Eucharistic Life

Eucharistic Life
Eucharistic life: Hidup dalam semangat berbagi

Sabtu, 12 Februari 2011

Elisabeth Gruyters: Cintakasih dan Rendah Hati


Pada hari Sabtu, tanggal 22 Juni 1918, tepat jam 12.30, sebuah kapal api bernama “Frisia”, milik maskapai Hollandse Koninklijke Loyd, mulai bertolak dari pelabuhan Amsterdam. Moeder Lucia Nolet, pemimpin umum Tarekat Suster-suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus di Maastricht, masih sempat melambaikan tangan selamat jalan yang penuh haru dan tetesan air mata kepada kesepuluh suster CB yang mau berangkat menuju tanah misi Indonesia. Kesepuluh suster itu adalah Sr Alphonsa, Sr Lina, Sr Hermana, Sr Crispine, Sr Isabella, Sr Judith, Sr Ambrosine, Sr Ignatio, Sr Justa, Sr Gratiana. Setelah menempuh perjalanan panjang selama lebih dari 3 bulan lamanya, yang penuh resiko bahaya pasca-perang, maka sampailah rombongan para suster CB itu di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, tepat pukul 06.00 pagi, tanggal 7 Oktober 1918.

Kedatangan mereka di tanah misi disambut dengan gembira oleh tiga suster Ursulin, pastor Sondaal SJ, Mr Kathaus dan isterinya, Mayor Orie, dan beberapa staf Rumah Sakit St Carolus Jakarta. Dari Tanjung Priok rombongan para suster CB ini dibawa dengan mobil menuju biara Ursulin Weltevreden, di Jl. Pos (sekarang) Jakarta. Setelah masuk biara, tempat pertama yang dikunjungi oleh para suster misionaris ini adalah kapel. Di kapel biara Ursulin ini para suster CB berdoa dengan penuh rasa syukur karena mereka sudah sampai di tempat tujuan dengan selamat: “Ya Yesus yang manis, betapa terharu hati kami bila kami berlutut di depan altar-Mu. Dengan rendah hati dan gembira kami menyerahkan seluruh tenaga, kesehatan, dan kehidupan kami kepada Dikau, demi kepentingan-Mu dan bagi keselamatan jiwa-jiwa.” Setelah para suster selesai berdoa, pastor Sondaal SJ masuk ke kapel, dan menyambut para suster CB itu dengan kata-kata: “Selamat datang di tanah misi.” Itulah hari-hari pertama bagi kesepuluh suster CB pertama mengawali karya kerasulannya di Indonesia.

***

Minggu, tanggal 29 April 2012 nanti adalah hari bersejarah bagi Suster-suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus, di seluruh dunia. Pada hari itu para suster CB akan merayakan hari ulang tahun Tarekat yang sudah berumur 175 tahun. Hari itu merupakan tonggak sejarah yang patut dicatat dan diingat, tidak hanya bagi para suster CB yang bernaung di bawah lindungan Santo Carolus Borromeus, tetapi juga bagi siapa saja yang hidupnya diperuntukkan bagi karya pelayanan untuk mereka yang terluka, sakit dan menderita, berdasarkan pada semangat cintakasih dan kerendahan hati.

Tarekat Suster-suster Santo Carolus Borremeus didirikan oleh Elisabeth Gruyters pada tanggal 29 April 1837, di Maastricht, Netherland. Adapun Elisabeth Gruyters (1789-1864), adalah seorang putri, yang lahir pada tanggal 1 Nopember 1789, dari pasangan suami-isteri Bapak Nicolas Gruyters dan Ibu Maria Borde, yang tinggal di desa Leut, Belgia. Ketika ingin mewujudkan cita-cita dan kerinduannya untuk menjadi seorang biarawati, Elisabeth Gruyters harus berjuang keras dan penuh doa serta cucuran airmata. Menurut panggilan hatinya, menjadi biarawati adalah jalan yang paling mungkin untuk membalas kasih Allah secara nyata, dengan mempersembahkan seluruh hidupnya kepada Yesus yang telah mencintainya sampai wafat di kayu salib.

Ketika revolusi Perancis (1789-1799) berakhir, kota Maastricht hancur lebur karena perang. Setiap perang membawa luka dan penderitaan bagi manusia serta kerusakan terhadap lingkungan. Situasi keterlukaan dan kehancuran seperti itulah yang ditanggapi oleh Bunda Elisabeth Gruyters. Kehidupan kota Maastricht yang telah mengalami kemunduran dan kemerosotan, baik dalam kehidupan moral maupun iman, menggerakkan hati Bunda Elisabeth untuk menanggapinya. Yang mendorong hatinya adalah sabda Tuhan sendiri yang mengatakan: “Hendaklah kamu mencintai Tuhan Allahmu, dengan seutuh hati, dengan seutuh jiwa, dan dengan seluruh tenaga, serta cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri, demi Tuhan”. Itulah perintah Tuhan yang bergema di dalam hatinya, seperti ditulisnya kemudian pada bagian pembukaan dari Konstitusi Suster-suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus, yang disyahkan untuk pertama kalinya oleh Tahta Suci pada tanggal 14 Desember 1856.

