Hidup Berbagi

Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja

Selasa, 31 Desember 2013

Doa Persembahan Pagi

Allah Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini.
Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putera-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia.
Kiranya Roh Kudus yang menjiwai Yesus, juga menjadi pembimbing dan kekuatanku hari ini, sehingga aku siap sedia menjadi saksi kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini: …


Bulan Mei 2014


Universal - Media Massa. Semoga media massa menjadi instrumen yang melayani kebenaran dan perdamaian.

Untuk evangelisasi - Bimbingan Bunda Maria. Semoga Bunda Maria, Sang Bintang Evangelisasi, membimbing Gereja dalam mewartakan Kristus ke semua bangsa.

Gereja Indonesia - Buruh migran. Semoga lingkungan-lingkungan Gereja menjadi tempat yang ramah bagi para buruh migran.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Doa Syukur

Ya Allah, Engkaulah sumber segala berkat, sumber hidup kami, pemberi segala rahmat:
Kami berterima kasih kepada-Mu karena anugerah kehidupan yang boleh kami terima:
karena nafas yang mengalirkan kehidupan,
karena makanan yang merawat kehidupan,
karena cintakasih keluarga dan cintakasih para sahabat yang tanpanya kehidupan kami ini tak kan pernah ada.

Kami berterima kasih kepada-Mu karena misteri penciptaan yang telah Engkau nyatakan kepada kami: karena keindahan yang boleh kami lihat dengan mata kami,
karena kegembiraan yang boleh kami dengar dengan telinga kami,
karena hal-hal yang tidak dapat kami kenali dan kami tangkap yang mengisi alam semesta dan mengundang rasa kagum kami,
karena luasnya ruang di muka bumi yang mengundang kami untuk menjangkau batas-batas yang melampau diri kami.

Kami berterima kasih kepada-Mu karena Engkau memperbolehkan kami untuk hidup dalam komunitas-komunitas:
karena keluarga yang membentuk kami menjadi manusia seperti ini,
karena teman-teman yang mencintai kami dengan sepenuh hati,
karena teman-teman sekerja yang mau berbagi dalam beban dan tugas sehari-hari kepada kami,
karena orang-orang asing yang tak kami kenal yang berkenan datang dan hadir di tengah-tengah kami,
karena orang-orang yang datang dari tanah air yang lain yang mengundang kami untuk bertumbuh bersama dan saling memahami,
karena anak-anak yang mewarnai saat-saat kehidupan kami dengan kegembiraan,
karena bayi-bayi yang masih dalam kandungan dan belum lahir, yang menawarkan kepada kami harapan untuk masa depan kami.

Kami berterima kasih karena kami boleh menikmati hari ini:
karena hidup yang boleh kami nikmati dan pemberian tambahan satu hari lagi untuk hidup dan mencintai,
karena kesempatan dan tambahan hidup satu hari lagi sehingga kami boleh bekerja lagi demi keadilan dan perdamaian,
karena tetangga dan makin banyaknya orang-orang yang boleh kami cintai dan orang-orang yang berkenan mencintai kami,
karena rahmat-Mu dan karena semakin tambahnya pengalaman kami akan kehadiran-Mu,
karena janji-Mu: untuk bersama kami selalu, untuk menjadi Allah kami, dan untuk memberikan keselamatan kepada kami.

Karena semua ini, dan karena segala berkat yang boleh kami terima, kami bersyukur kepada-Mu ya Allah, yang kekal dan selalu mencintai kami, demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin.

Rabu, 31 Juli 2013

Doa pada Hari Ulang Tahun

Ya Tuhan, yang Mahakasih, pada pagi yang cerah ini aku mengucap syukur kepada-Mu karena cinta-Mu senantiasa menunjukkan kehadirannya di dalam hidupku. Aku bersyukur kepada-Mu karena sampai  pada umurku saat ini aku masih Engkau perkenankan boleh merasakan cinta-Mu, melalui orangtuaku, sanak-saudaraku, tetanggaku, sahabat-sahabatku dan kenalanku. Pada hari yang berbahagia ini, perkenankanlah aku boleh mengajukan permohonanku kepada-Mu, sebab hanya Engkaulah andalanku dan penolongku.

Ya Tuhan, yang Mahakasih, tolonglah aku agar aku mampu menyebarkan keagungan cinta-Mu di mana saja aku berada. Penuhilah hatiku dengan kuasa Roh Kudus-Mu. Masukilah diriku agar hidupku merupakan pancaran cinta-Mu. Sinarilah diriku agar setiap orang yang aku jumpai dapat melihat dan merasakan kehadiran-Mu di dalam diriku. Semoga aku selalu mewartakan Engkau dengan perbuatan-perbuatanku yang memberi teladan daripada hanya dengan kata-kataku. Semoga hatiku selalu memancarkan cahaya cintakasih yang berasal dari-Mu. Demi Kristus Tuhan dan junjunganku. Amin.

Sabtu, 18 Mei 2013

Theresia Suratiyah: Perawat yang Melayani dengan Hati


Kakak saya adalah seorang perawat yang pernah menjalani pendidikan keperawatan di desa Boro Yogyakarta. Namanya Theresia Suratiyah (60 tahun), yang dikenal dengan sebutan mbak Surat atau mbak Thres. Ketika saya tanya tentang nama sekolah tempat dia belajar, mbak Thres menjawab: “Waktu itu sekolah pendidikan keperawatan masih bernama Sekolah Penjenang Kesehatan (SPK) Tingkat Atas”. “Lulusan sekolah ini, setelah belajar selama 3 tahun, diharapkan memiliki kemampuan dan ketrampilan di bidang keperawatan dan pelayanan kesehatan, dan akhirnya dapat bekerja sebagai pembantu bidan dalam tugas keperawatan”, tambahnya.

Ketika saya tanya, siapa Kepala Sekolah Keperawatan di sekolah ini, mbak Thres menjawab: “Kepala sekolah keperawatan waktu itu adalah Sr. Antoni, OSF. Orangnya baik banget. Orangnya disiplin tapi tidak pernah marah.” Lanjut mbak Thres: “Ada suatu peristiwa yang menarik yang pernah saya alami. Sore itu memang hari ujian. Saya mendapat giliran ujian nomor satu. Sebetulnya sore itu saya sendiri sedang bersiap-siap untuk mandi, tetapi keburu dipanggil oleh suster Antoni untuk ujian. Di depan kelas, Sr. Antoni bertanya kepada saya: Coba terangkan kepada saya, bagaimana proses terjadinya menstruasi! Saya bengong, karena masih berdiri di depan kelas kok sudah diberi soal ujian. Karena saya tahu bahwa ini waktunya ujian, maka saya menjawab pertanyaan itu dengan serius. Suster Antoni heran melihat saya dapat menjawab dengan lancar. Segera sesudah selesai ujian, dia langsung menyalami saya dan mengatakan: Thres, kamu saya beri nilai yang terbagus.” “Saya tersenyum, mengulurkan tangan saya, mengucapkan terima kasih, lalu bergegas pergi mandi.” kata mbak Thres.

Kakak saya mulai studi di tempat ini tahun 1972 dan selesai tahun 1975. Selama studi, kakak saya hidup di asrama. “Kepala asrama waktu itu adalah Ibu Suliyem, orang yang sangat memperhatikan para penghuni asrama. Meski harus dengan kursi roda dalam menjalankan tugasnya, ibu Suliyem ini dikenal sebagai seorang ibu yang disiplin, ringan tangan, suka membantu, baik hati dan sabar”, kisah Mbak Thres. “Dia sangat bertanggungjawab sebagai ibu asrama. Kalau hari sudah malam, ibu Suliyem pergi keliling asrama, untuk melihat-lihat, memeriksa apakah para penghuni asrama sudah pada tidur atau belum. Kebetulan anak-anak asrama waktu itu semuanya baik dan tidak ada yang bandel, sehingga kedisiplinan asrama senantiasa bisa ditegakkan.”

“Kepala rumah sakit St. Yusup Boro waktu itu adalah seorang suster Belanda. Namanya Sr. Floren OSF, dan dalam kerjanya dia dibantu oleh beberapa Suster lain. Tim pelayanan medis di lembaga kese¬hatan ini diketuai oleh Dr. Subodro, MPH., dan dibantu oleh seorang dokter umum bernama Dr. Leny Kushati, yang rajin bekerja, nglaju dari kota Yogyakarta ke Boro setiap hari,” jelas mbak Thres. “Suster-suster yang berkarya di tempat ini semuanya disiplin, pekerja keras dan tekun. Yang namanya Suster Floren itu amat sangat disiplin. Kalau dia memberi tugas kepada anak-anak asrama untuk membersihkan asrama, dan melihat bahwa asrama belum bersih betul, anak-anak asrama itu disuruh membersihkan ulang.”

Tahun 70-an adalah tahun berat bagi kehidupan ekonomi Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan pangan, rakyat Indonesia masih tergantung pada bantuan bahan makanan dari pemerintah Australia, berupa bulgur (jenis gandum berwarna merah, yang biasa dipakai sebagai bahan makanan ternak di Australia). Kehidupan asrama di tempat ini pun tidak terbebaskan dari masalah penyediaan bahan makanan untuk anak-anak asrama keperawatan. Asrama perawat hanya bisa menyediakan bulgur untuk makanan sehari-hari, dan bukan beras. Makan nasi (beras) di asrama keperawatan ini hanya sekali seminggu, yaitu pada hari Minggu. “Setiap hari makan bulgur sungguh pengalaman yang tak terlupakan,” kata mbak Thres. “Pernah pada suatu hari anak-anak asrama membuang sisa makanan (bulgur) yang masih banyak ke tong sampah hingga penuh. Melihat peristiwa itu salah seorang Suster OSF menangis. Tetapi Suster itu juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena keadaan waktu itu memang seperti itu: beras sulit didapat, dan bilamana ada, harganya mahal dan tak terjangkau oleh kebanyakan orang. Meskipun anak-anak asrama bosan, makanan bulgur pun tetap saja dihidangkan,” jelas mbak Thres.

Kakak saya yang hidupnya dimanjakan oleh situasi di rumah (simbah putri dan ibu saya itu penjual nasi dan makanan sehari-hari dengan segala macam lauk-pauk, lengkap dan enak, dengan warung yang laris-manis), banyak kali menangis dan mengeluh bahwa makanan setiap hari di sini (Boro) adalah nasi bulgur. Maka, keluarga kami pun menjadi tidak sampai hati (tegel), ketika mendengar berita bahwa salah satu anak (cucu)-nya setiap hari makan bulgur. Karena itu, sebulan sekali, keluarga kami dari Mertoyudan mengirim sambal. Sambal yang dibuat dari lombok, tomat, terasi dan krecek babi ini, disebut sambal bajak. Meski sedikit tapi rasanya sungguh mirasa. “Sambil inilah yang membuat nafsu makan menjadi lebih antusias. Benar yang dikatakan sebuah pepatah: Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan”, kata mbak Thres. Kakak saya sangat gembira menerima kiriman sambal itu, karena dengan begitu dia bisa lebih bisa merasakan nikmatnya nasi bulgur yang kadang membosankan.

Setelah selesai menjalani pendidikan di tempat ini, dan setelah mengembalikan ikatan dinas di Rumah Sakit ini, kakak saya mendapat panggilan untuk bekerja di tempat lain. Suster-suster Sang Timur yang bekerja di sebuah poliklinik besar di Curahjati, Banyuwangi, membutuhkan tenaga perawat hasil didikan sekolah perawat Boro ini. Setelah mengajukan surat lamaran pekerjaan dan diterima, maka mulaillah kakak saya bekerja di Banyuwangi. Dia bekerja di sana selama kurang lebih 4 tahun. Bekerja di daerah pedesaan yang keadaan ekonominya lemah memang berat tetapi semua tugas pelayanan dijalani dengan sabar dan tekun.
Dari tempat kerja baru ini, kakak saya mendapatkan jodohnya, yaitu: Yustinus Poniman, seorang sopir pastoran dari Paroki Genteng Banyuwangi. Setelah pernikahan, kakak saya pulang kampong dan pindah kerja ke Magelang. Kakak saya diterima sebagai perawat dalam status Pegawai Negeri di Kabupaten Magelang, dan ditempatkan di Rumah Sakit Umum dan Pusat Kesehatan Masyarakat di Pakis Magelang. Selama menjadi pegawai negeri dia memperoleh kesempatan untuk studi lanjut tingkat D3 (diploma) dalam bidang kebidanan.

Dalam usianya menjelang pension, kakak saya sudah merintis sebuah pekerjaan baru di rumahnya sendiri dengan mendirikan sebuah poliklinik kebidanan di Pakis Magelang. Poliklinik ini sekarang sudah beroperasi selama lebih dari lima tahun, dan berkat Tuhan, poliklinik kebidanan ini masih berjalan dengan baik dan makin berkembang. Di samping layanan kesehatan yang sederhana, layanan utamanya adalah melayani ibu-ibu hamil dalam mempersiapkan dan menghadapi kelahiran anak. Tugasnya tidak hanya merawat kesehat¬an, tetapi juga membela kehidupan.

Pasien yang datang untuk rawat inap dalam rangka partus (melahirkan) kebanyakan adalah ibu-ibu desa yang berasal dari masyarakat petani. Pada umumnya mereka adalah orang-orang yang tergolong ekonomi lemah. Kakak saya menentukan tarif dan pembayaran sesuai dengan tingkat dan keadaan ekonomi setempat. Para pasien dipersilakan untuk membayar ongkos perawatan sesuai dengan kemampuan mereka. Ada ibu-ibu yang setelah tiga bulan melahirkan baru bisa membayar ongkos partus. Kehidupan ekonomi para pasien sangat tergantung pada masa panen. Dan memang mereka diberi kemungkinan untuk membayar ongkos perawatan tidak harus dengan uang. Mereka dimungkinkan untuk membayar biaya perawatan dengan hasil panenan, entah berupa: sayur-sayuran, buah-buahan, atau pun hasil bumi lainnya. Bahkan, bisa juga pasien membayar biaya perawatan dengan ayam, telur dan hasil usaha ternak lainnya.

Waktu pembayaran pun juga tidak harus pada saat pelayanan diberikan, tetapi boleh juga sehabis panenan. Ada banyak pasien sudah dibantu melahirkan tetapi ongkosnya baru dibayar setelah 3 bulan anaknya lahir.
Awalnya adalah merawat dan sampai umur tua pun kakak saya tetap juga merawat. Itulah panggilan hidupnya, berprofesi sebagai perawat, dari muda hingga tua, dan dijalani dengan tekun, gigih, sabar dan setia. “Yang menguatkan panggilan saya menekuni pekerjaan perawat ini adalah bahwa menjadi perawat itu ikut ambil bagian dalam karya pelayanan Yesus, membantu mereka yang membutuhkan, menyembuhkan orang sakit dan mengurangi penderitaan mereka” kata mBak Thres.

Kakak saya menjadi seorang bidan seperti sekarang ini, tidak lepas dari perkenalan dan pergaulan masa lampau di tempat ini dengan orang-orang yang pernah tinggal dan bekerja di tempat ini: Sr. Antoni OSF, Sr. Floren OSF, Ibu Dr. Lany, Bapak Dr. Subodro, Ibu Suliyem, dan sudah barang tentu para tenaga medis, para perawat, para pasien yang dilayani, orang-orang yang dijumpai, dilayani dan bekerja sama dengannya. Orang-orang yang berkumpul di tempat ini adalah orang-orang yang ikut membentuk dirinya, ikut membangun komunitas kerja di tempat ini, karena mereka saling berbagi, saling memberi dan saling menerima.***

Sabtu, 27 April 2013

Petrus Kanisius: Pujangga Gereja dan Pelindung Penulis Katolik

“Tidak ada buku lain selain Katekismus ini. Distribusinya sungguh luar biasa hebat. Selama seratus tiga puluh tahun peredarannya sejak terbit, buku ini sudah mengalami cetak ulang sampai hampir 400 kali. Keseluruhan perencanaan penulisan dan tata letak buku ini mendapatkan sentuhan ketrampilan tingkat tinggi, dan di antara buku-buku Katolik  Katekismus ini tidak ada bandingnya,” kata Drews, seorang sejarawan yang beragama Kristen Protestan.

Petrus Kanisius dilahirkan di kota Nijmegen, Negeri Belanda, tanggal 8 Mei 1521. Kanisius lahir sebagai anak sulung dari keluarga terpandang. Jakob Kanisius, ayahnya yang kaya raya itu, adalah seorang pejabat walikota di Nijmegen. Ibunya, Aegidia van Houweningen, telah meninggal dunia, tidak lama sesudah Kanisius lahir.

Kanisius menuduh dirinya telah membuang waktu sia-sia sebagai anak yang suka berfoya-foya, tetapi pada kenyataannya ia telah memperoleh gelar master di Universitas Koln, ketika ia masih berumur 19 tahun. Ini bukti nyata bahwa dia tidak bisa disebut sebagai orang yang suka menganggur.

Meski Kanisius mengalami nasib malang karena kehilangan ibunya pada saat dia masih dalam usia balita, isteri kedua dari ayahnya membesarkan Kanisius dengan penuh kasih sayang. Isteri kedua dari ayahnya membuktikan diri sebagai seorang ibu tiri yang sungguh amat baik dan penuh kasih terhadap anak-anaknya.
Untuk menyenangkan ayahnya, yang menginginkan dia menjadi seorang ahli Hukum, pada tahun 1536 Kanisius pergi ke Koln untuk belajar Hukum.

Menyadari bahwa dirinya tidak terpanggil untuk karir di bidang Hukum, dan dia bermaksud menolak untuk dikawinkan oleh ayajnya dengan seorang wanita kaya, Petrus Kanisius mengambil langkah sebaliknya, yaitu: mau mengucapkan kaul selibat, dan kembali ke Koln untuk belajar Teologi. Di sana dia menyelesaikan studi sampai mendapatkan gelar Master of Arts pada 1540. Kanisius kerapkali menuduh dirinya telah membuang waktu sia-sia sebagai anak yang suka berfoya-foya, tetapi pada kenyataannya ia telah memperoleh gelar master di Universitas Koln, ketika ia masih berumur 19 tahun. Ini bukti nyata bahwa dia adalah seorang pekerja keras, dan tidak suka menganggur.

Sementara ia menjadi mahasiswa di Universitas Koln ia secara teratur mengunjungi para rahib Kartusian di biara St. Barbara, yang menjadi pendorong hidup Katolik. Di biara ini para lelaki yang setia menanamkan spiritualitas “devotio moderna” atau devosi modern.

Karena tertarik dengan kotbah-kotbah yang disampaikan oleh Petrus Faber, murid pertama St. Ignatius, pada tahun 1543, Kanisius mempercayakan diri untuk mengikuti retret di bawah bimbingan Petrus Faber di Mainz. Setelah mengikuti retret pada Minggu kedua, ia memutuskan untuk bergabung menjadi anggota Serikat Yesus; dan mengucapkan kaul. Pada tanggal 8 Mei 1543, dia diterima masuk sebagai anggota Serikat Yesus, di Mainz. Dia adalah orang Belanda pertama yang masuk Serikat Yesus.

Sebagai novis, dia hidup selama beberapa tahun dalam sebuah komunitas SJ di Koln. Di sana dia menghabiskan waktunya untuk berdoa, belajar dan mengunjungi orang sakit dan mengajar orang-orang yang bodoh. Uang yang diwarisi dari ayahnya yang sudah meninggal dipersembahkan untuk orang-orang yang tidak punya dan untuk membangun rumah.

Di tempat itu Petrus Kanisius juga sudah mulai menulis buku, dan buku terbitan pertamanya adalah tentang karya St. Cyrilus dari Aleksandria dan tentang St Leo Agung (di mana dia menjadi editornya, 1543). Setelah ditahbiskan, ia makin terkenal karena kotbah-kotbahnya. Sebagai seorang delegatus yang diutus oleh Ignatius ke Konsili Trente, dia mengikuti dua sesi, yang satu di Trente dan yang satunya lagi di Bologna.

Petrus Kanisius adalah pemuda yang cerdas tetapi rendah hati. Dia menyelesaikan studi di Koln dan menerima ijazah sebagai doktor di bidang Hukum. Kemudian dia pergi ke Louvain Belgia untuk belajar Hukum Gereja. Pada hari ia mengucapkan kaul terakhir, sesaat berlutut, Tuhan Yesus menampakkan Hati Kudus-Nya kepadanya. Sejak saat itu, dia tidak pernah gagal untuk mempersembahkan semua karyanya kepada Hati Kudus Yesus.

Dia ditahbiskan menjadi imam Yesuit pada 1546. Ia memberikan pelayanan dan pengajaran di lembaga-lembaga di dalam masyarakat dan di dalam Gereja, baik di Jerman maupun di Austria. Dikirim ke Jerman, ia bekerja selama bertahun-tahun melalui tulisan dan ajaran untuk meneguhkan iman Katolik. Di antara buku-buku hasil karyanya, Katekismus adalah buku yang sangat terkenal. Buku itu menjadi monument Gereja untuk melawan ajaran-ajaran yang pada waktu itu dikembangkan oleh Luther.

Petrus Kanisius adalah orang yang memiliki semangat kerja yang tinggi. Dia mengajar di beberapa Universitas, mendirikan Kolese sejumlah 18 buah, dan menulis buku 37 buah. Buku karyanya yang terpenting adalah “Triple Catechism”, yang diterbitkan sampai edisi ke-400, dan dipakai dari abad ke-17 sampai abad ke-18.

Santo Petrus Kanisius merupakan salah satu tokoh paling penting di dalam gerakan Kontra-Reformasi di Jerman, dan dipandang sebagai rasul kedua di Jerman setelah St. Bonifacius. Tetapi dia dihormati juga sebagai salah satu dari para pencipta percetakan Katolik. Dia adalah “sastrawan” pertama dari anggota Serikat Yesus. Dialah pelopor dalam bidang kepenulisan.

Petrus Kanisius wafat di Fribourg, Swis, 21 Desember 1597. Paus Pius XI menyatakan dia kudus pada 21 Mei 1925, dan mengumumkan dirinya sebagai pujangga Gereja. Dia adalah santo pelindung bagi para penulis Katolik. Hari pestanya di dalam Gereja Katolik dirayakan pada setiap tanggal 27 April.

Kamis, 25 April 2013

Doa kepada Bunda Maria Penasihat yang Baik

Allah Bapa yang Maha-bijaksana yang bertahta di surga, Engkau telah menganugerahkan bagi kami Bunda Yesus, untuk menjadi pembimbing dan penasihat kami. Anugerahkanlah bagi kami juga pembimbing dan penasihat itu, supaya kami dapat selalu memperoleh bantuan dari pembimbing dan penasihat yang baik itu di dalam hidup kami, dan perkenankanlah kami untuk dapat menikmati kehadirannya yang membawa berkat, baik bagi hidup kami sekarang maupun hidup kami yang akan datang.

Ya Bunda Penasihat yang baik, engkau adalah pelindung bagi organisasi-organisasi dan persekutuan-persekutuan kaum wanita di seluruh dunia. Kami mohon kepadamu, sudilah kiranya engkau berkenan menjadi pembimbing dan penasihat kami supaya kami mampu menjadi pemimpin-pemimpin yang bijaksana, yang berani, dan yang mampu melayani dengan cintakasih di dalam Gereja kami dan di dalam masyarakat kami.

Bantulah kami, ya Bunda Maria yang tercinta, untuk mengenali pikiran Yesus, Puteramu. Semoga Roh Kudus menerangi akal budi kami sehingga kami mampu mengenali, mengagumi dan merawat alam ciptaan yang diberikan oleh Allah kepada kami, dan juga mampu berbela rasa dengan sesama kami yang telah Allah anugerahkan bagi kami. Semoga karya pelayanan cintakasih yang kami lakukan di atas bumi ini mampu mendatangkan Kerajaan Allah. Semoga anugerah iman dan harapan yang hidup dari Allah mampu menyiapkan kami untuk mencapai kepenuhan bagi datangnya Kerajaan Allah di dunia ini. Amin.

Rabu, 17 April 2013

Kesabaran: Belajar dari Bunda Maria

Saudara-saudara terkasih di dalam Tuhan, pernah kita mendengar suatu ungkapan yang menyatakan bahwa dunia tempat kita tinggal ini adalah tempatnya kesusahan, dan bahkan disebut sebagai lembah air mata. Karena kita manusia berada dalam penderitaan, maka diharapkan bahwa mudah-mudahan dalam penderitaan itu, kita masih bisa bertahan dan sabar, supaya akhirnya nanti kita boleh memperoleh keselamatan bagi jiwa-jiwa kita, atau memperoleh hidup kekal. Tuhan sendiri pernah mengatakan: “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” (Luk 21: 19) Dan Allah memang telah memberikan kepada kita Santa Perawan Maria sebagai panutan dalam segala keutamaan. Dan secara khusus, Bunda Maria adalah teladan dalam hal keutamaan kesabaran.
Santo Fransiskus Sales menyatakan bahwa ketika Yesus dan Bunda Maria berada di tengah-tengah pesta perkawinan di Kana, Yesus memberikan jawaban kepada Bunda Maria atas permohonan yang diungkapkan dalam doa Bunda Maria kepada-Nya: “Ibu, apa yang kau kehendaki dari Aku” (Yoh 2: 4). Dan akhirnya Yesus melakukan apa yang menjadi doa Bunda-Nya, yakni memberikan kepada kita keteladanan dalam hal kesabaran. Tetapi apa yang kita cari dari keteladanan Bunda Maria tentang keutamaan kesabaran?
Seluruh hidup Bunda Maria adalah latihan yang berlangsung terus menerus tentang kesabaran. Sebab, ketika malaikat Tuhan menyatakan diri kepada Santa Brigitta, “Ketika sekuntum bunga mawar tumbuh di antara tanaman berduri, maka demikianlah juga Bunda Maria tumbuh di dalam saat-saat yang sulit, susah dan sengsara.” Belarasa terhadap penderitaan sang Penebus pun sudah cukup membuat diri Bunda Maria menderita dan menjadi martir dalam hal kesabaran.

Tetapi St. Bonaventura mengatakan, “bahwa Bunda yang tersalib telah mengandung Puteranya yang disalib.” Ketika kita berbicara tentang kesusahan, kita telah menimbang-menimbang sejauh mana Bunda Maria itu telah mengalami penderitaan, baik ketika dalam perjalanannya menuju ke Mesir, selama tinggal di sana, maupun selama ia hidup bersama dengan Puteranya di Nazareth. Apa yang paling membuat Maria menderita adalah ketika ia hadir pada saat kematian Yesus di Gunung Kalvari. Hal itu menunjukkan kepada kita bahwa kesabaran Maria begitu hebat: Di sana Maria Bunda-Nya berdiri di bawah kaki salib Yesus. Itulah kemanfaatan kesabaran Maria. Dan karena itu Santo Albertus Agung pernah mengata
kan “Maria membawa kepada kita kehidupan berahmat untuk seterusnya.”

Untuk selanjutnya, jika kita ingin menjadi anak-anak Bunda Maria, maka kita mesti berusaha untuk meniru Bunda Maria dalam hal kesabaran. “Oleh karena itu”, kata Santo Cyprianus, “masih ada manfaat apa lagi yang bisa kita warisi dalam hidup ini, dan kemuliaan yang lebih besar macam apa yang masih dapat kita nikmati di masa yang akan datang, selain kesabaran bertahan untuk menanggung penderitaan?” Allah bersabda, melalui Nabi Hosea (2: 6), “Aku akan menyekat jalannya dengan duri-duri.” Kepada Santo Gregorius, Allah juga mengatakan bahwa “jalan yang dipilih akan disekat dengan duri-duri.” Sekat duri itu akan melindungi kebun anggur, sehingga Allah melindungi para hamba-Nya dari bahaya ketika mempekerjakan mereka di atas bumi, dengan cara melindungi mereka dari kesulitan, kesusahan dan kesengsaraan. Karena itu Santo Cyprianus mengambil kesimpulan bahwa kesabaran adalah keutamaan yang penting yang dapat membebaskan kita dari dosa dan dari neraka. Menurut Santo Yakobus, kesabaran itu membuahkan kematangan, kesempurnaan, keutuhan, seperti dituliskan dalam suratnya: “Dan biarkanlah kete¬kunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna, dan utuh, dan tak kekurangan suatu apa pun.” (Yak 1: 4).

Menanggung penderitaan dalam damai, tidak hanya sewaktu berhadapan dengan salib yang datang dari Tuhan secara tiba-tiba, seperti: sakit dan kemiskinan, tetapi juga yang datang dari manusia sendiri, misalnya: pengejaran, pe¬nyiksaan, luka dan harus beristirahat. Santo Yohanes melihat semua orang kudus memegang ranting daun palma di tangannya, lambang kemartiran, sebagaimana ditulis dalam Kitab Wahyu: “Setelah itu aku melihat banyak palma di tangan mereka (Why 7: 9); yang berarti bahwa semua orang dewasa yang disela¬matkan harus menjadi martir, dengan cara mencurahkan darahnya untuk Kristus atau dengan cara bertindak sabar.

“Bersukacitalah,” kata Santo Gregorius, “kita dapat menjadi martir tanpa harus dieksekusi dengan pedang, jika kita bersedia untuk menjadi sabar.” “Bersiap-sedialah saja,” kata Santo Bernardus, “kita bertahan dalam penderitaan hidup dengan sabar dan gembira.” Karena itu, Rasul Paulus meneguhkan kita dengan mengatakan, “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, yang jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” (2Kor 4: 17).

Pernyataan Santa Theresia mengenai hal ini sungguh indah. Dia mengatakan, “Barangsiapa memeluk salib, dia tidak akan merasakan betapa beratnya salib itu”, dan di tempat lain dia menyatakan, “Jika kita memutuskan untuk menderita, maka berhentilah pedih perih penderitaan itu.” Jika salib-salib kita berat di pundak, marilah kita kembali datang kepada Bunda Maria, yang disebut oleh Gereja sebagai “Penghibur bagi Orang yang Sengsara”, dan yang oleh Santo Yohanes Damascena disebut sebagai “Obat bagi Hati yang Susah”.

Ya, Bunda Maria yang tersuci, engkau telah menghadapi penderitaan dengan begitu sabar; dan apakah kami yang ingin masuk ke surga, juga harus menderita, seperti engkau? Bunda Maria, ya Bunda kami, kami sekarang memohon kepadamu rahmat, tidak supaya kami dibebaskan dari salib, tetapi diberi kemampuan untuk memanggul salib dengan sabar. Karena cinta Yesus kepada kami, maka kami percayakan permohonan ini kepadamu agar kami boleh memperoleh rahmat ini dari Allah bagi kami, dan karena pengantaraanmu kami juga boleh memiliki harapan untuk memperoleh rahmat itu dengan penuh percaya.