Hidup Berbagi

Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja

Rabu, 19 Januari 2011

Doa untuk Membangun Hidup Rohani


Kapal yang ditumpangi Mgr. Grent, dalam perjalanannya dari Netherlands me­nu­ju tanah misi di Am­bon Maluku, mengalami kesulitan untuk meneruskan perjalanan. Angin ken­cang yang tiba-tiba datang dari arah depan, membuat kapal berjalan oleng dan kehilangan arah. Semua awak kapal menjadi cemas. Om­bak yang tinggi bergelombang menerpa badan kapal bertubi-tubi, me­nyebabkan mesin kapal rusak dan kemudian macet. Hujan deras yang turun bak ditumpahkan dari langit membuat kapal hampir tenggelam di perairan luas Lautan Pasifik.

Dalam kondisi panik dan mence­maskan itu Mgr. Grent duduk, menundukkan kepala dan berdoa, me­mo­hon pertolongan Tu­han agar selu­ruh penumpang kapal masih bisa disela­matkan. Ia menyampai­kan doa per­mohonan itu kepada Tuhan dengan perantaraan St. Yudas Ta­deus. Mgr. Grent berjanji kepada Tu­han, jika se­­mua penumpang sampai di tanah misi dengan selamat, maka ia akan mendirikan sebuah seminari, tem­pat pen­didikan bagi para calon imam.

Benarlah apa yang ter­ja­di. Tuhan mengabulkan permohonannya. Angin segera menjadi reda. Gelom­bang air laut men­ja­di lebih ra­mah. Kerusakan kapal bisa diperbaiki. Dan akhirnya kapal bisa ber­jalan lagi. Mgr. Grent bersama dengan kawan-kawannya dapat mendarat di Ambon de­ngan selamat. Semi­nari St. Yudas Thadeus di Langgur, Tu­­al Maluku Tenggara yang berdiri sam­­pai hari ini adalah buk­ti nyata terkabulnya se­buah permo­hon­an dari seo­rang manusia yang dalam kesulitannya ber­cerita dan meminta bantuan kepada Tu­han untuk dise­lamatkan.

Kita bisa belajar dari pengalaman dramatis yang dialami Mgr. Grent. Dalam kepanikan dan kece­mas­an, ketika jalan buntu di depan mata, dan ketika kematian sudah di ambang pintu, kita masih ingat akan Tu­han dan kita tahu bahwa Tuhan akan memberikan jawaban atas keluhan dan permohonan kita. Peng­alaman doa yang dialami Mgr. Grent adalah sebuah contoh jenis doa yang paling biasa kita la­ku­kan, yakni: mencari bantuan Tu­han. Meski jenis doa seperti itu penting, masih ada lima jenis doa lain yang bisa kita pelajari, kita latih dan kita kembangkan. Untuk membangun kehidupan rohani yang lebih se­imbang kiranya baik kalau ki­ta bisa mengenal dan memprak­tekkan jenis-jenis doa yang lain ini.

1. Permohonan

Doa permohonan adalah doa yang paling dasar, yaitu memohon. Doa permohonan ba­rang­kali meru­pa­kan doa yang paling kerap dilakukan orang. Doa permohonan adalah doa para awak kapal. Juga doa para pilot yang setiap hari mela­ku­kan penerbangan dengan pesawat, doa para mu­rid di sekolah, doa para tenaga medis yang menolong banyak orang sakit di rumah sakit, doa para orangtua yang anaknya sedang sa­kit, doa para suami atau isteri yang sedang dalam kesulitan mem­­­­bangun relasi mereka satu sama lain. Kita berdoa kepada Tuhan karena kita membutuhkan atau karena seseorang dari teman kita sedang dalam ke­sulit­an. Entah keadaan krisis seperti ini be­rat atau ringan, kita mendekati Tuhan dan meminta bantuan kepada-Nya.

Memang benar bahwa doa permohonan itu mempunyai dasar alasannya di dalam Kitab Suci. Di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama (Yes 46:4), Nabi Yesaya menyerukan: “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sam­­pai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah me­lakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku akan memikul kamu dan menyelamatkan ka­mu”. Di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, Ye­sus me­negaskan pentingnya mengungkapkan ke­bu­tuhan-kebutuhan kita kepada Allah. Di dalam Injil Yoha­nes 16:24, Yesus berkata kepada pa­ra mu­­rid-Nya: “Sampai sekarang sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan me­ne­ri­ma, supaya penuhlah sukacitamu”. Rasul Yakobus menegur beberapa orang Kris­tiani, dengan me­­nga­takan bahwa mereka itu tidak menikmati berkat dari Allah karena mereka gagal me­nyam­­pai­kan doa per­mohonan: “Kamu tidak memperoleh apa-apa karena kamu tidak berdoa.” (Yak 4:2).

Pesan dari Kitab Suci seperti itu jelas menunjukkan bahwa Allah itu ingin mendengarkan kepriha­tinan kita, kekurangan kita, kesulitan kita, keringkihan kita. Teks-teks Kitab Suci itu menunjukkan bah­wa Allah me­nga­takan: “Katakan pada-Ku. Mintalah pada-Ku. Ceritakan pada-Ku apa yang ka­mu butuhkan dan apa yang ka­mu ingin­kan.”

2. Pengakuan

Sementara doa permohonan merupakan doa yang populer dan paling biasa dilakukan, doa pengakuan barangkali merupakan doa yang paling sulit untuk banyak orang. Memang tidak mu­dahlah untuk mengakui dan menyebutkan dosa-dosa, kekurangan, kelemahan, kegagalan, dan ke­mu­dian meminta pengampunan. Te­tapi, pe­ngakuan ini merupakan jalan yang membimbing ke arah kesehatan hidup rohani dan kesehatan emosi­onal. Kitab Suci Perjanjian Baru memberikan petunjuk ten­­­­tang hubungan antara pengakuan dan kesehatan: “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku do­samu, dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.” (Yako­bus 5:16).

Kitab Suci ju­ga menyatakan dengan jelas tentang manfaat kesehatan dari pengakuan ini: “Siapa me­nyem­bu­nyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa yang mengakuinya dan me­ning­gal­kan­nya akan disayangi.” (Amsal 28:13).

Seorang penulis, bernama Louis Cassels, menyatakan: “Di dalam penga­ku­an, kita membuka hidup kita un­tuk menyembuhkan, mendamaikan, mem­perbaiki, dan menghargai rahmat Tu­han yang telah mencintai ki­ta seperti apa adanya seka­rang.” Di samping itu, tersedia juga sakramen pe­ngampunan dosa, yang kita kenal se­bagai penga­kuan juga.

3. Adorasi

Doa ini dilaksanakan ketika kita ingin memuji Tuhan. Doa adorasi dan pujian semestinya mengalir secara alami dari hati yang penuh sadar akan rahmat dari Tuhan. “Doa pujian adalah mu­sim semi sebuah hati yang men­cintai Tuhan,” kata seorang pastor Perancis bernama St. Jean Baptiste Marie Vianney, yang lahir tanggal 8 Mei 1786. “Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu, puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.” (Mzm 34:2). “Aku mau menyanyikan ke­kuatan-Mu, pada waktu pagi aku mau bersorak-sorai ka­rena kasih setia-Mu, sebab Engkau te­lah menjadi kota bentengku.” (Mzm 59:17). “Pujilah nama Tuhan, pu­jilah, hai hamba-ham­ba Tu­han.” (Mzm 135:1).

Orang-orang yang memiliki kehidupan rohani yang dalam, mampu melakukan doa pujian dan adorasi, bahkan di dalam situasi yang menyesakkan. Etty Hillesum, wanita muda keturunan Yahudi yang dipenjara­kan oleh Nazi, adalah contoh pendoa yang cerdas. Dalam si­­tuasi yang menekan batinnya hi­dup di kamp kon­sentrasi, dia masih bisa berdoa demikian: “Pen­deritaan yang saya alami di sini adalah pen­de­ritaan yang sung­guh tak ter­perikan, tetapi ke­rapkali saya masih bisa menikmati musim semi dan melangkahkan kaki un­tuk berjalan-jalan. Saat-saat seperti itu sungguh me­nyen­tuh hati saya. Di dalam hati saya, ada suatu perasaan yang me­lonjak bahwa hidup ini sung­guh mu­lia dan menakjubkan: Tuhan, Engkau telah membuat diri saya menjadi ka­ya seperti ini. Perke­nan­­kanlah saya untuk bisa membagikan keindahan-Mu itu dengan tangan terbuka.”

4. Meditasi

“Jika seandainya saya seorang dokter, dan saya diizinkan untuk menentukan satu obat untuk semua pe­nyakit, maka saya akan menulis resep ketenangan. Jika sabda Tuhan diwartakan di dunia modern, bagai­mana orang akan bisa mendengar dengan suara seperti itu. Oleh karena itu, ciptakanlah ketenangan.”

Pandangan seperti itu, datang pada abad ke-19 dari seorang filsuf Soren Kierkegaard. Meditasi ada­lah il­mu kerohanian yang penting. Di saat-saat tenang seperti itu, kita membuka le­bar jiwa kita untuk mera­sakan arah­an Tuhan, cinta dan nasihat-Nya. Tenang di hadapan Tuhan, adalah jalan efektif untuk menjalin hu­bung­an dengan sebuah bagian dari keabadian.

Meditasi yang tenang juga ideal ketika kita mengalami kekacauan batin, karena keheningan doa mene­nang­kan jiwa yang cemas, menenangkan roh, membantu kita berpikir lebih jernih, dan membantu kita berdoa secara lebih bijak.

5. Syukur

Karena Tuhan telah memberikan berkat yang melimpah, maka doa syukur semestinya ke­luar dari hati kita dan secara nyata keluar dari mulut kita, sifatnya alami, rutin, dan frekuen ter­jadi. Ralph Waldo Emerson kerap­kali mengucapkan doa syukur seperti ini:

“Karena setiap hari baru kami masih diperkenankan melihat terangnya pagi hari, kami mengucapkan terima kasih kepada-Mu, ya Bapa. Karena pemberian istirahat dan perlindungan-Mu semalam ketika kami se­dang tidur nye­nyak, kami mengucapkan terima kasih kepada-Mu, ya Bapa. Karena pemberian kesehatan dan makanan, karena cinta dan teman-teman, ya Bapa, yang berada di dalam surga, kami mengu­capkan te­rima kasih kepada-Mu!”

6. Persembahan

Doa ini melibatkan penyerahan diri sepenuhnya kepada karya dan kehendak Allah. Doa ini dinyatakan oleh orang-orang kristiani yang punya kepekaan dan tanggap terhadap situasi sekitar. Ketika mereka melihat su­atu ke­butuhan, mereka ingin memenuhi kebutuhan itu. Ketika mereka melihat luka, mereka berusaha untuk me­nyem­buhkannya. Se­jarah dipenuhi dengan orang-orang biasa, entah wanita atau pria, yang mengerjakan hal-hal yang luar biasa karena mereka mempersembahkan hidup mereka kepada Allah.

Orang-orang yang mempunyai komitmen hidup seperti itu bisa kita sebut namanya. Mereka itu adalah: Bunda Teresa yang bekerja di antara kaum papa-miskin di Calcuta India; Sir Wilfred Grenfell, seorang dokter Inggris yang bekerja di antara orang-orang Eskimo, orang-orang suku Indian dan orang-orang kulit putih di Labrador Canada; William Booth, yang bekerja di daerah permukiman kumuh di London Inggris; St. Vincent de Paul, yang melayani orang-orang miskin di Perancis dan memberikan makanan ke­pada budak-budak dari Afrika Uta­ra; Dorothy Day yang karena kepekaannya mendalam akan keadilan membuka tempat permukiman dan menye­diakan makanan, perumahan dan pakaian untuk para warga Amerika yang melarat.

Persembahan hidup juga ditemukan di antara mereka yang tidak diperhitungkan oleh sejarah: para suami yang masih tetap setia dan melayani dengan penuh belarasa isterinya yang sudah mengidap sakit ter­minal; ibu-ibu yang mendoakan dengan teguh dan sungguh-sungguh untuk anaknya yang suka melawan dan tidak patuh; orang-orang muda yang secara konsisten menolak untuk ikut serta terlibat melakukan perbuatan-perbuatan salah yang dilakukan oleh teman-teman sebaya mereka; para eksekutif dalam perusahaan yang menerapkan prinsip moral dan standard etika bisnis yang tinggi di dalam pekerjaan mereka.

Memahami dan melatih keenam jenis doa seperti diterangkan di atas akan menyeimbangkan kehi­dupan rohani kita, karena doa adalah jalan untuk pendidikan jiwa kita. Seorang novelis Rusia, Fydor Doskto­yevski per­nah mencatat: “Setiap kali anda berdoa, jika doa anda itu tulus, maka akan ada perasaan baru dan makna baru di da­lamnya. Perasaan dan makna baru itu akan memberikan kepada anda keberanian yang lebih segar, dan anda akan mengerti bahwa doa itu ada­lah pendidikan.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar