zamannya hidup dalam ketakutan terhadap pengadilan Allah. Ketakutan itu tidak membuat orang mengalami kebebasan anak-anak Allah.
Dari hidupnya Theresia tahu bahwa Tuhan itu adalah cinta (yang berbelas kasih). Banyak halaman-halaman Kitab Suci di PB maupun di PL, mengungkapkan kebenaran itu. Ia mencintai Allah yang digambarkan dalam PL dan cinta Allah pada kita di dalam diri Yesus Kristus. Theresia menulis bahwa ia tidak bisa memahami bagaimana orang bisa takut kepada Allah yang menjadi seorang anak kecil. Ia juga tahu bahwa ia tidak akan pernah sempurna. Karena itu, ia pergi kepada Allah sebagai anak kecil yang mendekati orang tua : dengan tangan terbuka dan percaya mendalam.
Theresia menerjemahkan “Jalan Kecil” dengan istilah komitmen terhadap tugas-tugas dan terhadap orang-orang yang kita temui di dalam hidup sehari-hari. Ia ambil tugas-tugas di biara sebagai cara-cara mewujudkan cintanya pada Allah dan pada orang lain. Ia bekerja sebagai koster untuk menyiapkan altar dan kapel. Ia melayani di refter (kamar makan) dan kamar cuci. Ia menulis drama untuk acara hiburan di dalam komunitas. Dengan cara begitu ia mencoba untuk memperlihatkan cintanya untuk semua suster dalam komunitas. Ia memberikan dirinya bahkan juga untuk anggota komunitas yang dianggapnya sulit. Ia bermain drama tidak hanya untuk orang yang disukai tetapi juga untuk orang yang dianggapnya sulit itu.
Hidupnya tampak rutin dan biasa tetapi itu merupakan bentuk penghayatan komitmen mencintai itu. Itulah yang disebut jalan kecil itu, yang secara persisnya dilakukan dengan cara menjadi sederhana, langsung, tetapi menuntut keberanian dan komitmen. Orang Katolik tertarik terhadap gaya hidup Theresia. Jalan kecilnya nampaknya membuat orang-orang biasa dapat menjangkau kesucian itu. Maka kita akan selalu ingat pesan yang disampaikan oleh Santa Theresia kepada kita semua: “Hayatilah hari-hari anda dengan percaya pada cinta Allah untuk anda! Ingatlah bahwa setiap hari merupakan hadiah di mana hidup anda bisa dibuat berbeda dengan cara bagaimana anda menghayatinya. Pilihlah hidup. Cinta adalah komitmen yang setiap hari harus diulangi dan dikerjakan dalam setiap hari hidup kita.” @@@
Theresia menemukan bahwa cinta itu memberikan alasan kepada setiap orang untuk hidup dan memiliki harapan. Sebagai seorang anak kecil ia menyatakan bahwa ia dikelilingi oleh cinta dan ia mempunyai kodrat untuk mencintai itu. Tetapi pengalaman dicintai itu berhenti ketika ia kehilangan ibunya sesaat ia masih berumur empat tahun, dan kemudian ketika akhirnya Pauline kakaknya yang menjadi “ibunya yang kedua” juga lalu masuk biara di Lisieux. Apakah ada cinta yang permanent, cinta yang berlangsung tetap dan terus menerus? Apa artinya cinta ketika masih ada penderitaan? Setiap orang bertanya tentang cinta: apa sesungguhnya cinta itu?
Theresia yakin bahwa Yesus bersama dia dan mencintai dia sejak masa kecilnya. Ia belajar tentang Yesus dari cerita-cerita yang dia baca dan dari keluarganya sendiri, melalui Kitab Suci setelah ia menjadi dewasa. Ia juga membaca buku “Imitatio Christi” (Mengikuti Jejak Kristus [Indonesia] atau Napak Tilas Pada Dalem Sang Kristus [Jawa]), karangan Thomas a Kempis. Lalu pada umur 17 tahun ia membaca Yohanes dari Salib, dan melihat bagaimana cinta Allah menyemangati hidupnya. Theresia ingin memenuhi apa yang pernah ditulis oleh Yohanes dari Salib: “Di senja hidup, kita akan diadili oleh cinta kita ...” Theresia yakin bahwa cinta adalah segalanya. Ia mengenal pusat cinta itu ketika ia membaca surat Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 13: 1-13); ia ingin memeluk panggilan ke arah cinta itu.
Ia menerjemahkan keinginan mencintai itu dengan mengembangkan relasinya dengan Tuhan Yesus Kristus. Ia mempersembahkan setiap hari hidupnya kepada Tuhan Yesus sebagai suatu cara untuk mewujudkan cintanya kepada Yesus. Ketika ia menemukan bahwa hidup di biara itu tidak mudah, karena beberapa orang suster yang kasar dan sulit dalam hidup berkomunitas. Meskipun situasi biara tidak menyenangkan dia tetap tinggal di sana dan tidak pergi. Dia memutuskan untuk tetap hidup di sana dan hidup dengan situasi seperti itu. Dia menemukan “Jalan Kecil”, yaitu: menerima bahwa setiap orang itu datang dari sang Pencinta Ilahi dan setiap orang dicintai oleh Allah selama-lamanya. Oleh karena itu ia mencintai mereka sebaik-baiknya sejauh dia bisa melakukannya. Pada kenyataannya, ia belajar di dalam proses bahwa ada kesatuan yang mendalam antara cinta pada Allah dan cinta pada sesama. Ia menulis bahwa “semakin hidup ini berfokus pada Kristus maka saya akan semakin mampu untuk mencintai para suster.” Kata-kata Theresia itu bisa dirumuskan secara lain begini: “semakin kita mencintai Tuhan, semakin pula kita mampu mencintai anggota keluarga kita: anak, isteri/suami pasangan kita, saudara-saudara kita, teman-teman sekerja kita, tetangga di sekitar lingkungan hidup kita.”
Pada akhir hidupnya Theresia menemukan bahwa cinta itu diuji dalam cara-cara yang luar biasa. Ia mencari tahu selama 18 bulan merasakan kekosongan tetapi pencobaan melawan segala sesuatu yang ia yakini. Mungkin surga itu tidak ada; dan hidupnya memiliki komitmen yang bodoh. Ia mengalami konsolasi atau penghiburan rohani dan juga harus menderita sakit TBC yang tidak bisa disembuhkan sampai akhir abad 19. Tetapi Theresia menolak untuk meninggalkan hidup iman, harapan dan cinta kasih. Ia menerima kesulitan dan ujian untuk dapat memberikan dirinya untuk cinta. Pada akhirnya ia meninggal dunia dalam damai dan di dalam cinta. Cerita hidupnya untuk selanjutnya menarik hati siapa saja yang tak kunjung henti mencari jalan hidup atau cara berada yang bernilai di dunia ini.
Apa artinya “Jalan Kecil” itu bagi Theresia? Jalan kecil adalah gambaran Theresia mengenai apa artinya menjadi orang kristiani, apa artinya menjadi murid Kristus Yesus, yaitu: mencari kesucian (hidup) di dalam hal-hal biasa dan di dalam (hidup) sehari-hari yang serba biasa ini. Jalan kecil itu diyakini dia berdasarkan pada dua pertimbangan, yaitu: (1) Allah menunjukkan cinta dengan belas kasih dan pengampunan; (2) Ia tidak bisa menjadi sempurna di dalam mengikuti Yesus Tuhan kita. Theresia percaya bahwa orang-orang di zamannya hidup dalam ketakutan terhadap pengadilan Allah. Ketakutan itu tidak membuat orang mengalami kebebasan anak-anak Allah.
Dari hidupnya Theresia tahu bahwa Tuhan itu adalah cinta (yang berbelas kasih). Banyak halaman-halaman Kitab Suci di PB maupun di PL, mengungkapkan kebenaran itu. Ia mencintai Allah yang digambarkan dalam PL dan cinta Allah pada kita di dalam diri Yesus Kristus. Theresia menulis bahwa ia tidak bisa memahami bagaimana orang bisa takut kepada Allah yang menjadi seorang anak kecil. Ia juga tahu bahwa ia tidak akan pernah sempurna. Karena itu, ia pergi kepada Allah sebagai anak kecil yang mendekati orang tua : dengan tangan terbuka dan percaya mendalam.
Theresia menerjemahkan “Jalan Kecil” dengan istilah komitmen terhadap tugas-tugas dan terhadap orang-orang yang kita temui di dalam hidup sehari-hari. Ia ambil tugas-tugas di biara sebagai cara-cara mewujudkan cintanya pada Allah dan pada orang lain. Ia bekerja sebagai koster untuk menyiapkan altar dan kapel. Ia melayani di refter (kamar makan) dan kamar cuci. Ia menulis drama untuk acara hiburan di dalam komunitas. Dengan cara begitu ia mencoba untuk memperlihatkan cintanya untuk semua suster dalam komunitas. Ia memberikan dirinya bahkan juga untuk anggota komunitas yang dianggapnya sulit. Ia bermain drama tidak hanya untuk orang yang disukai tetapi juga untuk orang yang dianggapnya sulit itu.
Hidupnya tampak rutin dan biasa tetapi itu merupakan bentuk penghayatan komitmen mencintai itu. Itulah yang disebut jalan kecil itu, yang secara persisnya dilakukan dengan cara menjadi sederhana, langsung, tetapi menuntut keberanian dan komitmen. Orang Katolik tertarik terhadap gaya hidup Theresia. Jalan kecilnya nampaknya membuat orang-orang biasa dapat menjangkau kesucian itu. Maka kita akan selalu ingat pesan yang disampaikan oleh Santa Theresia kepada kita semua: “Hayatilah hari-hari anda dengan percaya pada cinta Allah untuk anda! Ingatlah bahwa setiap hari merupakan hadiah di mana hidup anda bisa dibuat berbeda dengan cara bagaimana anda menghayatinya. Pilihlah hidup. Cinta adalah komitmen yang setiap hari harus diulangi dan dikerjakan dalam setiap hari hidup kita.” @@@
Santa Theresia dari Lisieux
Kisah tentang Santa Theresia Lisieux adalah unik dalam sejarah Gereja. Ini adalah sebuah kisah tentang seorang suster Karmelit yang masih muda, tidak pernah meninggalkan biara, meninggal pada umur 24 tahun, dan menjadi santa yang terbesar di zaman modern (Paus Pius X), mendapat gelar pujangga Gereja, yang tulisannya telah memberikan inspirasi bagi berjuta-juta orang di seluruh dunia.
Tidak hanya dinyatakan sebagai pelindung bagi karya misi dan pelindung bagi tanah Perancis, tetapi ia juga dipilih sebagai pelindung bagi karya kerasulan doa yang anggota-anggotanya jutaan orang di seluruh dunia. Dia sendiri adalah seorang anggota kerasulan doa yang setia selama bertahun-tahun lamanya.
Beratus-ratus judul buku dan artikel ditulis mengenai santa ini dan “Jalan Kecil”nya yaitu sebuah spiritualitas yang menekankan cinta Allah, dan bukan takut akan Dia. Hidupnya dikenal oleh banyak orang sebagai anak perempuan dari pasangan suami isteri Bapak Louis Martin dan ibu Zelie Marie Guerin. Ibunya meninggal ketika Theresia masih berumur 4 tahun pada tahun 1877 di Alencon, Perancis. Keluarga Martin kemudian pindah ke Buissonets di Lisieux, sebuah rumah yang sampai sekarang banyak dikunjungi oleh para peziarah.
Ketika kakaknya Pauline masuk biara Karmelit tahun 1882, Theresia juga berkeinginan untuk masuk biara juga. Lima tahun kemudian ketika dia sudah berumur 14 tahun, dia membujuk Paus Leo XII ketika dalam perjalanan bersama dengan ayahnya berziarah. Tetapi ia masih terlalu muda untuk masuk biara. Namun, pada umur 15 tahun dia akhirnya boleh masuk ke biara Karmel dengan izin Paus. Saudara perempuannya yang lain, yaitu Marie juga telah masuk ke biara Karmel, dan berikutnya kemudian Celine juga bergabung dengannya masuk biara Karmel. Saudara perempuannya yang kelima, Leonie masuk ke Ordo Visitasi; jadi lima bersaudara dari sebuah keluarga semua masuk menjadi suster.
Theresia menjadi suster hanya selama sembilan tahun. Setelah menderita sakit TBC ia meninggal dunia pada tanggal 30 September 1897. Tiga tahun lebih awal Pauline sudah menjadi Pemimpin tarekat Karmelit (dengan nama Bunda Agnes dari Yesus) meminta kepada Theresa (dari Kanak-kanak Yesus dan Wajah Kudus) untuk menulis ingatan akan pengalaman rohaninya, yang berjudul “Story of a Soul”.
Setelah setahun kematiannya 2000 exemplar bukunya telah tersebar di kalangan para suster Karmelit dan teman-temannya. Permintaan cetak ulang semakin bertambah dan permintaan itu berasal dari seluruh dunia. Tulisan dia menjadi besar karena permintaan yang luar biasa banyak jumlahnya, dan bahkan sampai diterjemahkan ke dalam 60 bahasa di seluruh dunia.
Pada tahun 1923 ia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI yang juga mengkanonisasi dia sebagai seorang Santa di lapangan Santo Petrus pada tahun 1925 ketika setengah juta orang peziarah berkumpul di Roma. Karena usahanya untuk karya misi, dia diberi gelar pelindung karya misi bersama dengan Santo Fransiskus Xaverius pada tahun 1927. Paus Pius XII pada tahun 1944 menyebut dia dengan gelar “penyembuh ulung" pada abad modern dan menjadikan dia pelindung untuk tanah Perancis. Pada tahun 1977, setelah 100 tahun kematiannya, Paus Yohanes Paulus II menyatakan dia sebagai pujangga Gereja setelah Santa Teresia Avila dan Catharina Siena.
“Aku harus menjadi Santa”, kata Theresia ketika dia masuk biara. Dan kemudian dia memang mendapat izin untuk masuk biara; motivasinya adalah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dan untuk mendoakan para imam”.
Hidup baginya tidaklah mudah. Ruang-ruang biara itu dingin dan dia sangat menderita ketika mendengar ayahnya jatuh sakit pada tahun 1888 karena terkena gangguan cerebral arteriosclerosis. Ketika ayahnya meninggal tahun 1894 Celine yang merawat ayahnya, masuk biara Karmel dan untung membawa kameranya, dan berhasil mengabadikan gambar-gambar Theresia di biara.
“Apa itu Jalan Kecil?”, suatu ketika Theresia ditanya. Lalu ia menjawab: “Jalan kecil itu adalah jalan kehidupan rohani seorang anak kecil, yakni jalan kepercayaan dan jalan kepasrahan diri secara mutlak kepada Tuhan.” Dasar dari jalan yang baru ini ditemukan di dalam teks Matius 18: 3, ketika Kristus mengatakan: “Jika kamu tidak menjadi seperti anak kecil ini, maka kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga”.
Dia membaca riwayat para Santo/Santa dan dia menemukan jalan baru untuk kesempurnaan. “Aku terlalu kecil untuk mampu mendaki tangga kesempurnaan itu,” ia menulis “karena itu aku melihat ke dalam Kitab Suci untuk menemukan indikasi tentang apa yang mungkin bisa mengantar aku untuk mencapai keinginan aku.” Kemudian dia menemukan tangga kehidupan rohani “tangga yang bisa mengantar aku ke surga adalah tangan-tangan-Mu ya Tuhan Yesus.”
“Kamu tanya kepadaku tentang jalan menuju kesempurnaan. Aku tahu: cinta dan hanya cinta. Hatiku dibuat demi cinta itu. Cinta mengenal bagaimana menarik keuntungan dari segala sesuatu.” Dia menulis: “Panggilanku akhirnya aku temukan. Panggilan itu adalah mencintai. Di dalam hati Gereja, di dalam Ibuku, aku akan menjadi cinta.”
“Hidup karena cinta, inilah surgaku … dan inilah tujuan hidupku.”
Hidup rohani kanak-kanak Yesus itu adalah “kehidupan rohani seorang anak kecil yang tidur tanpa ketakutan di dalam pelukan tangan ayahnya, semangat penyerahan diri itulah yang menjadi pedomanku satu-satunya. Aku tidak punya pedoman arah yang lain”. Theresia.menambahkan: “Jangan berpikir bahwa kita dapat menemukan cinta tanpa penderitaan … tetapi penderitaan itu ada di dalam perjalanan kita menjangkau cita-cita kesempurnaan itu.” Dia membuktikan cinta itu dengan “menaburkan bunga” untuk Yesus, dengan mempersembahkan kurban-kurban kecil.
Ketika ia meninggal, kata-katanya terakhir yang diucapkan: “Allahku, aku mencintai-Mu.” Dia menulis: “Aku tidak sedang meninggal. Aku sedang memasuki kehidupan.” Katanya juga: “Aku akan menikmati waktuku di surga dengan mengerjakan kebaikan di dunia.” @@@
Tidak hanya dinyatakan sebagai pelindung bagi karya misi dan pelindung bagi tanah Perancis, tetapi ia juga dipilih sebagai pelindung bagi karya kerasulan doa yang anggota-anggotanya jutaan orang di seluruh dunia. Dia sendiri adalah seorang anggota kerasulan doa yang setia selama bertahun-tahun lamanya.
Beratus-ratus judul buku dan artikel ditulis mengenai santa ini dan “Jalan Kecil”nya yaitu sebuah spiritualitas yang menekankan cinta Allah, dan bukan takut akan Dia. Hidupnya dikenal oleh banyak orang sebagai anak perempuan dari pasangan suami isteri Bapak Louis Martin dan ibu Zelie Marie Guerin. Ibunya meninggal ketika Theresia masih berumur 4 tahun pada tahun 1877 di Alencon, Perancis. Keluarga Martin kemudian pindah ke Buissonets di Lisieux, sebuah rumah yang sampai sekarang banyak dikunjungi oleh para peziarah.
Ketika kakaknya Pauline masuk biara Karmelit tahun 1882, Theresia juga berkeinginan untuk masuk biara juga. Lima tahun kemudian ketika dia sudah berumur 14 tahun, dia membujuk Paus Leo XII ketika dalam perjalanan bersama dengan ayahnya berziarah. Tetapi ia masih terlalu muda untuk masuk biara. Namun, pada umur 15 tahun dia akhirnya boleh masuk ke biara Karmel dengan izin Paus. Saudara perempuannya yang lain, yaitu Marie juga telah masuk ke biara Karmel, dan berikutnya kemudian Celine juga bergabung dengannya masuk biara Karmel. Saudara perempuannya yang kelima, Leonie masuk ke Ordo Visitasi; jadi lima bersaudara dari sebuah keluarga semua masuk menjadi suster.
Theresia menjadi suster hanya selama sembilan tahun. Setelah menderita sakit TBC ia meninggal dunia pada tanggal 30 September 1897. Tiga tahun lebih awal Pauline sudah menjadi Pemimpin tarekat Karmelit (dengan nama Bunda Agnes dari Yesus) meminta kepada Theresa (dari Kanak-kanak Yesus dan Wajah Kudus) untuk menulis ingatan akan pengalaman rohaninya, yang berjudul “Story of a Soul”.
Setelah setahun kematiannya 2000 exemplar bukunya telah tersebar di kalangan para suster Karmelit dan teman-temannya. Permintaan cetak ulang semakin bertambah dan permintaan itu berasal dari seluruh dunia. Tulisan dia menjadi besar karena permintaan yang luar biasa banyak jumlahnya, dan bahkan sampai diterjemahkan ke dalam 60 bahasa di seluruh dunia.
Pada tahun 1923 ia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI yang juga mengkanonisasi dia sebagai seorang Santa di lapangan Santo Petrus pada tahun 1925 ketika setengah juta orang peziarah berkumpul di Roma. Karena usahanya untuk karya misi, dia diberi gelar pelindung karya misi bersama dengan Santo Fransiskus Xaverius pada tahun 1927. Paus Pius XII pada tahun 1944 menyebut dia dengan gelar “penyembuh ulung" pada abad modern dan menjadikan dia pelindung untuk tanah Perancis. Pada tahun 1977, setelah 100 tahun kematiannya, Paus Yohanes Paulus II menyatakan dia sebagai pujangga Gereja setelah Santa Teresia Avila dan Catharina Siena.
“Aku harus menjadi Santa”, kata Theresia ketika dia masuk biara. Dan kemudian dia memang mendapat izin untuk masuk biara; motivasinya adalah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dan untuk mendoakan para imam”.
Hidup baginya tidaklah mudah. Ruang-ruang biara itu dingin dan dia sangat menderita ketika mendengar ayahnya jatuh sakit pada tahun 1888 karena terkena gangguan cerebral arteriosclerosis. Ketika ayahnya meninggal tahun 1894 Celine yang merawat ayahnya, masuk biara Karmel dan untung membawa kameranya, dan berhasil mengabadikan gambar-gambar Theresia di biara.
“Apa itu Jalan Kecil?”, suatu ketika Theresia ditanya. Lalu ia menjawab: “Jalan kecil itu adalah jalan kehidupan rohani seorang anak kecil, yakni jalan kepercayaan dan jalan kepasrahan diri secara mutlak kepada Tuhan.” Dasar dari jalan yang baru ini ditemukan di dalam teks Matius 18: 3, ketika Kristus mengatakan: “Jika kamu tidak menjadi seperti anak kecil ini, maka kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga”.
Dia membaca riwayat para Santo/Santa dan dia menemukan jalan baru untuk kesempurnaan. “Aku terlalu kecil untuk mampu mendaki tangga kesempurnaan itu,” ia menulis “karena itu aku melihat ke dalam Kitab Suci untuk menemukan indikasi tentang apa yang mungkin bisa mengantar aku untuk mencapai keinginan aku.” Kemudian dia menemukan tangga kehidupan rohani “tangga yang bisa mengantar aku ke surga adalah tangan-tangan-Mu ya Tuhan Yesus.”
“Kamu tanya kepadaku tentang jalan menuju kesempurnaan. Aku tahu: cinta dan hanya cinta. Hatiku dibuat demi cinta itu. Cinta mengenal bagaimana menarik keuntungan dari segala sesuatu.” Dia menulis: “Panggilanku akhirnya aku temukan. Panggilan itu adalah mencintai. Di dalam hati Gereja, di dalam Ibuku, aku akan menjadi cinta.”
“Hidup karena cinta, inilah surgaku … dan inilah tujuan hidupku.”
Hidup rohani kanak-kanak Yesus itu adalah “kehidupan rohani seorang anak kecil yang tidur tanpa ketakutan di dalam pelukan tangan ayahnya, semangat penyerahan diri itulah yang menjadi pedomanku satu-satunya. Aku tidak punya pedoman arah yang lain”. Theresia.menambahkan: “Jangan berpikir bahwa kita dapat menemukan cinta tanpa penderitaan … tetapi penderitaan itu ada di dalam perjalanan kita menjangkau cita-cita kesempurnaan itu.” Dia membuktikan cinta itu dengan “menaburkan bunga” untuk Yesus, dengan mempersembahkan kurban-kurban kecil.
Ketika ia meninggal, kata-katanya terakhir yang diucapkan: “Allahku, aku mencintai-Mu.” Dia menulis: “Aku tidak sedang meninggal. Aku sedang memasuki kehidupan.” Katanya juga: “Aku akan menikmati waktuku di surga dengan mengerjakan kebaikan di dunia.” @@@
Kamis, 23 Juni 2011
Waktu Menyelesaikan Masalah
"Berapa lama waktu yang akan aku butuhkan untuk menyelesaikan masalahku ini?"
"Tidak lebih dari satu menit dari waktu yang kamu butuhkan untuk memahami masalah itu!"
"Tidak lebih dari satu menit dari waktu yang kamu butuhkan untuk memahami masalah itu!"
Anthony de Mello, 1993, Awakening:
Conversations with Master,
365 Daily Meditations,
Chicago: Loyola Press, No. 230.
Maria Bunda Penolong Abadi
Dalam sebuah pelayaran mengarungi samudra, sebuah kapal diterpa badai. Semua penumpang panik termasuk kapten kapal dan anak buahnya. Berbagai usaha telah dicoba agar kapal tidak tenggelam. Namun tampaknya sia-sia. Semua penumpang pasrah. Seorang penumpang kemudian teringat bawaannya. Ia buka bungkusannya. Nampak sebuah gambar Bunda Maria. Ia amati sebentar dan dia teringat gambar itu barangkali bisa membantu. "Mari kita berdoa mohon perlindungan Maria Bintang Laut". Suaranya hampir-hampir tidak kedengaran ditelan bunyi gelombang. Ia ulangi sekali lagi sambil memperlihatkan lukisan Bunda Maria yang dia pegang di tangannya. Semua mata tertuju ke gambar itu. Mereka kemudian berlutut walaupun dalam keadaan oleng sambil berdoa.
Tiba-tiba langit yang tadinya gelap berawan, menjadi cerah. Angin yang selama beberapa jam membuat perahu oleng, mulai reda. Begitu juga gelombang laut pelan-pelan menjadi teduh. Kapal seolah berlayar di atas minyak yang tenang. Akhirnya kapal merapat di pelabuhan Roma. Semua penumpang selamat.
Pemilik gambar itu langsung menuju rumah kawannya. Sayang, usianya tidak lama. Namun, sebelum meninggal ia berpesan kepada kawannya agar lukisan itu diberikan kepada salah satu gereja di Roma. Kawannya melihat lukisan itu indah. Selain indah juga aneh. Tidak sebagaimana lukisan Bunda Maria yang pernah ia lihat, lukisan ini memberi suatu pesan khusus yang sulit dilupakan.
Gambar ajaib itu memperlihatkan Bunda Maria sedang menggendong Kanak-kanak Yesus. Sikap dan wajah Yesus memperlihatkan rasa cemas. Yesus yang masih kecil itu nampaknya mencari perlindungan pada Ibu-Nya. Tangannya yang masih mungil menggenggam erat tangan Ibu Maria. Mata Yesus menunjukkan rasa cemas. Keterkejutan dan menyelamatkan diri secara tergesa-gesa nampak dari salah satu sandal-Nya yang hampir lepas dan tergantung.
Menurut keterangan pelukisnya, lukisan itu menunjukkan saat ketika Yesus sedang bermain-main. Tiba-tiba datang dua orang malaikat pada-Nya. Yesus terkejut. Ia segera lari ke pangkuan Ibu-Nya, mohon perlindungan. Ibu Maria juga sempat terkejut sebelum mengetahui apa yang terjadi. Yesus amat tergesa-gesa hingga tidak sempat memperhatikan sandalnya yang hampir hilang.
Ada alasan yang kuat mengapa Yesus kecil terkejut melihat kedua malaikat itu. Utusan Tuhan itu memperlihatkan secara jelas salib, paku-paku, lembing, dan bunga karang yang penuh cuka dan empedu. Barang-barang ini kita tahu kemudian menjadi alat kesengsaraan Yesus ketika memikul salib dan wafat di Kalvari.
Sebagai anak kecil, Yesus ketakutan. Ia merasa ngeri. Karena itu, Ia memeluk Maria. Jari-jari-Nya gemetar dalam genggaman yang aman Bunda Maria. Kemudian dengan penuh kasih keibuan, Maria merapatkan Kanak-kanak Yesus lebih dekat ke tubuh-Nya dengan tangan kiri-Nya. Di dalam pelukan Maria yang memandang dengan rasa haru dan kasih sayang, Yesus merasa aman karena Maria memeluk-Nya seraya memberi keyakinan. Tangan Kristus yang menggenggam erat tangan Bunda-Nya mengingatkan kita bahwa Dia mempercayakan diri sepenuhnya kepada Ibu-Nya yang terkasih dan menunjukkan kita pun akan aman berada di dalam asuhan-Nya.
Kawan pemilik gambar itu memang tertarik karena anehnya lukisan itu. Ia tidak sadar, lukisan itu menyimpan sejumlah misteri. Malam harinya ketika tidur, Maria menampakkan diri kepadanya. Dalam mimpinya, Maria mengingatkan dia agar mengikuti pesan kawannya sebelum meninggal yaitu menyerahkan lukisan itu kepada salah satu gereja.
Mimpi itu disampaikan kepada istrinya tapi mereka masih tetap menyimpan lukisan itu. Tidak lama kemudian orang itu meninggal. Rupanya, istrinya juga tertarik dan menyukai gambar itu. Ia bertekad menyimpannya walau ada pesan khusus dari suaminya. Maria kembali mengingatkan keluarga itu melalui anak gadisnya. "Ibu, aku melihat seorang wanita yang amat cantik. Wanita itu berkata kepadaku, katakan kepada ibumu, Bunda Penolong Abadi minta supaya lukisan diri-Nya ditempatkan di salah satu gereja. Begitulah pesannya, Bu." Sang janda ingin melaksanakan pesan itu, tetapi ia ditertawakan sesama ibu di wilayahnya. Ia menjadi lebih tertarik lagi ketika salah seorang temannya jatuh sakit. Temannya itu tiba-tiba sembuh setelah minta maaf kepada Maria dengan menyentuh lukisan itu.
Akhirnya, lukisan itu diserahkan kepada gereja St. Alfonsus di Roma. Selama 300 tahun, lukisan itu tersimpan di sana. Selama itu pula tempat itu menjadi terkenal karena mukjizat-mukjizat yang terjadi. Tahun 1798, di masa perang Napoleon, para imam diusir. Tapi salah seorang imam sempat menyimpan lukisan itu di sebuah kapel kecil. Lukisan itu terlupakan selama 70 tahun.
Untung ada seorang bruder tua yang masih ingat riwayat lukisan itu. Ia menceritakannya kepada seorang anak kecil yang kemudian menjadi imam Redemptoris. Bocah itu ini menceritakan pula riwayat gambar itu kepada sesama imam Redemptoris. Akhirnya berita ini sampai ke telinga Paus. Paus memberi perintah, agar gambar tersebut diperlihatkan dan dihormati kembali serta ditempatkan di tempatnya semula, yaitu di tempat yang dipilih sendiri oleh Bunda Maria.
Gambar asli dilukiskan di atas kayu, usianya kira-kira 500 tahun. Tahun 1866, gambar itu secara resmi ditempatkan di gereja St. Alfonsus di Roma. Paus Pius IX berpesan kepada para imam Redemptoris, "perkenalkanlah Dia ke seluruh dunia." Sejak saat itu, gambar diperbanyak. Duplikatnya disebarkan ke seluruh dunia.
Hingga kini banyak umat yang memberi penghormatan khusus kepada Maria Penolong Abadi mendapat banyak berkat dan ada pula yang mengalami mukjizat secara khusus. Konsili Vatikan II dalam salah satu butir penghormatan kepada Maria memberikan nama Penolong Abadi kepada Maria. Alasannya ialah karena nama itu secara ajaib menonjolkan dan menekankan pengasuhan ibu yang dilaksanakan Maria terhadap Gereja yang kini masih berjuang di dunia.
Penjelasan makna lambang-lambang pada gambar: Paraf Yunani di sudut kiri dan kanan atas gambar berarti Bunda Allah. Bintang di mahkota Maria bermakna, beliaulah Bintang Laut, yang membawa cahaya Kristus kepada kegelapan dunia ini. Bintang yang membimbing kita dengan aman menuju rumah surgawi. Malaikat Agung Mikael di sebelah kiri memegang lembing dan bunga karang dan dalam huruf yunani namanya dituliskan di atasnya. Mulut Maria digambar mungil sebagai lambang sedikit berbicara dan dalamnya kehidupan kontemplasi sang perawan. Jubah Maria berwarna merah, warna yang dikenakan oleh para perawan pada zaman Kristus. Mantel biru tua yang dikenakan Maria seperti para ibu di Palestina, melambangkan Maria adalah perawan dan ibu.
Tangan-tangan Kristus yang menggenggam erat ibu jari Bunda-Nya menyatakan kepada kita, kepercayaan yang kita harus berikan di dalam doa-doa kepada Ibu Maria. Mahkota emas dilukis dalam gambar aslinya merupakan tanda dari banyaknya doa yang terkabul yang ditujukan kepada Bunda Maria yang disebut sebagai Bunda Penolong Abadi. Malaikat Gabriel di sebelah kanan memegang salib dan paku-paku dan huruf Yunani untuk namanya ditulis di atasnya.
Mata Maria digambarkan besar, mata itu melihat tembus pada kebutuhan-kebutuhan kita dan mengundang permohonan-permohonan. Huruf di sebelah wajah Yesus bila diterjemahkan berarti "Yesus Kristus". Tangan kiri Bunda Maria menopang Kristus dengan eratnya menyatakan kepada kita jaminan yang kita peroleh dalam pengabdian terhadap Bunda Allah. Sandal yang terjatuh, suatu tanda bahwa bagi mereka yang merenungkan sengsara Kristus, akan memperoleh penyelamatan dan memasuki jenjang pewarisannya yang abadi. @@@
Tiba-tiba langit yang tadinya gelap berawan, menjadi cerah. Angin yang selama beberapa jam membuat perahu oleng, mulai reda. Begitu juga gelombang laut pelan-pelan menjadi teduh. Kapal seolah berlayar di atas minyak yang tenang. Akhirnya kapal merapat di pelabuhan Roma. Semua penumpang selamat.
Pemilik gambar itu langsung menuju rumah kawannya. Sayang, usianya tidak lama. Namun, sebelum meninggal ia berpesan kepada kawannya agar lukisan itu diberikan kepada salah satu gereja di Roma. Kawannya melihat lukisan itu indah. Selain indah juga aneh. Tidak sebagaimana lukisan Bunda Maria yang pernah ia lihat, lukisan ini memberi suatu pesan khusus yang sulit dilupakan.
Gambar ajaib itu memperlihatkan Bunda Maria sedang menggendong Kanak-kanak Yesus. Sikap dan wajah Yesus memperlihatkan rasa cemas. Yesus yang masih kecil itu nampaknya mencari perlindungan pada Ibu-Nya. Tangannya yang masih mungil menggenggam erat tangan Ibu Maria. Mata Yesus menunjukkan rasa cemas. Keterkejutan dan menyelamatkan diri secara tergesa-gesa nampak dari salah satu sandal-Nya yang hampir lepas dan tergantung.
Menurut keterangan pelukisnya, lukisan itu menunjukkan saat ketika Yesus sedang bermain-main. Tiba-tiba datang dua orang malaikat pada-Nya. Yesus terkejut. Ia segera lari ke pangkuan Ibu-Nya, mohon perlindungan. Ibu Maria juga sempat terkejut sebelum mengetahui apa yang terjadi. Yesus amat tergesa-gesa hingga tidak sempat memperhatikan sandalnya yang hampir hilang.
Ada alasan yang kuat mengapa Yesus kecil terkejut melihat kedua malaikat itu. Utusan Tuhan itu memperlihatkan secara jelas salib, paku-paku, lembing, dan bunga karang yang penuh cuka dan empedu. Barang-barang ini kita tahu kemudian menjadi alat kesengsaraan Yesus ketika memikul salib dan wafat di Kalvari.
