Hidup Berbagi

Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja

Sabtu, 25 Juni 2011

Mukjizat: Pengalaman yang Tak Terlupakan

Pater Pedro Arrupe SJ, adalah Pater Jendral Serikat Yesus yang memimpin Serikat Yesus dari tahun 1965 sampai dengan 1983. Dia adalah pemimpin umum Serikat Yesus yang ke-28. Lahir di Bilbao, Spanyol pada tahun 1907. Dia belajar kedokteran sebelum masuk ordo Serikat Yesus. Sebelum menjadi pemimpin umum SJ, beliau adalah provincial SJ yang pertama di Jepang. Karya pelayanan yang paling mengesankan dalam hidupnya adalah memelihara orang-orang kurban bom atom di Hirosima. Beliau wafat di Roma, tanggal 5 Februari 1991, sebagai akibat dari stroke yang terjadi pada tanggal 7 Agustus 1981, persis ketika pesawat yang dia tumpangi mendarat dari perjalanannya ke Timur Jauh.

Pater Pedro Arrupe banyak menulis mengenai Spiritualitas Ignatian. Tulisan yang sangat menarik perhatian banyak orang dan tak pernah dapat dilupakan adalah refleksinya mengenai Hati Kudus Yesus. Berikut ini adalah salah satu kisah pengalaman rohani beliau yang berkait dengan Sakramen Mahakudus, yang beliau alami sebelum masuk ordo Serikat Yesus.

 “Beberapa minggu setelah ayah saya meninggal, saya pergi ke Lourdes bersama dengan keluarga saya, karena kami ingin menghabiskan waktu musim panas di lingkungan rohani, tenang dan damai. Waktu itu adalah pertengahan bulan Agustus. Saya berada di Lourdes selama satu bulan penuh. Karena saya adalah mahasiswa kedokteran, maka saya dapat memperoleh izin khusus untuk mempelajari lebih dekat orang-orang yang sakit yang datang ke Lourdes mencari kesembuhan.

“”Pada suatu hari saya berada di lapangan terbuka bersama dengan saudari-saudari perempuan saya, persis sedikit di depan perarakan Sakramen Mahakudus. Sebuah kereta dorong yang didorong oleh seorang wanita tengah umur lewat di depan kami. Salah satu dari saudari saya berseru: “Lihat pada anak lelaki miskin di kereta dorong itu!”

“Anak lelaki itu berumur kira-kira 20 tahun, semua anggota badannya lunglai tak berbentuk normal karena polio. Ibunya berdoa Rosario dengan suara keras dan dari waktu ke waktu meneriakkan kata-kata dengan mengeluh: “Maria sanctissima [Maria yang tersuci], bantulah kami.”

“Sungguh terjadi, ada suatu pandangan yang bergerak, dan saya mengingat permintaan orang sakit yang menghadap Yesus: “Tuhan, jika Engkau menginginkan, Engkau dapat membuat aku bersih.”  Ibu itu mempercepat jalannya untuk mengambil tempat di barisan di mana Uskup lewat membawa Sakramen Mahakudus dalam monstrans. Saatnya tiba ketika Uskup memberkati anak lelaki yang masih muda itu dengan hosti.

“Anak lelaki itu melihat ke monstrans dengan penuh iman, persis sama dengan iman yang dimiliki oleh orang lumpuh yang ditunjukkan dalam Injil, yang memandang Yesus. Setelah Uskup memberikan tanda salib dengan Sakramen Mahakudus, anak lelaki itu melompat dari kereta dorong, dan anak itu sembuh total. Karena itu, banyak kerumunan orang berteriak: “Mukjizat! Mukjizat!”

“Saya berterima kasih atas izin khusus yang saya miliki, sehingga saya kemudian bisa membantu pada saat dilakukan pengujian medis. Tuhan sungguh telah menyembuhkan dia… Tiga bulan kemudian (1927), saya masuk novisiat Serikat Yesus di Loyola.”



@@@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar