Pada umumnya orang suka akan hal-hal yang besar dan hebat. Orang dianggap sukses kalau ia sudah melakukan hal-hal yang besar dan hebat. Para manajer pun acapkali menghindarkan diri dari pekerjaan-pekerjaan kecil. Mereka menganggap bahwa pekerjaan kecil itu pekerjaan bawahan, pekerjaan front line. Mereka sudah puas kalau sudah selesai menentukan tujuan, merumuskan strategi, dan membuat kebijakan. Tetapi pada kenyataannya, sebuah usaha tidaklah mungkin berjalan tanpa pekerjaan-pekerjaan kecil dan taktis. Meskipun tujuan, policy, strategi sudah dibuat tanpa eksekusi yang baik terhadap pekerjaan-pekerjaan kecil, perusahaan tidak akan mengalami kemajuan.
Seorang politikus yang ingin berhasil dalam pemilu dan dipilih menjadi pemimpin masyarakat, tidaklah cukup kalau dia sudah merasa berhasil ketika dia sudah merumuskan visi dan misi partai, dan sudah berhasil memasang poster-poster unjuk muka di jalan-jalan protokol kota. Untuk berhasil menjadi pemimpin masyarakat dia masih dituntut untuk mampu dan terbukti mampu menerjemahkan visi dan misi itu ke dalam tindakan-tindakan konkret untuk terjadinya perubahan kehidupan masyarakat yang lebih baik, lebih adil, lebih makmur dan sejahtera.
James Colllins, seorang pakar manajemen strategis pernah mengatakan: “Untuk membangun sebuah perusahaan yang hebat bisa diumpamakan sebagai sebuah proses seseorang yang sedang mendaki gunung dan ingin mencapai puncaknya. Ada unsur-unsur yang harus didiskusikan sejak dini, yaitu: tujuan yang jelas (visi yang disosialisasikan), kemampuan untuk membangun tim kerja yang kompak (gaya kepemimpinan), rencana strategis (strategi) dan solusi-solusi kreatif untuk menghadapi tantangan-tantangan sepanjang perjalanan perusahaan yang menuntut adanya inovasi-inovasi. Tidak hanya itu, masih ada unsur lain yang jauh lebih penting, yaitu: melaksanakan pekerjaan kecil-kecil secara detail (menjaga agar tali pengaman di badan tetap pada posisi yang benar); seperti layaknya juga memperhatikan kaki dan tangan yang kita pakai untuk mendaki. Kalau kita tidak memperhatikan tangan dan kaki kita, bisa jadi kita mati di tengah jalan dan tidak sampai di tujuan.
Membangun sebuah perusahaan yang hebat bisa dianalogikan dengan menulis sebuah novel yang hebat. Untuk menulis novel yang hebat, orang membutuhkan konsep (visi), alur cerita (strategi), dan gagasan-gagasan kreatif untuk menggerakkan alur cerita yang menarik. Orang juga dituntut untuk bekerja keras, memeras keringat untuk menyusun gagasan-gagasan itu ke dalam kalimat-kalimat, menatanya dalam kata demi kata, baris demi baris, halaman demi halaman. Dapat dimengerti bahwa seorang penulis terkenal bernama Hemingway, ketika menulis novelnya yang berjudul A Farewell to Arms, menulis ulang bagian halaman terakhir dari novelnya sampai 39 kali. Ketika ditanya mengapa harus begitu, ia menjawab: “Getting the words right”, biar tercapai penyusunan kata-kata yang sungguh tepat.
Menurut penelitian, banyak perusahaan sukses terutama karena istimewa dalam mengeksekusi pekerjaan-pekerjaan taktis yang kecil-kecil itu. Sebuah majalah yang melakukan survei terhadap 500 orang pemimpin perusahaan dari perusahaan-perusahaan yang mengalami pertumbuhan paling cepat, menunjukkan bahwa di antara 88% di antara pemimpin perusahaan menunjukkan bahwa keberhasilan perusahaan disebabkan karena perusahaan berhasil melakukan eksekusi dengan baik pekerjaan-pekerjaan kecil secara luar biasa. Hanya 12% yang mengatakan bahwa keberhasilan perusahaan terletak pada ide-ide besar. Dengan demikian benar apa yang dikatakan Mies van der Rohe. “Allah itu ada dalam pekerjaan-pekerjaan kecil,” kata Mies van der Rohe. Karena itu melaksanakan pekerjaan-pekerjaan kecil dan detail itu adalah sarana menemukan Allah dalam hidup sehari-hari kita.
Pekerjaan kecil tidak hanya berarti bagi para pemimpin perusahaan untuk membawa perusahaannya berhasil menjadi perusahaan yang hebat, tetapi juga berarti besar bagi mereka yang sedang mencari jalan kepada kesucian hidup. Untuk menjadi suci, Theresia Lisieux menunjukkan jalan kepada kita, yang disebutnya dengan “Jalan Kecil”. Untuk menjadi suci, tidak perlu hal-hal besar dan hebat itu. Bagi Theresia Lisieux, untuk menjadi suci tidak perlu hal-hal besar. Untuk suci perlu perbuatan-perbuatan kecil tetapi dilakukan dengan penuh cinta.
Theresia menerjemahkan “Jalan Kecil” dengan istilah komitmen terhadap tugas-tugas dan terhadap orang-orang yang kita temui di dalam hidup sehari-hari. Ia ambil tugas-tugas di biara sebagai cara-cara mewujudkan cintanya pada Allah dan pada orang lain. Ia bekerja sebagai koster untuk menyiapkan altar dan kapel. Ia melayani di refter (kamar makan) dan kamar cuci. Ia menulis drama untuk acara hiburan di dalam komunitas. Dengan cara begitu ia mencoba untuk memperlihatkan cintanya untuk semua suster dalam komunitas. Ia memberikan dirinya bahkan juga untuk anggota komunitas yang dianggapnya sulit. Ia bermain drama tidak hanya untuk orang yang disukai tetapi juga untuk orang yang dianggapnya sulit itu.
Theresia ingin memenuhi apa yang pernah ditulis oleh Yohanes dari Salib: “Di senja hidup, kita akan diadili oleh cinta kita ...” Theresia yakin bahwa cinta adalah segalanya. Ia mengenal pusat cinta itu ketika ia membaca surat Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 13: 1-13); dan karena itu ia ingin memeluk panggilan ke arah cinta itu. Ia menerjemahkan keinginan mencintai itu dengan mengembangkan relasinya dengan Tuhan Yesus Kristus. Ia mempersembahkan setiap hari hidupnya kepada Tuhan Yesus sebagai suatu cara untuk mewujudkan cintanya kepada Yesus.
Orang Katolik tertarik pada gaya hidup Theresia. Jalan kecilnya nampaknya membuat orang-orang biasa dapat menjangkau kesucian itu. Untuk dapat mencapai cita-cita kesucian itu kita perlu selalu mengingat pesan yang disampaikan oleh Santa Theresia kepada kita: “Hayatilah hari-hari anda dengan percaya pada cinta Allah untuk anda! Ingatlah bahwa setiap hari merupakan hadiah di mana hidup anda bisa dibuat berbeda dengan cara bagaimana anda menghayatinya. Pilihlah hidup. Cinta adalah komitmen yang setiap hari harus diulangi dan dan dikerjakan dalam setiap hari hidup kita.”
Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja
Jumat, 16 September 2011
Kamis, 01 September 2011
Doa di Saat Sulit
Tuhan,
Hidupku dipenuhi dengan banyak tantangan. Ada banyak perubahan yang sedang bergerak di sekitarku. Nampak terasa bahwa perubahan-perubahan ini membanjiri diriku. Banyak hati terluka. Lukanya melebihi luka yang aku derita. Tetapi di kegelapan malam, aku tahu bahwa Engkau bersamaku, meski aku tidak dapat merasakannya bahwa diri-Mu berada di sana.
Aku pasrahkan hatiku kepada-Mu. Aku serahkan hidupku kepada-Mu. Aku serahkan semua kekecewaanku, kepedihanku, dan penderitaanku, karena hanya Engkaulah yang dapat memahaminya. Aku satukan penderitaanku dengan penderitaan-Mu; hatiku dengan hati-Mu.
Sudilah kiranya Engkau menganugerahkan kepadaku kekuatan untuk bergerak maju, untuk gigih berjuang, dan untuk mengumumkan kemenangan karena nama-Mu. Engkau adalah Terang dalam kegelapan, Engkaulah alasan mengapa aku hidup dan bergerak, dan mengapa aku menghayati keberadaanku sekarang.
Tidak ada hal lain di dalam hidup ini, yang sebanding dengan Engkau. Aku akan berpegang teguh pada-Mu. Aku akan mengkonsumsi Engkau, karena Engkau adalah roti kehidupan. Engkau memberikan kepadaku makanan untuk mengurus segala cobaan dan mengatasi segala cobaan itu. Engkau adalah Pembimbingku dan Penghiburku. Engkau adalah Kebangkitan dan Hidup. Engkau adalah Allahku, Engkau adalah segalanya. Hanya Engkaulah yang aku butuhkan dan aku inginkan, sekarang dan selama-lamanya. Amin.
Hidupku dipenuhi dengan banyak tantangan. Ada banyak perubahan yang sedang bergerak di sekitarku. Nampak terasa bahwa perubahan-perubahan ini membanjiri diriku. Banyak hati terluka. Lukanya melebihi luka yang aku derita. Tetapi di kegelapan malam, aku tahu bahwa Engkau bersamaku, meski aku tidak dapat merasakannya bahwa diri-Mu berada di sana.
Aku pasrahkan hatiku kepada-Mu. Aku serahkan hidupku kepada-Mu. Aku serahkan semua kekecewaanku, kepedihanku, dan penderitaanku, karena hanya Engkaulah yang dapat memahaminya. Aku satukan penderitaanku dengan penderitaan-Mu; hatiku dengan hati-Mu.
Sudilah kiranya Engkau menganugerahkan kepadaku kekuatan untuk bergerak maju, untuk gigih berjuang, dan untuk mengumumkan kemenangan karena nama-Mu. Engkau adalah Terang dalam kegelapan, Engkaulah alasan mengapa aku hidup dan bergerak, dan mengapa aku menghayati keberadaanku sekarang.
Tidak ada hal lain di dalam hidup ini, yang sebanding dengan Engkau. Aku akan berpegang teguh pada-Mu. Aku akan mengkonsumsi Engkau, karena Engkau adalah roti kehidupan. Engkau memberikan kepadaku makanan untuk mengurus segala cobaan dan mengatasi segala cobaan itu. Engkau adalah Pembimbingku dan Penghiburku. Engkau adalah Kebangkitan dan Hidup. Engkau adalah Allahku, Engkau adalah segalanya. Hanya Engkaulah yang aku butuhkan dan aku inginkan, sekarang dan selama-lamanya. Amin.
~ Jean M. Heimann
Rabu, 24 Agustus 2011
Doa sebagai Mendengarkan
Sejak dulu saya memahami bahwa doa itu adalah berbicara kepada Tuhan. Pada kenyataannya, definisi tentang doa semacam itu yang saya ingat: doa adalah berbicara kepada Tuhan. Dalam pengertian seperti itu, doa melibatkan aktivitas berbicara tentang keprihatinan kita, kebutuhan kita, dan dambaan kita kepada Tuhan. Doa kita mengerti sebagai bicara kepada Tuhan.
Tetapi saya kemudian belajar juga tentang sisi lain dari doa. Sisi lain itu adalah mendengarkan Tuhan. Doa itu mendengarkan, menciptakan ruang di dalam hidup kita dan meminta kepada Tuhan untuk mengisinya. Doa itu tidak lain membuka diri kepada Roh Kudus dan mencari panduan dan bimbingan Roh Kudus di dalam hidup kita. Bagian yang sungguh mengagumkan dari doa adalah mendengarkan Tuhan.
Doa sebagai aktivitas mendengarkan merupakan bagian dari pengajaran Kitabsuci mengenai doa. Penulis Kitabsuci tahu bahwa doa itu melibatkan usaha membuka ruang di dalam hidup kita dan meminta Tuhan untuk mengisinya. Doa itu mendengarkan dan mencari Roh Kudus. Doa itu membuka diri kita dengan suatu keyakinan bahwa Allah akan mengisi kita.
Kutipan dari Kitabsuci berikut ini memberikan pengertian kepada kita bahwa dimensi vital dari doa adalah mendengarkan, membuka diri kepada Tuhan dan istirahat di dalam Tuhan.
Mazmur 46: “Tenanglah, dan ketahuilah bahwa aku adalah Allah.”
Mazmur 37: 7: “Istirahatlah di depan Tuhan, dan tunggulah dengan sabar untuk berjumpa dengan-Nya”
Ayub 33: 33: “Dengarkan Aku, tenanglah, dan aku akan mengajar kamu tentang kebijaksanaan”
Mateus 11: 28: Yesus sendiri mengundang kita untuk datang kepada-Nya ketika kita berbeban berat, dan mendapatkan istirahat.
Ada suatu pemahaman yang mendalam mengenai doa di sini. Kerapkali Tuhan bicara kepada kita di dalam keheningan. Kerapkali di dalam keheningan seperti itu Tuhan berbagi dengan kita. Bagian doa adalah belajar mendengarkan Tuhan dan membuka diri kepada Tuhan.
Pemazmur memahami keheningan itu sebagai aktivitas menunggu di hadapan Tuhan. Bagi mereka, doa itu menunggu Tuhan. Doa menjadi suatu waktu untuk menunggu, menantikan, mendengarkan, dan mencari, ketika kita memfokuskan hidup kita kepada Tuhan.
Itu berarti bahwa dimensi penting dari doa adalah menunggu di hadapan Tuhan dan mendengarkan Tuhan. Doa berarti membuka diri dan menunggu karena kita mencari Tuhan yang secara nyata lebih dekat dengan kita daripada yang kita pernah sadari.
Dalam kehidupan modern kita menjadi orang sibuk. Kita tidak menunggu. Kita sibuk mengerjakan sesuatu. Kita ingin segala sesuatunya instan dalam mengakses segala sesuatu, dari uang tunai yang diambil dari amplop langsung jadi hamburger. Kita tidak menyukai keheningan. Kita lebih suka bicara dan mencoba mengisi setiap waktu dengan menyelesaikan sesuatu. Saya tidak tahu bagaimana keadaan anda semua; tetapi yang saya ceritakan ini adalah pengalaman saya.
Biasanya kalender sudah penuh acara untuk setiap tahun. Ada empat pertemuan setiap hari. Ada 6 telepon yang harus saya hubungi. Satu kotbah atau renungan pendek harus saya tulis. Dua bab bahan kuliah harus saya siapkan; mengantar anak kursus bahasa Inggris. Saya kadang takut kalau Tuhan mau bicara dengan saya dan sementara itu saya tidak punya waktu dan ruang yang tersisa untuk-Nya. Setiap orang sibuk dengan diri sendiri: mengerjakan segala sesuatu, menulis email, menjawab sms, mengakses internet, dll. Nokia menjadi santo/santa pujaan baru. Tuhan mengajar kita untuk menunggu, mendengarkan dan mencari.
Tuhan memberi nasihat kepada kita bagaimana menghadapi jaman modern, bagaimana gaya hidup kita harus diperbaiki. Waktu untuk refleksi adalah penting untuk kesehatan kita. Tuhan adalah Tuhan; dan bagian dari hidup yang beriman adalah belajar mencari Tuhan.
Ilmu yang baik di jaman modern adalah belajar untuk mendengarkan Tuhan. Untuk mendengarkan Tuhan, kita perlu membuka diri, menyediakan ruangan di dalam hidup kita, untuk meminta Tuhan untuk masuk ke dalam diri kita. Karena Tuhan berbicara dengan kita; dan kerapkali Tuhan bicara dalam keheningan.
Bagaimana kita bisa membuka waktu dan ruangan di dalam hidup kita untuk Tuhan? Kita menemukan berbagai cara untuk menyediakan waktu dan ruang bagi Tuhan untuk berbicara. Antara lain adalah refleksi dan meditasi dengan sumber Kitab Suci. Bacalah Kitabsuci dan renungkan apa yang dikatakan di sana. Bawalah teks Kitabsuci itu dalam kehidupan sehari; dengarkan dan pahamilah.@@@
Tetapi saya kemudian belajar juga tentang sisi lain dari doa. Sisi lain itu adalah mendengarkan Tuhan. Doa itu mendengarkan, menciptakan ruang di dalam hidup kita dan meminta kepada Tuhan untuk mengisinya. Doa itu tidak lain membuka diri kepada Roh Kudus dan mencari panduan dan bimbingan Roh Kudus di dalam hidup kita. Bagian yang sungguh mengagumkan dari doa adalah mendengarkan Tuhan.
Doa sebagai aktivitas mendengarkan merupakan bagian dari pengajaran Kitabsuci mengenai doa. Penulis Kitabsuci tahu bahwa doa itu melibatkan usaha membuka ruang di dalam hidup kita dan meminta Tuhan untuk mengisinya. Doa itu mendengarkan dan mencari Roh Kudus. Doa itu membuka diri kita dengan suatu keyakinan bahwa Allah akan mengisi kita.
Kutipan dari Kitabsuci berikut ini memberikan pengertian kepada kita bahwa dimensi vital dari doa adalah mendengarkan, membuka diri kepada Tuhan dan istirahat di dalam Tuhan.
Mazmur 46: “Tenanglah, dan ketahuilah bahwa aku adalah Allah.”
Mazmur 37: 7: “Istirahatlah di depan Tuhan, dan tunggulah dengan sabar untuk berjumpa dengan-Nya”
Ayub 33: 33: “Dengarkan Aku, tenanglah, dan aku akan mengajar kamu tentang kebijaksanaan”
Mateus 11: 28: Yesus sendiri mengundang kita untuk datang kepada-Nya ketika kita berbeban berat, dan mendapatkan istirahat.
Ada suatu pemahaman yang mendalam mengenai doa di sini. Kerapkali Tuhan bicara kepada kita di dalam keheningan. Kerapkali di dalam keheningan seperti itu Tuhan berbagi dengan kita. Bagian doa adalah belajar mendengarkan Tuhan dan membuka diri kepada Tuhan.
Pemazmur memahami keheningan itu sebagai aktivitas menunggu di hadapan Tuhan. Bagi mereka, doa itu menunggu Tuhan. Doa menjadi suatu waktu untuk menunggu, menantikan, mendengarkan, dan mencari, ketika kita memfokuskan hidup kita kepada Tuhan.
Itu berarti bahwa dimensi penting dari doa adalah menunggu di hadapan Tuhan dan mendengarkan Tuhan. Doa berarti membuka diri dan menunggu karena kita mencari Tuhan yang secara nyata lebih dekat dengan kita daripada yang kita pernah sadari.
Dalam kehidupan modern kita menjadi orang sibuk. Kita tidak menunggu. Kita sibuk mengerjakan sesuatu. Kita ingin segala sesuatunya instan dalam mengakses segala sesuatu, dari uang tunai yang diambil dari amplop langsung jadi hamburger. Kita tidak menyukai keheningan. Kita lebih suka bicara dan mencoba mengisi setiap waktu dengan menyelesaikan sesuatu. Saya tidak tahu bagaimana keadaan anda semua; tetapi yang saya ceritakan ini adalah pengalaman saya.
Biasanya kalender sudah penuh acara untuk setiap tahun. Ada empat pertemuan setiap hari. Ada 6 telepon yang harus saya hubungi. Satu kotbah atau renungan pendek harus saya tulis. Dua bab bahan kuliah harus saya siapkan; mengantar anak kursus bahasa Inggris. Saya kadang takut kalau Tuhan mau bicara dengan saya dan sementara itu saya tidak punya waktu dan ruang yang tersisa untuk-Nya. Setiap orang sibuk dengan diri sendiri: mengerjakan segala sesuatu, menulis email, menjawab sms, mengakses internet, dll. Nokia menjadi santo/santa pujaan baru. Tuhan mengajar kita untuk menunggu, mendengarkan dan mencari.
Tuhan memberi nasihat kepada kita bagaimana menghadapi jaman modern, bagaimana gaya hidup kita harus diperbaiki. Waktu untuk refleksi adalah penting untuk kesehatan kita. Tuhan adalah Tuhan; dan bagian dari hidup yang beriman adalah belajar mencari Tuhan.
Ilmu yang baik di jaman modern adalah belajar untuk mendengarkan Tuhan. Untuk mendengarkan Tuhan, kita perlu membuka diri, menyediakan ruangan di dalam hidup kita, untuk meminta Tuhan untuk masuk ke dalam diri kita. Karena Tuhan berbicara dengan kita; dan kerapkali Tuhan bicara dalam keheningan.
Bagaimana kita bisa membuka waktu dan ruangan di dalam hidup kita untuk Tuhan? Kita menemukan berbagai cara untuk menyediakan waktu dan ruang bagi Tuhan untuk berbicara. Antara lain adalah refleksi dan meditasi dengan sumber Kitab Suci. Bacalah Kitabsuci dan renungkan apa yang dikatakan di sana. Bawalah teks Kitabsuci itu dalam kehidupan sehari; dengarkan dan pahamilah.@@@
Jumat, 05 Agustus 2011
Doa untuk Penderita Kanker
Doa Penderita Kanker dengan Perantaraan St. Peregrinus
Ya Santo Perigrinus, Bunda Gereja yang kudus menyatakan bahwa engkau adalah pelindung bagi siapa saja yang menderita sakit kanker. Dengan penuh percaya aku datang menghadapmu untuk meminta bantuanmu di saat-saat aku menderita sakit ini. Aku memohon kepadamu, sudilah kiranya engkau berkenan menjadi perantara bagiku.
Mohonkan kepada Allah agar Dia berkenan menyembuhkan penyakitku, jika itu memang kehendak-Nya. Mohonlah bersama dengan Santa Perawan Maria yang tersuci, Bunda Sapta Duka, yang sungguh engkau cintai. Dalam kesatuan dengan Bunda Maria, dulu engkau telah menghadapi penderitaanmu karena sakit kanker, maka sudilah kiranya Bunda Maria juga berkenan membantu aku dengan doa dan penghiburannya yang sungguh berdaya-guna bagiku dalam menghadapi sakit dan penderitaan ini.
Tetapi jika memang kehendak Allah sehingga aku harus menanggung sakit ini, berikanlah kepadaku keberanian dan kekuatan untuk menerima segala kesulitan dan penderitaan yang datang dari tangan Allah yang mencintai, dengan penuh kesabaran dan penyerahan diri, karena Allah mengetahui apa yang terbaik untuk keselamatan jiwaku.
Ya, Santo Peregrinus, jadilah sahabatku dan pelindungku. Bantulah aku untuk dapat meniru teladanmu dalam menerima penderitaan, dan menyatukan diriku bersama dengan Yesus yang tersalib dan Bunda Maria Bunda Sapta Duka, seperti engkau dulu pernah melakukannya. Aku persembahkan sakit dan penderitaanku ini kepada Allah dengan segala cinta yang mendalam dari lubuk hatiku, demi kemuliaan-Nya dan demi keselamatan jiwa-jiwa, terutama jiwaku. Amin.
Doa untuk Penderita Kanker dengan Perantaraan St. Peregrinus
Ya, Santo Peregrinus, engkau terkenal sebagai “pembuat mukjizat”, karena memang telah membuat banyak mukjizat dan memiliki kemampuan khusus yang dianugerahkan oleh Allah kepada engkau. Selama bertahun-tahun engkau sendiri telah mengalami penderitaan karena sakit kanker yang merusak urat-urat dalam tubuhmu. Kami percaya bahwa engkau bisa menjadi sumber rahmat bagi kami ketika kekuatan manusia sudah tidak mampu lagi menanggung penderitaan karena sakit. Engkau telah mengalami sendiri bagaimana Tuhan Yesus berkenan turun dari salib, mendatangi engkau dan menyembuhkan engkau dari segala sakit yang engkau derita.
Sudilah kiranya sekarang engkau menjadi perantara bagi kami, untuk berkenan memintakan kepada Allah dan kepada Bunda Maria, rahmat kesembuhan bagi saudara kami, yang sedang menderita sakit kanker. Kami percayakan saudara kami ini (hening sejenak, dan sebut nama si sakit) kepadamu. Bantulah kami dengan perantaraanmu yang penuh kuat-kuasa, agar Allah berkenan memberikan rahmat kesembuhan itu bagi saudara kami yang sakit, jika Allah berkenan menghendaki demikian. Dan kami berjanji akan memuji Allah, sekarang dan sepanjang masa, dengan nyanyian penuh syukur atas segala kebaikan dan belaskasih Allah yang turun atas kami karena perantaraanmu. Amin.
Minggu, 31 Juli 2011
Menemukan Allah dalam Tindakan
Sang Guru ditanya, "Bagaimana seseorang menemukan Allah di dalam tindakan?"
Ia menjawab, "Dengan mencintai tindakan itu secara sepenuh hati, tanpa memandang buah yang dihasilkan oleh tindakan itu."
Ia menjawab, "Dengan mencintai tindakan itu secara sepenuh hati, tanpa memandang buah yang dihasilkan oleh tindakan itu."
- Anthony de Mello, 1998, Awakening:
Conversations with the Master,
365 Daily Meditations,
Chicago: Loyola Press, No. 324
Rabu, 20 Juli 2011
Ambil dan Terimalah
Ambillah, ya Tuhan, dan terimalah segenap kebebasanku
Ingatanku, pengertianku,
Dan segenap kehendakku,
Segala yang kumiliki dan kuanggap kupunya.
Engkau telah berikan semua bagiku.
Padamu, ya Tuhan, kukembalikan.
Segalanya adalah milikMu; gunakan sesuai kehendakMu.
Hanya Cinta dan RahmatMu
Cukup sudah itu bagiku.
Ingatanku, pengertianku,
Dan segenap kehendakku,
Segala yang kumiliki dan kuanggap kupunya.
Engkau telah berikan semua bagiku.
Padamu, ya Tuhan, kukembalikan.
Segalanya adalah milikMu; gunakan sesuai kehendakMu.
Hanya Cinta dan RahmatMu
Cukup sudah itu bagiku.
- St. Ignasius dari Loyola (1491-1556)
Selasa, 19 Juli 2011
Doa Mohon Lepas Bebas
Aku mohon kepada-Mu ya Tuhan,
agar Engkau menyingkirkan segala sesuatu
yang memisahkan aku dari Engkau
dan Engkau dari aku.
Singkirkan segala sesuatu yang membuat aku tak pantas
Engkau pandang,
Engkau kuasai,
Engkau cela,
Engkau bicarakan,
Engkau baiki,
Engkau cintai.
Buanglah dariku setiap kejahatan,
yang menghalangi aku untuk melihat Engkau,
mendengar, mengecap, menikmati,
dan menyembah Engkau,
takut dan memperhatikan Engkau,
mengenal, percaya, mencintai, dan memiliki Engkau,
Sadar akan hadirat-Mu dan sedapat mungkin mengenyam Engkau.
Ini adalah apa yang aku minta untuk diriku
Dan yang aku inginkan sekali dari Engkau.
agar Engkau menyingkirkan segala sesuatu
yang memisahkan aku dari Engkau
dan Engkau dari aku.
Singkirkan segala sesuatu yang membuat aku tak pantas
Engkau pandang,
Engkau kuasai,
Engkau cela,
Engkau bicarakan,
Engkau baiki,
Engkau cintai.
Buanglah dariku setiap kejahatan,
yang menghalangi aku untuk melihat Engkau,
mendengar, mengecap, menikmati,
dan menyembah Engkau,
takut dan memperhatikan Engkau,
mengenal, percaya, mencintai, dan memiliki Engkau,
Sadar akan hadirat-Mu dan sedapat mungkin mengenyam Engkau.
Ini adalah apa yang aku minta untuk diriku
Dan yang aku inginkan sekali dari Engkau.
- Beato Petrus Faber SJ (1506-1546)
Langganan:
Postingan (Atom)





