Eucharistic Life

Eucharistic Life
Eucharistic life: Hidup dalam semangat berbagi

Kamis, 17 November 2011

Bersyukur dalam Segala


Hidup ini sungguh berat. Berbagai masalah silih berganti. Yang lama belum selesai, yang baru sudah datang. Di saat anak-anak sedang mencari sekolah baru dan memerlukan banyak uang, muncul berita di berbagai media massa bahwa bahan bakar minyak akan naik; dan tentu saja akan berpengaruh pada biaya hidup yang makin berat. Ketika biaya hidup makin berat, banyak orang menjadi putus asa. Rasanya hidup tidak ada sela, tidak ada jeda untuk bisa bernafas lega. Kapan ada waktu untuk bersyukur, sementara malapetaka datang bertubi-tubi.Rasanya harapan untuk hidup bahagia itu jauh sekali. Hidup menjadi gelap.

Dalam kondisi hidup yang makin berat seperti sekarang ini, kita kerapkali melupakan nasihat St. Paulus: “bersyukurlah dalam segala hal”, termasuk di saat-saat di mana kita harus berjuang di dalam kegelapan. Dalam suratnya kepada umat di Tesalonika Santo Paulus menulis: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1Tes 5: 18). Ada beberapa alasan mengapa kita harus bersyukur.

Pertama, dalam kegelapan orang dapat berlatih mengendalikan diri sendiri. Masyarakat menempatkan nilai tinggi di dalam hal kemandirian dan kemampuan untuk bisa memenuhi diri sendiri dan berprestasi. Di saat sukses orang acapkali lupa akan Tuhan, dan Tuhan dijauhkan. Di dalam kegelapan, orang justru cenderung berpaling dan mendekatkan diri pada Allah. Inilah juga yang terjadi pada diri seorang penulis buku yang sukses, bernama Dan Wakefield. Ketika dia sedang menjalani masa studi di perguruan tinggi terkenal, dia menjauhi untuk bergabung dengan organisasi-organisasi keagamaan. Tetapi ketika dalam tahun-tahun sulit, dia mengalami hal yang sebaliknya: mempunyai kesadaran yang mendalam akan cintakasih Allah.

Dua belas bulan setelah kedua orangtuanya meninggal, dia mengalami bahwa hubungan dirinya dengan seorang wanita yang dicintainya harus berakhir. Bahkan di saat seperti itu ia mengalami kehilangan pekerjaan di sebuah perusahaan di mana lebih dari 15 tahun dia telah mendapatkan nafkah darinya. “Berhadapan dengan sekian masalah yang membuat aku menjadi stres, aku mencoba membaca Mazmur 23”, katanya. “Kata-kata dalam Mazmur itu sungguh lebih banyak berbicara padaku katimbang buku-buku filsafat yang pernah aku baca, baik buku-buku karangan Hemingway, Kafka, Popper, Heidegger, Freud maupun Sartre.

Kedua, dalam kegelapan kita belajar untuk melihat betapa bermaknanya terang itu. Kerapkali berkat yang kita terima dan kita nikmati kita terima sebagai sesuatu yang sudah sepantasnya kita terima. Kita menerima berkat itu sebagai sesuatu yang “taken for granted”. Ketika kita mencoba membandingkan antara terang dan gelap, antara baik dan buruk, antara positif dan negatif, maka kita dibuat mampu untuk bisa menghargai betapa indahnya terang. “Kekayaan pengalaman manusia yang indah akan kehilangan bagian kegembiraannya manakala pengalaman keindahan itu tidak ada batas-batas yang dapat melampauinya,” kata Helen Keler. “Demikian juga sebuah puncak bukit tidak akan kelihatan keindahannya manakala tidak ada bagian gelap dari lembah yang muncul di sebelah bukit itu.”

Ketiga, di dalam kegelapan kita bisa belajar lebih siap. Ada perbedaan antara kesadaran intelektual dengan kesadaran akan kebenaran, dan kebenaran itu merobek hati karena pengalaman kegelapan. “Kebenaran yang diceritakan cepat dilupakan; kebenaran yang ditemukan tak akan pernah terlupakan sepanjang waktu”, kata William Barclay, seorang sarjana Kitab Suci. Saat kegelapan kerapkali merupakan saat di mana kita dapat belajar dan bertumbuh. Justru dalam lembah kegelapan itu kita dapat menata hidup, memperjenih nilai, menyeleksi prioritas-prioritas, dan menemukan manakah teman yang sejati dan manakah teman yang bukan sejati.

Keempat, dalam kegelapan kita lebih terbuka pada Allah. Di dalam kegelapan tidak ada kesempatan untuk melihat secara jernih. Karena penglihatan kita kabur, pikiran kita bingung, dan jiwa kita terluka, maka kita kembali kepada Tuhan dengan kehausan yang sesungguhnya. Inilah pengalaman seorang penyanyi terkenal Naomi Judd. 

Pada tahun 1991 Judd terpaksa menjalani pensiun dini karena terkena hepatitis kronis. Karena menderita sakit lever, maka Judd tidak bisa tampil lagi sebagai penyanyi. Pengalaman itu membawa Judd pada kesadaran bahwa penyakitnya itu merupakan tanda bahwa Judd harus mengakhiri karirnya sebagai penyanyi dan kembali kepada Tuhan untuk meminta penyembuhan dan pulih kembali seperti sediakala. “Saya sungguh berusaha untuk tetap beriman dan meminta kesembuhan kepada Tuhan,” katanya. “Saya duduk di kursi roda, dalam posisi terlentang di tempat tidur. Saya menjadi tahanan tubuh saya sendiri. Saya membayangkan flu melanda dunia. Apakah anda dapat merasakannya betapa menyakitkan flu yang anda derita selama lebih dari seminggu? Anda tentu tak akan bisa merasakan betapa hebat penderitaan itu tanpa mengalaminya.”

Di dalam kegelapan orang menjadi lebih terbuka untuk membuka diri dalam berelasi dengan Allah; dan menemukan bahwa ketakutan dirinya bisa digantikan dengan harapan akan Tuhan. “Pengharapan adalah teman dalam penderitaan. Pengharapan adalah pegangan bagi saya untuk bisa melalui segala perjuangan selama masa-masa sulit dan kegelapan”, kata Naomi Judd.

Kelima, di dalam kegelapan kita belajar hidup dengan iman dan bukan dengan penglihatan semata. Inilah ajaran dari Perjanjian Baru: “Kita hidup karena iman, dan bukan karena penglihatan,” kata Paulus (bdk. 2Kor 5:7). Di saat-saat kegelapan dan kesulitan kita mengakui keringkihan dan ketakberdayaan kita dan menyerahkan hidup kita pada pemeliharaan dan bimbingan-Nya. “Dalam ketakberdayaanku tidak ada alternatif lain kecuali menyerahkan segala sesuatunya kepada tangan Allah”, katanya. “Aku berdoa semoga buku yang akan aku terbitkan itu merupakan hasil karya Allah sendiri. Aku berharap buku itu akan tersebar luas di seluruh dunia”, katanya.

Keenam, dalam kegelapan kita bisa belajar untuk tidak lagi sewenang-wenang menghakimi orang lain. Tuhan Yesus bersabda: “Jangan kamu menghakimi, supaya kami tidak dihakimi.” (Mat 7:1). Cobaan, pengalaman pahit, kesulitan, tragedi, mengejawantahkan kepada kita keringkihan dan kelemahan kita. Saat seperti itu membawa kita untuk tidak sombong, membuat kita tidak mudah lagi untuk sewenang-wenang menghakimi orang lain. Kita menjadi lebih mudah menerima, memahami, lebih ramah, setelah kita sendiri masuk ke dalam masa pencobaan dan kesulitan.

Akhirnya, karena pernah mengalami kegelapan, kita menjadi lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih tabah. Karena pernah mengalami kegelapan, kita mendapatkan apresiasi yang baru terhadap kehadiran Allah, rahmat dan dukungan di situasi yang sangat rentan dan ringkih. Justru pada saat terjatuh terjerembab itu kita mengalami daya kekuatan Allah yang luar biasa di dalam hidup kita, seperti yang pernah dijanjikan: “Allah abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada tangan-tangan yang kekal.” (Ul 33: 27).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar