Hidup Berbagi

Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja

Kamis, 24 November 2011

Hadiah Natal Paling Indah untuk Nenek

Menjelang Natal, seorang nenek keluar rumah untuk membeli hadiah-hadiah buat para cucunya. Ketika tengah berada di dalam toko mainan, melihat daftar yang perlu dibeli, dan hati-hati memilih hadiah, tiba-tiba ia melihat seorang gadis kecil, berpakaian lusuh, berdiri di luar pintu toko, memandang penuh keinginan ke dalam toko.

Perasaan si nenek mendorongnya keluar, mendekati gadis kecil itu. Si nenek lalu menggandeng gadis kecil itu masuk ke dalam toko, lalu menyuruhnya mengambil sebuah hadiah sesuai dengan apa yang dia inginkan.

Ketika mereka berdua berjalan ke luar toko dengan hadiah-hadiah di tangan, si gadis kecil itu menarik tangan si nenek, menatap mata si nenek sambil bertanya: “Apakah nenek Tuhan?”
Si nenek tersipu dan tersentuh, lalu menjawab: “Bukan, anakku, aku bukan Tuhan”.

“Lalu siapakah nenek?” lanjut si gadis kecil itu.

Si nenek berpikir sejenak, lalu mengatakan: “Aku anak Tuhan”.
Si gadis kecil tersenyum penuh rasa puas, lalu berkata: “Aku tahu, ada hubungannya antara engkau dan Tuhan”.

@@@

Si gadis kecil dalam cerita di atas telah memberikan hadiah natal terindah kepada si nenek di hari itu, sebuah hadiah yang lebih indah dari pada hadiah-hadiah yang si nenek pernah berikan atau pun dapatkan sepanjang hidupnya: ia menyadari identitas sesungguhnya sebagai anak Tuhan.

St. Paulus berpesan pada kita: Ketika kita percaya bahwa kita adalah anak-anak Tuhan, kita menjadi ahli waris Ilahi (Rom 8:16-17), dan anugerah Tuhan bukanlah kekhususan kita – ia menjadi hak kita.
Seberapa besarkah harta warisan kita? Itu tergantung pada seberapa besar Tuhan kita – dan bergantung pada seberapa besar dan tak terhingganya kita menyediakan diri kita untuk mengalami dan memahami Tuhan. “Ketika (Tuhan) hadir, kita hendaknya seperti Dia, agar kita boleh melihat Dia sebagaimana Dia” (1Yoh 3:2). Pada saat Tuhan menjadi lebih besar, demikian juga kita.

Saat orang memasuki hidup kita, bisakah mereka melihat hubungan kita dengan Tuhan dalam diri kita?

Paul Coutinho SJ., How Big Is Your God?,
Loyola Press: Chicago, hlm. 1.

Benih itu Tumbuh Sendiri

Yesus bersabda: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.” (Mrk 4: 26-29)

Orang modern berpikir bahwa ia dapat mengerjakan segala sesuatu dengan teknologi dan merasa bertanggung jawab untuk segala sesuatu. Ia tidak percaya apa yang terjadi tanpa dia. Ia tidak bisa lagi membiarkan segala sesuatu terjadi dengan sendirinya. Ia harus mengendalikan.

Ketika kita tidak bisa mempersilakan dan membiarkan Tuhan bekerja, kita lupa bahwa Dia membawa rencana-Nya dan membimbing segala sesuatu yang terjadi berjalan searah dengan tujuan yang sudah dirancang-Nya.

Sebaliknya, Yesus, meski mengalami kesulitan dan beban dalam menyelamatkan dunia, tetap saja Dia memberikan perhatian kepada individu-individu, meluangkan waktu untuk berdoa, merenungkan alam semesta, menyapa dan menerima anak-anak, menghadiri pesta perkawinan, dan melakukan relaksasi.

Dalam segala tindakan-Nya itu, Dia tahu, bahwa Allah bekerja dan benih itu bertumbuh. Apakah kita tahu bagaimana seharusnya kita rileks, tetapi tetap dalam nama Allah, bagaimana kita dapat percaya di dalam-Nya? Apakah kita mempersilakan Allah menunjukkan kepada kita apa yang menjadi prioritas-prioritas kita?

Kita harus bersabar dengan diri kita sendiri: meskipun perkembangan berjalan lamban, Allah sedang bekerja di dalam kedalaman tanah hati kita. Ketidaksabaran kerapkali datang dari kesombongan diri kita. Kita ingin sempurna; tetapi kita lupa bahwa pertumbuhan segalanya, entah alamiah ataukah spiritual, merupakan proses yang lamban, dan akhirnya diberikan oleh Allah sendiri. 

Untuk menyesuaikan diri dengan kecepatan Allah, kita harus menyerahkan diri kita kepada-Nya dengan kepercayaan penuh. Seperti kita baca dalam iklan: “Bantulah menjaga hutan jangan sampai terbakar: Hanya Allah yang dapat membuat pohon.” Demikian juga, hanya Allah dapat membuat manusia menjadi baru.
@@@

Doa Penyerahan Rumah kepada Bunda Maria

Bunda tersuci Perawan Maria, engkau telah diangkat untuk menjadi Penolong Umat Kristiani. Kami memilih engkau untuk menjadi ibu dan pelindung rumah kami.

Kami memohon kepadamu untuk menolong kami dengan daya penyertaanmu. Lindungilah rumah kami dari segala mara bahaya: dari api, banjir, petir, badai, gempa bumi, pencuri, perusak, dan dari bahaya-bahaya lain yang mengancam.
Berkatilah kami, lindungilah kami, belalah kami, jagalah kami semua yang menghuni rumah ini sebagaimana engkau menjaga dirimu. Lindungilah mereka dari semua kecelakaan dan kemalangan.

Dan lebih dari semuanya ini, ya Bunda, anugerahilah mereka rahmat berlimpah supaya mereka dapat menghindari dosa. 

Ya Bunda Maria Penolong Umat Kristiani, doakanlah semua orang yang mendiami rumah ini yang sekarang berserah diri kepadamu untuk selama-lamanya. Amin.

Rabu, 23 November 2011

Kerja sebagai Jalan Menuju Kesucian

Santo Josemaria berkata:
“Kami telah datang memenuhi panggilan untuk meneladan Yesus, pribadi yang menghabiskan waktunya selama tiga puluh tahun di Nazareth, bekerja sebagai tukang kayu. Di dalam tangannya, seorang pekerja professional, sama seperti yang dilakukan oleh jutaan orang di seluruh dunia, menjalani pekerjaan-Nya sebagai tugas ilahi. Pekerjaan itu menjadi bagian dari karya penebusan kita, sebuah jalan menuju keselamatan.”

Relasi keseharian anda dengan Allah terjadi di tempat di mana anda sebagai para pengikut-Nya, pekerjaan anda, kerinduan anda dan afeksi anda berada. Di sanalah anda berjumpa dengan Kristus dalam kehidupan nyata sehari-hari. Di tengah-tengah kehidupan yang duniawi ini kita menguduskan diri kita, dengan melayani Allah dan seluruh umat manusia.

Doa kepada Santo Josemaria Escriva

Ya Allah, dengan perantaraan Santa Perawan Maria yang terberkati, Engkau menganugerahkan rahmat yang tak ternilai kepada seorang imam bernama Santo Josemaria Escriva, memilih dia sebagai alat untuk menemukan Opus Dei sebuah jalan menuju kesucian melalui pekerjaan sehari-hari dan tugas kewajiban keseharian yang biasa dari seorang kristiani. 

Berikanlah rahmat kepada kami juga sehingga kami mampu belajar untuk mengubah segala lingkungan dan peristiwa hidup kami menjadi peluang-peluang untuk mencintai-Mu dan untuk melayani Gereja, Paus dan semua jiwa-jiwa, dengan kegembiraan dan kesederhanaan, menerangi jalan-jalan di dunia dengan iman dan cinta. Dengan perantaraan Santo Josemaria, berikanlah kepada kami rahmat yang kami mohon:


Bagi kita yang belum mendapatkan pekerjaan, semoga Allah Tuhan kita membimbing kita di dalam usaha kita untuk mendapatkan pekerjaan, dan berkenan untuk memberikan berkat kepada kita, dengan memberikan kepada kita kemampuan untuk mendapatkan pekerjaan yang meningkatkan martabat kita sebagai manusia dan yang membantu kita untuk melihat dalam pekerjaan kita sebagai jalan menuju kesucian dan merupakan sebuah karya pelayanan kepada orang lain, di mana Allah Bapa kita menantikan kita di setiap saat, memanggil kita di setiap situasi, untuk meneladan Yesus ketika Dia bekerja sebagai tukang kayu di Nazareth.
 
Bagi kita yang sudah bekerja, semoga Allah Tuhan kita membantu kita untuk melihat pekerjaan kita sebagai jalan menuju kesucian dan sebagai suatu pelayanan kepada sesama, di mana Allah Bapa menantikan kita di setiap saat, meminta kita di setiap situasi, untuk meneladan Yesus ketika Dia bekerja sebagai seorang tukang kayu di Nazareth. Amin.

Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan …

Senin, 21 November 2011

Doa Seorang Penulis


Tuhan, jadikanlah penaku alat kuasa-Mu.
Di mana ada ketidaktahuan, biarkan penaku membawa pencerahan;
Di mana ada purbasangka, biarkan penaku membawa pemahaman;
Di mana ada perolok-olokan, biarkan penaku membawa iman kepercayaan;
Di mana ada ketidakpedulian, biarkan penaku membawa tantangan;
Di mana ada kesepian, biarkan penaku membawa kehangatan persahabatan;
Di mana ada ketakutan, biarkan penaku membawa keberanian;
Di mana ada kejelekan, biarkan penaku membawa keindahan;
Di mana ada kelelahan, biarkan penaku membawa kesegaran.
Biarlah tangan-tangan lemah yang menggerakkan pena ini
Engkau bimbing dengan tangan-Mu yang penuh kuasa.
Penuhilah tanganku dengan kebenaran-Mu,
Hatiku dengan cinta-Mu,
Seluruh keberadaanku dengan semangat Roh-Mu.
Limpahkan kepadaku rahmat tertinggi
Penyangkalan diri dalam pelayanan bagi orang lain,
Dan jadikan tujuan-Mu tujuanku.


Marion van Horne,1990, 
Write the Vision. A Manual for Training Writers
The Publishing Center, David C. Cook Foudation, 
Elgin, Illinois, USA, p. 141

Kamis, 17 November 2011

Bersyukur dalam Segala


Hidup ini sungguh berat. Berbagai masalah silih berganti. Yang lama belum selesai, yang baru sudah datang. Di saat anak-anak sedang mencari sekolah baru dan memerlukan banyak uang, muncul berita di berbagai media massa bahwa bahan bakar minyak akan naik; dan tentu saja akan berpengaruh pada biaya hidup yang makin berat. Ketika biaya hidup makin berat, banyak orang menjadi putus asa. Rasanya hidup tidak ada sela, tidak ada jeda untuk bisa bernafas lega. Kapan ada waktu untuk bersyukur, sementara malapetaka datang bertubi-tubi.Rasanya harapan untuk hidup bahagia itu jauh sekali. Hidup menjadi gelap.

Dalam kondisi hidup yang makin berat seperti sekarang ini, kita kerapkali melupakan nasihat St. Paulus: “bersyukurlah dalam segala hal”, termasuk di saat-saat di mana kita harus berjuang di dalam kegelapan. Dalam suratnya kepada umat di Tesalonika Santo Paulus menulis: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1Tes 5: 18). Ada beberapa alasan mengapa kita harus bersyukur.

Pertama, dalam kegelapan orang dapat berlatih mengendalikan diri sendiri. Masyarakat menempatkan nilai tinggi di dalam hal kemandirian dan kemampuan untuk bisa memenuhi diri sendiri dan berprestasi. Di saat sukses orang acapkali lupa akan Tuhan, dan Tuhan dijauhkan. Di dalam kegelapan, orang justru cenderung berpaling dan mendekatkan diri pada Allah. Inilah juga yang terjadi pada diri seorang penulis buku yang sukses, bernama Dan Wakefield. Ketika dia sedang menjalani masa studi di perguruan tinggi terkenal, dia menjauhi untuk bergabung dengan organisasi-organisasi keagamaan. Tetapi ketika dalam tahun-tahun sulit, dia mengalami hal yang sebaliknya: mempunyai kesadaran yang mendalam akan cintakasih Allah.

Dua belas bulan setelah kedua orangtuanya meninggal, dia mengalami bahwa hubungan dirinya dengan seorang wanita yang dicintainya harus berakhir. Bahkan di saat seperti itu ia mengalami kehilangan pekerjaan di sebuah perusahaan di mana lebih dari 15 tahun dia telah mendapatkan nafkah darinya. “Berhadapan dengan sekian masalah yang membuat aku menjadi stres, aku mencoba membaca Mazmur 23”, katanya. “Kata-kata dalam Mazmur itu sungguh lebih banyak berbicara padaku katimbang buku-buku filsafat yang pernah aku baca, baik buku-buku karangan Hemingway, Kafka, Popper, Heidegger, Freud maupun Sartre.

Kedua, dalam kegelapan kita belajar untuk melihat betapa bermaknanya terang itu. Kerapkali berkat yang kita terima dan kita nikmati kita terima sebagai sesuatu yang sudah sepantasnya kita terima. Kita menerima berkat itu sebagai sesuatu yang “taken for granted”. Ketika kita mencoba membandingkan antara terang dan gelap, antara baik dan buruk, antara positif dan negatif, maka kita dibuat mampu untuk bisa menghargai betapa indahnya terang. “Kekayaan pengalaman manusia yang indah akan kehilangan bagian kegembiraannya manakala pengalaman keindahan itu tidak ada batas-batas yang dapat melampauinya,” kata Helen Keler. “Demikian juga sebuah puncak bukit tidak akan kelihatan keindahannya manakala tidak ada bagian gelap dari lembah yang muncul di sebelah bukit itu.”

Ketiga, di dalam kegelapan kita bisa belajar lebih siap. Ada perbedaan antara kesadaran intelektual dengan kesadaran akan kebenaran, dan kebenaran itu merobek hati karena pengalaman kegelapan. “Kebenaran yang diceritakan cepat dilupakan; kebenaran yang ditemukan tak akan pernah terlupakan sepanjang waktu”, kata William Barclay, seorang sarjana Kitab Suci. Saat kegelapan kerapkali merupakan saat di mana kita dapat belajar dan bertumbuh. Justru dalam lembah kegelapan itu kita dapat menata hidup, memperjenih nilai, menyeleksi prioritas-prioritas, dan menemukan manakah teman yang sejati dan manakah teman yang bukan sejati.

Keempat, dalam kegelapan kita lebih terbuka pada Allah. Di dalam kegelapan tidak ada kesempatan untuk melihat secara jernih. Karena penglihatan kita kabur, pikiran kita bingung, dan jiwa kita terluka, maka kita kembali kepada Tuhan dengan kehausan yang sesungguhnya. Inilah pengalaman seorang penyanyi terkenal Naomi Judd. 

Pada tahun 1991 Judd terpaksa menjalani pensiun dini karena terkena hepatitis kronis. Karena menderita sakit lever, maka Judd tidak bisa tampil lagi sebagai penyanyi. Pengalaman itu membawa Judd pada kesadaran bahwa penyakitnya itu merupakan tanda bahwa Judd harus mengakhiri karirnya sebagai penyanyi dan kembali kepada Tuhan untuk meminta penyembuhan dan pulih kembali seperti sediakala. “Saya sungguh berusaha untuk tetap beriman dan meminta kesembuhan kepada Tuhan,” katanya. “Saya duduk di kursi roda, dalam posisi terlentang di tempat tidur. Saya menjadi tahanan tubuh saya sendiri. Saya membayangkan flu melanda dunia. Apakah anda dapat merasakannya betapa menyakitkan flu yang anda derita selama lebih dari seminggu? Anda tentu tak akan bisa merasakan betapa hebat penderitaan itu tanpa mengalaminya.”

Di dalam kegelapan orang menjadi lebih terbuka untuk membuka diri dalam berelasi dengan Allah; dan menemukan bahwa ketakutan dirinya bisa digantikan dengan harapan akan Tuhan. “Pengharapan adalah teman dalam penderitaan. Pengharapan adalah pegangan bagi saya untuk bisa melalui segala perjuangan selama masa-masa sulit dan kegelapan”, kata Naomi Judd.

Kelima, di dalam kegelapan kita belajar hidup dengan iman dan bukan dengan penglihatan semata. Inilah ajaran dari Perjanjian Baru: “Kita hidup karena iman, dan bukan karena penglihatan,” kata Paulus (bdk. 2Kor 5:7). Di saat-saat kegelapan dan kesulitan kita mengakui keringkihan dan ketakberdayaan kita dan menyerahkan hidup kita pada pemeliharaan dan bimbingan-Nya. “Dalam ketakberdayaanku tidak ada alternatif lain kecuali menyerahkan segala sesuatunya kepada tangan Allah”, katanya. “Aku berdoa semoga buku yang akan aku terbitkan itu merupakan hasil karya Allah sendiri. Aku berharap buku itu akan tersebar luas di seluruh dunia”, katanya.

Keenam, dalam kegelapan kita bisa belajar untuk tidak lagi sewenang-wenang menghakimi orang lain. Tuhan Yesus bersabda: “Jangan kamu menghakimi, supaya kami tidak dihakimi.” (Mat 7:1). Cobaan, pengalaman pahit, kesulitan, tragedi, mengejawantahkan kepada kita keringkihan dan kelemahan kita. Saat seperti itu membawa kita untuk tidak sombong, membuat kita tidak mudah lagi untuk sewenang-wenang menghakimi orang lain. Kita menjadi lebih mudah menerima, memahami, lebih ramah, setelah kita sendiri masuk ke dalam masa pencobaan dan kesulitan.

Akhirnya, karena pernah mengalami kegelapan, kita menjadi lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih tabah. Karena pernah mengalami kegelapan, kita mendapatkan apresiasi yang baru terhadap kehadiran Allah, rahmat dan dukungan di situasi yang sangat rentan dan ringkih. Justru pada saat terjatuh terjerembab itu kita mengalami daya kekuatan Allah yang luar biasa di dalam hidup kita, seperti yang pernah dijanjikan: “Allah abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada tangan-tangan yang kekal.” (Ul 33: 27).

Karena Cinta dan Ketekunan

Don't judge the book by its cover, jangan menilai sesuatu dari penampilan luarnya saja. Mungkin ini ungkapan yang tepat saat melihat sosok Hee Ah Lee. Betapa tidak, fisiknya jauh dari ukuran normal. Tangannya hanya punya empat jari berbentuk capit, sedangkan kakinya pun pendek sebatas ukuran lutut. Orang pasti akan kasihan melihat sosok wanita kelahiran Korea 22 tahun lalu ini. Tapi, rasa kasihan ini akan segera berubah menjadi kekaguman jika melihat Hee Ah Lee memainkan piano.

Bayangkan, nada-nada sulit musik klasik karya komponis kenamaan seperti Chopin, Beethoven, Mozart, bisa dimainkannya dengan sangat apik. Padahal, tidak ada not balok dari musik klasik itu yang khusus dibuat untuk dimainkan dengan hanya empat jari. Hee sendirilah, yang mengubah empat jarinya sehingga mampu menari di atas tuts-tuts piano dengan lincah, layaknya sepuluh jari orang normal. "Dari awal belajar piano memang saya diperlakukan sebagai orang normal,"sebut Hee.
Terlahir dari seorang ibu bernama Woo Kap Sun, Hee sebenarnya sangat beruntung. Sebab, Woo yang tahu akan melahirkan bayi cacat dari awal menolak mentah-mentah anjuran beberapa orang dekatnya untuk menitipkan anaknya ke panti asuhan setelah lahir. Woo juga yang merawat, mendidik, dan mengajari Hee seperti orang normal lain. Woo bahkan menyebut anaknya itu sebagai anugerah Tuhan meski terlahir kurang sempurna. Ibunya itu juga yang kemudian dengan kesabaran ekstra mengajari Hee bermain piano sejak usia enam tahun.
Saat mulai main piano, Hee bahkan tidak bisa memegang pensil. Butuh waktu dan kerja keras, serta dilandasi keuletan yang luar biasa untuk melatih jari-jari Hee. Belum lagi untuk mengenalkan not balok pada Hee yang punya keterbelakangan mental. Awalnya, untuk menguasai sebuah lagu saja, dibutuhkan waktu sekitar satu tahun. Itu pun bisa dilakukan hanya dengan latihan intensif minimal sepuluh jam dalam sehari.
Sungguh, gabungan cinta kasih seorang ibu ditambah ketekunan Hee sebagai anak, merupakan sebuah kekuatan yang mampu mengubah kekurangan dan keterbatasan menjadi kelebihan yang luar biasa. Hee menyebut, ibunyalah yang telah menggembleng dirinya agar tumbuh mandiri, percaya diri, dan bersemangat baja menghadapi hidup. Dengan kemampuan yang diperoleh dari ketekunan dan keuletan berlatih itu, Hee kini telah berkeliling dunia. Ia menginspirasi orang dengan keyakinan bahwa tidak ada yang tak mungkin di dunia ini jika kita mau bekerja keras dan sungguh-sungguh berusaha mewujudkannya.
Meski begitu, sebagai manusia biasa ia pun mengaku pernah mengalami patah semangat. "Bayangkan Anda makan satu jenis makanan terus menerus sampai bosan. Tapi, aku memakannya terus. Aku berlatih terus menerus," sebut Hee tentang bagaimana menaklukkan kebosanannya.
Kini, sederet penghargaan atas keterampilan bermain piano telah diterimanya. Ia juga telah mempunyai album musik sendiri berjudul Hee-ah, Pianist with Four Fingers. Dengan berbagai kelebihan yang diolah dari kekurangan itu lah, kini ia juga mempunyai kehendak lain yang mulia, "Aku akan berkeliling dunia, bermain piano dari sekolah ke sekolah untuk memberi motivasi kepada kaum muda bahwa mereka bisa melakukan apa pun kalau berusaha," kata Hee.

Sungguh, sosok Hee Ah Lee adalah gambaran nyata keteladanan seseorang dengan ketekunan yang luar biasa. Hanya dengan keyakinan, keuletan, dan kerja keras disertai semangat pantang menyerah, seseorang dapat mengubah nasibnya. Jika Hee yang kurang sempurna saja mampu, bagaimana dengan kita yang terlahir sempurna? Tinggal keyakinan dan tekad kuat disertai usaha sungguh-sungguhlah yang akan mengubah kita.

Doa Menemukan Allah dalam Kerja dan Hidup Sehari-hari


Allah, Bapa kami, Engkau telah memilih hamba-Mu Santo Josemaria untuk menyatakan panggilan universal menuju kesucian dan kerasulan di dalam Gereja. Melalui keteladanan dan doa-doanya, berikanlah rahmat kesucian itu di dalam diri umat beriman sehingga mereka mampu membawa pekerjaan mereka sehari-hari dalam semangat Kristus, semoga kami pun juga mampu dibentuk menjadi serupa dengan Putera-Mu, dan bersama dengan Santa Perawan Maria yang terberkati, boleh melaksanakan karya penebusan dengan cinta yang membara. Kami mohon ini semua melalui Tuhan kami Yesus Kristus, Putera-Mu, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Jumat, 16 September 2011

Allah dalam Pekerjaan Kecil

Pada umumnya orang suka akan hal-hal yang besar dan hebat. Orang dianggap sukses kalau ia sudah melakukan hal-hal yang besar dan hebat. Para manajer pun acapkali menghindarkan diri dari pekerjaan-pekerjaan kecil. Mereka menganggap bahwa pekerjaan kecil itu pekerjaan bawahan, pekerjaan front line. Mereka sudah puas kalau sudah selesai menentukan tujuan, merumuskan strategi, dan membuat kebijakan. Tetapi pada kenyataannya, sebuah usaha tidaklah mungkin berjalan tanpa pekerjaan-pekerjaan kecil dan taktis. Meskipun tujuan, policy, strategi sudah dibuat tanpa eksekusi yang baik terhadap pekerjaan-pekerjaan kecil, perusahaan tidak akan mengalami kemajuan.

Seorang politikus yang ingin berhasil dalam pemilu dan dipilih menjadi pemimpin masyarakat, tidaklah cukup kalau dia sudah merasa berhasil ketika dia sudah merumuskan visi dan misi partai, dan sudah berhasil memasang poster-poster unjuk muka di jalan-jalan protokol kota. Untuk berhasil menjadi pemimpin masyarakat dia masih dituntut untuk mampu dan terbukti mampu menerjemahkan visi dan misi itu ke dalam tindakan-tindakan konkret untuk terjadinya perubahan kehidupan masyarakat yang lebih baik, lebih adil, lebih makmur dan sejahtera.

James Colllins, seorang pakar manajemen strategis pernah mengatakan: “Untuk membangun sebuah perusahaan yang hebat bisa diumpamakan sebagai sebuah proses seseorang yang sedang mendaki gunung dan ingin mencapai puncaknya. Ada unsur-unsur yang harus didiskusikan sejak dini, yaitu: tujuan yang jelas (visi yang disosialisasikan), kemampuan untuk membangun tim kerja yang kompak (gaya kepemimpinan), rencana strategis (strategi) dan solusi-solusi kreatif untuk menghadapi tantangan-tantangan sepanjang perjalanan perusahaan yang menuntut adanya inovasi-inovasi. Tidak hanya itu, masih ada unsur lain yang jauh lebih penting, yaitu: melaksanakan pekerjaan kecil-kecil secara detail (menjaga agar tali pengaman di badan tetap pada posisi yang benar); seperti layaknya juga memperhatikan kaki dan tangan yang kita pakai untuk mendaki. Kalau kita tidak memperhatikan tangan dan kaki kita, bisa jadi kita mati di tengah jalan dan tidak sampai di tujuan.

Membangun sebuah perusahaan yang hebat bisa dianalogikan dengan menulis sebuah novel yang hebat. Untuk menulis novel yang hebat, orang membutuhkan konsep (visi), alur cerita (strategi), dan gagasan-gagasan kreatif untuk menggerakkan alur cerita yang menarik. Orang juga dituntut untuk bekerja keras, memeras keringat untuk menyusun gagasan-gagasan itu ke dalam kalimat-kalimat, menatanya dalam kata demi kata, baris demi baris, halaman demi halaman. Dapat dimengerti bahwa seorang penulis terkenal bernama Hemingway, ketika menulis novelnya yang berjudul A Farewell to Arms, menulis ulang bagian halaman terakhir dari novelnya sampai 39 kali. Ketika ditanya mengapa harus begitu, ia menjawab: “Getting the words right”, biar tercapai penyusunan kata-kata yang sungguh tepat.

Menurut penelitian, banyak perusahaan sukses terutama karena istimewa dalam mengeksekusi pekerjaan-pekerjaan taktis yang kecil-kecil itu. Sebuah majalah yang melakukan survei terhadap 500 orang pemimpin perusahaan dari perusahaan-perusahaan yang mengalami pertumbuhan paling cepat, menunjukkan bahwa di antara 88% di antara pemimpin perusahaan menunjukkan bahwa keberhasilan perusahaan disebabkan karena perusahaan berhasil melakukan eksekusi dengan baik pekerjaan-pekerjaan kecil secara luar biasa. Hanya 12% yang mengatakan bahwa keberhasilan perusahaan terletak pada ide-ide besar. Dengan demikian benar apa yang dikatakan Mies van der Rohe. “Allah itu ada dalam pekerjaan-pekerjaan kecil,” kata Mies van der Rohe. Karena itu melaksanakan pekerjaan-pekerjaan kecil dan detail itu adalah sarana menemukan Allah dalam hidup sehari-hari kita.

Pekerjaan kecil tidak hanya berarti bagi para pemimpin perusahaan untuk membawa perusahaannya berhasil menjadi perusahaan yang hebat, tetapi juga berarti besar bagi mereka yang sedang mencari jalan kepada kesucian hidup. Untuk menjadi suci, Theresia Lisieux menunjukkan jalan kepada kita, yang disebutnya dengan “Jalan Kecil”. Untuk menjadi suci, tidak perlu hal-hal besar dan hebat itu. Bagi Theresia Lisieux, untuk menjadi suci tidak perlu hal-hal besar. Untuk suci perlu perbuatan-perbuatan kecil tetapi dilakukan dengan penuh cinta.

Theresia menerjemahkan “Jalan Kecil” dengan istilah komitmen terhadap tugas-tugas dan terhadap orang-orang yang kita temui di dalam hidup sehari-hari. Ia ambil tugas-tugas di biara sebagai cara-cara mewujudkan cintanya pada Allah dan pada orang lain. Ia bekerja sebagai koster untuk menyiapkan altar dan kapel. Ia melayani di refter (kamar makan) dan kamar cuci. Ia menulis drama untuk acara hiburan di dalam komunitas. Dengan cara begitu ia mencoba untuk memperlihatkan cintanya untuk semua suster dalam komunitas. Ia memberikan dirinya bahkan juga untuk anggota komunitas yang dianggapnya sulit. Ia bermain drama tidak hanya untuk orang yang disukai tetapi juga untuk orang yang dianggapnya sulit itu.

Theresia ingin memenuhi apa yang pernah ditulis oleh Yohanes dari Salib: “Di senja hidup, kita akan diadili oleh cinta kita ...” Theresia yakin bahwa cinta adalah segalanya. Ia mengenal pusat cinta itu ketika ia membaca surat Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 13: 1-13); dan karena itu ia ingin memeluk panggilan ke arah cinta itu. Ia menerjemahkan keinginan mencintai itu dengan mengembangkan relasinya dengan Tuhan Yesus Kristus. Ia mempersembahkan setiap hari hidupnya kepada Tuhan Yesus sebagai suatu cara untuk mewujudkan cintanya kepada Yesus.

Orang Katolik tertarik pada gaya hidup Theresia. Jalan kecilnya nampaknya membuat orang-orang biasa dapat menjangkau kesucian itu. Untuk dapat mencapai cita-cita kesucian itu kita perlu selalu mengingat pesan yang disampaikan oleh Santa Theresia kepada kita: “Hayatilah hari-hari anda dengan percaya pada cinta Allah untuk anda! Ingatlah bahwa setiap hari merupakan hadiah di mana hidup anda bisa dibuat berbeda dengan cara bagaimana anda menghayatinya. Pilihlah hidup. Cinta adalah komitmen yang setiap hari harus diulangi dan dan dikerjakan dalam setiap hari hidup kita.”

Kamis, 01 September 2011

Doa di Saat Sulit

Tuhan,
Hidupku dipenuhi dengan banyak tantangan. Ada banyak perubahan yang sedang bergerak di sekitarku. Nampak terasa bahwa perubahan-perubahan ini membanjiri diriku. Banyak hati terluka. Lukanya melebihi luka yang aku derita. Tetapi di kegelapan malam, aku tahu bahwa Engkau bersamaku, meski aku tidak dapat merasakannya bahwa diri-Mu berada di sana.

Aku pasrahkan hatiku kepada-Mu. Aku serahkan hidupku kepada-Mu. Aku serahkan semua kekecewaanku, kepedihanku, dan penderitaanku, karena hanya Engkaulah yang dapat memahaminya. Aku satukan penderitaanku dengan penderitaan-Mu; hatiku dengan hati-Mu.

Sudilah kiranya Engkau menganugerahkan kepadaku kekuatan untuk bergerak maju, untuk gigih berjuang, dan untuk mengumumkan kemenangan karena nama-Mu. Engkau adalah Terang dalam kegelapan, Engkaulah alasan mengapa aku hidup dan bergerak, dan mengapa aku menghayati keberadaanku sekarang.

Tidak ada hal lain di dalam hidup ini, yang sebanding dengan Engkau. Aku akan berpegang teguh pada-Mu. Aku akan mengkonsumsi Engkau, karena Engkau adalah roti kehidupan. Engkau memberikan kepadaku makanan untuk mengurus segala cobaan dan mengatasi segala cobaan itu. Engkau adalah Pembimbingku dan Penghiburku. Engkau adalah Kebangkitan dan Hidup. Engkau adalah Allahku, Engkau adalah segalanya. Hanya Engkaulah yang aku butuhkan dan aku inginkan, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

~ Jean M. Heimann

Rabu, 24 Agustus 2011

Doa sebagai Mendengarkan

Sejak dulu saya memahami bahwa doa itu adalah berbicara kepada Tuhan. Pada kenyataannya, definisi tentang doa semacam itu yang saya ingat: doa adalah berbicara kepada Tuhan. Dalam pengertian seperti itu, doa melibatkan aktivitas berbicara tentang keprihatinan kita, kebutuhan kita, dan dambaan kita kepada Tuhan. Doa kita mengerti sebagai bicara kepada Tuhan.

Tetapi saya kemudian belajar juga tentang sisi lain dari doa. Sisi lain itu adalah mendengarkan Tuhan. Doa itu mendengarkan, menciptakan ruang di dalam hidup kita dan meminta kepada Tuhan untuk mengisinya. Doa itu tidak lain membuka diri kepada Roh Kudus dan mencari panduan dan bimbingan Roh Kudus di dalam hidup kita. Bagian yang sungguh mengagumkan dari doa adalah mendengarkan Tuhan.

Doa sebagai aktivitas mendengarkan merupakan bagian dari pengajaran Kitabsuci mengenai doa. Penulis Kitabsuci tahu bahwa doa itu melibatkan usaha membuka ruang di dalam hidup kita dan meminta Tuhan untuk mengisinya. Doa itu mendengarkan dan mencari Roh Kudus. Doa itu membuka diri kita dengan suatu keyakinan bahwa Allah akan mengisi kita.

Kutipan dari Kitabsuci berikut ini memberikan pengertian kepada kita bahwa dimensi vital dari doa adalah mendengarkan, membuka diri kepada Tuhan dan istirahat di dalam Tuhan.

Mazmur 46: “Tenanglah, dan ketahuilah bahwa aku adalah Allah.”
Mazmur 37: 7: “Istirahatlah di depan Tuhan, dan tunggulah dengan sabar untuk berjumpa dengan-Nya”
Ayub 33: 33: “Dengarkan Aku, tenanglah, dan aku akan mengajar kamu tentang kebijaksanaan”
Mateus 11: 28: Yesus sendiri mengundang kita untuk datang kepada-Nya ketika kita berbeban berat, dan mendapatkan istirahat.

Ada suatu pemahaman yang mendalam mengenai doa di sini. Kerapkali Tuhan bicara kepada kita di dalam keheningan. Kerapkali di dalam keheningan seperti itu Tuhan berbagi dengan kita. Bagian doa adalah belajar mendengarkan Tuhan dan membuka diri kepada Tuhan.

Pemazmur memahami keheningan  itu sebagai aktivitas menunggu di hadapan Tuhan. Bagi mereka, doa itu menunggu Tuhan. Doa menjadi suatu waktu untuk menunggu, menantikan, mendengarkan, dan mencari, ketika kita memfokuskan hidup kita kepada Tuhan.

Itu berarti bahwa dimensi penting dari doa adalah menunggu di hadapan Tuhan dan mendengarkan Tuhan. Doa berarti membuka diri dan menunggu karena kita mencari Tuhan yang secara nyata lebih dekat dengan kita daripada yang kita pernah sadari.

Dalam kehidupan modern kita menjadi orang sibuk. Kita tidak menunggu. Kita sibuk mengerjakan sesuatu. Kita ingin segala sesuatunya instan dalam mengakses segala sesuatu, dari uang tunai yang diambil dari amplop langsung jadi hamburger. Kita tidak menyukai keheningan. Kita lebih suka bicara dan mencoba mengisi setiap waktu dengan menyelesaikan sesuatu. Saya tidak tahu bagaimana keadaan anda semua; tetapi yang saya ceritakan ini adalah pengalaman saya.

Biasanya kalender sudah penuh acara untuk setiap tahun. Ada empat pertemuan setiap hari. Ada 6 telepon yang harus saya hubungi. Satu kotbah atau renungan pendek harus saya tulis. Dua bab bahan kuliah harus saya siapkan; mengantar anak kursus bahasa Inggris. Saya kadang takut kalau Tuhan mau bicara dengan saya dan sementara itu saya tidak punya waktu dan ruang yang tersisa untuk-Nya. Setiap orang sibuk dengan diri sendiri: mengerjakan segala sesuatu, menulis email, menjawab sms, mengakses internet, dll. Nokia menjadi santo/santa pujaan baru. Tuhan mengajar kita untuk menunggu, mendengarkan dan mencari.

Tuhan memberi nasihat kepada kita bagaimana menghadapi jaman modern, bagaimana gaya hidup kita harus diperbaiki. Waktu untuk refleksi adalah penting untuk kesehatan kita. Tuhan adalah Tuhan; dan bagian dari hidup yang beriman adalah belajar mencari Tuhan.

Ilmu yang baik di jaman modern adalah belajar untuk mendengarkan Tuhan. Untuk mendengarkan Tuhan, kita perlu membuka diri, menyediakan ruangan di dalam hidup kita, untuk meminta Tuhan untuk masuk ke dalam diri kita. Karena Tuhan berbicara dengan kita; dan kerapkali Tuhan bicara dalam keheningan.

Bagaimana kita bisa membuka waktu dan ruangan di dalam hidup kita untuk Tuhan? Kita menemukan berbagai cara untuk menyediakan waktu dan ruang bagi Tuhan untuk berbicara. Antara lain adalah refleksi dan meditasi dengan sumber Kitab Suci. Bacalah Kitabsuci dan renungkan apa yang dikatakan di sana. Bawalah teks Kitabsuci itu dalam kehidupan sehari; dengarkan dan pahamilah.@@@

Jumat, 05 Agustus 2011

Doa untuk Penderita Kanker

Doa Penderita Kanker dengan Perantaraan St. Peregrinus

Ya Santo Perigrinus, Bunda Gereja yang kudus menyatakan bahwa engkau adalah pelindung bagi siapa saja yang menderita sakit kanker. Dengan penuh percaya aku datang menghadapmu untuk meminta bantuanmu di saat-saat aku menderita sakit ini. Aku memohon kepadamu, sudilah kiranya engkau berkenan menjadi perantara bagiku. 

Mohonkan kepada Allah agar Dia berkenan menyembuhkan penyakitku, jika itu memang kehendak-Nya. Mohonlah bersama dengan Santa Perawan Maria yang tersuci, Bunda Sapta Duka, yang sungguh engkau cintai. Dalam kesatuan dengan Bunda Maria, dulu engkau telah menghadapi penderitaanmu karena sakit kanker, maka sudilah kiranya Bunda Maria juga berkenan membantu aku dengan doa dan penghiburannya yang sungguh berdaya-guna bagiku dalam menghadapi sakit dan penderitaan ini.

Tetapi jika memang kehendak Allah sehingga aku harus menanggung sakit ini, berikanlah kepadaku keberanian dan kekuatan untuk menerima segala kesulitan dan penderitaan yang datang dari tangan Allah yang mencintai, dengan penuh kesabaran dan penyerahan diri, karena Allah mengetahui apa yang terbaik untuk keselamatan jiwaku. 

Ya, Santo Peregrinus, jadilah sahabatku dan pelindungku. Bantulah aku untuk dapat meniru teladanmu dalam menerima penderitaan, dan menyatukan diriku bersama dengan Yesus yang tersalib dan Bunda Maria Bunda Sapta Duka, seperti engkau dulu pernah melakukannya. Aku persembahkan sakit dan penderitaanku ini kepada Allah dengan segala cinta yang mendalam dari lubuk hatiku, demi kemuliaan-Nya dan demi keselamatan jiwa-jiwa, terutama jiwaku. Amin.


Doa untuk Penderita Kanker dengan Perantaraan St. Peregrinus

Ya, Santo Peregrinus, engkau terkenal sebagai “pembuat mukjizat”, karena memang telah membuat banyak mukjizat dan memiliki kemampuan khusus yang dianugerahkan oleh Allah kepada engkau. Selama bertahun-tahun engkau sendiri telah mengalami penderitaan karena sakit kanker yang merusak urat-urat dalam tubuhmu. Kami percaya bahwa engkau bisa menjadi sumber rahmat bagi kami ketika kekuatan manusia sudah tidak mampu lagi menanggung penderitaan karena sakit. Engkau telah mengalami sendiri bagaimana Tuhan Yesus berkenan turun dari salib, mendatangi engkau dan menyembuhkan engkau dari segala sakit yang engkau derita. 

Sudilah kiranya sekarang engkau menjadi perantara bagi kami, untuk berkenan memintakan kepada Allah dan kepada Bunda Maria, rahmat kesembuhan bagi saudara kami, yang sedang menderita sakit kanker. Kami percayakan saudara kami ini (hening sejenak, dan sebut nama si sakit) kepadamu. Bantulah kami dengan perantaraanmu yang penuh kuat-kuasa, agar Allah berkenan memberikan rahmat kesembuhan itu bagi saudara kami yang sakit, jika Allah berkenan menghendaki demikian. Dan kami berjanji akan memuji Allah, sekarang dan sepanjang masa, dengan nyanyian penuh syukur atas segala kebaikan dan belaskasih Allah yang turun atas kami karena perantaraanmu. Amin.

Minggu, 31 Juli 2011

Menemukan Allah dalam Tindakan

Sang Guru ditanya, "Bagaimana seseorang menemukan Allah di dalam tindakan?"

Ia menjawab, "Dengan mencintai tindakan itu secara sepenuh hati, tanpa memandang buah yang dihasilkan oleh tindakan itu."


- Anthony de Mello, 1998, Awakening: 
Conversations with the Master,
365 Daily Meditations,  
Chicago: Loyola Press, No. 324

Rabu, 20 Juli 2011

Ambil dan Terimalah

Ambillah, ya Tuhan, dan terimalah segenap kebebasanku
Ingatanku, pengertianku,
Dan segenap kehendakku,
Segala yang kumiliki dan kuanggap kupunya.
Engkau telah berikan semua bagiku.

Padamu, ya Tuhan, kukembalikan.
Segalanya adalah milikMu; gunakan sesuai kehendakMu.
Hanya Cinta dan RahmatMu
Cukup sudah itu bagiku.

- St. Ignasius dari Loyola (1491-1556)

Selasa, 19 Juli 2011

Doa Mohon Lepas Bebas

Aku mohon kepada-Mu ya Tuhan,
agar Engkau menyingkirkan segala sesuatu
yang memisahkan aku dari Engkau
dan Engkau dari aku.

Singkirkan segala sesuatu yang membuat aku tak pantas
Engkau pandang,
Engkau kuasai,
Engkau cela,
Engkau bicarakan,
Engkau baiki,
Engkau cintai.

Buanglah dariku setiap kejahatan,
yang menghalangi aku untuk melihat Engkau,
mendengar, mengecap, menikmati,
dan menyembah Engkau,
takut dan memperhatikan Engkau,
mengenal, percaya, mencintai, dan memiliki Engkau,
Sadar akan hadirat-Mu dan sedapat mungkin mengenyam Engkau.

Ini adalah apa yang aku minta untuk diriku
Dan yang aku inginkan sekali dari Engkau.


- Beato Petrus Faber SJ (1506-1546)

Sabtu, 16 Juli 2011

Doa untuk Bisnis

Ya Tuhan, kami percaya bahwa Engkaulah Tuhan kami, baik di pasar maupun di altar, baik di tempat kerja maupun di tempat doa. Semua pekerjaan yang mengusahakan terpenuhinya kebutuhan manusia untuk menyelenggarakan hidupnya adalah karya tangan-Mu dan dengan cara-Mu. Kemakmuran yang berasal dari karya kami adalah hadiah yang datang dari-Mu untuk kami gunakan demi kemuliaan-Mu, dan bukan demi kesenangan kami sendiri. Sementara Engkau menciptakan segala sesuatu untuk kami nikmati, kepuasan yang sejati hanyalah datang dari-Mu.

Ya Tuhan, kami mengakui bahwa kami berkali-kali telah menjadi bangga dan sombong karena kesuksesan kami; kami berpikir bahwa kesuksesan itu kami peroleh karena kami lebih cerdas, lebih berkualitas, lebih bekerja keras daripada orang lain. Kami kadangkala menempatkan sukses di atas integritas dan kekuasaan atas orang lain. Itu bukan kehendak-Mu, dan ini semua adalah dosa. Kami kerapkali membiarkan cinta kami akan kemakmuran memadamkan api keberanian dan belarasa kami pada orang lain. Kami membiarkan diri-Mu tetap berjarak aman dengan hidup kami, secara mental kami mengunci pintu bangunan gereja jauh dari kehidupan kami sehari-hari. Bagaimana mungkin kami bisa menggunakan kekuatan-Mu, bimbingan-Mu, dan cinta-Mu berkali-kali, jika kami hanya mengenal Engkau sebagai bagian nyata dari hidup kami di hari Senin seperti Engkau di hari Minggu.

Ya Tuhan, kami mohon kepada-Mu, agar kami mampu menjadi seorang pengusaha, seorang pekerja, seorang pejuang kemakmuran dan kesejahteraan, yang menghayati hidup secara etis, baik di ranah publik maupun di ranah pribadi. Kami akan bekerja dengan rajin, bekerja dengan segenap hati, seolah Engkau sendiri adalah pemimpin perusahaan kami sebagaimana Engkau ada. Kami akan menemukan apa yang Engkau anugerahkan kepada kami, menemukan terang dan kegembiraan dari apa yang kami kerjakan dan dari apa yang Engkau ciptakan bagi kami. Dengan demikian orang lain akan melihat kenyataan kehadiran-Mu di dalam hidup kami dan menarik mereka kepada-Mu, demi Kristus Tuhan dan pengantara kami, yang hidup dan bertahta, bersama Dikau dan Roh Kudus, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Kamis, 14 Juli 2011

Makna Gunungan

Ilustrasi blogweb "Villa Dulcis" yang berada di sebelah kanan atas ini adalah gambar gunung, atau "gunungan", yang oleh orang Jawa disebut dengan istilah "kayon". Kata "kayon" berasal dari kata "kayu", yang berarti hidup. "Kayon" atau "kayun" berarti kehidupan.

Di dalam kayon itu, terdapat: gapura (pintu masuk ke rumah) yang diapit oleh dua malaikat; atap gapura dengan sayap panjang di kanan dan di kiri; pohon besar dengan tiga buah dahan di kanan dan di kiri; di belahan kanan terdapat seekor domba dan di belahan kiri terdapat seekor babi hutan; di atasnya lagi binatang-binatang yang lain. Binatang-binatang itu saling berhadapan muka, dengan wajah yang tidak bersahabat.
Gambar gapura yang diapit dua malaikat bermakna kesatuan antara manusia dengan Tuhan. "Gapura tembunge Djawi, ateges manunggal rasa, surasaning asma Widi."

Sedangkan atap gapura dengan sayap panjang di kanan dan kiri artinya hidup. "Dene lar pangapitipun ateges urip". Pohon bercabang tiga bermakna pokok "kawruh sejati", pengetahuan tentang kesempurnaan. "Deleg iku kawruh jatine". Sempurna berarti satu; menjadi satu dengan asal-usul alam raya ini.

Binatang-binatang yang berada di atas atap, menggambarkan kesibukan kehidupan manusia yang tiada henti, saling berebut dan saling berbagi, saling bersahabat dan saling berkelahi.

Hidup di dunia ini masih banyak dipengaruhi oleh hawa nafsu. Nafsu kuning: pemuasan keinginan-keinginan, seperti kemewahan, kekuasaan, kekayaan. Nafsu merah: dusta, dengki, iri hati. Nafsu biru: pemuasan badani, seperti: makan, minum yang berlebihan, dan benda-benda lain.

Ketiga nafsu itu merongrong hidup. Karena itu, gambar dua malaikat bersayap bermakna sebagai "pepeling", pengingat akan perlunya pengendalian hawa nafsu. Hidup ini berasal dari Tuhan. Maka manusia harus berusaha kembali bersatu dengan Tuhan.

Dalam Kitab Antjala Djarwa oleh Raden Supardi, penampakan "kayon" dituturkan dengan bentuk tembang Dhandhanggula sebagai berikut:

Wruh kang tjitra pan wudjuding ardi, ing djro meksi gambar rupa-rupa, awit ngrawit pakartyane, pinrada mungguh, weh sengseme para mriksani, ngisor tengah pineta gapureng kedatu, pajoning pura sinartan, ing lar pandjang neng kanan kering respati, kawarneng kang wiwara.
Para ingapit gupala kekalih, ngemba Tjingkarabalaupata, sikep pedang lan tamenge, lungguh adjengkeng mungguh, aneng tlundhag sarwa mantesi, sanginggiling gapura pinetheng wreksa gung, ndjenggarang pinulet sarpa, pan sembada rinengweng pang tiga sisih, ambapang ngering nganan.
Antaraning pang ngandhap pribadi, madya sinung mukaning kemamang, mrengenges maweh semune, den ngandaping pangipun kanan sinung banteng mantesi, kering sardula korda, djeng-adjengan patut, istane lir pontjakara, weneh sinung gambar blegdaba kekalih, ugi ajun-ajunan.
Sangisoring pang kang angka kalih, isi kethek methangkrong ngedangkrang, sisihan lawan lutunge, asung srining pandulu, saselaning kang paksi-paksi, soring pang angka tiga katon manuk tjohung, angadjengken satowana, dene kang putjuk pineta kudhuping sari, antaraning puspita.
@@@

Rabu, 13 Juli 2011

Mengharapkan Kebahagiaan

Sang Guru belum juga mempunyai waktu untuk dapat menengok anak pertamanya yang telah lahir.

"Apa yang engkau inginkan kelak untuk anakmu setelah dia menjadi dewasa?", tanya seorang murid.

"Sangat bahagia", kata sang Guru.

- Anthony de Mello, 1998, 
Conversations with the Master:
365 Daily Meditations,
Chicago: Loyola Press, No. 204

Makna Rendah Hati

Rendah hati tidak boleh disamakan dengan rendah diri, perasaan rendah, gambaran diri yang miskin, atau sifat malu-malu. Itu semua bukan rendah hati. Rendah hati lebih daripada sekedar sadar akan kelemahan-kelemahan diri. Acapkali dikatakan bahwa rendah itu kebenaran. Artinya apa? Artinya, rendah hati itu mengacu pada fakta bahwa memang tidak ada seorang suami atau isteri yang sempurna, tidak ada orangtua yang sempurna, tidak ada anak yang sempurna, tidak ada komunitas yang sempurna, tidak ada atasan yang sempurna, tidak ada pemimpin perusahaan yang sempurna, tidak ada gereja yang sempurna, tidak ada negara yang sempurna. Kita sendiri juga tidak sempurna. Juga perbuatan-perbuatan kita pun tidak sempurna.

Untuk menerima semua ini kita dituntut untuk berani. Kita bisa berubah menjadi lebih baik jika kita berani mengubah apa yang telah kita terima. Ini semua adalah benar, tetapi rendah hati lebih daripada itu. Rendah hati lebih berfokus pada Tuhan daripada pada diri kita sendiri. Tuhan adalah Tuhan, dan kita adalah manusia. Rendah hati adalah sikap dasar yang berhubungan dengan struktur intrinsik dari segala realitas. Rendah hati tak berpegang pada diri sendiri, tidak pada sukses atau kegagalan, tidak pada kegembiraan atau kesedihan. Itulah mengapa orang yang rendah hati tidak pernah putus asa.

Rendah hati adalah sumber kepercayaan, keberanian, dan kegigihan yang tak pernah mengenal lelah. Sebaliknya, orang yang sombong mudah putusasa. Rendah hati juga siap menerima penderitaan, jika seandainya penderitaan itu juga merupakan bagian dari misi yang harus diemban. Jika kesiapan untuk menerima penderitaan itu kurang, maka kepahitan akan segera muncul. Keputus-asaan, loyo, kepahitan adalah lawan dari kerendahan hati.

Orang yang rendah hati tidak mengenal rival atau musuh tandingan. Ia tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia tidak pernah mengangan-angankan berada dalam persaingan, dalam arena perlombaan. Orang yang rendah hati pembawa damai. Dia hidup dalam situasi selaras dengan  Tuhan. Ia pembawa shallom atau damai sejahtera bagi dirinya, dan melalui dirinya orang lain mendapatkan rasa damai.

Contoh yang paling menarik bisa diambil dari sebuah kisah dalam Injil Lukas (Luk 18: 9-14) tentang perumpamaan di mana Yesus berbicara kepada mereka yang merasa diri benar, berbeda dengan orang-orang lain. Orang Farisi membandingkan diri dengan orang lain pada umumnya. Mereka merasa diri paling baik atau sekurang-kurangnya lebih baik daripada orang lain (tentu saja dalam kacamata pandang diri mereka). Berbeda dengan si tukang pemungut cukai yang lebih berfokus  pada Allah dan tidak mau membandingkan sama sekali. Inilah rendah hati.

Tidak adanya kerendahan hati mengakibatkan adanya banyak orang yang terluka hatinya, entah di dalam keluarga, di dalam komunitas, di tempat kerja, di dalam karya pelayanan. Kurangnya sikap rendah hati kerapkali terjadi di kalangan orang-orang yang hidupnya mengejar karir dan mengejar kenikmatan. Yesus kerapkali menemui orang seperti itu di kalangan para murid-Nya sendiri.

Ketika pengadilan Yesus berlangsung, Petrus mengatakan kepada seorang wanita di sekitar tungku perapian: “Aku tidak mengenal Dia” (Luk 22: 57). Setelah prediksi tentang kesengsaraan Yesus, anak Zebedeus yang ambisius mengejar karir, kemudian mendekati Yesus dan meminta ditempatkan di tempat utama dalam Kerajaan yang akan datang; tetapi dalam kisah selanjutnya, anak Zebedeus itu tak dikenal lagi di dalam Kisah Para Rasul. Semakin kita membuka diri pada Allah, maka Kerajaan Allah itu akan semakin nyata di dunia.

Selasa, 05 Juli 2011

Doa Menemukan Tuhan dalam Studi

Allah yang Mahamurah dan Maharahim, kami bersyukur kepada-Mu karena cinta dan rahmat-Mu yang selalu mengalir tiada henti dalam hidup kami. Kami anak-anak-Mu secara unik dan istimewa Engkau anugerahi talenta-talenta dan tugas untuk mengembangkan talenta-talenta itu. Dalam terang iman, kami menyambut tugas itu dengan berbagai cara hingga sedapat mungkin kami  menemukan jalan yang paling baik dalam membentuk hasrat mencintai-Mu dengan sepenuh jiwa raga dalam segala peristiwa hidup kami.

Pada diri Yesus, Putera-Mu, Engkau tampilkan bagi kami teladan hidup yang menjadi sumber inspirasi kami dalam menjalankan studi sekarang ini. Ia adalah pribadi yang seluruh hidup-Nya terarah kepada-Mu dan terbuka untuk terus belajar dengan aneka cara, mengenai apa saja, dari siapa saja, dan dengan siapa saja agar kemuliaan-Mu menjadi semakin tampak dalam hidup manusia.

Kami mohon kepada-Mu, teruslah mendorong kami dengan Roh Kudus-Mu agar kami tahan uji dan senantiasa mempunyai semangat yang menyala di kala studi menjadi rutinitas harian kami, di kala usaha-usaha studi kami seakan tidak menghasilkan buah yang menggembirakan, dan di kala kami menemukan berbagai tantangan dan kesulitan studi yang seringkali menggoyahkan kepercayaan diri kami dan kepercayaan kami kepada-Mu.

Pimpinlah kami dan seluruh aktivitas studi kami agar kami secara utuh berkembang menjadi pribadi cerdas yang sanggup bersolidaritas, pribadi jujur yang berani kritis, dan pribadi berbelarasa yang gampang bekerjasama dengan semua orang yang berkehendak baik sehingga di dalam hidup kami: iman, harapan dan cintakasih kami bertumbuh dengan sepenuh-penuhnya demi kemuliaan nama-Mu.

Kemuliaan kepada Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.

Jumat, 01 Juli 2011

Doa Cinta

Ya, Cinta yang abadi,
Jiwaku membutuhkan dan memilih Engkau selama-lamanya.

Datanglah ya Roh Kudus, dan kobarkanlah hati kami dengan cinta-Mu!
Untuk mencintai atau untuk mati!
Untuk mati dan untuk mencintai!
Untuk mati terhadap segala cinta yang lain dalam rangka hidup di dalam cinta Yesus, sehingga kami tidak mati selamanya.

Tetapi, supaya kami dapat hidup di dalam cinta-Mu yang abadi.

Ya, Penghibur jiwa kami, kami bernyanyi selamanya: “Hidup, Yesus!”, dan Yesus akan hidup!
Hidup Yesus, yang aku cintai!

Yesus, aku mencintai-Mu. Yesus yang hidup dan meraja selama-lamanya. Amin.

-    Francis de Sales

Doa di Saat Sulit

Tuhan,
Hidupku dipenuhi dengan banyak tantangan. Ada banyak perubahan yang sedang bergerak di sekitarku. Nampak terasa bahwa perubahan-perubahan ini membanjiri diriku. Banyak hati terluka. Lukanya melebihi luka yang aku derita. Tetapi di kegelapan malam, aku tahu bahwa Engkau bersamaku, meski aku tidak dapat merasakannya bahwa diri-Mu berada di sana.

Aku pasrahkan hatiku kepada-Mu. Aku serahkan hidupku kepada-Mu. Aku serahkan semua kekecewaanku, kepedihanku, dan penderitaanku, karena hanya Engkaulah yang dapat memahaminya. Aku satukan penderitaanku dengan penderitaan-Mu; hatiku dengan hati-Mu.

Sudilah kiranya Engkau menganugerahkan kepadaku kekuatan untuk bergerak maju, untuk gigih berjuang, dan untuk mengumumkan kemenangan dalam nama-Mu. Engkau adalah Terang dalam kegelapan, Engkaulah alasan mengapa aku hidup dan bergerak, dan mengapa aku menghayati keberadaanku sekarang.

Tidak ada hal lain di dalam hidup ini, yang sebanding dengan Engkau. Aku akan berpegang teguh pada-Mu. Aku akan mengkonsumsi Engkau, karena Engkau adalah roti kehidupan. Engkau memberikan kepadaku makanan untuk mengurus segala cobaan dan mengatasi segala cobaan itu. Engkau adalah Pembimbingku dan Penghiburku. Engkau adalah Kebangkitan dan Hidup. Engkau adalah Allahku, Engkau adalah segalanya. Hanya Engkaulah yang aku butuhkan dan aku inginkan, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

~ Jean M. Heimann

Sabtu, 25 Juni 2011

Mukjizat: Pengalaman yang Tak Terlupakan

Pater Pedro Arrupe SJ, adalah Pater Jendral Serikat Yesus yang memimpin Serikat Yesus dari tahun 1965 sampai dengan 1983. Dia adalah pemimpin umum Serikat Yesus yang ke-28. Lahir di Bilbao, Spanyol pada tahun 1907. Dia belajar kedokteran sebelum masuk ordo Serikat Yesus. Sebelum menjadi pemimpin umum SJ, beliau adalah provincial SJ yang pertama di Jepang. Karya pelayanan yang paling mengesankan dalam hidupnya adalah memelihara orang-orang kurban bom atom di Hirosima. Beliau wafat di Roma, tanggal 5 Februari 1991, sebagai akibat dari stroke yang terjadi pada tanggal 7 Agustus 1981, persis ketika pesawat yang dia tumpangi mendarat dari perjalanannya ke Timur Jauh.

Pater Pedro Arrupe banyak menulis mengenai Spiritualitas Ignatian. Tulisan yang sangat menarik perhatian banyak orang dan tak pernah dapat dilupakan adalah refleksinya mengenai Hati Kudus Yesus. Berikut ini adalah salah satu kisah pengalaman rohani beliau yang berkait dengan Sakramen Mahakudus, yang beliau alami sebelum masuk ordo Serikat Yesus.

 “Beberapa minggu setelah ayah saya meninggal, saya pergi ke Lourdes bersama dengan keluarga saya, karena kami ingin menghabiskan waktu musim panas di lingkungan rohani, tenang dan damai. Waktu itu adalah pertengahan bulan Agustus. Saya berada di Lourdes selama satu bulan penuh. Karena saya adalah mahasiswa kedokteran, maka saya dapat memperoleh izin khusus untuk mempelajari lebih dekat orang-orang yang sakit yang datang ke Lourdes mencari kesembuhan.

“”Pada suatu hari saya berada di lapangan terbuka bersama dengan saudari-saudari perempuan saya, persis sedikit di depan perarakan Sakramen Mahakudus. Sebuah kereta dorong yang didorong oleh seorang wanita tengah umur lewat di depan kami. Salah satu dari saudari saya berseru: “Lihat pada anak lelaki miskin di kereta dorong itu!”

“Anak lelaki itu berumur kira-kira 20 tahun, semua anggota badannya lunglai tak berbentuk normal karena polio. Ibunya berdoa Rosario dengan suara keras dan dari waktu ke waktu meneriakkan kata-kata dengan mengeluh: “Maria sanctissima [Maria yang tersuci], bantulah kami.”

“Sungguh terjadi, ada suatu pandangan yang bergerak, dan saya mengingat permintaan orang sakit yang menghadap Yesus: “Tuhan, jika Engkau menginginkan, Engkau dapat membuat aku bersih.”  Ibu itu mempercepat jalannya untuk mengambil tempat di barisan di mana Uskup lewat membawa Sakramen Mahakudus dalam monstrans. Saatnya tiba ketika Uskup memberkati anak lelaki yang masih muda itu dengan hosti.

“Anak lelaki itu melihat ke monstrans dengan penuh iman, persis sama dengan iman yang dimiliki oleh orang lumpuh yang ditunjukkan dalam Injil, yang memandang Yesus. Setelah Uskup memberikan tanda salib dengan Sakramen Mahakudus, anak lelaki itu melompat dari kereta dorong, dan anak itu sembuh total. Karena itu, banyak kerumunan orang berteriak: “Mukjizat! Mukjizat!”

“Saya berterima kasih atas izin khusus yang saya miliki, sehingga saya kemudian bisa membantu pada saat dilakukan pengujian medis. Tuhan sungguh telah menyembuhkan dia… Tiga bulan kemudian (1927), saya masuk novisiat Serikat Yesus di Loyola.”



@@@

Jumat, 24 Juni 2011

Jalan Kecil Theresia Lisieux

Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus terkenal dengan pemikiran tentang “Jalan Kecil”. Untuk menjadi suci, orang tidak memerlukan tindakan yang besar apalagi hebat. Untuk menjadi suci, orang hanya perlu mencintai Allah. Dia menulis demikian: “Cinta membuktikan diri dalam perbuatan. Oleh karena itu bagaimana aku harus menunjukkan cinta itu? Pekerjaan hebat itu tidak perlu bagiku. Cara yang bisa aku buktikan adalah menyebar bunga-bunga dan bunga-bunga itu adalah kurban-kurban yang sangat kecil, yaitu setiap kata dan perbuatanku. Maka, aku mengerjakan semua tindakan itu demi cinta itu”.

Theresia menemukan bahwa cinta itu memberikan alasan kepada setiap orang untuk hidup dan memiliki harapan. Sebagai seorang anak kecil ia menyatakan bahwa ia dikelilingi oleh cinta dan ia mempunyai kodrat untuk mencintai itu. Tetapi pengalaman dicintai itu berhenti ketika ia kehilangan ibunya sesaat ia masih berumur empat tahun, dan kemudian ketika akhirnya Pauline kakaknya yang menjadi “ibunya yang kedua” juga lalu masuk biara di Lisieux. Apakah ada cinta yang permanent, cinta yang berlangsung tetap dan terus menerus? Apa artinya cinta ketika masih ada penderitaan? Setiap orang bertanya tentang cinta: apa sesungguhnya cinta itu?

Theresia yakin bahwa Yesus bersama dia dan mencintai dia sejak masa kecilnya. Ia belajar tentang Yesus dari cerita-cerita yang dia baca dan dari keluarganya sendiri, melalui Kitab Suci setelah ia menjadi dewasa. Ia juga membaca buku “Imitatio Christi” (Mengikuti Jejak Kristus [Indonesia] atau Napak Tilas Pada Dalem Sang Kristus [Jawa]), karangan Thomas a Kempis. Lalu pada umur 17 tahun ia membaca Yohanes dari Salib, dan melihat bagaimana cinta Allah menyemangati hidupnya. Theresia ingin memenuhi apa yang pernah ditulis oleh Yohanes dari Salib: “Di senja hidup, kita akan diadili oleh cinta kita ...” Theresia yakin bahwa cinta adalah segalanya. Ia mengenal pusat cinta itu ketika ia membaca surat Paulus kepada umat di Korintus (1Kor 13: 1-13); ia ingin memeluk panggilan ke arah cinta itu.

Ia menerjemahkan keinginan mencintai itu dengan mengembangkan relasinya dengan Tuhan Yesus Kristus. Ia mempersembahkan setiap hari hidupnya kepada Tuhan Yesus sebagai suatu cara untuk mewujudkan cintanya kepada Yesus. Ketika ia menemukan bahwa hidup di biara itu tidak mudah, karena beberapa orang suster yang kasar dan sulit dalam hidup berkomunitas. Meskipun situasi biara tidak menyenangkan dia tetap tinggal di sana dan tidak pergi. Dia memutuskan untuk tetap hidup di sana dan hidup dengan situasi seperti itu. Dia menemukan “Jalan Kecil”, yaitu: menerima bahwa setiap orang itu datang dari sang Pencinta Ilahi dan setiap orang dicintai oleh Allah selama-lamanya. Oleh karena itu ia mencintai mereka sebaik-baiknya sejauh dia bisa melakukannya. Pada kenyataannya, ia belajar di dalam proses bahwa ada kesatuan yang mendalam antara cinta pada Allah dan cinta pada sesama. Ia menulis bahwa “semakin hidup ini berfokus pada Kristus maka saya akan semakin mampu untuk mencintai para suster.” Kata-kata Theresia itu bisa dirumuskan secara lain begini: “semakin kita mencintai Tuhan, semakin pula kita mampu mencintai anggota keluarga kita: anak, isteri/suami pasangan kita, saudara-saudara kita, teman-teman sekerja kita, tetangga di sekitar lingkungan hidup kita.”

Pada akhir hidupnya Theresia menemukan bahwa cinta itu diuji dalam cara-cara yang luar biasa. Ia mencari tahu selama 18 bulan merasakan kekosongan tetapi pencobaan melawan segala sesuatu yang ia yakini. Mungkin surga itu tidak ada; dan hidupnya memiliki komitmen yang bodoh. Ia mengalami konsolasi atau penghiburan rohani dan juga harus menderita sakit TBC yang tidak bisa disembuhkan sampai akhir abad 19. Tetapi Theresia menolak untuk meninggalkan hidup iman, harapan dan cinta kasih. Ia menerima kesulitan dan ujian untuk dapat memberikan dirinya untuk cinta. Pada akhirnya ia meninggal dunia dalam damai dan di dalam cinta. Cerita hidupnya untuk selanjutnya menarik hati siapa saja yang tak kunjung henti mencari jalan hidup atau cara berada yang bernilai di dunia ini.

Apa artinya “Jalan Kecil” itu bagi Theresia? Jalan kecil adalah gambaran Theresia mengenai apa artinya menjadi orang kristiani, apa artinya menjadi murid Kristus Yesus, yaitu: mencari kesucian (hidup) di dalam hal-hal biasa dan di dalam (hidup) sehari-hari yang serba biasa ini. Jalan kecil itu diyakini dia berdasarkan pada dua pertimbangan, yaitu: (1) Allah menunjukkan cinta dengan belas kasih dan pengampunan; (2) Ia tidak bisa menjadi sempurna di dalam mengikuti Yesus Tuhan kita. Theresia percaya bahwa orang-orang di zamannya hidup dalam ketakutan terhadap pengadilan Allah. Ketakutan itu tidak membuat orang mengalami kebebasan anak-anak Allah.

Dari hidupnya Theresia tahu bahwa Tuhan itu adalah cinta (yang berbelas kasih). Banyak halaman-halaman Kitab Suci di PB maupun di PL, mengungkapkan kebenaran itu. Ia mencintai Allah yang digambarkan dalam PL dan cinta Allah pada kita di dalam diri Yesus Kristus. Theresia menulis bahwa ia tidak bisa memahami bagaimana orang bisa takut kepada Allah yang menjadi seorang anak kecil. Ia juga tahu bahwa ia tidak akan pernah sempurna. Karena itu, ia pergi kepada Allah sebagai anak kecil yang mendekati orang tua : dengan tangan terbuka dan percaya mendalam.

Theresia menerjemahkan “Jalan Kecil” dengan istilah komitmen terhadap tugas-tugas dan terhadap orang-orang yang kita temui di dalam hidup sehari-hari. Ia ambil tugas-tugas di biara sebagai cara-cara mewujudkan cintanya pada Allah dan pada orang lain. Ia bekerja sebagai koster untuk menyiapkan altar dan kapel. Ia melayani di refter (kamar makan) dan kamar cuci. Ia menulis drama untuk acara hiburan di dalam komunitas. Dengan cara begitu ia mencoba untuk memperlihatkan cintanya untuk semua suster dalam komunitas. Ia memberikan dirinya bahkan juga untuk anggota komunitas yang dianggapnya sulit. Ia bermain drama tidak hanya untuk orang yang disukai tetapi juga untuk orang yang dianggapnya sulit itu.

Hidupnya tampak rutin dan biasa tetapi itu merupakan bentuk penghayatan komitmen mencintai itu. Itulah yang disebut jalan kecil itu, yang secara persisnya dilakukan dengan cara menjadi sederhana, langsung, tetapi menuntut keberanian dan komitmen. Orang Katolik tertarik terhadap gaya hidup Theresia. Jalan kecilnya nampaknya membuat orang-orang biasa dapat menjangkau kesucian itu. Maka kita akan selalu ingat pesan yang disampaikan oleh Santa Theresia kepada kita semua: “Hayatilah hari-hari anda dengan percaya pada cinta Allah untuk anda! Ingatlah bahwa setiap hari merupakan hadiah di mana hidup anda bisa dibuat berbeda dengan cara bagaimana anda menghayatinya. Pilihlah hidup. Cinta adalah komitmen yang setiap hari harus diulangi dan dikerjakan dalam setiap hari hidup kita.” @@@

Santa Theresia dari Lisieux

Kisah tentang Santa Theresia Lisieux adalah unik dalam sejarah Gereja. Ini adalah sebuah kisah tentang seorang suster Karmelit yang masih muda, tidak pernah meninggalkan biara, meninggal pada umur 24 tahun, dan menjadi santa yang terbesar di zaman modern (Paus Pius X), mendapat gelar pujangga Gereja, yang tulisannya telah memberikan inspirasi bagi berjuta-juta orang di seluruh dunia.

Tidak hanya dinyatakan sebagai pelindung bagi karya misi dan pelindung bagi tanah Perancis, tetapi ia juga dipilih sebagai pelindung bagi karya kerasulan doa yang anggota-anggotanya jutaan orang di seluruh dunia. Dia sendiri adalah seorang anggota kerasulan doa yang setia selama bertahun-tahun lamanya.

Beratus-ratus judul buku dan artikel ditulis mengenai santa ini dan “Jalan Kecil”nya yaitu sebuah spiritualitas yang menekankan cinta Allah, dan bukan takut akan Dia. Hidupnya dikenal oleh banyak orang sebagai anak perempuan dari pasangan suami isteri Bapak Louis Martin dan ibu Zelie Marie Guerin. Ibunya meninggal ketika Theresia masih berumur 4 tahun pada tahun 1877 di Alencon, Perancis. Keluarga Martin kemudian pindah ke Buissonets di Lisieux, sebuah rumah yang sampai sekarang banyak dikunjungi oleh para peziarah.

Ketika kakaknya Pauline masuk biara Karmelit tahun 1882, Theresia juga berkeinginan untuk masuk biara juga. Lima tahun kemudian ketika dia sudah berumur 14 tahun, dia membujuk Paus Leo XII ketika dalam perjalanan bersama dengan ayahnya berziarah. Tetapi ia masih terlalu muda untuk masuk biara. Namun, pada umur 15 tahun dia akhirnya boleh masuk ke biara Karmel dengan izin Paus. Saudara perempuannya yang lain, yaitu Marie juga telah masuk ke biara Karmel, dan berikutnya kemudian Celine juga bergabung dengannya masuk biara Karmel. Saudara perempuannya yang kelima, Leonie masuk ke Ordo Visitasi; jadi lima bersaudara dari sebuah keluarga semua masuk menjadi suster.

Theresia menjadi suster hanya selama sembilan tahun. Setelah menderita sakit TBC ia meninggal dunia pada tanggal 30 September 1897. Tiga tahun lebih awal Pauline sudah menjadi Pemimpin tarekat Karmelit (dengan nama Bunda Agnes dari Yesus) meminta kepada Theresa (dari Kanak-kanak Yesus dan Wajah Kudus) untuk menulis ingatan akan pengalaman rohaninya, yang berjudul “Story of a Soul”.

Setelah setahun kematiannya 2000 exemplar bukunya telah tersebar di kalangan para suster Karmelit dan teman-temannya. Permintaan cetak ulang semakin bertambah dan permintaan itu berasal dari seluruh dunia. Tulisan dia menjadi besar karena permintaan yang luar biasa banyak jumlahnya, dan bahkan sampai diterjemahkan ke dalam 60 bahasa di seluruh dunia.

Pada tahun 1923 ia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI yang juga mengkanonisasi dia sebagai seorang Santa di lapangan Santo Petrus pada tahun 1925 ketika setengah juta orang peziarah berkumpul di Roma. Karena usahanya untuk karya misi, dia diberi gelar pelindung karya misi bersama dengan Santo Fransiskus Xaverius pada tahun 1927. Paus Pius XII pada tahun 1944 menyebut dia dengan gelar “penyembuh ulung" pada abad modern dan menjadikan dia pelindung untuk tanah Perancis. Pada tahun 1977, setelah 100 tahun kematiannya,  Paus Yohanes Paulus II menyatakan dia sebagai pujangga Gereja setelah Santa Teresia Avila dan Catharina Siena.

“Aku harus menjadi Santa”, kata Theresia ketika dia masuk biara. Dan kemudian dia memang mendapat izin untuk masuk biara; motivasinya adalah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dan untuk mendoakan para imam”.
Hidup baginya tidaklah mudah. Ruang-ruang biara itu dingin dan dia sangat menderita ketika mendengar ayahnya jatuh sakit pada tahun 1888 karena terkena gangguan cerebral arteriosclerosis. Ketika ayahnya meninggal tahun 1894 Celine yang merawat ayahnya, masuk biara Karmel dan untung membawa kameranya, dan berhasil mengabadikan gambar-gambar Theresia di biara.

“Apa itu Jalan Kecil?”, suatu ketika Theresia ditanya. Lalu ia menjawab: “Jalan kecil itu adalah jalan kehidupan rohani seorang anak kecil, yakni jalan kepercayaan dan jalan kepasrahan diri secara mutlak kepada Tuhan.” Dasar dari jalan yang baru ini ditemukan di dalam teks Matius 18: 3, ketika Kristus mengatakan: “Jika kamu tidak menjadi seperti anak kecil ini, maka kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga”.

Dia membaca riwayat para Santo/Santa dan dia menemukan jalan baru untuk kesempurnaan. “Aku terlalu kecil untuk mampu mendaki tangga kesempurnaan itu,” ia menulis “karena itu aku melihat ke dalam Kitab Suci untuk menemukan indikasi tentang apa yang mungkin bisa mengantar aku untuk mencapai keinginan aku.” Kemudian dia menemukan tangga kehidupan rohani “tangga yang bisa mengantar aku ke surga adalah tangan-tangan-Mu ya Tuhan Yesus.”

“Kamu tanya kepadaku tentang jalan menuju kesempurnaan. Aku tahu: cinta dan hanya cinta. Hatiku dibuat demi cinta itu. Cinta mengenal bagaimana menarik keuntungan dari segala sesuatu.” Dia menulis: “Panggilanku akhirnya aku temukan. Panggilan itu adalah mencintai. Di dalam hati Gereja, di dalam Ibuku, aku akan menjadi cinta.”
“Hidup karena cinta, inilah surgaku … dan inilah tujuan hidupku.”

Hidup rohani kanak-kanak Yesus itu adalah “kehidupan rohani seorang anak kecil yang tidur tanpa ketakutan di dalam pelukan tangan ayahnya, semangat penyerahan diri itulah yang menjadi pedomanku satu-satunya. Aku tidak punya pedoman arah yang lain”. Theresia.menambahkan: “Jangan berpikir bahwa kita dapat menemukan cinta tanpa penderitaan … tetapi penderitaan itu ada di dalam perjalanan kita menjangkau cita-cita kesempurnaan itu.” Dia membuktikan cinta itu dengan “menaburkan bunga” untuk Yesus, dengan mempersembahkan kurban-kurban kecil.

Ketika ia meninggal, kata-katanya terakhir yang diucapkan: “Allahku, aku mencintai-Mu.” Dia menulis: “Aku tidak sedang meninggal. Aku sedang memasuki kehidupan.” Katanya juga: “Aku akan menikmati waktuku di surga dengan mengerjakan kebaikan di dunia.” @@@

Kamis, 23 Juni 2011

Waktu Menyelesaikan Masalah

"Berapa lama waktu yang akan aku butuhkan untuk menyelesaikan masalahku ini?"

"Tidak lebih dari satu menit dari waktu yang kamu butuhkan untuk memahami masalah itu!"


Anthony de Mello, 1993, Awakening:
Conversations with Master,
365 Daily Meditations,
Chicago: Loyola Press, No. 230.

Maria Bunda Penolong Abadi

Dalam sebuah pelayaran mengarungi samudra, sebuah kapal diterpa badai. Semua penumpang panik termasuk kapten kapal dan anak buahnya. Berbagai usaha telah dicoba agar kapal tidak tenggelam. Namun tampaknya sia-sia. Semua penumpang pasrah. Seorang penumpang kemudian teringat bawaannya. Ia buka bungkusannya. Nampak sebuah gambar Bunda Maria. Ia amati sebentar dan dia teringat gambar itu barangkali bisa membantu. "Mari kita berdoa mohon perlindungan Maria Bintang Laut". Suaranya hampir-hampir tidak kedengaran ditelan bunyi gelombang. Ia ulangi sekali lagi sambil memperlihatkan lukisan Bunda Maria yang dia pegang di tangannya. Semua mata tertuju ke gambar itu. Mereka kemudian berlutut walaupun dalam keadaan oleng sambil berdoa.

Tiba-tiba langit yang tadinya gelap berawan, menjadi cerah. Angin yang selama beberapa jam membuat perahu oleng, mulai reda. Begitu juga gelombang laut pelan-pelan menjadi teduh. Kapal seolah berlayar di atas minyak yang tenang. Akhirnya kapal merapat di pelabuhan Roma. Semua penumpang selamat.
Pemilik gambar itu langsung menuju rumah kawannya. Sayang, usianya tidak lama. Namun, sebelum meninggal ia berpesan kepada kawannya agar lukisan itu diberikan kepada salah satu gereja di Roma. Kawannya melihat lukisan itu indah. Selain indah juga aneh. Tidak sebagaimana lukisan Bunda Maria yang pernah ia lihat, lukisan ini memberi suatu pesan khusus yang sulit dilupakan.

Gambar ajaib itu memperlihatkan Bunda Maria sedang menggendong Kanak-kanak Yesus. Sikap dan wajah Yesus memperlihatkan rasa cemas. Yesus yang masih kecil itu nampaknya mencari perlindungan pada Ibu-Nya. Tangannya yang masih mungil menggenggam erat tangan Ibu Maria. Mata Yesus menunjukkan rasa cemas. Keterkejutan dan menyelamatkan diri secara tergesa-gesa nampak dari salah satu sandal-Nya yang hampir lepas dan tergantung.

Menurut keterangan pelukisnya, lukisan itu menunjukkan saat ketika Yesus sedang bermain-main. Tiba-tiba datang dua orang malaikat pada-Nya. Yesus terkejut. Ia segera lari ke pangkuan Ibu-Nya, mohon perlindungan. Ibu Maria juga sempat terkejut sebelum mengetahui apa yang terjadi. Yesus amat tergesa-gesa hingga tidak sempat memperhatikan sandalnya yang hampir hilang.

Ada alasan yang kuat mengapa Yesus kecil terkejut melihat kedua malaikat itu. Utusan Tuhan itu memperlihatkan secara jelas salib, paku-paku, lembing, dan bunga karang yang penuh cuka dan empedu. Barang-barang ini kita tahu kemudian menjadi alat kesengsaraan Yesus ketika memikul salib dan wafat di Kalvari.

Sebagai anak kecil, Yesus ketakutan. Ia merasa ngeri. Karena itu, Ia memeluk Maria. Jari-jari-Nya gemetar dalam genggaman yang aman Bunda Maria. Kemudian dengan penuh kasih keibuan, Maria merapatkan Kanak-kanak Yesus lebih dekat ke tubuh-Nya dengan tangan kiri-Nya. Di dalam pelukan Maria yang memandang dengan rasa haru dan kasih sayang, Yesus merasa aman karena Maria memeluk-Nya seraya memberi keyakinan. Tangan Kristus yang menggenggam erat tangan Bunda-Nya mengingatkan kita bahwa Dia mempercayakan diri sepenuhnya kepada Ibu-Nya yang terkasih dan menunjukkan kita pun akan aman berada di dalam asuhan-Nya.

Kawan pemilik gambar itu memang tertarik karena anehnya lukisan itu. Ia tidak sadar, lukisan itu menyimpan sejumlah misteri. Malam harinya ketika tidur, Maria menampakkan diri kepadanya. Dalam mimpinya, Maria mengingatkan dia agar mengikuti pesan kawannya sebelum meninggal yaitu menyerahkan lukisan itu kepada salah satu gereja.

Mimpi itu disampaikan kepada istrinya tapi mereka masih tetap menyimpan lukisan itu. Tidak lama kemudian orang itu meninggal. Rupanya, istrinya juga tertarik dan menyukai gambar itu. Ia bertekad menyimpannya walau ada pesan khusus dari suaminya. Maria kembali mengingatkan keluarga itu melalui anak gadisnya. "Ibu, aku melihat seorang wanita yang amat cantik. Wanita itu berkata kepadaku, katakan kepada ibumu, Bunda Penolong Abadi minta supaya lukisan diri-Nya ditempatkan di salah satu gereja. Begitulah pesannya, Bu." Sang janda ingin melaksanakan pesan itu, tetapi ia ditertawakan sesama ibu di wilayahnya. Ia menjadi lebih tertarik lagi ketika salah seorang temannya jatuh sakit. Temannya itu tiba-tiba sembuh setelah minta maaf kepada Maria dengan menyentuh lukisan itu.

Akhirnya, lukisan itu diserahkan kepada gereja St. Alfonsus di Roma. Selama 300 tahun, lukisan itu tersimpan di sana. Selama itu pula tempat itu menjadi terkenal karena mukjizat-mukjizat yang terjadi. Tahun 1798, di masa perang Napoleon, para imam diusir. Tapi salah seorang imam sempat menyimpan lukisan itu di sebuah kapel kecil. Lukisan itu terlupakan selama 70 tahun.

Untung ada seorang bruder tua yang masih ingat riwayat lukisan itu. Ia menceritakannya kepada seorang anak kecil yang kemudian menjadi imam Redemptoris. Bocah itu ini menceritakan pula riwayat gambar itu kepada sesama imam Redemptoris. Akhirnya berita ini sampai ke telinga Paus. Paus memberi perintah, agar gambar tersebut diperlihatkan dan dihormati kembali serta ditempatkan di tempatnya semula, yaitu di tempat yang dipilih sendiri oleh Bunda Maria.

Gambar asli dilukiskan di atas kayu, usianya kira-kira 500 tahun. Tahun 1866, gambar itu secara resmi ditempatkan di gereja St. Alfonsus di Roma. Paus Pius IX berpesan kepada para imam Redemptoris, "perkenalkanlah Dia ke seluruh dunia." Sejak saat itu, gambar diperbanyak. Duplikatnya disebarkan ke seluruh dunia.

Hingga kini banyak umat yang memberi penghormatan khusus kepada Maria Penolong Abadi mendapat banyak berkat dan ada pula yang mengalami mukjizat secara khusus. Konsili Vatikan II dalam salah satu butir penghormatan kepada Maria memberikan nama Penolong Abadi kepada Maria. Alasannya ialah karena nama itu secara ajaib menonjolkan dan menekankan pengasuhan ibu yang dilaksanakan Maria terhadap Gereja yang kini masih berjuang di dunia.

Penjelasan makna lambang-lambang pada gambar: Paraf Yunani di sudut kiri dan kanan atas gambar berarti Bunda Allah. Bintang di mahkota Maria bermakna, beliaulah Bintang Laut, yang membawa cahaya Kristus kepada kegelapan dunia ini. Bintang yang membimbing kita dengan aman menuju rumah surgawi. Malaikat Agung Mikael di sebelah kiri memegang lembing dan bunga karang dan dalam huruf yunani namanya dituliskan di atasnya. Mulut Maria digambar mungil sebagai lambang sedikit berbicara dan dalamnya kehidupan kontemplasi sang perawan. Jubah Maria berwarna merah, warna yang dikenakan oleh para perawan pada zaman Kristus. Mantel biru tua yang dikenakan Maria seperti para ibu di Palestina, melambangkan Maria adalah perawan dan ibu.

Tangan-tangan Kristus yang menggenggam erat ibu jari Bunda-Nya menyatakan kepada kita, kepercayaan yang kita harus berikan di dalam doa-doa kepada Ibu Maria. Mahkota emas dilukis dalam gambar aslinya merupakan tanda dari banyaknya doa yang terkabul yang ditujukan kepada Bunda Maria yang disebut sebagai Bunda Penolong Abadi. Malaikat Gabriel di sebelah kanan memegang salib dan paku-paku dan huruf Yunani untuk namanya ditulis di atasnya.

Mata Maria digambarkan besar, mata itu melihat tembus pada kebutuhan-kebutuhan kita dan mengundang permohonan-permohonan. Huruf di sebelah wajah Yesus bila diterjemahkan berarti "Yesus Kristus". Tangan kiri Bunda Maria menopang Kristus dengan eratnya menyatakan kepada kita jaminan yang kita peroleh dalam pengabdian terhadap Bunda Allah. Sandal yang terjatuh, suatu tanda bahwa bagi mereka yang merenungkan sengsara Kristus, akan memperoleh penyelamatan dan memasuki jenjang pewarisannya yang abadi. @@@