Hidup Berbagi

Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja

Kamis, 20 Januari 2011

Felix Mencari Kebahagiaan


Setiap orang ingin bahagia, tetapi mereka kadang tidak tahu apa yang dimaksud dengan kebahagiaan. Kisah ini memberikan gambaran kepada kita, bahwa kebahagiaan itu tidak usah kita cari; hayatilah hidup ini sebagai suatu perjalanan bersama Tuhan, dan pastilah kita akan sampai pada hidup yang bahagia itu, dan kita bahagia.

Dalam sebuah buku yang pernah saya baca, karya seorang Yesuit bernama Nil Guillemette SJ (1994: 48-54): “With Me in Paradise”, diceritakan sebuah kisah tentang seorang manusia yang sedang dalam perjalanan mencari kebahagian. Nama orang itu Felix (“felix” itu kata Latin yang berarti mujur, atau beja dalam bahasa Jawa). Sejak masa kecilnya Felix diberi pengajaran oleh orangtuanya bahwa setiap manusia itu diciptakan oleh sang Pencipta dengan status yang sama, sepadan dan memiliki hak-hak yang sama, yakni: mendapatkan kehidupan, kebebasan dan kebahagiaan. Karena itu, selama hidupnya yang penuh dengan kebebasan itu dia berjuang keras untuk mendapatkan kebahagiaan.

Dalam perjalanannya mencari kebahagiaan, sampailah Felix di suatu istana di mana Pangeran Kenikmatan tinggal. Maka menghadaplah Felix kepada sang Pangeran, memperkenalkan diri dan memberikan hormat kepadanya. “Apakah ini benar-benar tempat di mana saya akan mendapatkan kebahagiaan?”, tanya Felix kepada sang Pangeran. “Benar, di sini anda akan mendapatkan kebahagiaan, yang anda inginkan. Ini semua milik anda. Anda adalah tamu saya; maka nikmatilah segala kenikmatan yang anda inginkan.” Felix diterima dengan ramah dan diperkenankan oleh sang Pangeran menjadi tamunya. Tetapi, setelah menikmati segala kenikmatan yang disediakan oleh istana selama setahun penuh, Felix merasa bahwa di istana ini dia tidak dapat menemukan kebahagiaan yang diinginkan. Maka, dia pun pamit kepada sang Pangeran untuk meninggalkan istana.

Dalam perjalanan selanjutnya, pada suatu hari sampailah Felix di sebuah istana yang berbenteng kuat, tempat di mana sang Pangeran Kekayaan tinggal. Felix segera menghadap kepada sang Pangeran dan memberikan hormat kepadanya. “Apakah tempat ini adalah tempat di mana saya nanti dapat menemukan kebahagiaan?”, tanya Felix kepada sang Pangeran. “Ya, benar. Di sinilah anda akan mendapatkan kebahagiaan. Semua yang tersedia di sini adalah milik anda dan ambillah apa yang anda inginkan. Anda adalah tamu saya, maka nikmatilah segala kekayaan yang tersedia.”

Segeralah Felix mendapatkan kunci ruang-ruang istana, mengambil dan menikmati segala kekayaan yang dia inginkan. Selama setahun dia berfoya-foya dengan segala kekayaan yang dia inginkan tetapi sesudah itu ia merasa belum menemukan kebahagiaan yang dia cari. Maka, ia pun berpamitan meninggalkan istana tempat tinggal Pangeran yang sungguh kaya raya itu.
Pada suatu hari sampailah dia di sebuah kota besar di mana Pangeran Kekuasaan tinggal. Sang Pangeran menerima kehadiran Felix dengan sangat ramah, dan mengundangnya untuk dapat menikmati apa saja yang ada di rumahnya. Tetapi setelah menikmati segala fasilitas yang disediakan oleh sang Pangeran Kekuasaan, Felix pun tak merasa menemukan kebahagiaan yang dia cari. Kekuasaan tidak memberikan kepadanya kebahagiaan hidup. Karena itu, Felix melanjutkan pencariannya untuk mendapatkan kebahagiaan.

