Hidup Berbagi

Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja

Senin, 17 Januari 2011

Dipanggil untuk Memaknai Hidup


Setiap orang mempunyai garis kehidupannya sendiri yang khas. Demikian juga aku. Aku pernah dilahirkan, mengalami masa kanak-kanak, lalu bersekolah, dan kemudian berkarya. Nanti setelah berkarya, aku akan memasuki masa pensiun. Masa pensiunku berjalan, tetapi nampaknya waktu pensiun itu juga terbatas. Waktu pensiun tidak bisa diperpanjang lagi. Setiap kehidupan ada akhirnya. Masa tugas kehidupanku di dunia ini akan selesai. Kehidupanku di dunia ini akan berhenti setelah Sang Pencipta memanggil aku kembali kepada-Nya, kembali kepada sang Sumber Kehidupan.

Bagaimana kehidupanku nanti setelah hidupku di dunia yang fana ini berakhir? Aku tidak tahu. Aku bertanya pada diriku sendiri: apa yang telah aku lakukan di waktu-waktu yang sudah berlalu? Dan dalam periode hidupku yang sedang aku jalani sekarang ini, apa yang mau aku lakukan? Mengapa aku menjalani periode kehidupan ini? Nampaknya aku perlu memaknai kehidupanku; karena setiap waktu yang aku lewati di dalam kehidupan ini, tidak akan pernah kembali lagi. Setiap satuan waktu yang aku miliki adalah unik. Waktu yang sudah berlalu tetap berlalu dan tidak bisa aku minta kembali.

Seperti yang terjadi sekarang ini, aku menulis renungan ini, dan anda semua para pembaca, menikmati kata demi kata, kalimat demi kalimat yang aku tulis, adalah peristiwa yang sangat khas dan tak kan terulang kembali. Setiap kata selesai dibaca, waktu periode itu pun sudah lewat. Dan aku tidak bisa kembali ke waktu, di mana aku pernah menulis kata-kata yang sudah berada di depan. Jadi kemarin malam yang sudah aku lewati itu juga satu-satunya malam yang ada di dalam hidupku. Kini waktu yang kemarin itu tidak akan kembali lagi.

Kalau aku melakukan sesuatu yang baik, pada tetanggaku, pada pada anggota keluargaku, pada teman-teman sekerjaku, pada teman-temanku belajar dan teman-temanku bermain, pada guru dan pada pembimbingku, pada ayah dan ibuku, aku melakukan semua itu untuk selama-lamanya. Ini sungguh luar biasa. Jadi, kalau aku sakiti mereka, kalau aku melukai hati mereka: ayah-ibu, saudara-saudariku, teman-temanku, guru dan pembimbingku, tetanggaku, itu semua akan terpatri untuk selama-lamanya, dan tak kan pernah dapat dicabut kembali. Memang aku bisa segera menghadap ke pastor, kepada imam, untuk mengakukan dosa-dosaku; dan setelah itu dosaku telah diampuni. Tetapi aku sadari bahwa aku tidak bisa mencabut apa yang pernah aku lakukan? Apakah aku bisa menghapusnya? Aku rasa itu tidak mungkin. Meski dosaku sudah diampuni oleh Tuhan, aku tidak bisa menghapus, tidak bisa mengoreksi apa yang sudah terjadi di masa lampauku. Kaca yang sudah pecah, tidak bisa disambung lagi. Yang lalu itu sudah terpatri untuk selama-lamanya.

Maka, pertanyaannya adalah: apa dan bagaimana aku akan memaknai kehidupanku setiap saat, setiap detik. Mengapa begitu? Karena kita punya waktu di dunia ini sangat singkat dan terbatas. Karena itu, aku perlu memaknai hidupku. Sekali aku memaknai hidupku ini, akan terpatri untuk selamanya. Ketika aku sudah sampai pada periode akhir kehidupanku, aku tidak bisa mengulang kembali.

Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah 100 tahun yang akan datang, aku masih diperkenankan oleh sang Sumber Kehidupan untuk hidup di dunia ini? Waktuku terbatas. Waktuku sekarang adalah waktunya untuk memberi makna kehidupan.

Merenungkan makna kehidupan

Dalam keheningan, aku membayangkan bagaimana keadaanku sebelum aku ada di dunia ini. Namun sang Pencipta telah memutuskan untuk melahirkan aku di dunia ini. Dan karena itu Dia pilih orang yang terbaik, yaitu ayah-ibuku. Mereka menjadi alat di tangan-Nya untuk menciptakan aku menjadi manusia baru. Aku memang tidak tahu bagaimana semua proses dan peristiwanya waktu itu terjadi. Tetapi aku dapat membayangkannya bagaimana aku memulai kehidupanku dalam sebuah keluarga. Aku menjadi seorang bayi, penuh dengan kelembutan. Aku senantiasa dilindungi, dirawat, dibesarkan, dengan penuh rasa kasih sayang.

Maka, aku coba membayangkan sejenak, bagaimana saat-saat aku dulu masih kanak-kanak. Aku bayangkan lorong-lorong jalan, tempat aku bermain. Aku bayangkan wajah orang-orang yang berada di sekitarku, yang selalu siap untuk memegang tanganku, memberikan bantuan, menggendong bila aku mengantuk, dan merawat aku ketika aku sakit.
Aku melihat kembali ruangan di dalam rumahku, penuh dengan kisah-kisah kasih yang telah membuat aku mencintai kehidupan. Kalau aku berjalan, di dalam lorong-lorong perjalanan kehidupanku, aku melihat semua kisah kasih sayang. Pada saat-saat yang sulit aku diselamatkan oleh kasih sayang mereka.

Aku dapat melihat kembali saat-saat aku mengalami kesulitan-kesulitan di dalam kehidupan, waktu aku masih sekolah, waktu aku menjalani masa remaja, menjadi pemuda-pemudi, aku menyaksikan kembali apa yang mereka perbuat untuk aku. Mereka telah membantu aku. Mereka telah rela berkurban, menanggung segala sesuatu, agar aku berhasil mencapai cita-citaku. Ternyata aku memulai kehidupanku di dunia ini penuh dengan nilai-nilai kehidupan.
Dan ketika aku menyadari sekarang, aku masih hidup, studi dan bekerja di tempat ini, itu karena tetes keringat dan pengurbanan dari orang-orang yang memberikan apa yang terbaik bagi kehidupanku. Dan itulah hakikat yang aku alami pada saat ini. Maka, kalau aku ada dalam keheningan seperti sekarang ini, hatiku merasa tergoncang, merasa terharu, merasakan apa nilai yang telah membuat aku masih hidup sampai saat ini. Nilai-nilai itu juga telah membuat aku bisa bertahan untuk tinggal di rumah di mana aku hidup sekarang ini, untuk bekerja di tempat ini untuk mencari penghidupan dan aktualisasi diri.

Aku membayangkan setiap hari perjalanan hidupku. Kadang ketika aku hendak keluar dari rumah, dan pergi ke kantor, sebenarnya aku sudah mau menyerah, putusasa, nglokro karena keadaan begitu sulit. Tetapi ketika aku kembali ke rumah, aku disambut oleh wajah-wajah yang membutuhkan aku, wajah-wajah yang mengharapkan aku berhasil dalam pekerjaanku. Akhirnya aku kembali ke kantor juga, untuk melaksanakan pekerjaanku dengan baik. Aku kembali menekuni studiku; aku menekuni pekerjaanku.

Kadang-kadang karena orang-orang yang aku cintai dan orang-orang yang aku beri kehidupan, aku rela untuk menunda berobat, rela menunda belanja untuk kepentingan diriku sendiri, hanya asal orang-orang yang aku cintai itu semua merasa bahagia dan senang. Itulah yang mau aku coba rasakan, nilai-nilai kehidupan itu yang menjadikan aku seperti ada sekarang ini. Aku hidup di dunia ini karena nilai-nilai kasih sayang. Dan aku bertahan hidup karena nilai-nilai kasih sayang itu, yang telah ditanam oleh sang Pencipta dalam hatiku. Aku sekarang menyadari bahwa Sang Pencipta sudah menanamkan nilai-nilai kehidupan itu di dalam diriku, juga di dalam diri setiap orang lain, yang menyadari kasih Allah yang bekerja melalui tangan banyak orang lain di sekitarku. Sekarang aku dipercaya oleh sang Pencipta itu untuk menjadi alat-Nya juga, untuk bisa mewujud-nyatakan nilai-nilai kehidupan itu untuk sesamaku. @@@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar