Hidup Berbagi

Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja

Rabu, 15 Agustus 2012

Rendah Hati: Belajar dari Bunda Maria

Hari ini hari Rabu, tanggal 15 Agustus 2012. Umat Katolik merayakan peristiwa iman “Maria Diangkat Ke Surga” (Maria Assumpta). Gereja mengajak umat beriman untuk merenungkan perbuatan besar yang dikerjakan oleh Allah bagi Maria. Gereja percaya bahwa Allah mengangkat Maria ke surga dengan jiwa dan badan, karena peranannya yang luar biasa dalam karya penyelamatan dan penebusan Kristus.
Kebenaran iman ini dimaklumkan sebagai dogma dalam Konstitusi Apostolik Munificentissimus Deus oleh Bapa Suci Pius XII (1939-1958) pada tanggal 1 Nopember 1950. Dalam Konstitusi Apostolik itu, Bapa Suci menyatakan “Kami memaklumkan, menyatakan dan menentukannya menjadi suatu dogma wahyu ilahi: bahwa Bunda Allah yang Tak Bernoda, Perawan Maria, setelah menyelesaikan hidupnya di dunia ini, diangkat dengan badan dan jiwa ke dalam kemuliaan surgawi."

Sebagai salah satu dasar untuk memahami dogma tentang Maria Assumpta itu, dalam kotbahnya pada tanggal 15 Agustus 2004, Paus Yohanes II mengutip Injil Yohanes (14: 3). Dalam ayat itu, Yesus menyampaikan pesan kepada para murid-Nya pada saat Perjamuan Malam terakhir, “Apabila Aku telah pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.” Dalam diri Bunda Maria, janji Tuhan Yesus Kristus untuk menyediakan tempat tinggal di Rumah Bapa itu telah terpenuhi, ketika Bunda Maria diangkat ke surga jiwa dan raganya.

Bapa Suci Benediktus XVI melalui Surat Apostolis “Porta Fidei” (Pintu Menuju Iman) tertanggal 11 Oktober 2011, mengumumkan bahwa Gereja di seluruh dunia akan merayakan “Tahun Iman”, yang akan dibuka pada tanggal 11 Oktober 2012 dan ditutup pada tanggal 24 Nopember 2013, persis pada hari pesta perayaan Kristus Raja Semesta Alam. Dalam anjurannya mengenai perayaan "Tahun Iman" itu, Bapa Suci mengajak umat ber­iman untuk mengenali kembali peran Bunda Maria dalam misteri keselamatan Allah, agar kita umat beriman semakin mencintai Bunda Maria dan mengikuti dia sebagai panutan hidup beriman dan berkeutamaan. Melalui Santo Alphonsus de Liguori kita dapat mengenali keutamaan-keutamaan yang dimiliki Bunda Maria. Salah satu keutamaan yang terpenting adalah keutamaan rendah hati.

Bunda Maria adalah murid pertama dan murid paling sempurna yang mem­prak­tekkan se­ga­la keutamaan. Bunda Maria adalah murid pertama yang mempraktekkan kerendahan hati, melebihi makhluk ciptaan yang lain. Seperti dinyatakan kepada Santa Matilda, keutamaan pertama yang dilatih oleh Bunda Maria dari Yesus dan dipraktek­kan adalah kerendahan hati. Efek pertama dari kerendahan hati adalah memandang diri rendah. Bunda Maria selalu memandang dirinya rendah. Meski diperkaya dengan berbagai rahmat yang jauh lebih besar, Bunda Maria tidak pernah menganggap dirinya lebih dari siapa pun. Bunda Maria memang tidak pernah memandang dirinya pendosa. Tetapi seperti dikatakan oleh Santa Theresia, ke­rendahan hati adalah kebenaran. Bunda Maria tahu bahwa dirinya telah menerima segala rahmat dari Allah, tetapi dia tidak pernah memandang dirinya lebih daripada yang lain.

Santo Bernardinus menyatakan: “Yang senantiasa hadir dalam pikiran Maria adalah bah­wa Allah adalah yang Mahakuasa, dan bahwa dirinya bukanlah apa-apa, dan tidak punya apa-apa.” Persis seperti seorang pengemis, ketika dia berpakaian indah, dia tidak mem­banggakan dirinya di depan si pemberi pakaian, tetapi dia rendah hati, sadar bahwa dirinya miskin. Demi­kian juga Bunda Maria. Semakin Bunda Maria melihat bahwa dirinya diperkaya oleh rahmat Allah, maka dia akan semakin rendah hati; selalu ingat bahwa semua kekayaan itu adalah pem­berian dari Allah. Rendah hati berarti mengakui bahwa segala sesuatunya adalah hadiah yang da­tang dari Allah. Kerendahan hati yang sejati berarti menolak pujian kepada diri sendiri; dan mengem­bali­kan segala sesuatunya kepada Allah. Bunda Maria merasa terganggu ketika mendengar pu­jian dari malaikat Gabriel,dan ketika mendengar kata-kata Santa Elisabeth yang menyatakan: “Diberkatilah engkau di antara semua perem­puan … Siapakah aku ini sehingga ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk 1: 42).

Mendengar pujian itu, Bunda Maria mengembalikan segala sesuatunya kepada Allah, de­ngan menjawab: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juru­sela­matku.” (Luk 1: 46-47), seolah-olah mau mengatakan: “Engkau telah memuji aku ya Elisabeth, tetapi aku memuji Tuhan, sebab hanya bagi-Nya hormat dan pujian itu mesti disampaikan; engkau heran aku datang, dan aku heran pada kebaikan Allah yang di dalam Roh berseru: “Hati­ku bergembira karena Allah, Juru Selamatku.” Engkau memuji aku karena aku percaya; aku memuji Tuhan karena Dia berkenan mengangkat diriku yang hina dina. Bunda Maria me­mandang kerendahan hati seperti seorang hamba di depan tuannya. Bunda Maria pernah menyatakan kepada Santa Bridget: “Aku merendahkan diri sedemi­kian jauh, dan karena itu aku diberi banyak rahmat besar; karena aku berpikir dan aku tahu bahwa diriku adalah miskin, dan tidak punya apa-apa. Karena alasan yang sama aku tidak ingin dipuji; aku menghendaki bahwa pujian dan hormat itu hanya patut diberikan kepada Allah sang Pencipta dan Pemberi segala sesuatu.”

“Kita tidak bisa meneladan keperawanan dari Perawan Maria, tetapi kita bisa meniru ke­ren­dahan hati Bunda Maria”, kata St. Bernardus. “Bunda Maria mengenali dan mencintai me­reka yang mencintai dia; Bunda Maria dekat dengan mereka yang selalu menyebut namanya dalam doa, terutama mereka yang mempraktekkan keren­dahan hati dan kemurnian seperti yang dipraktekkan oleh Bunda Maria.” Seorang Yesuit bernama Martin d’Alberto, setiap hari membiasakan diri untuk menyapu dan membersihkan rumah serta mengumpulkan sampah, karena cintanya kepada Bunda Maria. Pada suatu hari, Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dan mengatakan: “Yang membuat aku senang adalah perbuatan-perbuatan rendah hati yang kamu lakukan; karena itu aku men­cintai kamu.”

Maka, pada hari pesta perayaan Maria Diangkat ke Surga ini, kita memohon kepada Allah dengan perantaraan Bunda Maria Pengantara Segala Rahmat, agar kita dianugerahi rahmat kerendahan hati sebagaimana diajarkan oleh Bunda Maria, sehingga kita dapat melayani sesama dan memuliakan Allah melalui hidup dan pekerjaan kita sehari-hari.***

Kamis, 02 Agustus 2012

Makna Persahabatan

Selasa tanggal 31 Juli 2012 adalah hari terakhir saya menjalani masa kerja di Penerbit-Percetakan Kanisius Yogyakarta, sebuah perusahaan penerbitan yang sudah berusia 90 tahun. Untuk berpamitan dengan para sahabat saya yang telah bekerjasama dengan saya selama 25 tahun, saya bermaksud untuk menulis sebuah surat terbuka yang ingin saya sampaikan kepada mereka sebagai tanda cinta saya kepada mereka. Inilah surat yang saya kirim pada tanggal 1 Agustus 2012, yang mengantar pembagian roti untuk seluruh sahabat.

Para sahabat yang terkasih, baiklah saya mengawali surat saya ini dengan mengutip sebuah kalimat bijak dari seorang sahabat yang tidak saya kenal (unknown), yang mengatakan: “The only unsinkable ship is friendship.” Artinya, “Kapal yang tidak akan pernah tenggelam adalah kapal persahabatan.” Kata-kata yang saya kutip ini sungguh amat menarik dan menyentuh hati saya pada minggu-minggu terakhir dalam bulan Juli ini.

Selama 25 tahun saya bekerja di Penerbit-Percetakan Kanisius (1 Juli 1987-31 Juli 2012), saya telah mendapatkan pengalaman hidup yang tak pernah saya lupakan, yakni: persahabatan. Selama bersahabat dengan Anda, saya telah menerima banyak anugerah dari Tuhan karena kehadiran Anda sebagai sahabat, tidak hanya nilai kemanfaatan (utility) dari saling memberi satu sama lain, tetapi juga nilai kenikmatan (pleasures) dan terlebih nilai pembelajaran keutamaan hidup (virtues) dari Anda, melalui kerja bersama.

Dari bekerja di Kanisius, saya mendapatkan upah yang tak pernah putus setiap bulan selama 25 tahun, dan dalam jumlah yang cukup untuk dapat membiayai hidup saya dan keluarga saya. Karena kebaikan Kanisius, saya dan keluarga saya bisa tinggal di sebuah rumah yang nyaman di desa Pringgolayan Yogyakarta, dengan seorang isteri dan dua orang anak. Melalui Kanisius, saya dilatih dan dibentuk menjadi seorang karyawan yang tekun, teliti dan sabar dalam melaksanakan tugas dan bertanggung jawab. Melalui Kanisius, Tuhan telah mencintai saya dan keluarga saya dengan sangat setia. Karena itu semua, dalam kesempatan yang istimewa ini, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada semua sahabat dan rekan kerja di Kanisius, atas segala pengalaman indah yang telah kita rajut bersama.

Dalam persahabatan ini, kita telah berbagi kegembiraan sehingga akhirnya apa yang kita rasakan adalah kegembiraan bersama yang berlipat-ganda. Dalam persahabatan ini, kita juga telah berbagi kesusahan, tetapi kesusahan yang kita terima, tidak lagi kita rasakan sebagai beban penderitaan, karena landasan hidup kita adalah cinta. Sebuah pepatah mengatakan: “Share joy is double joy, share sorrows is a half sorrow.” Ketika kita berbagi kegembiraan, kegembiraan itu menjadi berlipat ganda dirasakan oleh lebih banyak orang, dan ketika kita berbagi kepedihan, kepedihan itu tidak lagi kita rasakan sebagai beban yang tak tertanggungkan. Beban yang kita tanggung itu terasa menjadi lebih ringan, karena di dalam persahabatan kita yang ada adalah cinta. Di mana ada cinta, yang namanya beban itu tidak ada. Jika beban itu ada, beban itu diterima dengan senang hati.

Pada hari ini, pada hari ulang tahun saya yang ke-56, saya telah menyelesaikan masa kerja saya di Kanisius dengan baik, dan saya akan meneruskan panggilan Tuhan untuk diutus ke mana pun juga, seperti dikatakan oleh pesan di akhir setiap Perayaan Ekaristi: “Pergilah, kamu diutus untuk mewartakan Kabar Sukacita.” Dengan ini saya mohon pamit, dan apabila ada kesalahan atau kekurangan selama saya hadir dan berbagi di tengah-tengah para sahabat sekalian, entah dalam pekerjaan atau dalam pergaulan, dengan rendah hati saya mohon maaf. Saya akan mendoakan teman-teman semua dan Kanisius agar semakin sejahtera dan dapat menikmati karya keselamatan Allah dalam hidup.

Yogyakarta, 31 Juli 2012
Pada pesta St. Ignatius dari Loyola

T. Adi Susila

Senin, 25 Juni 2012

Visi yang Mengobarkan Semangat


Kita sering merasa bosan dan jemu dengan pekerjaan kita sehari-hari. Dari hari ke hari, itu-itu saja yang kita kerjakan. Tak ada variasi, tak ada yang baru sama sekali. Akhirnya, dengan mudah kita tenggelam dalam perasaan depresi yang tak mudah kita atasi. Perlahan-lahan kita mulai benci dengan pekerjaan kita sendiri. Dan kita sungguh tak tahu lagi arti dari pekerjaan kita lagi. Mungkinkah kita kisa mengalahkan rasa bosan, jemu, depresi, dan tak berpengharapan itu dalam pekerjaan kita lagi? Daniel O’Leary, seorang penulis, guru dan pastor yang bekerja di salah satu paroki di Amerika, pernah penulis cerita seperti ini:   

Ada dua tukang sedang membangun tembok. Mereka menyusun dan melekatkan batu bata, satu di ujung sini, lainnya di ujung sana. Tukang yang satu selalu merasa malas untuk memulai bekerja. Ia tidak mempunyai minat sama sekali untuk mengerjakan pembangunan tembok itu. “Tembok, ya tembok. Saya sungguh-sungguh jemu, selalu harus menata bata demi bata, hari demi hari, bulan demi bulan. Saya mengharap agar akhir minggu segera tiba. Saya membenci hari Senin, di mana saya harus memulai pekerjaan ini lagi,” katanya. Tanpa minat dan perhatian, pekerjaan itu akhirnya membunuh dia pelan-pelan.

Tukang lainnya berbeda pendirian dengannya. “Saya sedang membangun gereja katedral,” katanya. Memang, batu bata yang ditatanya akan menjadi tembok katedral di bagian barat. “Saya telah melihat paket rencana pembangunannya. Katedral itu akan menjadi bagian yang indah. Saya tak dapat percaya pada diri saya sendiri bahwa saya adalah bagian dari pembangunan itu,” kata tukang ini.  Ia bertutur lagi, bila ia melihat anak-anak sedang bermain di sekitar tembok, ia akan melihat mereka dan kelak anak-cucunya berdoa di dalam gereja, tempat yang suci dan indah itu bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun lamanya.

Pastor O’Leary kerap menceritakan hal tersebut pada guru-guru, pada para pekerja, bahkan pada para imam, atau siapa saja yang tak menemukan lagi arti dalam pekerjaannya. Tiap kali mereka mendengar, mereka merasa digugah lagi. Mereka merasa dihadapkan pada suatu horizon baru, yang tak terbatas luasnya. Pekerjaan mereka adalah bagian dari horizon yang tak terbatas itu.
Memang, tak mungkin kita bisa tabah dan kuat dalam pekerjaan kita, jika kita tidak berpengharapan bahwa pekerjaan kita yang rutin itu adalah bagian dari rencana Tuhan yang besar dan luar biasa. Hanya dengan cara ini kita dapat mengalahkan segala kejemuan dan kebosanan kita dalam pekerjaan kita sehari-hari, yang rutin tanpa variasi. 

Sungguh, lewat pekerjaan  yang paling rendah dan sepele pun kita sesungguhnya sedang menata batu bata bagi suatu katedral yang indah dan megah. Dan katedral itu bukan hanya untuk kita, tapi untuk anak cucu kita, turun-temurun. Anak cucu kita akan mengenang bahwa karya kita adalah tapak-tapak kaki Tuhan, yang akhirnya juga akan membimbing mereka untuk selalu teringat pada-Nya lewat pekerjaan mereka sendiri-sendiri.

Kamis, 31 Mei 2012

Kisah tentang Pensil


Seorang anak lelaki sedang memperhatikan neneknya yang sedang menulis sebuah surat.  Terhadap butir pertama yang ditulis nenek, anak itu bertanya: “Apakah nenek menulis sebuah kisah tentang apa yang telah nenek kerjakan di masa lampau? Apakah kisah itu mengenai saya?”

Nenek itu berhenti menulis dan berkata kepada cucunya: “Aku sedang menulis tentang kamu. Tapi hal yang jauh lebih penting daripada kata-kata adalah pensil yang aku pakai untuk menulis ini. Aku mengharapkan kamu kelak menjadi seperti pensil ini manakala kamu nanti tumbuh menjadi dewasa.”

Anak lelaki itu tertegun, kemudian mengamati pensil itu. Ternyata pensil itu bukan pensil yang istimewa. “Pensil itu pensil biasa, tidak lebih daripada pensil yang lain. Pensil itu seperti pensil yang pernah aku lihat”, kata anak lelaki itu.

“Tergantung pada bagaimana kamu melihat segala sesuatu. Ada lima kualitas dari pensil itu. Jika kamu dapat mengelola lima kualitas itu, kamu akan menjadi pribadi yang selalu damai bersama dunia.”

“Kualitas pertama: Kamu mampu menguasai segala sesuatu, tetapi kamu tidak pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing langkah-langkahmu. Kita menyebut tangan itu Allah, dan Ia selalu membimbing kita sesuai dengan kehendak-Nya.”

“Kualitas kedua: Sekarang dan pada waktu yang akan datang, aku akan berhenti menulis, dan menggunakan alat peraut pensil. Peraut pensil itu akan membuat pensil sedikit menderita. Tapi setelah itu, pensil itu menjadi jauh lebih tajam. Karena itu, kamu juga harus belajar untuk menanggung  penderitaan dan kesedihan tertentu, karena penderitaan dan kesedihan itu akan membuatmu menjadi seorang pribadi yang lebih baik.”

“Kualitas ketiga: Pensil itu selalu mengizinkan kita untuk menggunakan karet penghapus untuk meralat kesalahan. Hal itu berarti bahwa mengoreksi sesuatu yang kita kerjakan itu bukan sesuatu yang jelek. Koreksi itu membantu kita untuk tetap menapaki jalan yang benar menuju keadilan.”

“Kualitas keempat: Apa yang bermakna dari pensil, tidak terletak pada unsur luarnya, tapi pada unsur dalamnya. Bukan pada kayunya, tapi pada batu grafitnya. Karena itu perlu selalu diperhatikan bagian dalam dirimu, apa yang terjadi pada bagian dalam dirimu.”

“Dan yang terakhir, kualitas yang kelima:  Pensil selalu meninggalkan tanda. Demikian juga kamu. Hendaknya kamu tahu segala sesuatu yang kamu kerjakan dalam hidup, yaitu: meninggalkan tanda, sehingga kamu mencoba menjadi sadar akan setiap hal yang kamu kerjakan.”


Sumber:
Paulo Coelho (2010), Like the Flowing River: Thoughts and Reflections, Harper Collins Publishers, London, p. 10-11.

Sabtu, 05 Mei 2012

Doa Mohon Kematian yang Indah

Pagi ini, 5 Mei 2012, saya mendapatkan sharing perasaan dari seorang Menteri Kesehatan RI yang sungguh beriman dalam menghadapi sakit, penderitaan dan kematian. Berikut ini adalah kata-kata beliau yang disebar-luaskan melalui jasa layanan pesan singkat (short message services) yang saya peroleh dari salah seorang teman saya.

Sepenggal kata dari Ibu Menteri Kesehatan Republik Indonesia … “Saya sendiri belum bisa disebut sebagai survivor kanker. Diagnose kanker paru stadium 4 baru ditegakkan 5 bulan yang lalu. Dan sampai kata-kata ini saya tulis, saya masih berjuang untuk mengatasinya. Tetapi saya tidak bertanya, “Why me?”. Saya menganggap ini adalah salah satu anugerah dari Allah SWT. Sudah begitu banyak anugerah yang saya terima dalam hidup ini: hidup di Negara yang indah, tidak dalam peperangan, diberi keluarga besar yang pandai-pandai, dengan social ekonomi lumayan, dianugerahi suami yang sangat sabar dan baik hati, dengan 2 putera dan 1 puteri yang sehat, cerdas, dan berbakti kepada orang tua. Hidup saya penuh dengan kebahagiaan. “So … Why not?” Mengapa tidak, Tuhan menganugerahi saya kanker paru? Tuhan pasti mempunyai rencana-Nya, yang belum saya ketahui, tetapi saya merasa SIAP untuk menjalankannya … Setidaknya saya menjalani sendiri penderitaan yang dialami pasien kanker, sehingga bisa memperjuangkan program pengendalian kanker dengan lebih baik.

Bagi rekan-rekanku sesama penderita kanker dan para survivor, mari kita berbaik sangka kepada Allah. Kita terima semua anugerah-Nya dengan bersyukur. Sungguh, lamanya hidup tidaklah sepenting kualitas hidup itu sendiri. Mari lakukan sebaik-baiknya apa yang bisa kita lakukan hari ini. Kita lakukan dengan sepenuh hati. Dan … jangan lupa, nyatakan perasaan kita kepada orang-orang yang kita sayangi. Bersyukurlah, kita masih diberi kesempatan untuk itu.”

Demikian penggalan kata Menteri Kesehatan RI, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH. Tertanggal 13 April 2011.

Ungkapan hati seorang ibu penderita kanker menjelang kematian, seperti dituturkan di atas sungguh mencerminkan imannya yang kuat dan mendalam akan kebesaran Tuhan yang memberikan hidup dan mencintai manusia, baik dalam keadaan sehat atau sakit, dalam keadaan gembira atau susah, dalam keadaan untung atau malang.

Berikut ini adalah ungkapan sebuah doa yang dirumuskan oleh John Henry Kardinal Newman kepada Tuhan untuk memperoleh rahmat kematian yang indah.

Doa Mohon Kematian yang Indah

Ya Tuhanku dan Penyelamatku, topanglah aku pada jam-jam terakhir dari kehidupanku dengan tangan-tangan-Mu yang kuat, yakni sakramen-sakramen-Mu, dan harum wanginya penghiburan-Mu. Biarlah kata-kata pengampunan-Mu Engkau perdengarkan kembali untukku, dan biarkanlah juga aku dapat menerima tanda perminyakan pada dahiku, dan biarlah Tubuh-Mu sendiri menjadi makananku, dan Darah-Mu menjadi minumanku, dan biarlah Bunda-Mu Maria datang kepadaku, dan malaikat-Mu membisikkan kedamaian kepadaku, dan para orang kudus-Mu yang telah mulia dan para pelindungku sendiri tersenyum kepadaku, sehingga di dalam dan melalui mereka itu aku dapat mati sebagaimana aku menginginkan hidup, di dalam Gereja-Mu, di dalam iman kepada-Mu, dan di dalam cinta-Mu. Amin.

Jumat, 04 Mei 2012

Doa Mohon Pasangan Hidup

Ya Santo Rafael yang mulia, pelindung dan pencinta kaum muda, aku datang kepadamu untuk memohon bantuanmu. Dengan penuh keyakinan dan kepercayaan diri, aku membuka hati kepadamu, untuk mohon bimbingan dan bantuanmu, dalam rangka tugasku merancang masa depanku. Sudilah kiranya engkau menjadi perantara bagiku untuk mendapatkan rahmat terang dari Allah, sehingga aku dapat memutuskan dengan bijak sehubungan dengan orang yang akan menjadi pasangan hidupku (suamiku/isteriku) kelak.

Ya Santo Rafael, pemandu kaum muda yang merindukan perjumpaan bahagia dengan calon pasangan hidup berkeluarga, bimbinglah aku supaya aku dapat menemukan calon pasangan hidupku. Semoga gerak-gerik kehidupanku dibimbing oleh terangmu dan diwarnai oleh kegembiraanmu. Karena engkau telah membimbing Tobias untuk mendapatkan Sarah, dan membuka bagi Tobias kehidupan baru yang bahagia bersama Sarah dalam keluarga yang suci, bimbinglah juga aku untuk mendapatkan seseorang yang nantinya bisa menjadi pasangan hidupku (suamiku/isteriku), karena dibimbing oleh kebijakan malaikat, seperti dulu engkau telah membantu Tobias dan Sarah, menemukan pilihan pasangan hidup yang tepat dan sesuai untuk dipersatukan dengan aku di dalam perkawinan.

Ya Santo Rafael, malaikat pelindung kaum muda yang sedang menjalin persahabatan, berkatilah persahabatan dan cinta kami, sehingga kami dijauhkan dari segala dosa. Biarlah cinta kami satu sama lain mengikat kami sedemikian erat sehingga masa depan rumah tangga kami dapat menyerupai rumah tangga keluarga kudus dari Nazareth. Sampaikanlah doa-permohonanmu kepada Allah, demi kami berdua, dan mintakanlah berkat Allah untuk perkawinan kami, seperti engkau telah menjadi talang berkat bagi rahmat perkawinan yang telah diterima oleh Tobias dan Sarah.

Ya Santo Rafael, sahabat kaum muda, engkau adalah sahabatku karena aku akan selalu menjadi milikmu. Aku ingin memohon dengan khusuk kepadamu demi terkabulnya kebutuhan-kebutuhanku. Terutama aku mohonkan dengan sungguh-sungguh perhatianmu, aku percayakan kepadamu keputusan yang aku ambil tentang siapa pasangan hidupku (suamiku/isteriku) kelak. Arahkan aku menuju orang yang dengannya aku dapat bekerjasama secara baik di dalam melaksanakan kehendak Allah yang suci, yang dengannya aku akan dapat hidup di dalam damai, cinta, dan harmonis di dalam hidup di dunia ini dan mencapai kegembiraan kekal di masa yang akan datang. Amin.

Rabu, 02 Mei 2012

Doa kepada Santo Ignatius Loyola

Santo Ignatius pendiri Serikat Yesus,
Engkau telah membuka mata batin kami akan kenyataan yang sering tak kami sadari bahwa kami telah diciptakan oleh Allah dengan serba baik, dan kami malah menjadi hamba dosa.
Namun Allah tidak tinggal diam begitu saja, dan melalui penebusan Sang Putera, kamipun telah mengalami pemulihan sehingga menerima penciptaan kembali sebagai anak-anak-Nya.

Santo Ignatius, pendiri Serikat Yesus,
Engkau telah membuka mata batin kami akan kenyataan yang sering tak kami sadari bahwa Allah terus berkarya dalam diri kami, dan hadir di tengah tengah kami melalui pengalaman hidup dalam suka duka sehari hari, dalam segala hal yang ada di sekitar kami, entah itu tumbuh-tumbuhan, binatang, atau pun alam ciptaan yang lain.

Santo Ignatius, pendiri Serikat Yesus,
Engkau telah membuka mata batin kami akan kenyataan yang sering tak kami sadari bahwa kami telah menerima secara cuma-cuma, dan kami pun perlu memberi secara cuma-cuma.
Kami juga pantas untuk bersyukur dalam pujian, hormat dan pengabdian, diiringi sikap rendah hati dan lepas bebas serta keinginan untuk terus berusaha menjadi lebih dan lebih demi kemuliaan Allah yang semakin besar: Ad Maiorem Dei Gloriam.

Santo Ignatius, pendiri Sarikat Yesus,
Dengan bantuanmu, kami pun berani berseru:
Ambillah, Tuhan, dan terimalah seluruh kemerdekaanku dan ingatanku, pikiranku dan segenap kehendakku, segala kepunyaan dan milikku. Engkaulah yang memberi. Padamu Tuhan, kukembalikan semua milik-Mu, pergunakan sekehendak-Mu. Berilah aku kasih dan rahmat-Mu, cukup sudah bagiku. Amin