Sebagai anak kecil, Yesus ketakutan. Ia merasa ngeri. Karena itu, Ia memeluk Maria. Jari-jari-Nya gemetar dalam genggaman yang aman Bunda Maria. Kemudian dengan penuh kasih keibuan, Maria merapatkan Kanak-kanak Yesus lebih dekat ke tubuh-Nya dengan tangan kiri-Nya. Di dalam pelukan Maria yang memandang dengan rasa haru dan kasih sayang, Yesus merasa aman karena Maria memeluk-Nya seraya memberi keyakinan. Tangan Kristus yang menggenggam erat tangan Bunda-Nya mengingatkan kita bahwa Dia mempercayakan diri sepenuhnya kepada Ibu-Nya yang terkasih dan menunjukkan kita pun akan aman berada di dalam asuhan-Nya.
Kawan pemilik gambar itu memang tertarik karena anehnya lukisan itu. Ia tidak sadar, lukisan itu menyimpan sejumlah misteri. Malam harinya ketika tidur, Maria menampakkan diri kepadanya. Dalam mimpinya, Maria mengingatkan dia agar mengikuti pesan kawannya sebelum meninggal yaitu menyerahkan lukisan itu kepada salah satu gereja.
Mimpi itu disampaikan kepada istrinya tapi mereka masih tetap menyimpan lukisan itu. Tidak lama kemudian orang itu meninggal. Rupanya, istrinya juga tertarik dan menyukai gambar itu. Ia bertekad menyimpannya walau ada pesan khusus dari suaminya. Maria kembali mengingatkan keluarga itu melalui anak gadisnya. "Ibu, aku melihat seorang wanita yang amat cantik. Wanita itu berkata kepadaku, katakan kepada ibumu, Bunda Penolong Abadi minta supaya lukisan diri-Nya ditempatkan di salah satu gereja. Begitulah pesannya, Bu." Sang janda ingin melaksanakan pesan itu, tetapi ia ditertawakan sesama ibu di wilayahnya. Ia menjadi lebih tertarik lagi ketika salah seorang temannya jatuh sakit. Temannya itu tiba-tiba sembuh setelah minta maaf kepada Maria dengan menyentuh lukisan itu.
Akhirnya, lukisan itu diserahkan kepada gereja St. Alfonsus di Roma. Selama 300 tahun, lukisan itu tersimpan di sana. Selama itu pula tempat itu menjadi terkenal karena mukjizat-mukjizat yang terjadi. Tahun 1798, di masa perang Napoleon, para imam diusir. Tapi salah seorang imam sempat menyimpan lukisan itu di sebuah kapel kecil. Lukisan itu terlupakan selama 70 tahun.
Untung ada seorang bruder tua yang masih ingat riwayat lukisan itu. Ia menceritakannya kepada seorang anak kecil yang kemudian menjadi imam Redemptoris. Bocah itu ini menceritakan pula riwayat gambar itu kepada sesama imam Redemptoris. Akhirnya berita ini sampai ke telinga Paus. Paus memberi perintah, agar gambar tersebut diperlihatkan dan dihormati kembali serta ditempatkan di tempatnya semula, yaitu di tempat yang dipilih sendiri oleh Bunda Maria.
Gambar asli dilukiskan di atas kayu, usianya kira-kira 500 tahun. Tahun 1866, gambar itu secara resmi ditempatkan di gereja St. Alfonsus di Roma. Paus Pius IX berpesan kepada para imam Redemptoris, "perkenalkanlah Dia ke seluruh dunia." Sejak saat itu, gambar diperbanyak. Duplikatnya disebarkan ke seluruh dunia.
Hingga kini banyak umat yang memberi penghormatan khusus kepada Maria Penolong Abadi mendapat banyak berkat dan ada pula yang mengalami mukjizat secara khusus. Konsili Vatikan II dalam salah satu butir penghormatan kepada Maria memberikan nama Penolong Abadi kepada Maria. Alasannya ialah karena nama itu secara ajaib menonjolkan dan menekankan pengasuhan ibu yang dilaksanakan Maria terhadap Gereja yang kini masih berjuang di dunia.
Penjelasan makna lambang-lambang pada gambar: Paraf Yunani di sudut kiri dan kanan atas gambar berarti Bunda Allah. Bintang di mahkota Maria bermakna, beliaulah Bintang Laut, yang membawa cahaya Kristus kepada kegelapan dunia ini. Bintang yang membimbing kita dengan aman menuju rumah surgawi. Malaikat Agung Mikael di sebelah kiri memegang lembing dan bunga karang dan dalam huruf yunani namanya dituliskan di atasnya. Mulut Maria digambar mungil sebagai lambang sedikit berbicara dan dalamnya kehidupan kontemplasi sang perawan. Jubah Maria berwarna merah, warna yang dikenakan oleh para perawan pada zaman Kristus. Mantel biru tua yang dikenakan Maria seperti para ibu di Palestina, melambangkan Maria adalah perawan dan ibu.
Tangan-tangan Kristus yang menggenggam erat ibu jari Bunda-Nya menyatakan kepada kita, kepercayaan yang kita harus berikan di dalam doa-doa kepada Ibu Maria. Mahkota emas dilukis dalam gambar aslinya merupakan tanda dari banyaknya doa yang terkabul yang ditujukan kepada Bunda Maria yang disebut sebagai Bunda Penolong Abadi. Malaikat Gabriel di sebelah kanan memegang salib dan paku-paku dan huruf Yunani untuk namanya ditulis di atasnya.
Mata Maria digambarkan besar, mata itu melihat tembus pada kebutuhan-kebutuhan kita dan mengundang permohonan-permohonan. Huruf di sebelah wajah Yesus bila diterjemahkan berarti "Yesus Kristus". Tangan kiri Bunda Maria menopang Kristus dengan eratnya menyatakan kepada kita jaminan yang kita peroleh dalam pengabdian terhadap Bunda Allah. Sandal yang terjatuh, suatu tanda bahwa bagi mereka yang merenungkan sengsara Kristus, akan memperoleh penyelamatan dan memasuki jenjang pewarisannya yang abadi. @@@
Maria Ratu Rosario
Setiap tanggal 7 Oktober, umat Katolik merayakan pesta Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci. Hari pesta perayaan Ratu Rosario Suci ini ditetapkan oleh Paus Pius V bertepatan dengan hari perayaan kemenangan perang yang pernah terjadi di Lepanto, pada tanggal 7 Oktober 1571, antara armada angkatan laut gabungan dari kerajaan-kerajaan Eropa yang dipimpin oleh Spanyol dengan armada angkatan laut gabungan dari kerajaan-kerajaan di kawasan Timur Tengah yang dipimpin oleh Turki.
Kemenangan dalam Perang Lepanto ini diklaim oleh umat Katolik sebagai anugerah kemenangan dari Allah karena pertolongan Bunda Maria, yang dimohon melalui doa Rosario. Pesta perayaan Maria Ratu Rosario Suci ini mengundang umat Katolik untuk merenungkan kembali misteri Kristus, dan mengikuti keteladanan Bunda Maria, yang terlibat aktif dalam karya penjelmaan, penebusan dan penyelamatan jiwa-jiwa.
Paus Yohanes Paulus II dalam surat apostolic “Rosarium Virginis Mariae”, mengatakan bahwa Rosario Santa Perawan Maria adalah sebuah doa yang sangat disukai oleh banyak para santo/santa, dan didukung oleh kuasa mengajar Gereja (magisterium). Doa ini punya makna yang sungguh berarti karena membawa orang kepada kesucian. Doa Rosario pada intinya adalah doa kristosentris, doa yang berpusat pada Kristus. Doa ini memiliki kedalaman pesan Injil secara menyeluruh. Bahkan dapat dikatakan bahwa doa Rosario adalah compendium atau ringkasan dari seluruh pesan Injil.
Doa Rosario merupakan gema dari doa Maria, seperti dirumuskan dalam “Magnificat”, yang menyatakan bahwa karya penebusan dimulai dari rahim Bunda Maria. Dengan doa Rosario orang-orang kristiani duduk di bangku sekolah Maria, dan mengkontemplasikan keindahan memandang wajah Kristus dan mengalami kedalaman cinta-Nya. Melalui Rosario, umat beriman menerima rahmat berkelimpahan, melalui tangan Maria, Bunda Penebus.
Pada tanggal 29 Oktober 1978, Paus Yohanes Paulus menyatakan: “Rosario adalah doa yang disukai oleh banyak orang, doa favorit umat. Doa yang menakjubkan karena kesederhanaannya dan karena kedalamannya. Doa yang sederhana ini menandai irama kehidupan manusia, yakni: gembira, bercahaya, sedih, dan mulia.”
“Doa Rosario banyak kali dilakukan demi perdamaian. Masih segar dalam ingatan kita, tragedi yang mengerikan terjadi pada tanggal 11 September 2001, penyerangan terhadap gedung WTC di Amerika Serikat, yang menelan kurban ribuan orang. Peristiwa ini akan tetap diingat sebagai hari gelap dalam sejarah kemanusiaan. Peristiwa ini mengajak kita untuk kembali menemukan sarana Rosario untuk membenamkan diri dalam kontemplasi tentang misteri hidup Kristus, yang adalah “damai kita” karena Dia yang membuat kita bersatu dan merobohkan dinding tembok permusuhan (Ef 2: 14). Akibatnya, tidak seorang pun orang kristiani berdoa Rosario lepas dari komitmen perjuangan untuk menciptakan perdamaian.”
Paus Yohanes Paulus II menyatakan: “Dalam berhadapan dengan peristiwa ini Gereja mencoba untuk tetap setia pada kharisma kenabian dan mengingatkan umat manusia akan kewajibannya membangun masa depan damai untuk manusia. Damai tidak bisa dipisahkan dari keadilan, tetapi kedamaian harus diperjuangkan dan dipelihara dengan belas kasih dan cinta.”
Pada tanggal 30 September 2001, setelah misa pembukaan sinode para Uskup, Paus Yohanes Paulus II meminta umat katolik untuk berdoa Rosario. Pesannya adalah: “Oktober adalah bulan di mana Bunda Maria Ratu Rosario dihormati. Dalam konteks situasi internasional sekarang ini, saya mengundang anda semua: individu, keluarga, komunitas, untuk mendoakan Rosario, mungkin setiap hari, memohon perdamaian, sehingga dunia dapat terlindungi dari bencana terorisme yang jahat.”
Paus Yohanes Paulus menambahkan: “Kita tidak dapat melupakan orang-orang Yahudi, orang-orang kristiani, orang-orang Muslim, bahwa mereka itu menyembah Allah yang satu dan sama. Tiga agama itu mempunyai panggilan demi kesatuan dan perdamaian. Semoga Allah berkenan memanggil dan mengutus orang-orang beriman menjadi agen perdamaian di garis depan perjuangan keadilan dan pelarangan kekerasan. Semoga Santa Perawan Maria, Ratu Damai, Ratu Rosario, melindungi semua umat manusia, sehingga kebencian dan kematian tidak pernah menjadi kata akhir.” @@@
Kemenangan dalam Perang Lepanto ini diklaim oleh umat Katolik sebagai anugerah kemenangan dari Allah karena pertolongan Bunda Maria, yang dimohon melalui doa Rosario. Pesta perayaan Maria Ratu Rosario Suci ini mengundang umat Katolik untuk merenungkan kembali misteri Kristus, dan mengikuti keteladanan Bunda Maria, yang terlibat aktif dalam karya penjelmaan, penebusan dan penyelamatan jiwa-jiwa.
Paus Yohanes Paulus II dalam surat apostolic “Rosarium Virginis Mariae”, mengatakan bahwa Rosario Santa Perawan Maria adalah sebuah doa yang sangat disukai oleh banyak para santo/santa, dan didukung oleh kuasa mengajar Gereja (magisterium). Doa ini punya makna yang sungguh berarti karena membawa orang kepada kesucian. Doa Rosario pada intinya adalah doa kristosentris, doa yang berpusat pada Kristus. Doa ini memiliki kedalaman pesan Injil secara menyeluruh. Bahkan dapat dikatakan bahwa doa Rosario adalah compendium atau ringkasan dari seluruh pesan Injil.
Doa Rosario merupakan gema dari doa Maria, seperti dirumuskan dalam “Magnificat”, yang menyatakan bahwa karya penebusan dimulai dari rahim Bunda Maria. Dengan doa Rosario orang-orang kristiani duduk di bangku sekolah Maria, dan mengkontemplasikan keindahan memandang wajah Kristus dan mengalami kedalaman cinta-Nya. Melalui Rosario, umat beriman menerima rahmat berkelimpahan, melalui tangan Maria, Bunda Penebus.
Pada tanggal 29 Oktober 1978, Paus Yohanes Paulus menyatakan: “Rosario adalah doa yang disukai oleh banyak orang, doa favorit umat. Doa yang menakjubkan karena kesederhanaannya dan karena kedalamannya. Doa yang sederhana ini menandai irama kehidupan manusia, yakni: gembira, bercahaya, sedih, dan mulia.”
“Doa Rosario banyak kali dilakukan demi perdamaian. Masih segar dalam ingatan kita, tragedi yang mengerikan terjadi pada tanggal 11 September 2001, penyerangan terhadap gedung WTC di Amerika Serikat, yang menelan kurban ribuan orang. Peristiwa ini akan tetap diingat sebagai hari gelap dalam sejarah kemanusiaan. Peristiwa ini mengajak kita untuk kembali menemukan sarana Rosario untuk membenamkan diri dalam kontemplasi tentang misteri hidup Kristus, yang adalah “damai kita” karena Dia yang membuat kita bersatu dan merobohkan dinding tembok permusuhan (Ef 2: 14). Akibatnya, tidak seorang pun orang kristiani berdoa Rosario lepas dari komitmen perjuangan untuk menciptakan perdamaian.”
Paus Yohanes Paulus II menyatakan: “Dalam berhadapan dengan peristiwa ini Gereja mencoba untuk tetap setia pada kharisma kenabian dan mengingatkan umat manusia akan kewajibannya membangun masa depan damai untuk manusia. Damai tidak bisa dipisahkan dari keadilan, tetapi kedamaian harus diperjuangkan dan dipelihara dengan belas kasih dan cinta.”
Pada tanggal 30 September 2001, setelah misa pembukaan sinode para Uskup, Paus Yohanes Paulus II meminta umat katolik untuk berdoa Rosario. Pesannya adalah: “Oktober adalah bulan di mana Bunda Maria Ratu Rosario dihormati. Dalam konteks situasi internasional sekarang ini, saya mengundang anda semua: individu, keluarga, komunitas, untuk mendoakan Rosario, mungkin setiap hari, memohon perdamaian, sehingga dunia dapat terlindungi dari bencana terorisme yang jahat.”
Paus Yohanes Paulus menambahkan: “Kita tidak dapat melupakan orang-orang Yahudi, orang-orang kristiani, orang-orang Muslim, bahwa mereka itu menyembah Allah yang satu dan sama. Tiga agama itu mempunyai panggilan demi kesatuan dan perdamaian. Semoga Allah berkenan memanggil dan mengutus orang-orang beriman menjadi agen perdamaian di garis depan perjuangan keadilan dan pelarangan kekerasan. Semoga Santa Perawan Maria, Ratu Damai, Ratu Rosario, melindungi semua umat manusia, sehingga kebencian dan kematian tidak pernah menjadi kata akhir.” @@@
Rabu, 22 Juni 2011
Maria Mediatrix dalam Tradisi Gereja
“Mediator” adalah kata Latin yang berarti “perantara” (lelaki). “Mediatrix” juga berarti “perantara” (perempuan); Santa Perawan Maria (perempuan) diberi gelar “Mediatrix”, artinya Maria Perantara. Pada awal abad ke-4, Bapa-bapa Gereja dan para santo telah mengenal Maria Mediatrix, Maria Perantara. Pada abad ke-4, Antipater dari Bostra, salah satu dari Bapak Konsili Efesus (AD 431), menulis: “Salam engkau yang menjadi perantara manusia.”
Pada abad ke-8, St. Germanus mengatakan: “Tidak seorang memberikan anugerah, tanpa melalui dia, yaitu yang tersuci; tidak ada rahmat belas kasih diperlihatkan kepada siapa pun juga kecuali oleh dia, yang sangat dihormati.” Pada abad ke-15, St Bernardine dari Siena menulis: “Ada proses mengenai rahmat ilahi, yaitu: dari Allah rahmat itu mengalir kepada Kristus, dari Kristus mengalir kepada Bunda Maria, dan dari Bunda Maria mengalir kepada Gereja.”
Menurut Santo Thomas Aquinas, hanya Kristuslah pengantara yang sempurna antara Allah dan umat manusia. Tetapi juga tidak disangkal suatu fakta bahwa pribadi lain disebut juga sebagai perantara karena mereka membantu dan menyiapkan kesatuan hubungan antara Allah dan manusia. Tidak ada masalah di antara orang kristiani dan para teolog Katolik bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya perantara antara Allah dan manusia. Tetapi tidak mengesampingkan partisipasi Santa Perawan Maria dalam keperantaraan dengan Putera-nya. Pada abad ke-19 kata “Mediatrix” sudah dipakai pada surat apostolic “Ineffabilis Deus” dari Paus Pius XI, pada ensiklik “Rosario” dari Paus Leo XIII, pada ensiklik “Ad Diem Illium” dari Paus Benediktus XV.
Paus Yohanes Paulus II adalah orang yang memiliki keyakinan yang teguh terhadap ajaran tentang Maria perantara segala rahmat, yang dibuktikan melalui tulisan dan pengumuman mengenai perihal itu.
Dalam ensiklik “Redemptoris Mater” (1987), Paus Yohanes Paulus II mengatakan: “Maria menempatkan diri sebagai Perantara antara Puteranya dan umat manusia dalam realitas keinginan, kebutuhan, dan penderitaan. Dalam posisinya sebagai Bunda, Maria menempatkan dirinya di tengah, bertindak sebagai perantara. Dalam posisi seperti itu Maria bisa menunjukkan kepada Puteranya apa yang dibutuhkan umat manusia. Pada kenyataannya, ia punya hak-hak untuk melakukan posisi itu.”
Pada pertemuan umum yang terjadi pada tanggal 24 September 1997, Paus Yohanes Paulus II mengatakan: “Orang-orang kristiani berdoa kepada Maria sebagai penasihat, penolong, pembantu dan perantara. Maria mengantarai kita, membela kita dan melindungi kita; Maria membantu kita dalam hal kebutuhan-kebutuhan kita; Maria mendukung mereka yang mengalami kejatuhan, dan menyampaikan doa-doa kita kepada Kristus, membela kita terus menerus.” @@@
Pada abad ke-8, St. Germanus mengatakan: “Tidak seorang memberikan anugerah, tanpa melalui dia, yaitu yang tersuci; tidak ada rahmat belas kasih diperlihatkan kepada siapa pun juga kecuali oleh dia, yang sangat dihormati.” Pada abad ke-15, St Bernardine dari Siena menulis: “Ada proses mengenai rahmat ilahi, yaitu: dari Allah rahmat itu mengalir kepada Kristus, dari Kristus mengalir kepada Bunda Maria, dan dari Bunda Maria mengalir kepada Gereja.”
Menurut Santo Thomas Aquinas, hanya Kristuslah pengantara yang sempurna antara Allah dan umat manusia. Tetapi juga tidak disangkal suatu fakta bahwa pribadi lain disebut juga sebagai perantara karena mereka membantu dan menyiapkan kesatuan hubungan antara Allah dan manusia. Tidak ada masalah di antara orang kristiani dan para teolog Katolik bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya perantara antara Allah dan manusia. Tetapi tidak mengesampingkan partisipasi Santa Perawan Maria dalam keperantaraan dengan Putera-nya. Pada abad ke-19 kata “Mediatrix” sudah dipakai pada surat apostolic “Ineffabilis Deus” dari Paus Pius XI, pada ensiklik “Rosario” dari Paus Leo XIII, pada ensiklik “Ad Diem Illium” dari Paus Benediktus XV.
Paus Yohanes Paulus II adalah orang yang memiliki keyakinan yang teguh terhadap ajaran tentang Maria perantara segala rahmat, yang dibuktikan melalui tulisan dan pengumuman mengenai perihal itu.
Dalam ensiklik “Redemptoris Mater” (1987), Paus Yohanes Paulus II mengatakan: “Maria menempatkan diri sebagai Perantara antara Puteranya dan umat manusia dalam realitas keinginan, kebutuhan, dan penderitaan. Dalam posisinya sebagai Bunda, Maria menempatkan dirinya di tengah, bertindak sebagai perantara. Dalam posisi seperti itu Maria bisa menunjukkan kepada Puteranya apa yang dibutuhkan umat manusia. Pada kenyataannya, ia punya hak-hak untuk melakukan posisi itu.”
Pada pertemuan umum yang terjadi pada tanggal 24 September 1997, Paus Yohanes Paulus II mengatakan: “Orang-orang kristiani berdoa kepada Maria sebagai penasihat, penolong, pembantu dan perantara. Maria mengantarai kita, membela kita dan melindungi kita; Maria membantu kita dalam hal kebutuhan-kebutuhan kita; Maria mendukung mereka yang mengalami kejatuhan, dan menyampaikan doa-doa kita kepada Kristus, membela kita terus menerus.” @@@
Langganan:
Postingan (Atom)






