Saudara-saudari terkasih, pada hari ini kita sampai pada rangkaian Novena hari yang keenam, dengan tema umum: “Kokoh dalam Iman bersama Maria”. Tema yang diangkat dalam doa Novena ini adalah belajar dari Bunda Maria tentang keutamaan “kemurnian.” Setelah terjatuhnya Adam ke dalam dosa, manusia bersikap memberontak terhadap akal. Sebagai akibatnya, kemurnian menjadi keutamaan yang paling sulit untuk dipraktekkan. Santo Agustinus mengatakan: “Di antara konflik-konflik batin yang terjadi, konflik yang paling sulit adalah konflik yang berkait dengan kemurnian. Peperangan dalam hal kemurnian itu terjadi setiap hari, dan kemenangan jarang diperoleh.
Namun, mudah-mudahan Allah dipuji sepanjang masa karena di dalam diri Maria Dia telah memberikan kepada kita keteladanan dalam hal kemurnian itu. “Maria disebut Perawan di antara para perawan,” kata Santo Albertus Agung. Tanpa nasihat dan keteladanan orang lain, Maria adalah wanita pertama yang mampu mempersembahkan keperawanannya kepada Allah.” Dengan cara itu, Maria mengarahkan kepada Allah siapa saja yang bisa meneladan keperawanannya, seperti pernah dikatakan oleh nabi Daud: “Dengan pakaian bersulam berwarna-warna ia dibawa kepada raja; anak-anak dara mengikutinya, yakni teman-temannya, yang didatangkan untuk dia.” (Mzm 45: 15).
Tanpa nasihat dan tanpa teladan! Kata Santo Bernardus: “Ya, Perawan, siapakah orang yang telah mengajarmu untuk menyenangkan Allah dengan keperawananmu dan membawa kehidupan malaikat di atas bumi?” Santo Sophronius menjawab: “Allah telah memilih keperawanan murni bagi ibu-Nya, sehingga dia bisa menjadi teladan kemurnian bagi setiap orang.” Itulah alasannya mengapa Santo Ambrosius menyebut Maria sebagai “teladan dalam hal keperawanan”.
Karena kemurnian Maria, maka Roh Kudus menyatakan bahwa Maria itu cantik, yakni secantik kuda betina: Pipi-pipimu itu seindah pipi kuda betina Firaun (bdk. Kid 1: 9). “Seperti kuda betina yang indah pipinya” adalah sebutan yang diberikan oleh Aponius kepada Maria. Dengan alasan yang hampir sama, Maria juga disebut sebagai bunga bakung: “Seperti bunga bakung di antara duri-duri, demikianlah manisku di antara gadis-gadis.” (Kid 2: 2). Denis, seorang biarawan Karthusian, pernah mengatakan: “Maria dibandingkan dengan bunga bakung di antara duri-duri karena gadis-gadis yang lain adalah duri, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, sementara Maria sang Perawan yang tersuci itu tidaklah begitu, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.”
Santo Thomas menegaskan perihal kemurnian Bunda Maria ini dengan mengatakan bahwa keelokan Santa Perawan Maria, mendorong siapa saja yang melihatnya ke arah kemurnian. Santo Hieronimus menyatakan bahwa Santo Yusup tetap perawan sebagai akibat dari hidup bersama dengan Maria. Melawan ajaran Helvidius yang menyangkal keperawanan Maria, Santo Hieronimus menyatakan: “Kamu mengatakan bahwa Maria tidak perawan. Saya mengatakan bahwa Maria tidak hanya tetap perawan, tetapi bahkan Yusup pun tetap perawan karena Maria.”
Santo Gregorius dari Nyssa mengatakan bahwa Bunda Maria yang tersuci mencintai kemurnian dan menjaganya sedemikian rupa sehingga dia diperkenankan untuk meninggalkan martabat dirinya sebagai Bunda Allah. Hal ini merupakan bukti atas jawabannya terhadap malaikat Gabriel: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum bersuami”? (Luk 1: 34). Dan dari kata-kata yang dia tambahkan kemudian: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1: 38), yang menyatakan bahwa dia menerima pernyataan malaikat dengan segala kondisinya, yang telah menegaskan bahwa dia harus menjadi seorang ibu yang akan berada dalam naungan Roh Kudus semata.”
Santo Ambrosius mengatakan bahwa “barangsiapa menjaga kemurnian, dia adalah malaikat; barangspai menghilangkan kemurnian dia adalah setan.” Tuhan kita menegaskan bahwa siapa saja yang hidupnya murni dia akan menjadi malaikat: “Mereka akan hidup seperti malaikat di surga.” (Mat 22: 30).
Seperti telah dikatakan oleh Santo Agustinus bahwa kemenangan dalam memperjuangkan kemurnian ini jarang diperoleh. Mengapa? Karena sarana-sarana untuk memperoleh kemenangan atas kemurnian itu tidak dipakai. Menurut Santo Robertus Bellarminus dan para ahli di bidang hidup rohani, sarana-sarana untuk memperjuangkan kemenangan atas kemurnian itu adalah: berpuasa, menghindarkan diri dari kesempatan berbuat dosa, dan berdoa.
Sarana yang pertama adalah puasa. Yang dimaksud dengan puasa terutama adalah matiraga, mematikan hawa nafsu. Meskipun Bunda Maria dipenuhi dengan rahmat Allah, dia tidak pernah berhenti untuk melakukan matiraga. Menurut pendapat Santo Epifanius dan Santo Yohanes Damascena, penampilan Maria senantiasa sederhana, prasaja, dan dia tidak pernah menatap mata orang lain. Dia tidak berlagak; bahkan sejak masa kanak-kanak. Setiap orang yang melihatnya mengatakan bahwa Maria itu cantik karena sikap hati-hatinya. Santo Lukas menyatakan bahwa ketika Maria datang mengunjungi Elisabeth, Maria pergi dengan tergesa-gesa (Luk 1: 39), untuk menghindarkan diri dari tatapan dan kejaran publik. Philibertus menyatakan bahwa ada seorang saksi bernama Felix yang menyatakan bahwa Maria senantiasa memperhatikan soal makan. Ketika masih bayi, Maria hanya menyusu sekali sehari. Santo Gregorius dari Tours menyatakan bahwa Maria senantiasa melakukan puasa dalam hidupnya. Santo Bonaventura menjelaskan hal ini dengan mengatakan: “Maria tidak pernah menemukan sedemikian banyak rahmat jika dia tidak menyederhanakan makanannya, karena rahmat dan rakus tidak akan pernah bisa berjalan seiring.” Singkatnya, Maria melakukan matiraga dalam segala hal, sehingga sungguh benar bila dikatakan tentang dia: “Tanganku berteteskan mur” (Kid 5: 5).
Sarana yang kedua adalah “menghindarkan diri dari peluang untuk berbuat dosa”: “Siapa membenci pertanggungan, amanlah dia.” (Ams 11: 15). Maria bergegas secepat mungkin untuk menghindarkan diri dari pengelihatan orang. Santo Lukas pernah menyatakan bahwa ketika Maria berkunjung ke rumah Elisabeth, dia pergi tergesa-gesa untuk segera sampai di desa daerah perbukitan itu. Seorang penulis memperhatikan kepada suatu fakta bahwa Bunda Maria meninggalkan Elisabeth sebelum Yohanes Pembaptis lahir. Maria tinggal bersama Elisabeth hanya selama 3 bulan dan kemudian pulang ke rumah sendiri. Mengapa Maria tidak menunggu sampai Yohanes Pembaptis lahir? Karena dia ingin menghindari kebisingan dan daya tarik yang biasa menyertai sebuah peristiwa kelahiran seperti itu.
Sarana ketiga adalah doa. Orang bijak pernah mengatakan: “Setelah aku tahu bahwa aku tidak akan memiliki kebijaksanaan, kalau tidak dianugerahkan oleh Allah, maka aku akan menghadap Tuhan dan berdoa kepada-Nya.” (Keb 8: 21). Maria menyatakan diri kepada Elisabeth Hungaria bahwa dia tidak menerima keutamaan itu tanpa usaha,k dan tanpa doa yang berkelanjutan. Santo Yohanes Damascena menyebut Bunda yang tak Bercela itu sebagai “pencinta kemurnian”. Dia tidak dapat menahan orang-orang yang puas dengan hidup tidak murni. Jika orang memanggil Maria untuk dikirim dari hidup yang tidak murni, dia pasti akan membantu dirinya. Siapa saja yang dipanggil adalah dipanggil oleh Maria dengan cara yang meyakinkan. Yohanes dari Avila biasa mengatakan bahwa banyak orang memerangi pencobaan melalui devosi kepada Bunda Maria yang dikandung tanpa noda dosa.
Ya Bunda Maria, engkau merpati yang paling murni, betapa banyak orang yang sekarang tinggal di neraka karena hidupnya tidak murni. Bunda Maria yang dipenuhi oleh banyak rahmat dari Allah, perkenankan kami untuk menerima rahmat dari Allah sehingga kamu dapat mencari perlindungan kepadamu ketika kami berada dalam pencobaan, dan perkenankan kami untuk menyebut namamu, dengan mengatakan: “Ya Maria, Bunda kami, bantulah kami anakmu!”. Amin.
Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja
Selasa, 15 Januari 2013
Kamis, 27 Desember 2012
Doa Penderita Kanker kepada St. Peregrinus
St. Peregrinus lahir pada tahun 1260 di Forli, Italia dari sebuah keluarga yang saleh. Ia mengalami kehidupan yang menyenangkan ketika masih muda, dan secara politik berlawanan dengan Bapa Suci. Setelah mengalami pengampunan dari St. Philip Benizi ia berubah dalam kehidupan dan mulai bergabung dengan ordo Servite.
Dia ditahbiskan menjadi imam dan kemudian pulang ke rumah untuk mendirikan komunitas yang diberi nama Servite. Mereka dikenal karena kegiatan berkotbah, bermatiraga, dan menjadi pembimbing professional. Ia sembuh dari kanker setelah mendapatkan visi dari Tuhan Yesus Kristus yang bergantung di kayu salib. Ia meninggal pada tahun 1345 dan dikanonisasi pada tahun 1726. Dia pelindung bagi para pasien penderita kanker.
Untuk mereka yang sedang terkena gangguan kanker, kanker itu suatu penyakit yang tetap memiliki keterbatasan. Kanker itu tidak dapat melumpuhkan cinta, tidak dapat menciutkan harapan, tidak dapat menggerogoti iman, tidak dapat melenyapkan damai, tidak dapat merusak kepercayaan, tidak dapat menutup ingatan, tidak dapat membungkam keberanian, tidak dapat membelenggu jiwa, tidak dapat menyingkirkan kehidupan abadi, tidak dapat menurunkan semangat, tidak dapat mengurangi kekuatan Kebangkitan.
Doa kepada St. Peregrinus bagi Penderita Kanker
Ya Santo Peregrinus, aku membutuhkan bantuanmu. Aku merasa tidak menentu dalam hari-hari hidupku sekarang dan di sini. Penyakit yang serius telah membuat aku rindu akan cintakasih Allah. Bantulah aku untuk bisa meneladani daya tahan imanmu ketika engkau menghadapi ganasnya kanker dan pedihnya operasi. Perkenankanlah aku untuk mempercayai Tuhan tentang jalan-jalan yang mesti aku lalui pada saat-saat ketika aku susah dan stress. Aku ingin sembuh, tetapi saat ini aku meminta kepada Allah kekuatan agar aku mampu menanggung salib di dalam hidupku. Aku mencari kekuatan kehadiran Allah di dalam hidupku saat aku dalam keadaan susah, lelah, sakit, cemas dan khawatir, yang aku alami sekarang ini. Ya Santo Peregrinus, jadilah engkau inspirasi bagiku dan jadilah engkau perantara bagi permohonan-permohonanku yang membutuhkan rahmat dari Allah yang Mahakasih. Amin.
Dia ditahbiskan menjadi imam dan kemudian pulang ke rumah untuk mendirikan komunitas yang diberi nama Servite. Mereka dikenal karena kegiatan berkotbah, bermatiraga, dan menjadi pembimbing professional. Ia sembuh dari kanker setelah mendapatkan visi dari Tuhan Yesus Kristus yang bergantung di kayu salib. Ia meninggal pada tahun 1345 dan dikanonisasi pada tahun 1726. Dia pelindung bagi para pasien penderita kanker.
Untuk mereka yang sedang terkena gangguan kanker, kanker itu suatu penyakit yang tetap memiliki keterbatasan. Kanker itu tidak dapat melumpuhkan cinta, tidak dapat menciutkan harapan, tidak dapat menggerogoti iman, tidak dapat melenyapkan damai, tidak dapat merusak kepercayaan, tidak dapat menutup ingatan, tidak dapat membungkam keberanian, tidak dapat membelenggu jiwa, tidak dapat menyingkirkan kehidupan abadi, tidak dapat menurunkan semangat, tidak dapat mengurangi kekuatan Kebangkitan.
Doa kepada St. Peregrinus bagi Penderita Kanker
Ya Santo Peregrinus, aku membutuhkan bantuanmu. Aku merasa tidak menentu dalam hari-hari hidupku sekarang dan di sini. Penyakit yang serius telah membuat aku rindu akan cintakasih Allah. Bantulah aku untuk bisa meneladani daya tahan imanmu ketika engkau menghadapi ganasnya kanker dan pedihnya operasi. Perkenankanlah aku untuk mempercayai Tuhan tentang jalan-jalan yang mesti aku lalui pada saat-saat ketika aku susah dan stress. Aku ingin sembuh, tetapi saat ini aku meminta kepada Allah kekuatan agar aku mampu menanggung salib di dalam hidupku. Aku mencari kekuatan kehadiran Allah di dalam hidupku saat aku dalam keadaan susah, lelah, sakit, cemas dan khawatir, yang aku alami sekarang ini. Ya Santo Peregrinus, jadilah engkau inspirasi bagiku dan jadilah engkau perantara bagi permohonan-permohonanku yang membutuhkan rahmat dari Allah yang Mahakasih. Amin.
Mencintai Sesama: Belajar dari Bunda Maria
Saudara-saudari terkasih, pada hari Minggu, 6 Januari 2013 nanti, umat Katolik yang mengikuti rangkaian Novena di Gua Maria Tritis sudah sampai pada rangkaian Novena hari kelima. Tema yang kita ambil untuk doa Novena dan Misa hari itu adalah “Belajar dari Bunda Maria tentang Keutamaan “Mencintai Sesama.”
Cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama diperintahkan oleh
Allah di dalam satu rumusan kalimat yang sama. Dan perintah yang kita terima
dari Allah itu adalah bahwa barangsiapa mencintai Allah harus mencintai
sesamanya juga (1Yoh 4: 21). Santo Thomas mengatakan bahwa alasan untuk hal ini
adalah bahwa pribadi yang mencintai Allah mencintai semua orang yang dicintai
oleh Allah.
Pada suatu hari, Santa Catharina dari Genoa menyatakan: “Tuhan,
Engkau mengatakan bahwa aku harus mencintai sesamaku, tetapi aku dapat
mencintai tak seorang pun kecuali Engkau.” Allah menanggapi pernyataan Santa
Catharina itu dengan mengatakan: “Siapa saja yang mencintai Aku mencintai siapa
saja yang Aku cintai.” Tetapi karena dulu tidak pernah ada orang yang mencintai
dan juga tidak akan pernah ada orang yang mencintai Allah seperti Maria
mencintai Allah, maka dulu tidak ada orang yang mencintai sesama dan tidak akan
pernah ada orang yang dapat mencintai sesamanya seperti Maria mencintai
sesamanya.
Ketika Bunda Maria masih berada di dunia, cintakasihnya begitu
besar sehingga dia bisa membantu banyak orang yang membutuhkan tanpa diminta.
Kita melihat hal ini dengan jelas pada peristiwa perkawinan di Kana, ketika
Bunda Maria meminta kepada Yesus karena didesak oleh situasi yang
menggelisahkan keluarga yang sedang berpesta: “Mereka kehabisan anggur” (Yoh 2:
3). Bunda Maria meminta Yesus untuk segera membuat mukjizat. Betapa cepatnya
dia ingin selalu bertindak ketika sesamanya membutuhkan. Ketika dia pergi
berkunjung ke rumah Elisabeth untuk memenuhi tugas cintakasih, dia pergi ke
desa yang berada di perbukitan dengan terburu-buru (Luk 1: 30).
Tetapi Maria tidak bisa menunjukkan secara lebih penuh
cintakasihnya daripada yang sudah dia kerjakan ketika dia mempersembahkan kematian
puteranya demi keselamatan kita. Melihat hal itu, Santo Bonaventura mengatakan:
“Maria begitu mencintai dunia sehingga dia mempersembahkan puteranya sendiri
satu-satunya.” Hal ini juga memberikan inspirasi bagi Santo Anselmus untuk
menyatakan: “Ya Bunda Maria yang terberkati, kemurnianmu mengatasi kemurnian
para malaikat, dan cintakasihmu melebihi cintakasih para santo-santa.” “Dan
cintakasih Maria untuk kita tak berhenti meski Bunda Maria sudah berada di
surga,” kata Santo Bonaventura. “Sebaliknya, cintakasihnya makin bertumbuh
karena dia sekarang berada di dalam posisi yang lebih baik untuk melihat
kesusahan manusia.”
Karena itu, Santo Bonaventura menambahkan dengan mengatakan
bahwa belas kasih Bunda Maria kepada orang-orang yang mengalami kesusahan
sungguh luar biasa ketika dia masih berada di dunia, tetapi hal itu masih jauh
dari luar biasa bila dibandingkan dengan belas kasih yang dilakukan oleh Bunda
Maria sekarang ketika dia sudah berada dan menjadi Ratu di surga.
Santa Agnes menegaskan kepada Santa Bridgita bahwa tidak ada
seorang pun yang pernah berdoa meminta rahmat tidak menerima rahmat itu melalui
belas kasih Bunda Maria. Kita sungguh malang dan tidak beruntung jika kita
tidak meminta kepada Bunda Maria supaya dia menjadi pengantara bagi kita. Yesus
sendiri, seperti dikatakan kepada Santa Bridgita, mengatakan: “Jika kita tidak
berdoa dan memohon kepada Bunda Maria, maka tidak ada harapan untuk dapat
memperoleh belas kasih.”
“Terberkatilah orang yang mendengarkan perintah-perintah-Ku,
orang-orang yang meneladan cintakasih-Ku, dan mempraktekkan bahwa cintakasih
kepada sesama,” kata Yesus kepada Maria, “Berbahagialah orang yang mendengarkan
daku … Berbahagialah orang yang setiap hari menunggu pada pintuku, dan menjaga
tiang pintu gerbangku.” (Amsal 8: 33-34).
Santo Gregorius Nazianzen memberikan keyakinan kepada kita
bahwa tidak ada jalan yang lebih baik kecuali jalan yang membuat Maria
mencintai kita, yaitu jalan mempraktekkan cintakasih kepada sesama. Pernyataan
Santo Gregorius itu persis sama dengan apa yang dikatakan Yesus kepada kita,
“Berbelaskasihlah sebab Bapa itu berbelas kasih. Demikian juga Maria mengatakan
kepada kita, “Berbelaskasihlah sebab Ibumu berbelas kasih.”
Kita menerima bahwa cintakasih kepada sesama akan menjadi
ukuran yang dipakai Allah dan Maria, yang ditunjukkan kepada kita ketika kita
membaca kembali sabda Tuhan berikut ini: “Berilah dan kamu akan diberi: suatu
takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan
dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan
diukurkan kepadamu.” (Luk 6: 38).
Santo Methodius pernah mengatakan: “Jika orang memberikan
sesuatu kepada orang miskin, dia akan mendapatkan Firdaus sebagai imbalan.”
Santo Paulus menambahkan bahwa cintakasih kepada sesama membuat kita bahagia,
baik bahagia di dunia maupun bahagia di dunia yang akan datang. Kebajikan
menguntungkan dalam segala aspek, karena hal itu sudah merupakan janji bahwa
cinta kepada sesama membawa kebahagiaan bagi hidup yang sekarang dan bagi hidup
yang akan datang (1Tim 4: 8).
Santo Yohanes Chrysostomus mengomentari teks Kitab Amsal “Siapa
menaruh belaskasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan
membalas perbuatannya itu,” (Amsal 19: 17), dengan mengatakan: “Barangsiapa
membantu orang yang membutuhkan, dia telah membuat Allah punya hutang padanya.”
Maka, pada hari ini, kita secara khusus memohon kepada Allah
agar kita diperkenankan untuk meneladan Bunda Maria dalam hal keutamaan
mencintai.
Ya Bunda Maria yang berbelas kasih, engkau
memiliki perhatian yang sungguh besar pada siapa saja sehingga mereka boleh
mengalami hidup yang sejahtera. Kami mohon kepadamu juga, sudilah kiranya
engkau memberikan perhatian pada masalah, kesusahan dan tantangan hidup yang
sedang kami hadapi. Sudilah kiranya engkau mengerti dengan baik apa yang
menjadi masalah dan kesusahan kami. Bimbinglah kami agar kami dapat hadir
menghadap Allah yang akan memberikan kepada kami segala sesuatu yang kami
butuhkan. Kami mohon dengan perantaraanmu, semoga Allah berkenan mengizinkan
kami untuk bisa meneladan engkau dalam hal mencintai, mencintai Allah dan
mencintai sesama kami. Amin.
Minggu, 25 November 2012
Berserah Diri
Singkirkan beban hidup masa silamKekecewaan dan noda yang suram
Percuma meratapi yang t'lah basi
Serahkan ke tangan kasih Ilahi
Singkirkan beban hidup masa depan
Cemas gelisah dan kekhawatiran
Percuma merisaukan yang b'lum pasti
Serahkan ke tangan kasih Ilahi
Trimalah beban hidup masa kini
Dengan Iman dan Kasih dalam hati
Jadikan korban persembahan diri
Melimpah berkat dan rahmat Ilahi
- Mgr. FX. Prajasuta, MSF.
Jumat, 23 November 2012
Doa dalam Penderitaan
Ketika hidupku hampa, hatiku tak puas, semangatku meredup, Kristus yang lahir di kandang Betlehem, lahirlah di dalam hatiku.
Ketika aku menemukan pencobaan dalam hidupku, dan ketika kemakmuran, keadilan serta kenikmatan sulit didapatkan, Kristus yang dalam keadaan digoda oleh Setan di padang gurun, doakanlah aku.
Ketika kegembiraan karena kesehatan, karena kebahagiaan, karena kesejahteraan, dan karena kehangatan yang aku rasakan, karena cintakasih Allah yang aku alami, Kristus yang berjalan keliling desa Galilea, berjalanlah bersama aku.
Ketika aku mencari kepentinganku sendiri, kebaikanku sendiri di hadapan Allah dan sesama, Kristus yang membersihkan bait Allah, bekerjasamalah dengan aku.
Ketika keputusan-keputusan sulit dibuat dan aku tidak mampu untuk melihat jalan ke mana aku harus melangkah, Kristus yang berada di taman Getsemani, menangislah bersama aku.
Ketika aku berhadapan dengan situasi pahit, penderitaan dan kegagalan, dan hatiku berteriak “Mengapa aku ya Tuhan.”, Kristus yang berada di gunung Kalvari, tinggallah bersama aku.
Ketika akhirnya aku mengalami jalan buntu dalam perjalananku dan di dalam membawa hidupku ke arah yang Kaukehendaki, Kristus yang telah keluar dari liang kubur, datanglah padaku.
Tuhan, semoga aku dapat menemukan iman di dalam penderitaan, sakit, dan kegagalan yang aku hadapi. Semoga aku selalu berada di dalam Engkau, ketika aku gembira dan ketika aku susah, ketika aku untung dan ketika aku malang. Amin.
Ketika aku menemukan pencobaan dalam hidupku, dan ketika kemakmuran, keadilan serta kenikmatan sulit didapatkan, Kristus yang dalam keadaan digoda oleh Setan di padang gurun, doakanlah aku.
Ketika kegembiraan karena kesehatan, karena kebahagiaan, karena kesejahteraan, dan karena kehangatan yang aku rasakan, karena cintakasih Allah yang aku alami, Kristus yang berjalan keliling desa Galilea, berjalanlah bersama aku.
Ketika aku mencari kepentinganku sendiri, kebaikanku sendiri di hadapan Allah dan sesama, Kristus yang membersihkan bait Allah, bekerjasamalah dengan aku.
Ketika keputusan-keputusan sulit dibuat dan aku tidak mampu untuk melihat jalan ke mana aku harus melangkah, Kristus yang berada di taman Getsemani, menangislah bersama aku.
Ketika aku berhadapan dengan situasi pahit, penderitaan dan kegagalan, dan hatiku berteriak “Mengapa aku ya Tuhan.”, Kristus yang berada di gunung Kalvari, tinggallah bersama aku.
Ketika akhirnya aku mengalami jalan buntu dalam perjalananku dan di dalam membawa hidupku ke arah yang Kaukehendaki, Kristus yang telah keluar dari liang kubur, datanglah padaku.
Tuhan, semoga aku dapat menemukan iman di dalam penderitaan, sakit, dan kegagalan yang aku hadapi. Semoga aku selalu berada di dalam Engkau, ketika aku gembira dan ketika aku susah, ketika aku untung dan ketika aku malang. Amin.
Kamis, 22 November 2012
Doa Pengantin Baru kepada Keluarga Kudus
Ya Yesus, saudara kami, Putra Allah dan Putra Maria, kami bersyukur kepada-Mu karena pemberian hidup yang Engkau percayakan kepada kami untuk kami pelihara. Bantulah kami untuk menjadi orangtua yang lembut dan bijaksana, yang mampu mencintai dan mengampuni, yang disiplin dan tetap mampu memberikan kebebasan. Berkatilah keluarga kami, yang baru kamu mulai pada hari ini, setelah kami berdua meneguhkan pernikahan kami . Pada hari ini kami memulai membangun keluarga baru, Gereja kecil, yang menjadi bagian dari Gereja Kudus yang pernah Engkau dirikan. Berkat bantuan rahmat-Mu, biarlah hidup yang rukun, damai dan saling mencintai, sebagaimana Engkau telah alami di dalam keluarga-Mu sendiri di kota kecil Nazareth, dapat memberikan inspirasi bagi kami berdua.
Ya Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda kami, peliharalah keluarga kami yang baru ini dengan iman dan cinta-Mu. Jagalah kami agar kami senantiasa tetap berhubungan erat dengan Putramu Yesus, di dalam segala situasi keluarga kami, dalam suka dan duka, dalam untung dan malang.
Ya Santo Yosef, Bapa angkat Tuhan Yesus, penjaga dan mempelai Maria, jagalah keluarga kami agar tetap aman dari ancaman dan bahaya. Bantulah kami di saat-saat di mana kami cemas dan takut.
Ya Keluarga Kudus dari Nazareth, teladan bagi keluarga-keluarga kristiani, buatlah keluarga kami menjadi satu dengan keluarga-Mu. Bantulah kami agar kami dapat menjadi alat damai, menjadi pribadi-pribadi yang dapat saling mencintai dan mengampuni. Anugerahkanlah kepada kami cinta yang dikuatkan oleh rahmat, sehingga cinta itu dapat membuktikan kekuatannya yang lebih besar ketika harus mengatasi segala pencobaan dan kelemahan yang kami hadapi. Semoga keluarga kami selalu menempatkan Allah pada pusat hati kami dan di tengah rumah kami seumur hidup kami, sehingga kelak kami boleh menjadi keluarga yang bersatu, bahagia, dan damai di dalam rumah yang abadi bersama-Mu. Amin.
Ya Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda kami, peliharalah keluarga kami yang baru ini dengan iman dan cinta-Mu. Jagalah kami agar kami senantiasa tetap berhubungan erat dengan Putramu Yesus, di dalam segala situasi keluarga kami, dalam suka dan duka, dalam untung dan malang.
Ya Santo Yosef, Bapa angkat Tuhan Yesus, penjaga dan mempelai Maria, jagalah keluarga kami agar tetap aman dari ancaman dan bahaya. Bantulah kami di saat-saat di mana kami cemas dan takut.
Ya Keluarga Kudus dari Nazareth, teladan bagi keluarga-keluarga kristiani, buatlah keluarga kami menjadi satu dengan keluarga-Mu. Bantulah kami agar kami dapat menjadi alat damai, menjadi pribadi-pribadi yang dapat saling mencintai dan mengampuni. Anugerahkanlah kepada kami cinta yang dikuatkan oleh rahmat, sehingga cinta itu dapat membuktikan kekuatannya yang lebih besar ketika harus mengatasi segala pencobaan dan kelemahan yang kami hadapi. Semoga keluarga kami selalu menempatkan Allah pada pusat hati kami dan di tengah rumah kami seumur hidup kami, sehingga kelak kami boleh menjadi keluarga yang bersatu, bahagia, dan damai di dalam rumah yang abadi bersama-Mu. Amin.
Selasa, 13 November 2012
Mencintai Allah: Belajar dari Bunda Maria
Sesuai dengan tema Novena yang diselenggarakan pada tanggal 2 Desember 2012 di Gua Maria Tritis Wonosari, kali ini kita diajak untuk merenungkan kembali makna keutamaan cintakasih, seperti diteladankan oleh Bunda Maria. Dalam katekismus Gereja Katolik kita baca bahwa “kasih itu adalah kebajikan ilahi, yang dengannya kita mengasihi Allah di atas segala-galanya demi diri-Nya sendiri, dan karena kasih kepada Allah itu kita mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri.” (CCC 1822).
Di dalam Injil Yohanes, Yesus menjelaskan kepada para murid bahwa dia memberikan kepada mereka perintah baru, yaitu: “Hendaknya kamu saling mengasihi satu sama lain seperti Aku telah mencintai kamu.” (Yoh 13: 1). Ketika Yesus mempersembahkan hidup-Nya di kayu salib, Ia menunjukkan “kebaruan” dari perintah-Nya, yakni kasih seperti yang Dia harapkan, kasih yang dilakukan Dia untuk kita.
Perintah itu perintah baru, karena perintah itu melukiskan relasi yang berbeda antara Allah dengan ciptaan-Nya. Peristiwa inkarnasi telah mengubah relasi antara Allah dan manusia. Ketika Allah menjadi manusia, maka Allah masuk ke dalam lingkungan ciptaan-Nya, masuk ke dalam komunitas manusia. Yesus mengungkapkan relasi yang berubah itu, ketika Dia mengatakan kepada para murid, “Aku tidak menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya. Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku sudah mengatakan kepadamu segala sesuatu yang telah Aku dengar dari Bapa-Ku.” (Yoh 15: 15).
Menurut Santo Thomas Aquinas, keutamaan cintakasih merupakan aspek persahabatan dengan Allah, dan bersama dengan semua anak-anak Allah (II.II, 23, 1). Dalam setiap persaha-bat¬an, ada kegiatan berbagi antara dua individu yang bersahabat. Tetapi dengan Allah, apa yang dapat kita bagikan? Kita dapat mencintai Allah hanya karena “Allah telah mencintai kita terlebih dahulu”. St. Yohanes menulis di dalam suratnya yang pertama, “Di dalam cinta ini, bukan bahwa kita telah mencintai Allah, tetapi bahwa Dia telah mencintai kita … kita mencintai karena Dia sudah mencintai kita lebih dahulu” (1Yoh 4: 10,19).
Cinta Allah kepada kita adalah dasar. Cinta Allah itu memberikan kepada kita kemampuan untuk mencintai Dia, dan cinta Allah itu adalah sumber kapasitas kita untuk mencintai dunia yang sudah Allah ciptakan. Setelah Allah, giliran berikut yang harus kita cintai adalah diri kita sendiri. Kita diundang untuk mencintai diri kita sendiri. Cinta itu tidak boleh bersifat egois. Kita harus ingat bahwa Allah memerintahkan kita untuk mencintai sesama kita seperti diri kita sendiri (Ul 19: 18).
Thomas Aquinas mengutip kata-kata Aristoteles yang mengidentifikasi cinta pada diri sendiri sebagai pembanding untuk cinta kita kepada orang lain. Thomas mengatakan: “Asal-usul relasi persahabatan dengan orang lain diletakkan pada relasi kita dengan diri kita sendiri.” Kasih kepada Allah mendorong kita untuk mengasihi orang lain sesama kita, dan pada titik tertentu hal ini mengajak kita untuk memusatkan perhatian kita kepada apa yang pernah Kristus katakan: “Kasihilah musuh-musuhmu” (Mat 5: 44).
Kita harus memasukkan musuh ke dalam kelompok sesama kita. Kita tidak boleh memiliki kepedulian cinta yang kecil terhadap orang-orang yang tidak kita sukai. Kita harus mencintai secara tepat apa yang baik di dalam pribadi-pribadi, yaitu: kemanusiaan dan nilai sebagai makhluk ciptaan Allah. Kita harus siap untuk memasukkan musuh ke dalam doa-doa kita yang kita tawarkan bagi setiap orang, dan terutama memberikan bantuan kepada mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan bantuan kita.
Pelaksanaan semua kebajikan ini dijiwai dan digerakkan oleh kasih. “Inilah pengikat yang menyatukan dan menyempurnakan” (Kol 3: 14); ia adalah pembentuk kebajikan; ia menentukan dan mengatur kebajikan-kebajikan; kasih Kristen mengamankan dan memurnikan kekuatan kasih manusiawi kita. Ia meninggikannya sampai kepada kesempurnaan adikodrati, kepada kasih ilahi.” (CCC 1828).
“Bunda Maria adalah Ratu Cintakasih”, kata Franciscus de Sales. “Di mana ada kemurnian terbesar, di situ terdapat cinta yang terbesar.” Jadi, semakin hati ini murni, dan kosong dari diri sendiri, maka semakin penuhlah cinta kepada Allah. Bunda Maria yang tersuci, karena dia sangat rendah hati, dan tidak punya kepentingan untuk diri sendiri, dipenuhi dengan kasih ilahi, sehingga “cintanya kepada Allah melebihi cinta semua manusia dan malaikat.”, tulis Santo Bernardinus.
Santo Ricardus memberikan penegasan mengenai pendapat ini dengan mengatakan, “Bunda Emmanuel telah mempraktekkan keutamaan-keutamaan di dalam tingkat kesempurnaan yang paling tinggi. Siapakah orang yang dapat dibandingkan dengan Bunda Maria yang telah melakukan perintah Allah yang pertama, “Engkau akan mencintai Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu?”
Karena cintanya kepada Allah sedemikian mendalam, maka tidak ada suatu cacat apa pun dari cintanya kepada Allah.” “Cinta Bunda Maria kepada Allah sedemikian kuat merasuki jiwanya, sehingga tidak ada satu bagian pun dari dirinya yang tak terisi; dan karena itu Bunda Maria mampu mencintai Allah dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya, dan dengan segenap kekuatannya, dan penuh rahmat.”, kata St. Bernardus.
Allah yang adalah cinta (1Yoh 4: 8) datang ke dunia untuk mengobarkan di dalam hati semua orang api cintakasih Allah; tetapi tidak ada hati yang lebih berkobar daripada hati Bunda Allah, karena hati Bunda Allah itu sungguh murni dari ikatan-ikatan duniawi, dan sungguh dipersiapkan untuk mengobarkan api cintakasih yang terberkati. Santo Sophronius mengatakan bahwa ‘api cinta kasih Allah berkobar dalam hatinya sehingga tak ada ikatan duniawi mana pun yang dapat merasukinya; dia selalu mengobarkan api cinta surgawi seperti dikatakan: “Hati Maria telah menjadi api dari segala api yang menyala, seperti pernah kita baca tentang dia dalam Kidung Agung: “Nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api Tuhan.” (Kid 8: 6), nyala api yang terkabar karena cinta, nyala api yang bersinar karena keteladanan yang diberikan kepada semua orang melalui praktek keutamaan.
Bunda Maria sendiri pernah menyatakan kepada Santa Brigitta: “Aku berpikir tentang Allah saja, dan tidak tentang yang lain; tidak untuk menyenangkan diriku tetapi untuk menyenangkan Allah.” Santo Bernardinus menegaskan bahwa selama hidup di dunia Bunda Maria selalu mencintai Allah: “Pikiran Bunda Maria selalu dibungkus di dalam hasrat untuk mencintai Allah.” Santo Bernardinus menambahkan: “Bunda Maria tidak pernah melalukan sesuatu yang tidak menyenangkan Allah; Bunda Maria mencintai Allah karena dia berpikir bahwa Allah harus dia cintai.”
Bunda Maria pernah mengatakan kepada Santa Brigitta, “Anakku, jika kamu ingin dekat dengan aku, maka cintailah Puteraku.” Maksud Bunda Maria adalah menunjukkan kepada kita tentang Allah yang dia cintai. Karena Maria berada dalam nyala api cinta kepada Allah, maka siapa saja yang mencintai dan mendekati dia, dikobarkan oleh dia dengan cintakasih yang sama. Karena itu Santa Catherina dari Siena menyebut Maria sebagai pembawa nyala api cintakasih Allah. Jika kita ingin terbakar dengan nyala api Bunda Maria, maka kita perlu senantiasa ingin untuk dekat dengan Bunda Maria dengan berdoa.
Dalam ensiklik Deus Caritas Est (art. 41), Paus Benediktus XVI memberikan perhatian khusus pada Bunda Maria yang memberikan keteladanan bagi kita dalam hal keutamaan cintakasih yang menjadi pusat perhatian ensiklik. Paus menulis bahwa Maria, Bunda Tuhan, adalah cermin bagi kita dalam hal kesucian. Dalam Injil Lukas, kita menemukan bagaimana Bunda Maria melayani dengan cintakasih kepada Elisabeth, saudara sepupunya. Di tempat Elisabeth, Bunda Maria tinggal selama 3 bulan (Luk 1: 56), membantu dia pada saat-saat akhir kehamilannya.
“Jiwaku memuliakan Tuhan” (Magnificat anima mea Dominum) adalah kata-kata Maria ketika dia berjumpa dengan Elisabeth. Dengan kata-kata itulah Lukas mau menyatakan bahwa seluruh program hidup Maria adalah tidak untuk menjadikan dirinya pusat perhatian, tetapi untuk memberikan ruang bagi Allah, yang dijumpai dalam doa dan dalam pelayanan kepada sesama, dan karena itu kebaikan masuk ke dalam dunia. Kebesaran Maria terletak pada fakta bahwa dirinya ingin memuliakan Allah, dan bukan memuliakan dirinya sendiri. Maria adalah wanita yang bisa menjadi teladan bagi kita dalam hal mencintai. ***
Di dalam Injil Yohanes, Yesus menjelaskan kepada para murid bahwa dia memberikan kepada mereka perintah baru, yaitu: “Hendaknya kamu saling mengasihi satu sama lain seperti Aku telah mencintai kamu.” (Yoh 13: 1). Ketika Yesus mempersembahkan hidup-Nya di kayu salib, Ia menunjukkan “kebaruan” dari perintah-Nya, yakni kasih seperti yang Dia harapkan, kasih yang dilakukan Dia untuk kita.
Perintah itu perintah baru, karena perintah itu melukiskan relasi yang berbeda antara Allah dengan ciptaan-Nya. Peristiwa inkarnasi telah mengubah relasi antara Allah dan manusia. Ketika Allah menjadi manusia, maka Allah masuk ke dalam lingkungan ciptaan-Nya, masuk ke dalam komunitas manusia. Yesus mengungkapkan relasi yang berubah itu, ketika Dia mengatakan kepada para murid, “Aku tidak menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya. Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku sudah mengatakan kepadamu segala sesuatu yang telah Aku dengar dari Bapa-Ku.” (Yoh 15: 15).
Menurut Santo Thomas Aquinas, keutamaan cintakasih merupakan aspek persahabatan dengan Allah, dan bersama dengan semua anak-anak Allah (II.II, 23, 1). Dalam setiap persaha-bat¬an, ada kegiatan berbagi antara dua individu yang bersahabat. Tetapi dengan Allah, apa yang dapat kita bagikan? Kita dapat mencintai Allah hanya karena “Allah telah mencintai kita terlebih dahulu”. St. Yohanes menulis di dalam suratnya yang pertama, “Di dalam cinta ini, bukan bahwa kita telah mencintai Allah, tetapi bahwa Dia telah mencintai kita … kita mencintai karena Dia sudah mencintai kita lebih dahulu” (1Yoh 4: 10,19).
Cinta Allah kepada kita adalah dasar. Cinta Allah itu memberikan kepada kita kemampuan untuk mencintai Dia, dan cinta Allah itu adalah sumber kapasitas kita untuk mencintai dunia yang sudah Allah ciptakan. Setelah Allah, giliran berikut yang harus kita cintai adalah diri kita sendiri. Kita diundang untuk mencintai diri kita sendiri. Cinta itu tidak boleh bersifat egois. Kita harus ingat bahwa Allah memerintahkan kita untuk mencintai sesama kita seperti diri kita sendiri (Ul 19: 18).
Thomas Aquinas mengutip kata-kata Aristoteles yang mengidentifikasi cinta pada diri sendiri sebagai pembanding untuk cinta kita kepada orang lain. Thomas mengatakan: “Asal-usul relasi persahabatan dengan orang lain diletakkan pada relasi kita dengan diri kita sendiri.” Kasih kepada Allah mendorong kita untuk mengasihi orang lain sesama kita, dan pada titik tertentu hal ini mengajak kita untuk memusatkan perhatian kita kepada apa yang pernah Kristus katakan: “Kasihilah musuh-musuhmu” (Mat 5: 44).
Kita harus memasukkan musuh ke dalam kelompok sesama kita. Kita tidak boleh memiliki kepedulian cinta yang kecil terhadap orang-orang yang tidak kita sukai. Kita harus mencintai secara tepat apa yang baik di dalam pribadi-pribadi, yaitu: kemanusiaan dan nilai sebagai makhluk ciptaan Allah. Kita harus siap untuk memasukkan musuh ke dalam doa-doa kita yang kita tawarkan bagi setiap orang, dan terutama memberikan bantuan kepada mereka yang sungguh-sungguh membutuhkan bantuan kita.
Pelaksanaan semua kebajikan ini dijiwai dan digerakkan oleh kasih. “Inilah pengikat yang menyatukan dan menyempurnakan” (Kol 3: 14); ia adalah pembentuk kebajikan; ia menentukan dan mengatur kebajikan-kebajikan; kasih Kristen mengamankan dan memurnikan kekuatan kasih manusiawi kita. Ia meninggikannya sampai kepada kesempurnaan adikodrati, kepada kasih ilahi.” (CCC 1828).
“Bunda Maria adalah Ratu Cintakasih”, kata Franciscus de Sales. “Di mana ada kemurnian terbesar, di situ terdapat cinta yang terbesar.” Jadi, semakin hati ini murni, dan kosong dari diri sendiri, maka semakin penuhlah cinta kepada Allah. Bunda Maria yang tersuci, karena dia sangat rendah hati, dan tidak punya kepentingan untuk diri sendiri, dipenuhi dengan kasih ilahi, sehingga “cintanya kepada Allah melebihi cinta semua manusia dan malaikat.”, tulis Santo Bernardinus.
Santo Ricardus memberikan penegasan mengenai pendapat ini dengan mengatakan, “Bunda Emmanuel telah mempraktekkan keutamaan-keutamaan di dalam tingkat kesempurnaan yang paling tinggi. Siapakah orang yang dapat dibandingkan dengan Bunda Maria yang telah melakukan perintah Allah yang pertama, “Engkau akan mencintai Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu?”
Karena cintanya kepada Allah sedemikian mendalam, maka tidak ada suatu cacat apa pun dari cintanya kepada Allah.” “Cinta Bunda Maria kepada Allah sedemikian kuat merasuki jiwanya, sehingga tidak ada satu bagian pun dari dirinya yang tak terisi; dan karena itu Bunda Maria mampu mencintai Allah dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya, dan dengan segenap kekuatannya, dan penuh rahmat.”, kata St. Bernardus.
Allah yang adalah cinta (1Yoh 4: 8) datang ke dunia untuk mengobarkan di dalam hati semua orang api cintakasih Allah; tetapi tidak ada hati yang lebih berkobar daripada hati Bunda Allah, karena hati Bunda Allah itu sungguh murni dari ikatan-ikatan duniawi, dan sungguh dipersiapkan untuk mengobarkan api cintakasih yang terberkati. Santo Sophronius mengatakan bahwa ‘api cinta kasih Allah berkobar dalam hatinya sehingga tak ada ikatan duniawi mana pun yang dapat merasukinya; dia selalu mengobarkan api cinta surgawi seperti dikatakan: “Hati Maria telah menjadi api dari segala api yang menyala, seperti pernah kita baca tentang dia dalam Kidung Agung: “Nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api Tuhan.” (Kid 8: 6), nyala api yang terkabar karena cinta, nyala api yang bersinar karena keteladanan yang diberikan kepada semua orang melalui praktek keutamaan.
Bunda Maria sendiri pernah menyatakan kepada Santa Brigitta: “Aku berpikir tentang Allah saja, dan tidak tentang yang lain; tidak untuk menyenangkan diriku tetapi untuk menyenangkan Allah.” Santo Bernardinus menegaskan bahwa selama hidup di dunia Bunda Maria selalu mencintai Allah: “Pikiran Bunda Maria selalu dibungkus di dalam hasrat untuk mencintai Allah.” Santo Bernardinus menambahkan: “Bunda Maria tidak pernah melalukan sesuatu yang tidak menyenangkan Allah; Bunda Maria mencintai Allah karena dia berpikir bahwa Allah harus dia cintai.”
Bunda Maria pernah mengatakan kepada Santa Brigitta, “Anakku, jika kamu ingin dekat dengan aku, maka cintailah Puteraku.” Maksud Bunda Maria adalah menunjukkan kepada kita tentang Allah yang dia cintai. Karena Maria berada dalam nyala api cinta kepada Allah, maka siapa saja yang mencintai dan mendekati dia, dikobarkan oleh dia dengan cintakasih yang sama. Karena itu Santa Catherina dari Siena menyebut Maria sebagai pembawa nyala api cintakasih Allah. Jika kita ingin terbakar dengan nyala api Bunda Maria, maka kita perlu senantiasa ingin untuk dekat dengan Bunda Maria dengan berdoa.
Dalam ensiklik Deus Caritas Est (art. 41), Paus Benediktus XVI memberikan perhatian khusus pada Bunda Maria yang memberikan keteladanan bagi kita dalam hal keutamaan cintakasih yang menjadi pusat perhatian ensiklik. Paus menulis bahwa Maria, Bunda Tuhan, adalah cermin bagi kita dalam hal kesucian. Dalam Injil Lukas, kita menemukan bagaimana Bunda Maria melayani dengan cintakasih kepada Elisabeth, saudara sepupunya. Di tempat Elisabeth, Bunda Maria tinggal selama 3 bulan (Luk 1: 56), membantu dia pada saat-saat akhir kehamilannya.
“Jiwaku memuliakan Tuhan” (Magnificat anima mea Dominum) adalah kata-kata Maria ketika dia berjumpa dengan Elisabeth. Dengan kata-kata itulah Lukas mau menyatakan bahwa seluruh program hidup Maria adalah tidak untuk menjadikan dirinya pusat perhatian, tetapi untuk memberikan ruang bagi Allah, yang dijumpai dalam doa dan dalam pelayanan kepada sesama, dan karena itu kebaikan masuk ke dalam dunia. Kebesaran Maria terletak pada fakta bahwa dirinya ingin memuliakan Allah, dan bukan memuliakan dirinya sendiri. Maria adalah wanita yang bisa menjadi teladan bagi kita dalam hal mencintai. ***
Langganan:
Postingan (Atom)