Pada suatu hari Felix sampai ke sebuah desa di mana setiap warganya merasakan hidup dengan penuh kegembiraan. Di sana tidak ada Pangeran Siapapun. Sebaliknya, para penghuninya menyebut dirinya “hamba”. Karena suasana hidup di sana memberikan kesan yang menarik, maka Felix memutuskan untuk tinggal di kota kecil itu selama semalam. Orang yang mengajak mampir dia adalah sebuah keluarga tukang batu, yang hidupnya dipersembahkan untuk karya pelayanan di luar tempat tinggal dia. Mereka itu miskin, tetapi murah senyum dan ramah. Ketika mereka mendengar cerita bahwa Felix mencari kebahagiaan tetapi tak kunjung mendapatkannya, maka mereka bereaksi heran tak percaya. Mereka sungguh heran bahwa ada orang yang sedang mencari kebahagiaan. “Kami semua adalah orang kristen, Felix”, kata orang-orang di desa itu. Orang-orang desa itu menerangkan apa artinya kebahagiaan yang mereka pahami, dan hal itu perlu dijelaskan kepada Felix. Tetapi Felix yang merasa dirinya orang kristen, adalah lucu bila ia idak dapat melihat alasan mengapa ia masih mencari kebahagiaan itu.
“Lalu, apa?”, tanya Felix kepada orang-orang desa itu.

Maka seorang tukang batu menjawab: “Baiklah saya akan menjawab. Yang dicari oleh orang kristen adalah Allah, dan bukan kebahagiaan. Yesus mengatakan: carilah kerajaan Allah lebih dahulu dengan kesucian Allah, dan sisanya akan diberikan kemudian kepadamu”. Felix telah menangkap artinya, tetapi dia ingin tahu lebih dalam lagi. “Apakah kamu bahagia?”, tanya Felix kepada tukang batu itu. “Ya, kami bahagia”, jawab si tukang batu itu, “kami bahagia karena tidak mencari kebahagiaan itu.” Karena melihat bahwa Felix masih terlihat bingung dan belum menangkap dengan baik tentang apa yang dijelaskan oleh si tukang batu, maka si tukang batu mempersilakan Felix untuk datang ke seorang ibu, yang disebut dengan nama Ibu Tua yang tinggal di sebuah kota di daerah dekat situ.

Mendengar cerita Felix yang mencari kebahagiaan itu, maka Ibu Tua menyapa Felix dengan mengatakan: “Saudara, saya percaya bahwa saya dapat membantu anda, tetapi juga tidak mudah karena anda harus melakukan empat hal, empat prinsip sebenarnya”, kata Ibu Tua itu. “Apakah anda mau mengarungi semua kesulitan itu?” Untuk mendapatkan kebahagiaan itu, Felix dianjurkan untuk menjalankan apa yang disarankan oleh Ibu Tua itu.
“Tiga hal pertama yang harus anda lakukan adalah mengukir, memanah dan menari”, kata Ibu Tua.”Setelah mempelajari ketiga hal itu, kembalilah kemari, dan saya akan memberikan kepada anda hal keempat yang harus anda pelajari.” Maka, pergilah Felix meninggalkan Ibu Tua itu dan datang ke seorang pengrajin ukir untuk menjadi pekerja magang di tempat itu. Demikian juga, ia datang ke ahli memanah dan ahli menari.

“Apa yang diajarkan oleh pengukir, pemanah, dan penari yang telah anda jumpai?”, tanya Ibu Tua kepada Felix setelah pulang dari pembelajaran. “Ceritakan kepadak saya apa yang dinasihatkan si tukang ukir kepada anda, ketika anda menggunakan alat-alat ukir”, tanya Ibu Tua. Pengukir biasa mengatakan: “Lupakan alat; fokuskan pikiran pada tokoh yang tergambar pada kayu dan anda akan menghasilkan ukiran. Itu yang biasa tukang ukir katakan kepada saya”, kata Felix.
“Lalu,” kata Ibu Tua “apakah tangan-tanganmu bahagia ketika tangan-tangan itu melupakan alat dan dengan bebas mengukir gambar tokoh yang kemudian terukir pada kayu itu?”
“Ya, tangan-tangan itu bahagia”, kata Felix.
“Lalu, bagaimana mengenai si tukang panah?” tanya Ibu Tua, “Nasihat apa yang diberikan oleh dia kepada anda tentang panah?”
“Dia biasa mengatakan: Lupakan panah. Berpikir saja tentang sasaran dan tujuan itu akan segera terwujud. Itulah yang biasa dia katakan”, kata Felix. Kata Ibu Tua menegaskan: “Apakah mata anda bahagia ketika mata itu melupakan anah panah dan mencapai sasaran?”
“Ya, mereka bahagia”, kata Felix menegaskan.

“Lalu bagaimana tentang si penari?”, kata Ibu Tua bertanya, “Apa nasihat penari kepada anda sehubungan dengan kaki-kaki anda” Dia biasa mengatakan: “Lupakan langkah-langkah. Pikirkan saja musik dan tarian anda sungguh akan indah. Itulah kata-kata yang biasa disampaikan.”
“Lalu”, kata Ibu Tua lagi, “apakah kaki-kaki anda merasa bahagia sementara mereka melupakan langkah-langkah, dan mengikuti saja irama musik?” “Iya, mereka bahagia” tegas Felix.

Ibu Tua yang sudah tua itu berhenti berkata-kata, memberikan ruang hening bagi Felix si anak muda itu, untuk menarik kesimpulan sendiri di dalam pikirannya.
“Anda mengerti”, kata Ibu Tua kemudian, “ketika anda melakukan tiga karya seni tadi, tangan anda bahagia ketika mereka melupakan alat dan berkonstrasi pada tokoh yang terukir pada kayu; mata anda bahagia ketika mereka melupakan anak panah dan berkonsentrasi pada sasaran, dan kaki anda bahagia ketika mereka melupakan langkah-langkah dan berkonsentrasi pada musik. Sama juga dengan apa yang terjadi di dalam seni kehidupan.”
“Dalam seni kehidupan, anda harus melupakan sesuatu dan berkonsentrasi pada sesuatu lain. Dalam kata lain, anda tidak boleh putus asa untuk mendapatkan kebahagiaan dan memusatkan hidupmu pada Tuhan dan kerajaan-Nya. Jika anda melakukan itu, maka hati anda akan bahagia. Tetapi anda akan tidak pernah bahagia dengan mencari kebahagiaan itu sendiri. Anda akan bahagia kalau anda mencari Tuhan, semata-mata untuk diri-Nya sendiri.”
Felix kagum mendengar keterangan Ibu Tua itu.

“Bagaimana saya dapat mencapainya?”, tanya Felix.
“Sangat sederhana”, jawabIbu Tua, “Karena Allah itu adalah kebahagiaan kita, maka kita mencapai kebahagian itu bukan dengan mencari kebahagiaan, tetapi dengan mencari Allah itu sendiri.”
”Tetapi, apa artinya itu semua?” tanya Felix. “Artinya menyenangkan Allah dalam segala hal, dengan ongkos apa pun yang harus anda bayar”.
“Lalu, berapa ongkosnya?” tanya Felix. “Segala milikmu dan segala dirimu”, jawab Ibu Tua. “Caranya juga sederhana: lupakan dirimu, lupakan kebahagiaan, dan kamu bahagia”, lanjut Ibu Tua “Sebab kamu melihat, kebahagiaan itu tidak ditemukan di bagian akhir dari suatu pencarian yang panjang. Kebahagiaan itu terjadi. Dan kebahagiaan itu terjadi pada diri kita ketika kita berhenti mencari kebahagiaan itu.”

Itulah kata-kata terakhir dari sang Ibu Tua kepada Felix. Dengan lambaian tangannya yang lembut, Ibu Tua itu berpamitan kepada Felix dan tenggelam dalam meditasi yang mendalam.
Felix tidak akan pernah melupakan ajaran dari Ibu Tua itu. Dari situ dia lalu berkonsentrasi saja pada Allah dan Kerajaan-Nya. Ketika Felix sungguh dapat menemukan Allah, maka kebahagiaan itu terjadi padanya.Ubi caritas et amor; Deus ibi est. Di mana ada cintakasih; di situlah Tuhan berada. Ing ngendi ana asih tresna,Gusti nenggani. Marilah kita cari dan temukan Tuhan dalam hidup kita sehari-hari dan kita akan bahagia. @@@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar