Hidup Berbagi

Hidup Berbagi
Gotong Royong dalam Kerja

Rabu, 09 Februari 2011

Berdoa Tak Kunjung Henti


"Doa dapat menjadi doa yang tak kunjung henti ketika segala pikiran kita dapat menjadi pikiran di hadapan Allah”, kata Henri JM. Nouwen.


Ketika kita berpikir tentang doa, kita biasanya memandang doa itu sebagai suatu pekerjaan di antara pekerjaan-pekerjaan yang kita kerjakan di dalam hidup kita sebagai orang kristiani. Jika kita sungguh-sungguh yakin bahwa doa itu merupakan sesuatu yang penting dalam hidup kita, maka kita ingin memberikan seluruh waktu kita untuk berdoa sepanjang hari, atau seluruh hari dalam sebulan, atau seluruh minggu dalam setiap tahun. Jadi doa menjadi bagian, bahkan bagian yang sangat penting dari hidup kita.


Tetapi ketika Santo Paulus bicara tentang doa, ia menggunakan bahasa yang sangat khas. Dia tidak bicara tentang doa sebagai bagian dari hidup, tetapi sebagai seluruh hidupnya. Ia tidak menunjuk doa sebagai sesuatu yang tidak boleh kita lupakan, tetapi dia mengklaim bahwa doa itu merupakan perhatian kita yang terus menerus berjalan tanpa henti. Dia tidak juga menganjurkan supaya orang-orang yang mendengarkan pewartaan dia untuk berdoa satu kali pada suatu waktu, secara rutin, atau kerap, tetapi tanpa ragu-ragu dia menasihati agar mereka berdoa terus menerus, tak kunjung berhenti, tanpa interupsi.


Santo Paulus tidak meminta kita untuk meluangkan waktu untuk berdoa setiap hari. Tidak. Santo Paulus sungguh jauh lebih radikal. Ia meminta kepada kita untuk berdoa sepanjang hari dan malam, dalam keadaan gembira dan dalam keadaan sedih, pada saat bekerja dan pada saat bermain, tanpa istirahat, tanpa interupsi. Bagi Santo Paulus, berdoa itu seperti bernafas. Berdoa itu tidak bisa dinterupsi.


Berdoa dengan tak kunjung berhenti, seperti dianjurkan oleh Santo Paulus, sungguh tidak mungkin terjadi kalau doa itu diartikan sebagai berpikir terus menerus tentang Allah. Berdoa tidak berarti berpikir tentang Allah, sebagai lawan dari berpikir tentang hal-hal lain, atau menyediakan waktu untuk Allah dan tidak menyediakan waktu untuk orang lain. Berdoa berarti berpikir dan hidup di hadapan Allah.


Ketika kita mulai memisahkan pikiran kita menjadi pikiran tentang Allah dan pikiran tentang manusia dan peristiwa, maka kita sudah memisahkan Allah dari hidup kita sehari-hari dan beralih masuk ke dalam sebuah ceruk kecil kehidupan yang serba saleh di mana kita dapat memikirkan pemikiran-pemikiran saleh dan mengalami perasaan-perasaan saleh.


Meskipun doa itu penting dan demi kehidupan rohani kita menyediakan waktu untuk Allah dan hanya untuk Allah, doa itu hanya menjadi doa yang tak kunjung henti jika segala pikiran kita, entah pikiran itu indah atau jelek, tinggi atau rendah, membanggakan atau memalukan, menyedihkan atau menggembirakan, dapat menjadi pikiran di hadapan Allah. Jadi, perubahan dari “berpikir tiada henti” menjadi “berdoa tiada henti”, menggerakkan kita untuk beralih dari “monolog yang berpusat pada diri sendiri” menjadi “dialog yang berpusat pada Allah”.


Berdoa tidak henti membimbing seluruh pikiran kita keluar dari isolasi yang penuh dengan ketakutan untuk masuk ke suatu pembicaraan yang bebas dari ketakutan bersama dengan Allah. Hidup Yesus adalah hidup yang dihayati di hadapan Allah Bapa-Nya. Yesus menjaga agar hidup-Nya senantiasa tidak tersembunyi dari wajah Bapa-Nya. Kegembiraan Yesus, ketakutan-Nya, pengharapan-Nya, dan kegelisahan dan keputus-asaan-Nya selalu dibagikan dengan Bapa-Nya. @@@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar