Eucharistic Life

Eucharistic Life
Eucharistic life: Hidup dalam semangat berbagi

Jumat, 24 Juni 2011

Santa Theresia dari Lisieux

Kisah tentang Santa Theresia Lisieux adalah unik dalam sejarah Gereja. Ini adalah sebuah kisah tentang seorang suster Karmelit yang masih muda, tidak pernah meninggalkan biara, meninggal pada umur 24 tahun, dan menjadi santa yang terbesar di zaman modern (Paus Pius X), mendapat gelar pujangga Gereja, yang tulisannya telah memberikan inspirasi bagi berjuta-juta orang di seluruh dunia.

Tidak hanya dinyatakan sebagai pelindung bagi karya misi dan pelindung bagi tanah Perancis, tetapi ia juga dipilih sebagai pelindung bagi karya kerasulan doa yang anggota-anggotanya jutaan orang di seluruh dunia. Dia sendiri adalah seorang anggota kerasulan doa yang setia selama bertahun-tahun lamanya.

Beratus-ratus judul buku dan artikel ditulis mengenai santa ini dan “Jalan Kecil”nya yaitu sebuah spiritualitas yang menekankan cinta Allah, dan bukan takut akan Dia. Hidupnya dikenal oleh banyak orang sebagai anak perempuan dari pasangan suami isteri Bapak Louis Martin dan ibu Zelie Marie Guerin. Ibunya meninggal ketika Theresia masih berumur 4 tahun pada tahun 1877 di Alencon, Perancis. Keluarga Martin kemudian pindah ke Buissonets di Lisieux, sebuah rumah yang sampai sekarang banyak dikunjungi oleh para peziarah.

Ketika kakaknya Pauline masuk biara Karmelit tahun 1882, Theresia juga berkeinginan untuk masuk biara juga. Lima tahun kemudian ketika dia sudah berumur 14 tahun, dia membujuk Paus Leo XII ketika dalam perjalanan bersama dengan ayahnya berziarah. Tetapi ia masih terlalu muda untuk masuk biara. Namun, pada umur 15 tahun dia akhirnya boleh masuk ke biara Karmel dengan izin Paus. Saudara perempuannya yang lain, yaitu Marie juga telah masuk ke biara Karmel, dan berikutnya kemudian Celine juga bergabung dengannya masuk biara Karmel. Saudara perempuannya yang kelima, Leonie masuk ke Ordo Visitasi; jadi lima bersaudara dari sebuah keluarga semua masuk menjadi suster.

Theresia menjadi suster hanya selama sembilan tahun. Setelah menderita sakit TBC ia meninggal dunia pada tanggal 30 September 1897. Tiga tahun lebih awal Pauline sudah menjadi Pemimpin tarekat Karmelit (dengan nama Bunda Agnes dari Yesus) meminta kepada Theresa (dari Kanak-kanak Yesus dan Wajah Kudus) untuk menulis ingatan akan pengalaman rohaninya, yang berjudul “Story of a Soul”.

Setelah setahun kematiannya 2000 exemplar bukunya telah tersebar di kalangan para suster Karmelit dan teman-temannya. Permintaan cetak ulang semakin bertambah dan permintaan itu berasal dari seluruh dunia. Tulisan dia menjadi besar karena permintaan yang luar biasa banyak jumlahnya, dan bahkan sampai diterjemahkan ke dalam 60 bahasa di seluruh dunia.

Pada tahun 1923 ia dibeatifikasi oleh Paus Pius XI yang juga mengkanonisasi dia sebagai seorang Santa di lapangan Santo Petrus pada tahun 1925 ketika setengah juta orang peziarah berkumpul di Roma. Karena usahanya untuk karya misi, dia diberi gelar pelindung karya misi bersama dengan Santo Fransiskus Xaverius pada tahun 1927. Paus Pius XII pada tahun 1944 menyebut dia dengan gelar “penyembuh ulung" pada abad modern dan menjadikan dia pelindung untuk tanah Perancis. Pada tahun 1977, setelah 100 tahun kematiannya,  Paus Yohanes Paulus II menyatakan dia sebagai pujangga Gereja setelah Santa Teresia Avila dan Catharina Siena.

“Aku harus menjadi Santa”, kata Theresia ketika dia masuk biara. Dan kemudian dia memang mendapat izin untuk masuk biara; motivasinya adalah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dan untuk mendoakan para imam”.
Hidup baginya tidaklah mudah. Ruang-ruang biara itu dingin dan dia sangat menderita ketika mendengar ayahnya jatuh sakit pada tahun 1888 karena terkena gangguan cerebral arteriosclerosis. Ketika ayahnya meninggal tahun 1894 Celine yang merawat ayahnya, masuk biara Karmel dan untung membawa kameranya, dan berhasil mengabadikan gambar-gambar Theresia di biara.

“Apa itu Jalan Kecil?”, suatu ketika Theresia ditanya. Lalu ia menjawab: “Jalan kecil itu adalah jalan kehidupan rohani seorang anak kecil, yakni jalan kepercayaan dan jalan kepasrahan diri secara mutlak kepada Tuhan.” Dasar dari jalan yang baru ini ditemukan di dalam teks Matius 18: 3, ketika Kristus mengatakan: “Jika kamu tidak menjadi seperti anak kecil ini, maka kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga”.

Dia membaca riwayat para Santo/Santa dan dia menemukan jalan baru untuk kesempurnaan. “Aku terlalu kecil untuk mampu mendaki tangga kesempurnaan itu,” ia menulis “karena itu aku melihat ke dalam Kitab Suci untuk menemukan indikasi tentang apa yang mungkin bisa mengantar aku untuk mencapai keinginan aku.” Kemudian dia menemukan tangga kehidupan rohani “tangga yang bisa mengantar aku ke surga adalah tangan-tangan-Mu ya Tuhan Yesus.”

“Kamu tanya kepadaku tentang jalan menuju kesempurnaan. Aku tahu: cinta dan hanya cinta. Hatiku dibuat demi cinta itu. Cinta mengenal bagaimana menarik keuntungan dari segala sesuatu.” Dia menulis: “Panggilanku akhirnya aku temukan. Panggilan itu adalah mencintai. Di dalam hati Gereja, di dalam Ibuku, aku akan menjadi cinta.”
“Hidup karena cinta, inilah surgaku … dan inilah tujuan hidupku.”

Hidup rohani kanak-kanak Yesus itu adalah “kehidupan rohani seorang anak kecil yang tidur tanpa ketakutan di dalam pelukan tangan ayahnya, semangat penyerahan diri itulah yang menjadi pedomanku satu-satunya. Aku tidak punya pedoman arah yang lain”. Theresia.menambahkan: “Jangan berpikir bahwa kita dapat menemukan cinta tanpa penderitaan … tetapi penderitaan itu ada di dalam perjalanan kita menjangkau cita-cita kesempurnaan itu.” Dia membuktikan cinta itu dengan “menaburkan bunga” untuk Yesus, dengan mempersembahkan kurban-kurban kecil.

Ketika ia meninggal, kata-katanya terakhir yang diucapkan: “Allahku, aku mencintai-Mu.” Dia menulis: “Aku tidak sedang meninggal. Aku sedang memasuki kehidupan.” Katanya juga: “Aku akan menikmati waktuku di surga dengan mengerjakan kebaikan di dunia.” @@@

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar