St. Peregrinus lahir pada tahun 1260 di Forli, Italia dari sebuah keluarga yang saleh. Ia mengalami kehidupan yang menyenangkan ketika masih muda, dan secara politik berlawanan dengan Bapa Suci. Setelah mengalami pengampunan dari St. Philip Benizi ia berubah dalam kehidupan dan mulai bergabung dengan ordo Servite.
Dia ditahbiskan menjadi imam dan kemudian pulang ke rumah untuk mendirikan komunitas yang diberi nama Servite. Mereka dikenal karena kegiatan berkotbah, bermatiraga, dan menjadi pembimbing professional. Ia sembuh dari kanker setelah mendapatkan visi dari Tuhan Yesus Kristus yang bergantung di kayu salib. Ia meninggal pada tahun 1345 dan dikanonisasi pada tahun 1726. Dia pelindung bagi para pasien penderita kanker.
Untuk mereka yang sedang terkena gangguan kanker, kanker itu suatu penyakit yang tetap memiliki keterbatasan. Kanker itu tidak dapat melumpuhkan cinta, tidak dapat menciutkan harapan, tidak dapat menggerogoti iman, tidak dapat melenyapkan damai, tidak dapat merusak kepercayaan, tidak dapat menutup ingatan, tidak dapat membungkam keberanian, tidak dapat membelenggu jiwa, tidak dapat menyingkirkan kehidupan abadi, tidak dapat menurunkan semangat, tidak dapat mengurangi kekuatan Kebangkitan.
Doa kepada St. Peregrinus bagi Penderita Kanker
Ya Santo Peregrinus, aku membutuhkan bantuanmu. Aku merasa tidak menentu dalam hari-hari hidupku sekarang dan di sini. Penyakit yang serius telah membuat aku rindu akan cintakasih Allah. Bantulah aku untuk bisa meneladani daya tahan imanmu ketika engkau menghadapi ganasnya kanker dan pedihnya operasi. Perkenankanlah aku untuk mempercayai Tuhan tentang jalan-jalan yang mesti aku lalui pada saat-saat ketika aku susah dan stress. Aku ingin sembuh, tetapi saat ini aku meminta kepada Allah kekuatan agar aku mampu menanggung salib di dalam hidupku. Aku mencari kekuatan kehadiran Allah di dalam hidupku saat aku dalam keadaan susah, lelah, sakit, cemas dan khawatir, yang aku alami sekarang ini. Ya Santo Peregrinus, jadilah engkau inspirasi bagiku dan jadilah engkau perantara bagi permohonan-permohonanku yang membutuhkan rahmat dari Allah yang Mahakasih. Amin.
Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja
Kamis, 27 Desember 2012
Mencintai Sesama: Belajar dari Bunda Maria
Saudara-saudari terkasih, pada hari Minggu, 6 Januari 2013 nanti, umat Katolik yang mengikuti rangkaian Novena di Gua Maria Tritis sudah sampai pada rangkaian Novena hari kelima. Tema yang kita ambil untuk doa Novena dan Misa hari itu adalah “Belajar dari Bunda Maria tentang Keutamaan “Mencintai Sesama.”
Cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama diperintahkan oleh
Allah di dalam satu rumusan kalimat yang sama. Dan perintah yang kita terima
dari Allah itu adalah bahwa barangsiapa mencintai Allah harus mencintai
sesamanya juga (1Yoh 4: 21). Santo Thomas mengatakan bahwa alasan untuk hal ini
adalah bahwa pribadi yang mencintai Allah mencintai semua orang yang dicintai
oleh Allah.
Pada suatu hari, Santa Catharina dari Genoa menyatakan: “Tuhan,
Engkau mengatakan bahwa aku harus mencintai sesamaku, tetapi aku dapat
mencintai tak seorang pun kecuali Engkau.” Allah menanggapi pernyataan Santa
Catharina itu dengan mengatakan: “Siapa saja yang mencintai Aku mencintai siapa
saja yang Aku cintai.” Tetapi karena dulu tidak pernah ada orang yang mencintai
dan juga tidak akan pernah ada orang yang mencintai Allah seperti Maria
mencintai Allah, maka dulu tidak ada orang yang mencintai sesama dan tidak akan
pernah ada orang yang dapat mencintai sesamanya seperti Maria mencintai
sesamanya.
Ketika Bunda Maria masih berada di dunia, cintakasihnya begitu
besar sehingga dia bisa membantu banyak orang yang membutuhkan tanpa diminta.
Kita melihat hal ini dengan jelas pada peristiwa perkawinan di Kana, ketika
Bunda Maria meminta kepada Yesus karena didesak oleh situasi yang
menggelisahkan keluarga yang sedang berpesta: “Mereka kehabisan anggur” (Yoh 2:
3). Bunda Maria meminta Yesus untuk segera membuat mukjizat. Betapa cepatnya
dia ingin selalu bertindak ketika sesamanya membutuhkan. Ketika dia pergi
berkunjung ke rumah Elisabeth untuk memenuhi tugas cintakasih, dia pergi ke
desa yang berada di perbukitan dengan terburu-buru (Luk 1: 30).
Tetapi Maria tidak bisa menunjukkan secara lebih penuh
cintakasihnya daripada yang sudah dia kerjakan ketika dia mempersembahkan kematian
puteranya demi keselamatan kita. Melihat hal itu, Santo Bonaventura mengatakan:
“Maria begitu mencintai dunia sehingga dia mempersembahkan puteranya sendiri
satu-satunya.” Hal ini juga memberikan inspirasi bagi Santo Anselmus untuk
menyatakan: “Ya Bunda Maria yang terberkati, kemurnianmu mengatasi kemurnian
para malaikat, dan cintakasihmu melebihi cintakasih para santo-santa.” “Dan
cintakasih Maria untuk kita tak berhenti meski Bunda Maria sudah berada di
surga,” kata Santo Bonaventura. “Sebaliknya, cintakasihnya makin bertumbuh
karena dia sekarang berada di dalam posisi yang lebih baik untuk melihat
kesusahan manusia.”
Karena itu, Santo Bonaventura menambahkan dengan mengatakan
bahwa belas kasih Bunda Maria kepada orang-orang yang mengalami kesusahan
sungguh luar biasa ketika dia masih berada di dunia, tetapi hal itu masih jauh
dari luar biasa bila dibandingkan dengan belas kasih yang dilakukan oleh Bunda
Maria sekarang ketika dia sudah berada dan menjadi Ratu di surga.
Santa Agnes menegaskan kepada Santa Bridgita bahwa tidak ada
seorang pun yang pernah berdoa meminta rahmat tidak menerima rahmat itu melalui
belas kasih Bunda Maria. Kita sungguh malang dan tidak beruntung jika kita
tidak meminta kepada Bunda Maria supaya dia menjadi pengantara bagi kita. Yesus
sendiri, seperti dikatakan kepada Santa Bridgita, mengatakan: “Jika kita tidak
berdoa dan memohon kepada Bunda Maria, maka tidak ada harapan untuk dapat
memperoleh belas kasih.”
“Terberkatilah orang yang mendengarkan perintah-perintah-Ku,
orang-orang yang meneladan cintakasih-Ku, dan mempraktekkan bahwa cintakasih
kepada sesama,” kata Yesus kepada Maria, “Berbahagialah orang yang mendengarkan
daku … Berbahagialah orang yang setiap hari menunggu pada pintuku, dan menjaga
tiang pintu gerbangku.” (Amsal 8: 33-34).
Santo Gregorius Nazianzen memberikan keyakinan kepada kita
bahwa tidak ada jalan yang lebih baik kecuali jalan yang membuat Maria
mencintai kita, yaitu jalan mempraktekkan cintakasih kepada sesama. Pernyataan
Santo Gregorius itu persis sama dengan apa yang dikatakan Yesus kepada kita,
“Berbelaskasihlah sebab Bapa itu berbelas kasih. Demikian juga Maria mengatakan
kepada kita, “Berbelaskasihlah sebab Ibumu berbelas kasih.”
Kita menerima bahwa cintakasih kepada sesama akan menjadi
ukuran yang dipakai Allah dan Maria, yang ditunjukkan kepada kita ketika kita
membaca kembali sabda Tuhan berikut ini: “Berilah dan kamu akan diberi: suatu
takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan
dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan
diukurkan kepadamu.” (Luk 6: 38).
Santo Methodius pernah mengatakan: “Jika orang memberikan
sesuatu kepada orang miskin, dia akan mendapatkan Firdaus sebagai imbalan.”
Santo Paulus menambahkan bahwa cintakasih kepada sesama membuat kita bahagia,
baik bahagia di dunia maupun bahagia di dunia yang akan datang. Kebajikan
menguntungkan dalam segala aspek, karena hal itu sudah merupakan janji bahwa
cinta kepada sesama membawa kebahagiaan bagi hidup yang sekarang dan bagi hidup
yang akan datang (1Tim 4: 8).
Santo Yohanes Chrysostomus mengomentari teks Kitab Amsal “Siapa
menaruh belaskasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan
membalas perbuatannya itu,” (Amsal 19: 17), dengan mengatakan: “Barangsiapa
membantu orang yang membutuhkan, dia telah membuat Allah punya hutang padanya.”
Maka, pada hari ini, kita secara khusus memohon kepada Allah
agar kita diperkenankan untuk meneladan Bunda Maria dalam hal keutamaan
mencintai.
Ya Bunda Maria yang berbelas kasih, engkau
memiliki perhatian yang sungguh besar pada siapa saja sehingga mereka boleh
mengalami hidup yang sejahtera. Kami mohon kepadamu juga, sudilah kiranya
engkau memberikan perhatian pada masalah, kesusahan dan tantangan hidup yang
sedang kami hadapi. Sudilah kiranya engkau mengerti dengan baik apa yang
menjadi masalah dan kesusahan kami. Bimbinglah kami agar kami dapat hadir
menghadap Allah yang akan memberikan kepada kami segala sesuatu yang kami
butuhkan. Kami mohon dengan perantaraanmu, semoga Allah berkenan mengizinkan
kami untuk bisa meneladan engkau dalam hal mencintai, mencintai Allah dan
mencintai sesama kami. Amin.
Minggu, 25 November 2012
Berserah Diri
Singkirkan beban hidup masa silamKekecewaan dan noda yang suram
Percuma meratapi yang t'lah basi
Serahkan ke tangan kasih Ilahi
Singkirkan beban hidup masa depan
Cemas gelisah dan kekhawatiran
Percuma merisaukan yang b'lum pasti
Serahkan ke tangan kasih Ilahi
Trimalah beban hidup masa kini
Dengan Iman dan Kasih dalam hati
Jadikan korban persembahan diri
Melimpah berkat dan rahmat Ilahi
- Mgr. FX. Prajasuta, MSF.
Jumat, 23 November 2012
Doa dalam Penderitaan
Ketika hidupku hampa, hatiku tak puas, semangatku meredup, Kristus yang lahir di kandang Betlehem, lahirlah di dalam hatiku.
Ketika aku menemukan pencobaan dalam hidupku, dan ketika kemakmuran, keadilan serta kenikmatan sulit didapatkan, Kristus yang dalam keadaan digoda oleh Setan di padang gurun, doakanlah aku.
Ketika kegembiraan karena kesehatan, karena kebahagiaan, karena kesejahteraan, dan karena kehangatan yang aku rasakan, karena cintakasih Allah yang aku alami, Kristus yang berjalan keliling desa Galilea, berjalanlah bersama aku.
Ketika aku mencari kepentinganku sendiri, kebaikanku sendiri di hadapan Allah dan sesama, Kristus yang membersihkan bait Allah, bekerjasamalah dengan aku.
Ketika keputusan-keputusan sulit dibuat dan aku tidak mampu untuk melihat jalan ke mana aku harus melangkah, Kristus yang berada di taman Getsemani, menangislah bersama aku.
Ketika aku berhadapan dengan situasi pahit, penderitaan dan kegagalan, dan hatiku berteriak “Mengapa aku ya Tuhan.”, Kristus yang berada di gunung Kalvari, tinggallah bersama aku.
Ketika akhirnya aku mengalami jalan buntu dalam perjalananku dan di dalam membawa hidupku ke arah yang Kaukehendaki, Kristus yang telah keluar dari liang kubur, datanglah padaku.
Tuhan, semoga aku dapat menemukan iman di dalam penderitaan, sakit, dan kegagalan yang aku hadapi. Semoga aku selalu berada di dalam Engkau, ketika aku gembira dan ketika aku susah, ketika aku untung dan ketika aku malang. Amin.
Ketika aku menemukan pencobaan dalam hidupku, dan ketika kemakmuran, keadilan serta kenikmatan sulit didapatkan, Kristus yang dalam keadaan digoda oleh Setan di padang gurun, doakanlah aku.
Ketika kegembiraan karena kesehatan, karena kebahagiaan, karena kesejahteraan, dan karena kehangatan yang aku rasakan, karena cintakasih Allah yang aku alami, Kristus yang berjalan keliling desa Galilea, berjalanlah bersama aku.
Ketika aku mencari kepentinganku sendiri, kebaikanku sendiri di hadapan Allah dan sesama, Kristus yang membersihkan bait Allah, bekerjasamalah dengan aku.
Ketika keputusan-keputusan sulit dibuat dan aku tidak mampu untuk melihat jalan ke mana aku harus melangkah, Kristus yang berada di taman Getsemani, menangislah bersama aku.
Ketika aku berhadapan dengan situasi pahit, penderitaan dan kegagalan, dan hatiku berteriak “Mengapa aku ya Tuhan.”, Kristus yang berada di gunung Kalvari, tinggallah bersama aku.
Ketika akhirnya aku mengalami jalan buntu dalam perjalananku dan di dalam membawa hidupku ke arah yang Kaukehendaki, Kristus yang telah keluar dari liang kubur, datanglah padaku.
Tuhan, semoga aku dapat menemukan iman di dalam penderitaan, sakit, dan kegagalan yang aku hadapi. Semoga aku selalu berada di dalam Engkau, ketika aku gembira dan ketika aku susah, ketika aku untung dan ketika aku malang. Amin.
Kamis, 22 November 2012
Doa Pengantin Baru kepada Keluarga Kudus
Ya Yesus, saudara kami, Putra Allah dan Putra Maria, kami bersyukur kepada-Mu karena pemberian hidup yang Engkau percayakan kepada kami untuk kami pelihara. Bantulah kami untuk menjadi orangtua yang lembut dan bijaksana, yang mampu mencintai dan mengampuni, yang disiplin dan tetap mampu memberikan kebebasan. Berkatilah keluarga kami, yang baru kamu mulai pada hari ini, setelah kami berdua meneguhkan pernikahan kami . Pada hari ini kami memulai membangun keluarga baru, Gereja kecil, yang menjadi bagian dari Gereja Kudus yang pernah Engkau dirikan. Berkat bantuan rahmat-Mu, biarlah hidup yang rukun, damai dan saling mencintai, sebagaimana Engkau telah alami di dalam keluarga-Mu sendiri di kota kecil Nazareth, dapat memberikan inspirasi bagi kami berdua.
Ya Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda kami, peliharalah keluarga kami yang baru ini dengan iman dan cinta-Mu. Jagalah kami agar kami senantiasa tetap berhubungan erat dengan Putramu Yesus, di dalam segala situasi keluarga kami, dalam suka dan duka, dalam untung dan malang.
Ya Santo Yosef, Bapa angkat Tuhan Yesus, penjaga dan mempelai Maria, jagalah keluarga kami agar tetap aman dari ancaman dan bahaya. Bantulah kami di saat-saat di mana kami cemas dan takut.
Ya Keluarga Kudus dari Nazareth, teladan bagi keluarga-keluarga kristiani, buatlah keluarga kami menjadi satu dengan keluarga-Mu. Bantulah kami agar kami dapat menjadi alat damai, menjadi pribadi-pribadi yang dapat saling mencintai dan mengampuni. Anugerahkanlah kepada kami cinta yang dikuatkan oleh rahmat, sehingga cinta itu dapat membuktikan kekuatannya yang lebih besar ketika harus mengatasi segala pencobaan dan kelemahan yang kami hadapi. Semoga keluarga kami selalu menempatkan Allah pada pusat hati kami dan di tengah rumah kami seumur hidup kami, sehingga kelak kami boleh menjadi keluarga yang bersatu, bahagia, dan damai di dalam rumah yang abadi bersama-Mu. Amin.
Ya Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda kami, peliharalah keluarga kami yang baru ini dengan iman dan cinta-Mu. Jagalah kami agar kami senantiasa tetap berhubungan erat dengan Putramu Yesus, di dalam segala situasi keluarga kami, dalam suka dan duka, dalam untung dan malang.
Ya Santo Yosef, Bapa angkat Tuhan Yesus, penjaga dan mempelai Maria, jagalah keluarga kami agar tetap aman dari ancaman dan bahaya. Bantulah kami di saat-saat di mana kami cemas dan takut.
Ya Keluarga Kudus dari Nazareth, teladan bagi keluarga-keluarga kristiani, buatlah keluarga kami menjadi satu dengan keluarga-Mu. Bantulah kami agar kami dapat menjadi alat damai, menjadi pribadi-pribadi yang dapat saling mencintai dan mengampuni. Anugerahkanlah kepada kami cinta yang dikuatkan oleh rahmat, sehingga cinta itu dapat membuktikan kekuatannya yang lebih besar ketika harus mengatasi segala pencobaan dan kelemahan yang kami hadapi. Semoga keluarga kami selalu menempatkan Allah pada pusat hati kami dan di tengah rumah kami seumur hidup kami, sehingga kelak kami boleh menjadi keluarga yang bersatu, bahagia, dan damai di dalam rumah yang abadi bersama-Mu. Amin.
Selasa, 13 November 2012
Mencintai Allah: Belajar dari Bunda Maria
Sesuai dengan tema Novena yang diselenggarakan pada tanggal 2 Desember 2012 di Gua Maria Tritis Wonosari, kali ini kita diajak untuk merenungkan kembali makna keutamaan cintakasih, seperti diteladankan oleh Bunda Maria. Dalam katekismus Gereja Katolik kita baca bahwa “kasih itu adalah kebajikan ilahi, yang dengannya kita mengasihi Allah di atas segala-galanya demi diri-Nya sendiri, dan karena kasih kepada Allah itu kita mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri.” (CCC 1822).
Di dalam Injil Yohanes, Yesus menjelaskan kepada para murid bahwa dia memberikan kepada mereka perintah baru, yaitu: “Hendaknya kamu saling mengasihi satu sama lain seperti Aku telah mencintai kamu.” (Yoh 13: 1). Ketika Yesus mempersembahkan hidup-Nya di kayu salib, Ia menunjukkan “kebaruan” dari perintah-Nya, yakni kasih seperti yang Dia harapkan, kasih yang dilakukan Dia untuk kita.
Perintah itu perintah baru, karena perintah itu melukiskan relasi yang berbeda antara Allah dengan ciptaan-Nya. Peristiwa inkarnasi telah mengubah relasi antara Allah dan manusia. Ketika Allah menjadi manusia, maka Allah masuk ke dalam lingkungan ciptaan-Nya, masuk ke dalam komunitas manusia. Yesus mengungkapkan relasi yang berubah itu, ketika Dia mengatakan kepada para murid, “Aku tidak menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya. Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku sudah mengatakan kepadamu segala sesuatu yang telah Aku dengar dari Bapa-Ku.” (Yoh 15: 15).
Menurut Santo Thomas Aquinas, keutamaan cintakasih merupakan aspek persahabatan dengan Allah, dan bersama dengan semua anak-anak Allah (II.II, 23, 1). Dalam setiap persaha-bat¬an, ada kegiatan berbagi antara dua individu yang bersahabat. Tetapi dengan Allah, apa yang dapat kita bagikan? Kita dapat mencintai Allah hanya karena “Allah telah mencintai kita terlebih dahulu”. St. Yohanes menulis di dalam suratnya yang pertama, “Di dalam cinta ini, bukan bahwa kita telah mencintai Allah, tetapi bahwa Dia telah mencintai kita … kita mencintai karena Dia sudah mencintai kita lebih dahulu” (1Yoh 4: 10,19).
Cinta Allah kepada kita adalah dasar. Cinta Allah itu memberikan kepada kita kemampuan untuk mencintai Dia, dan cinta Allah itu adalah sumber kapasitas kita untuk mencintai dunia yang sudah Allah ciptakan. Setelah Allah, giliran berikut yang harus kita cintai adalah diri kita sendiri. Kita diundang untuk mencintai diri kita sendiri. Cinta itu tidak boleh bersifat egois. Kita harus ingat bahwa Allah memerintahkan kita untuk mencintai sesama kita seperti diri kita sendiri (Ul 19: 18).
Thomas Aquinas mengutip kata-kata Aristoteles yang mengidentifikasi cinta pada diri sendiri sebagai pembanding untuk cinta kita kepada orang lain. Thomas mengatakan: “Asal-usul relasi persahabatan dengan orang lain diletakkan pada relasi kita dengan diri kita sendiri.” Kasih kepada Allah mendorong kita untuk mengasihi orang lain sesama kita, dan pada titik tertentu hal ini mengajak kita untuk memusatkan perhatian kita kepada apa yang pernah Kristus katakan: “Kasihilah musuh-musuhmu” (Mat 5: 44).
Kita harus memasukkan musuh ke dalam kelompok sesama kita. Kita tidak boleh memiliki kepedulian cinta yang kecil terhadap orang-orang yang tidak kita sukai. Kita harus mencintai secara tepat apa yang baik di dalam pribadi-pribadi, yaitu: kemanusiaan dan nilai sebagai makhluk ciptaan Allah. Kita harus siap untuk memasukkan musuh ke dalam doa-doa kita yang kita tawarkan bagi setiap orang, dan terutama memberikan bantuan kepada mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan bantuan kita.
Pelaksanaan semua kebajikan ini dijiwai dan digerakkan oleh kasih. “Inilah pengikat yang menyatukan dan menyempurnakan” (Kol 3: 14); ia adalah pembentuk kebajikan; ia menentukan dan mengatur kebajikan-kebajikan; kasih Kristen mengamankan dan memurnikan kekuatan kasih manusiawi kita. Ia meninggikannya sampai kepada kesempurnaan adikodrati, kepada kasih ilahi.” (CCC 1828).
“Bunda Maria adalah Ratu Cintakasih”, kata Franciscus de Sales. “Di mana ada kemurnian terbesar, di situ terdapat cinta yang terbesar.” Jadi, semakin hati ini murni, dan kosong dari diri sendiri, maka semakin penuhlah cinta kepada Allah. Bunda Maria yang tersuci, karena dia sangat rendah hati, dan tidak punya kepentingan untuk diri sendiri, dipenuhi dengan kasih ilahi, sehingga “cintanya kepada Allah melebihi cinta semua manusia dan malaikat.”, tulis Santo Bernardinus.
Santo Ricardus memberikan penegasan mengenai pendapat ini dengan mengatakan, “Bunda Emmanuel telah mempraktekkan keutamaan-keutamaan di dalam tingkat kesempurnaan yang paling tinggi. Siapakah orang yang dapat dibandingkan dengan Bunda Maria yang telah melakukan perintah Allah yang pertama, “Engkau akan mencintai Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu?”
Karena cintanya kepada Allah sedemikian mendalam, maka tidak ada suatu cacat apa pun dari cintanya kepada Allah.” “Cinta Bunda Maria kepada Allah sedemikian kuat merasuki jiwanya, sehingga tidak ada satu bagian pun dari dirinya yang tak terisi; dan karena itu Bunda Maria mampu mencintai Allah dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya, dan dengan segenap kekuatannya, dan penuh rahmat.”, kata St. Bernardus.
Allah yang adalah cinta (1Yoh 4: 8) datang ke dunia untuk mengobarkan di dalam hati semua orang api cintakasih Allah; tetapi tidak ada hati yang lebih berkobar daripada hati Bunda Allah, karena hati Bunda Allah itu sungguh murni dari ikatan-ikatan duniawi, dan sungguh dipersiapkan untuk mengobarkan api cintakasih yang terberkati. Santo Sophronius mengatakan bahwa ‘api cinta kasih Allah berkobar dalam hatinya sehingga tak ada ikatan duniawi mana pun yang dapat merasukinya; dia selalu mengobarkan api cinta surgawi seperti dikatakan: “Hati Maria telah menjadi api dari segala api yang menyala, seperti pernah kita baca tentang dia dalam Kidung Agung: “Nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api Tuhan.” (Kid 8: 6), nyala api yang terkabar karena cinta, nyala api yang bersinar karena keteladanan yang diberikan kepada semua orang melalui praktek keutamaan.
Bunda Maria sendiri pernah menyatakan kepada Santa Brigitta: “Aku berpikir tentang Allah saja, dan tidak tentang yang lain; tidak untuk menyenangkan diriku tetapi untuk menyenangkan Allah.” Santo Bernardinus menegaskan bahwa selama hidup di dunia Bunda Maria selalu mencintai Allah: “Pikiran Bunda Maria selalu dibungkus di dalam hasrat untuk mencintai Allah.” Santo Bernardinus menambahkan: “Bunda Maria tidak pernah melalukan sesuatu yang tidak menyenangkan Allah; Bunda Maria mencintai Allah karena dia berpikir bahwa Allah harus dia cintai.”
Bunda Maria pernah mengatakan kepada Santa Brigitta, “Anakku, jika kamu ingin dekat dengan aku, maka cintailah Puteraku.” Maksud Bunda Maria adalah menunjukkan kepada kita tentang Allah yang dia cintai. Karena Maria berada dalam nyala api cinta kepada Allah, maka siapa saja yang mencintai dan mendekati dia, dikobarkan oleh dia dengan cintakasih yang sama. Karena itu Santa Catherina dari Siena menyebut Maria sebagai pembawa nyala api cintakasih Allah. Jika kita ingin terbakar dengan nyala api Bunda Maria, maka kita perlu senantiasa ingin untuk dekat dengan Bunda Maria dengan berdoa.
Dalam ensiklik Deus Caritas Est (art. 41), Paus Benediktus XVI memberikan perhatian khusus pada Bunda Maria yang memberikan keteladanan bagi kita dalam hal keutamaan cintakasih yang menjadi pusat perhatian ensiklik. Paus menulis bahwa Maria, Bunda Tuhan, adalah cermin bagi kita dalam hal kesucian. Dalam Injil Lukas, kita menemukan bagaimana Bunda Maria melayani dengan cintakasih kepada Elisabeth, saudara sepupunya. Di tempat Elisabeth, Bunda Maria tinggal selama 3 bulan (Luk 1: 56), membantu dia pada saat-saat akhir kehamilannya.
“Jiwaku memuliakan Tuhan” (Magnificat anima mea Dominum) adalah kata-kata Maria ketika dia berjumpa dengan Elisabeth. Dengan kata-kata itulah Lukas mau menyatakan bahwa seluruh program hidup Maria adalah tidak untuk menjadikan dirinya pusat perhatian, tetapi untuk memberikan ruang bagi Allah, yang dijumpai dalam doa dan dalam pelayanan kepada sesama, dan karena itu kebaikan masuk ke dalam dunia. Kebesaran Maria terletak pada fakta bahwa dirinya ingin memuliakan Allah, dan bukan memuliakan dirinya sendiri. Maria adalah wanita yang bisa menjadi teladan bagi kita dalam hal mencintai. ***
Di dalam Injil Yohanes, Yesus menjelaskan kepada para murid bahwa dia memberikan kepada mereka perintah baru, yaitu: “Hendaknya kamu saling mengasihi satu sama lain seperti Aku telah mencintai kamu.” (Yoh 13: 1). Ketika Yesus mempersembahkan hidup-Nya di kayu salib, Ia menunjukkan “kebaruan” dari perintah-Nya, yakni kasih seperti yang Dia harapkan, kasih yang dilakukan Dia untuk kita.
Perintah itu perintah baru, karena perintah itu melukiskan relasi yang berbeda antara Allah dengan ciptaan-Nya. Peristiwa inkarnasi telah mengubah relasi antara Allah dan manusia. Ketika Allah menjadi manusia, maka Allah masuk ke dalam lingkungan ciptaan-Nya, masuk ke dalam komunitas manusia. Yesus mengungkapkan relasi yang berubah itu, ketika Dia mengatakan kepada para murid, “Aku tidak menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya. Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku sudah mengatakan kepadamu segala sesuatu yang telah Aku dengar dari Bapa-Ku.” (Yoh 15: 15).
Menurut Santo Thomas Aquinas, keutamaan cintakasih merupakan aspek persahabatan dengan Allah, dan bersama dengan semua anak-anak Allah (II.II, 23, 1). Dalam setiap persaha-bat¬an, ada kegiatan berbagi antara dua individu yang bersahabat. Tetapi dengan Allah, apa yang dapat kita bagikan? Kita dapat mencintai Allah hanya karena “Allah telah mencintai kita terlebih dahulu”. St. Yohanes menulis di dalam suratnya yang pertama, “Di dalam cinta ini, bukan bahwa kita telah mencintai Allah, tetapi bahwa Dia telah mencintai kita … kita mencintai karena Dia sudah mencintai kita lebih dahulu” (1Yoh 4: 10,19).
Cinta Allah kepada kita adalah dasar. Cinta Allah itu memberikan kepada kita kemampuan untuk mencintai Dia, dan cinta Allah itu adalah sumber kapasitas kita untuk mencintai dunia yang sudah Allah ciptakan. Setelah Allah, giliran berikut yang harus kita cintai adalah diri kita sendiri. Kita diundang untuk mencintai diri kita sendiri. Cinta itu tidak boleh bersifat egois. Kita harus ingat bahwa Allah memerintahkan kita untuk mencintai sesama kita seperti diri kita sendiri (Ul 19: 18).
Thomas Aquinas mengutip kata-kata Aristoteles yang mengidentifikasi cinta pada diri sendiri sebagai pembanding untuk cinta kita kepada orang lain. Thomas mengatakan: “Asal-usul relasi persahabatan dengan orang lain diletakkan pada relasi kita dengan diri kita sendiri.” Kasih kepada Allah mendorong kita untuk mengasihi orang lain sesama kita, dan pada titik tertentu hal ini mengajak kita untuk memusatkan perhatian kita kepada apa yang pernah Kristus katakan: “Kasihilah musuh-musuhmu” (Mat 5: 44).
Kita harus memasukkan musuh ke dalam kelompok sesama kita. Kita tidak boleh memiliki kepedulian cinta yang kecil terhadap orang-orang yang tidak kita sukai. Kita harus mencintai secara tepat apa yang baik di dalam pribadi-pribadi, yaitu: kemanusiaan dan nilai sebagai makhluk ciptaan Allah. Kita harus siap untuk memasukkan musuh ke dalam doa-doa kita yang kita tawarkan bagi setiap orang, dan terutama memberikan bantuan kepada mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan bantuan kita.
Pelaksanaan semua kebajikan ini dijiwai dan digerakkan oleh kasih. “Inilah pengikat yang menyatukan dan menyempurnakan” (Kol 3: 14); ia adalah pembentuk kebajikan; ia menentukan dan mengatur kebajikan-kebajikan; kasih Kristen mengamankan dan memurnikan kekuatan kasih manusiawi kita. Ia meninggikannya sampai kepada kesempurnaan adikodrati, kepada kasih ilahi.” (CCC 1828).
“Bunda Maria adalah Ratu Cintakasih”, kata Franciscus de Sales. “Di mana ada kemurnian terbesar, di situ terdapat cinta yang terbesar.” Jadi, semakin hati ini murni, dan kosong dari diri sendiri, maka semakin penuhlah cinta kepada Allah. Bunda Maria yang tersuci, karena dia sangat rendah hati, dan tidak punya kepentingan untuk diri sendiri, dipenuhi dengan kasih ilahi, sehingga “cintanya kepada Allah melebihi cinta semua manusia dan malaikat.”, tulis Santo Bernardinus.
Santo Ricardus memberikan penegasan mengenai pendapat ini dengan mengatakan, “Bunda Emmanuel telah mempraktekkan keutamaan-keutamaan di dalam tingkat kesempurnaan yang paling tinggi. Siapakah orang yang dapat dibandingkan dengan Bunda Maria yang telah melakukan perintah Allah yang pertama, “Engkau akan mencintai Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu?”
Karena cintanya kepada Allah sedemikian mendalam, maka tidak ada suatu cacat apa pun dari cintanya kepada Allah.” “Cinta Bunda Maria kepada Allah sedemikian kuat merasuki jiwanya, sehingga tidak ada satu bagian pun dari dirinya yang tak terisi; dan karena itu Bunda Maria mampu mencintai Allah dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya, dan dengan segenap kekuatannya, dan penuh rahmat.”, kata St. Bernardus.
Allah yang adalah cinta (1Yoh 4: 8) datang ke dunia untuk mengobarkan di dalam hati semua orang api cintakasih Allah; tetapi tidak ada hati yang lebih berkobar daripada hati Bunda Allah, karena hati Bunda Allah itu sungguh murni dari ikatan-ikatan duniawi, dan sungguh dipersiapkan untuk mengobarkan api cintakasih yang terberkati. Santo Sophronius mengatakan bahwa ‘api cinta kasih Allah berkobar dalam hatinya sehingga tak ada ikatan duniawi mana pun yang dapat merasukinya; dia selalu mengobarkan api cinta surgawi seperti dikatakan: “Hati Maria telah menjadi api dari segala api yang menyala, seperti pernah kita baca tentang dia dalam Kidung Agung: “Nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api Tuhan.” (Kid 8: 6), nyala api yang terkabar karena cinta, nyala api yang bersinar karena keteladanan yang diberikan kepada semua orang melalui praktek keutamaan.
Bunda Maria sendiri pernah menyatakan kepada Santa Brigitta: “Aku berpikir tentang Allah saja, dan tidak tentang yang lain; tidak untuk menyenangkan diriku tetapi untuk menyenangkan Allah.” Santo Bernardinus menegaskan bahwa selama hidup di dunia Bunda Maria selalu mencintai Allah: “Pikiran Bunda Maria selalu dibungkus di dalam hasrat untuk mencintai Allah.” Santo Bernardinus menambahkan: “Bunda Maria tidak pernah melalukan sesuatu yang tidak menyenangkan Allah; Bunda Maria mencintai Allah karena dia berpikir bahwa Allah harus dia cintai.”
Bunda Maria pernah mengatakan kepada Santa Brigitta, “Anakku, jika kamu ingin dekat dengan aku, maka cintailah Puteraku.” Maksud Bunda Maria adalah menunjukkan kepada kita tentang Allah yang dia cintai. Karena Maria berada dalam nyala api cinta kepada Allah, maka siapa saja yang mencintai dan mendekati dia, dikobarkan oleh dia dengan cintakasih yang sama. Karena itu Santa Catherina dari Siena menyebut Maria sebagai pembawa nyala api cintakasih Allah. Jika kita ingin terbakar dengan nyala api Bunda Maria, maka kita perlu senantiasa ingin untuk dekat dengan Bunda Maria dengan berdoa.
Dalam ensiklik Deus Caritas Est (art. 41), Paus Benediktus XVI memberikan perhatian khusus pada Bunda Maria yang memberikan keteladanan bagi kita dalam hal keutamaan cintakasih yang menjadi pusat perhatian ensiklik. Paus menulis bahwa Maria, Bunda Tuhan, adalah cermin bagi kita dalam hal kesucian. Dalam Injil Lukas, kita menemukan bagaimana Bunda Maria melayani dengan cintakasih kepada Elisabeth, saudara sepupunya. Di tempat Elisabeth, Bunda Maria tinggal selama 3 bulan (Luk 1: 56), membantu dia pada saat-saat akhir kehamilannya.
“Jiwaku memuliakan Tuhan” (Magnificat anima mea Dominum) adalah kata-kata Maria ketika dia berjumpa dengan Elisabeth. Dengan kata-kata itulah Lukas mau menyatakan bahwa seluruh program hidup Maria adalah tidak untuk menjadikan dirinya pusat perhatian, tetapi untuk memberikan ruang bagi Allah, yang dijumpai dalam doa dan dalam pelayanan kepada sesama, dan karena itu kebaikan masuk ke dalam dunia. Kebesaran Maria terletak pada fakta bahwa dirinya ingin memuliakan Allah, dan bukan memuliakan dirinya sendiri. Maria adalah wanita yang bisa menjadi teladan bagi kita dalam hal mencintai. ***
Sabtu, 03 November 2012
Maria Pengantara Wahyu
Pada tanggal 4 Maret 2012, tepat pada hari ketujuh Novena St. Perawan Maria, yang diselenggarakan oleh Paroki Wonosari bekerjasama dengan CLC-Indonesia, Mgr. Yohanes Pujasumarta berkenan memimpin Perayaan Ekaristi dan memberkati patung Bunda Maria yang baru untuk Gua Maria Tritis, dan memberi nama Gua Maria Tritis itu dengan gelar “Maria Pengantara Wahyu Ilahi”. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
Menjelang Natal 1974, di desa Singkil Wonosari, Rm. Al. Hardjasudarma SJ, mendengar cerita dari seorang anak bahwa di dekat ladangnya terdapat gua alami. Beberapa hari kemudian Rm. Hardjasudarma mendatangi lokasi gua itu dan mengupayakan supaya umat Katolik bisa berdoa di sana. Pada Oktober 1977, Rm. S. Zahnweh SJ menempatkan patung Maria di gua itu, dan memberkati tempat ini sebagai tempat ziarah dengan nama Gua Maria Tritis. Nama “Tritis” sendiri berkaitan dengan keadaan gua yang selalu meneteskan air dari langit-langitnya.
“Saya ingin membenahi Gua Maria Tritis dengan menggali sejarah kebudayaan supaya mendapatkan makna yang lebih mendalam mengenai keberadaan Gua Maria Tritis ini sebagai tempat ziarah. Gua Maria Tritis ternyata pernah berperan dalam sejarah karena menjadi jembatan Wahyu antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Mataram Yogyakarta”, kata Rm. SP. Bambang Ponco Santosa SJ, pastor kepala Paroki Wonosari, menerangkan.
“Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya tahun 1294, dengan membuka hutan Tarik di sekitar Trowulan, Jawa Timur. Majapahit mengalami kejayaan di bawah kepemimpinan Prabu Hayam Wuruk yang dibantu oleh Mahapatih Gajah Mada. Dalam Kitab Negara Kertagama, karya Empu Prapanca, dilukiskan wilayah Nusantara yang pemerintahannya tersusun dengan rapi dan dalam Kitab Sutasoma karya Empu Tantular dilukiskan Negara kesatuan dengan semangat Bhineka Tunggal Ika,” jelas Mgr. Yohanes Pujasumarta tentang seluk beluk sejarah Gua Maria Tritis.
“Pada akhir abad 15 Majapahit runtuh. Raja Majapahit terakhir, yaitu Prabu Brawijaya V menikahi seorang putri Cina Palembang yang memeluk Islam menjadi selirnya. Tahun 1480 anak mereka, yaitu Adipati Demak yang bernama Raden Patah memisahkan diri dari Majapahit dan membangun kerajaan atas dasar ajaran Islam. Raden Patah naik tahta di Demak dengan gelar Sultan Ayah Alam Akbar I. Demak semakin kuat karena dukungan cendekiawan yang tergabung dalam Dewan Wali Sanga,” jelas Bapa Uskup Pujasumarta.
“Orang-orang yang tidak mau menerima pemerintahan Demak melarikan diri sampai jauh, bahkan ada yang sampai ke Gunung Kidul. Tiga prajurit yang menolak pemerintahan Demak di bawah Raden Patah dan yang tetap setia kepada Majapahit, melarikan diri sampai ke Gunung Kidul. Mereka itu adalah Ki Ageng Giring, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Bondan Surati. Mereka bertapa di sebuah gua untuk mencari Wahyu yang pindah dari Majapahit. Gua tempat bertapa tiga prajurit Majapahit itulah yang sekarang menjadi Gua Maria Tritis,” tambahnya.
“Di gua Tritis ini Ki Ageng Pemanahan mendapatkan Wahyu tentang pewaris Kerajaan Majapahit. Meski Ki Ageng Pemanahan sudah wafat sebelum kerajaan Mataram berdiri pada tahun 1575, dia telah berhasil meletakkan dasar-dasar bagi kehidupan Kerajaan Mataram sebagaimana Kerajaan Majapahit yang bersatu di atas semangat Bhineka Tunggal Ika. Kepemimpinan Kerajaan Mataram diteruskan oleh Sutan Hadiwijaya sebagai raja pertama yang bergelar Panembahan Senopati (1575-1601). Raja Mataram inilah yang menjadi pewaris Wahyu Kerajaan Majapahit,” jelas Bapa Uskup Pujasumarta.
Maria Pengantara Wahyu Ilahi
Atas dasar latar belakang budaya setempat, maka Maria di Gua Tritis yang selama ini tidak diberi gelar, kemudian diberi gelar Maria Pengantara Wahyu Ilahi. Tangan Maria yang dilukiskan terbuka menandakan kesiapan-Nya untuk menyalurkan rahmat atau wahyu Allah kepada siapa saja yang memohon kepada Allah dengan pengantaraan-Nya. Maria telah memberikan sang Penebus, Sumber segala rahmat, kepada dunia, dan dengan jalan ini Maria adalah saluran segala rahmat.
Istilah “Pengantara” (Mediatrix) untuk Maria, pertama kalinya dipakai oleh Santo Efraim (ca. 306-373), yang menyatakan: “Aku menyebut engkau Pengantara dunia. Aku mohon perlindunganmu di saat-saat aku membutuhkannya.” Di dalam salah satu kotbahnya, Santo Efraim pernah menyatakan Maria sebagai “penyalur segala pemberian”. Santo Yohanes Vianney pernah mengatakan: “Semua orang kudus memiliki devosi yang kuat terhadap Bunda Maria. Tidak ada rahmat yang datang dari surga tanpa melalui tangan Maria. Kita tidak dapat masuk ke suatu rumah tanpa berbicara kepada penjaga pintu rumah. Santa Perawan Maria yang tersuci adalah penjaga pintu surga.”
Santo Alfonsus Liguori mengatakan: “Allah yang memberikan Yesus Kristus kepada kita, menghendaki agar segala rahmat yang ada tetap ada dan agar rahmat itu disalurkan kepada manusia sampai akhir dunia melalui jasa dan kebaikan Yesus Kristus, dan supaya disalurkan oleh tangan dan melalui pengantaraan Maria.”
Paus Pius X menyebut Maria sebagai penyalur segala pemberian. Paus Benediktus XV menyebut Maria sebagai pengantara segala rahmat. Paus Leo XIII mengatakan di dalam ensiklik tentang Rosario“Octobrae Mensae” (1891): “Dari warisan segala rahmat, yang dibawa oleh Yesus, tidak ada satu pun rahmat yang datang kepada kita kecuali melalui Maria, sesuai dengan kehendak Allah, sehingga seperti tidak seorang pun bisa mendekati Bapa yang Mahatinggi kecuali melalui Putera-Nya, demikian juga tidak seorang pun dapat mendekati Kristus kecuali melalui Bunda-Nya.”
Paus Pius XII dalam ensiklik “Ingravescentibus Malis” (1937), sepakat dengan pendapat St Bernardus dari Clairvaux, dengan menyatakan: “Jadi, inilah kehendak Allah, yakni bahwa kita harus mendapatkan segala sesuatu melalui Maria”. St Bernardus dari Clairvaux, yang wafat tahun 1153, pernah menyatakan tentang Maria, demikian: “Allah menghendaki bahwa kita tidak akan memiliki sesuatu, kecuali melalui tangan Maria.”
“Pada hari ini kita bersyukur kepada Tuhan karena Gereja boleh berkembang di tempat ini”, kata Mgr. Yohanes Pujasumarta dalam kotbahnya, 4 Maret 2012 di Gua Maria Tritis, sebelum memberkati patung Maria yang baru. “Gereja telah berkembang di tanah Jawa ini, berkat izin dari Raja Mataram Hamengku Buwono VIII, pada tahun 1914. Karena keterbukaan hati dari Raja Mataram ini Gereja di tanah Jawa berkembang sebagai bagian dari Gereja Kristus di dunia. Itulah sebabnya tahun 1939 Gereja mengadakan Kongres Ekaristi pertama yang diprakrasai oleh Mgr. Willekens SJ, untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas perkembangan Gereja setelah 25 tahun berdiri di bawah Vikariat Apostolik Batavia.”
Mgr. Yohanes Pujasumarta mengharapkan bahwa tempat ini bisa menjadi tempat yang terbuka, tempat untuk berdoa bagi siapa saja: “Yang menarik perhatian kita adalah mengapa Hamengku Buwono VIII dan raja-raja Mataram pada waktu itu punya hati yang terbuka bagi tumbuh berkembangannya misi Gereja di tempat ini? Banyak kerajaan buatan manusia berkembang dan selalu runtuh. Kerajaan Majapahit bertahan lama dan menjadi termasyur karena rajanya mempunyai sikap yang terbuka. Kata kuncinya ditemukan oleh Empu Tantular “Bhineka Tunggal Ika”. Atas dasar prinsip itu, para raja Majapahit membiarkan agama-agama tumbuh bersama. Majapahit runtuh ketika prinsip Bhineka Tunggal Ika disingkirkan dan bergeser ke Kerajaan Demak. Ada perbedaan ideologi dan ada perbedaan pendapat itu sesuatu hal yang wajar dalam menghadapi pilihan-pilihan hidup, supaya ada pencerahan baru: bagaimana wahyu Kerajaan Majapahit dapat ditemukan kembali.”
“Belajar dari tradisi budaya, kita ingin Gua Maria Tritis ini menjadi tempat yang terbuka bagi siapa saja, tempat berdoa, tempat mencari tahu tentang kehendak Allah, supaya melalui Bunda Maria semakin banyak orang mengenal Yesus, mencintai dan melayani-Nya. Benih-benih sabda (semina verbi) yang kita temukan dalam budaya, harus tumbuh, berkembang, dan digenapi dalam diri Yesus Kristus”, pesan Mgr. Yohanes Pujasumarta dalam kotbahnya. ***
Menjelang Natal 1974, di desa Singkil Wonosari, Rm. Al. Hardjasudarma SJ, mendengar cerita dari seorang anak bahwa di dekat ladangnya terdapat gua alami. Beberapa hari kemudian Rm. Hardjasudarma mendatangi lokasi gua itu dan mengupayakan supaya umat Katolik bisa berdoa di sana. Pada Oktober 1977, Rm. S. Zahnweh SJ menempatkan patung Maria di gua itu, dan memberkati tempat ini sebagai tempat ziarah dengan nama Gua Maria Tritis. Nama “Tritis” sendiri berkaitan dengan keadaan gua yang selalu meneteskan air dari langit-langitnya.
“Saya ingin membenahi Gua Maria Tritis dengan menggali sejarah kebudayaan supaya mendapatkan makna yang lebih mendalam mengenai keberadaan Gua Maria Tritis ini sebagai tempat ziarah. Gua Maria Tritis ternyata pernah berperan dalam sejarah karena menjadi jembatan Wahyu antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Mataram Yogyakarta”, kata Rm. SP. Bambang Ponco Santosa SJ, pastor kepala Paroki Wonosari, menerangkan.
“Majapahit didirikan oleh Raden Wijaya tahun 1294, dengan membuka hutan Tarik di sekitar Trowulan, Jawa Timur. Majapahit mengalami kejayaan di bawah kepemimpinan Prabu Hayam Wuruk yang dibantu oleh Mahapatih Gajah Mada. Dalam Kitab Negara Kertagama, karya Empu Prapanca, dilukiskan wilayah Nusantara yang pemerintahannya tersusun dengan rapi dan dalam Kitab Sutasoma karya Empu Tantular dilukiskan Negara kesatuan dengan semangat Bhineka Tunggal Ika,” jelas Mgr. Yohanes Pujasumarta tentang seluk beluk sejarah Gua Maria Tritis.
“Pada akhir abad 15 Majapahit runtuh. Raja Majapahit terakhir, yaitu Prabu Brawijaya V menikahi seorang putri Cina Palembang yang memeluk Islam menjadi selirnya. Tahun 1480 anak mereka, yaitu Adipati Demak yang bernama Raden Patah memisahkan diri dari Majapahit dan membangun kerajaan atas dasar ajaran Islam. Raden Patah naik tahta di Demak dengan gelar Sultan Ayah Alam Akbar I. Demak semakin kuat karena dukungan cendekiawan yang tergabung dalam Dewan Wali Sanga,” jelas Bapa Uskup Pujasumarta.
“Orang-orang yang tidak mau menerima pemerintahan Demak melarikan diri sampai jauh, bahkan ada yang sampai ke Gunung Kidul. Tiga prajurit yang menolak pemerintahan Demak di bawah Raden Patah dan yang tetap setia kepada Majapahit, melarikan diri sampai ke Gunung Kidul. Mereka itu adalah Ki Ageng Giring, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Bondan Surati. Mereka bertapa di sebuah gua untuk mencari Wahyu yang pindah dari Majapahit. Gua tempat bertapa tiga prajurit Majapahit itulah yang sekarang menjadi Gua Maria Tritis,” tambahnya.
“Di gua Tritis ini Ki Ageng Pemanahan mendapatkan Wahyu tentang pewaris Kerajaan Majapahit. Meski Ki Ageng Pemanahan sudah wafat sebelum kerajaan Mataram berdiri pada tahun 1575, dia telah berhasil meletakkan dasar-dasar bagi kehidupan Kerajaan Mataram sebagaimana Kerajaan Majapahit yang bersatu di atas semangat Bhineka Tunggal Ika. Kepemimpinan Kerajaan Mataram diteruskan oleh Sutan Hadiwijaya sebagai raja pertama yang bergelar Panembahan Senopati (1575-1601). Raja Mataram inilah yang menjadi pewaris Wahyu Kerajaan Majapahit,” jelas Bapa Uskup Pujasumarta.
Maria Pengantara Wahyu Ilahi
Atas dasar latar belakang budaya setempat, maka Maria di Gua Tritis yang selama ini tidak diberi gelar, kemudian diberi gelar Maria Pengantara Wahyu Ilahi. Tangan Maria yang dilukiskan terbuka menandakan kesiapan-Nya untuk menyalurkan rahmat atau wahyu Allah kepada siapa saja yang memohon kepada Allah dengan pengantaraan-Nya. Maria telah memberikan sang Penebus, Sumber segala rahmat, kepada dunia, dan dengan jalan ini Maria adalah saluran segala rahmat.
Istilah “Pengantara” (Mediatrix) untuk Maria, pertama kalinya dipakai oleh Santo Efraim (ca. 306-373), yang menyatakan: “Aku menyebut engkau Pengantara dunia. Aku mohon perlindunganmu di saat-saat aku membutuhkannya.” Di dalam salah satu kotbahnya, Santo Efraim pernah menyatakan Maria sebagai “penyalur segala pemberian”. Santo Yohanes Vianney pernah mengatakan: “Semua orang kudus memiliki devosi yang kuat terhadap Bunda Maria. Tidak ada rahmat yang datang dari surga tanpa melalui tangan Maria. Kita tidak dapat masuk ke suatu rumah tanpa berbicara kepada penjaga pintu rumah. Santa Perawan Maria yang tersuci adalah penjaga pintu surga.”
Santo Alfonsus Liguori mengatakan: “Allah yang memberikan Yesus Kristus kepada kita, menghendaki agar segala rahmat yang ada tetap ada dan agar rahmat itu disalurkan kepada manusia sampai akhir dunia melalui jasa dan kebaikan Yesus Kristus, dan supaya disalurkan oleh tangan dan melalui pengantaraan Maria.”
Paus Pius X menyebut Maria sebagai penyalur segala pemberian. Paus Benediktus XV menyebut Maria sebagai pengantara segala rahmat. Paus Leo XIII mengatakan di dalam ensiklik tentang Rosario“Octobrae Mensae” (1891): “Dari warisan segala rahmat, yang dibawa oleh Yesus, tidak ada satu pun rahmat yang datang kepada kita kecuali melalui Maria, sesuai dengan kehendak Allah, sehingga seperti tidak seorang pun bisa mendekati Bapa yang Mahatinggi kecuali melalui Putera-Nya, demikian juga tidak seorang pun dapat mendekati Kristus kecuali melalui Bunda-Nya.”
Paus Pius XII dalam ensiklik “Ingravescentibus Malis” (1937), sepakat dengan pendapat St Bernardus dari Clairvaux, dengan menyatakan: “Jadi, inilah kehendak Allah, yakni bahwa kita harus mendapatkan segala sesuatu melalui Maria”. St Bernardus dari Clairvaux, yang wafat tahun 1153, pernah menyatakan tentang Maria, demikian: “Allah menghendaki bahwa kita tidak akan memiliki sesuatu, kecuali melalui tangan Maria.”
“Pada hari ini kita bersyukur kepada Tuhan karena Gereja boleh berkembang di tempat ini”, kata Mgr. Yohanes Pujasumarta dalam kotbahnya, 4 Maret 2012 di Gua Maria Tritis, sebelum memberkati patung Maria yang baru. “Gereja telah berkembang di tanah Jawa ini, berkat izin dari Raja Mataram Hamengku Buwono VIII, pada tahun 1914. Karena keterbukaan hati dari Raja Mataram ini Gereja di tanah Jawa berkembang sebagai bagian dari Gereja Kristus di dunia. Itulah sebabnya tahun 1939 Gereja mengadakan Kongres Ekaristi pertama yang diprakrasai oleh Mgr. Willekens SJ, untuk mengucap syukur kepada Tuhan atas perkembangan Gereja setelah 25 tahun berdiri di bawah Vikariat Apostolik Batavia.”
Mgr. Yohanes Pujasumarta mengharapkan bahwa tempat ini bisa menjadi tempat yang terbuka, tempat untuk berdoa bagi siapa saja: “Yang menarik perhatian kita adalah mengapa Hamengku Buwono VIII dan raja-raja Mataram pada waktu itu punya hati yang terbuka bagi tumbuh berkembangannya misi Gereja di tempat ini? Banyak kerajaan buatan manusia berkembang dan selalu runtuh. Kerajaan Majapahit bertahan lama dan menjadi termasyur karena rajanya mempunyai sikap yang terbuka. Kata kuncinya ditemukan oleh Empu Tantular “Bhineka Tunggal Ika”. Atas dasar prinsip itu, para raja Majapahit membiarkan agama-agama tumbuh bersama. Majapahit runtuh ketika prinsip Bhineka Tunggal Ika disingkirkan dan bergeser ke Kerajaan Demak. Ada perbedaan ideologi dan ada perbedaan pendapat itu sesuatu hal yang wajar dalam menghadapi pilihan-pilihan hidup, supaya ada pencerahan baru: bagaimana wahyu Kerajaan Majapahit dapat ditemukan kembali.”
“Belajar dari tradisi budaya, kita ingin Gua Maria Tritis ini menjadi tempat yang terbuka bagi siapa saja, tempat berdoa, tempat mencari tahu tentang kehendak Allah, supaya melalui Bunda Maria semakin banyak orang mengenal Yesus, mencintai dan melayani-Nya. Benih-benih sabda (semina verbi) yang kita temukan dalam budaya, harus tumbuh, berkembang, dan digenapi dalam diri Yesus Kristus”, pesan Mgr. Yohanes Pujasumarta dalam kotbahnya. ***
Langganan:
Postingan (Atom)