Bunda Elisabeth Gruyters melihat, tergerak dan bertindak secara nyata untuk meringankan penderitaan sesamanya. Tujuan yang mau diraih adalah “berupaya dengan segenap hati, agar Tuhan dimuliakan, dengan menguduskan diri serta melaksanakan berbagai karya bakti untuk membantu sesama yang mengalami kesesakan hidup dan yang berkekurangan.” Inilah kharisma Bunda Elisabeth yang bersumber pada iman akan Yesus yang tersalib yang mengajarkan kepadanya tentang cinta yang tak bersyarat dan bela rasa bagi mereka yang menderita dan berkekurangan demi keselamatan manusia seutuhnya.

Pengalaman akan Allah yang mencintai manusia tanpa syarat membuat Bunda Elisabeth Gruyters mampu melihat realitas dengan mata Allah, digerakkan oleh belarasa dengan hati Allah dan bertindak dengan tangan Allah. Perjumpaannya dengan Allah dalam diri Yesus Kristus yang tersalib, adalah sumber segala inspirasi, kekuatan dan kebijaksanaan dalam menghadapi kesulitan hidup dan karya pelayanan kepada orang-orang yang terluka, sakit dan menderita. Bagi Bunda Elisabeth, orang miskin adalah orang-orang yang sungguh-sungguh menderita serta berkekurangan secara lahiriah tetapi juga mereka yang patut dikasihani; mereka yang miskin materi dan miskin pendidikan. Orang-orang yang menderita adalah orang-orang yang sakit, baik secara fisik maupun secara rohani karena tidak adanya kedamaian dalam dirinya. Bahkan, bunda Elisabeth melihat, para suster yang terjepit karena hasutan dan tidak adanya kedamaian dalam berkarya pun termasuk mereka yang menderita. Inilah sebenarnya suatu gambaran dunia yang dirindukan oleh Bunda Elisabeth untuk diwujud-nyatakan. Inilah visi Bunda Elisabeth dan juga menjadi visi Tarekat Suster-suster Cintakasih St Carolus Borromeus dalam menjalankan panggilan dan perutusan-Nya.

Suster-suster Cintakasih St Carolus Borromeus diutus ke dunia yang terluka. Mereka dipanggil untuk masuk dan menjadi bagian dari dunia yang sedang diciptakan. Mereka diundang untuk menunjukkan tindakan yang konkret dalam gerakan rekonsiliasi dan penyembuhan realitas dunia yang terluka. Tindakan rekonsiliasi yang nyata dilakukan secara konkret oleh Bunda Elisabeth pendiri tarekat ini adalah:

1. Usaha pemulihan relasi yang benar dengan Allah, dengan sikap rendah hati terbuka mengungkapkan kelemahan sendiri, dan dengan perhatian serta belarasa menerima dan sabar terhadap sesama sebagaimana adanya mereka.

2. Usaha penyembuhan yang mengantar orang kembali kepada relasi dengan Allah, relasi satu sama lain, dalam perhatian dan kepedulian.

3. Peduli terhadap orang-orang miskin, memperhatikan kebutuhan mereka demi kesejahteraan rohani dan manusiawinya

4. Tidak hanya mengajarkan katekese tetapi juga mengajar jahit menjahit, menanamkan dasar hidup yang baik kepada anak-anak miskin.

5. Memberikan rasa hormat dan pemberdayaan pada orang-orang miskin dan bagi para suster didasarkan pada martabat manusia, kebebasan dan paham kemanusiaan yang utuh.

6. Peduli terhadap orang-orang yang sakit: mengurus, melindungi para penderita sakit, mendampingi mereka yang menghadapi ajalnya, demi keselamatan jiwa para penderita.

Berdasarkan pada inspirasi yang diberikan oleh Bunda Elisabeth Gruyters, maka Suster-suster CB merumuskan apa yang menjadi misi Tarekat di zaman sekarang, sebagai berikut:

1. Mengembangkan relasi yang mendalam dengan Kristus dalam sikap hidup kontemplatif dan terus menerus berdiskresi.

2. Memberikan kesaksian hidup sebagai “hamba Tuhan”

3. Mewujudkan pelayanan bagi keutuhan manusia agar semakin sesuai dengan citra Allah sebagai tanda kehadiran kerajaan-Nya.

4. Menanggapi tantangan zaman dalam kegembiraan dan kesederhanaan, dengan berpihak pada mereka yang menderita karena ketidakadilan.

Setelah hampir 90 tahun karya kerasulan suster-suster CB di Indonesia itu berlangsung, banyak perkembangan bisa dilihat. Karya pelayanannya tidak hanya terbatas pada karya pelayanan rumah sakit, tetapi juga karya pendidikan sekolah, karya pendampingan kaum muda di asrama-asrama, dan karya-karya sosial yang lain. Pada awal karya pelayanan suster-suster CB dimulai, Bunda Elisabeth selalu memohon kepada Tuhan untuk tambahnya tenaga kerja yang dapat ikut terlibat dalam karya pelayanannya, karena dirasakan bahwa pekerjaan makin bertambah banyak. Tetapi sekarang para suster CB di Indonesia sudah bisa bergembira karena mereka sudah mendapat semakin banyak teman; dan jumlah anggota Tarekatnya sudah mencapai kurang lebih 400 orang yang tersebar di seluruh Provinsi Indonesia. Tetapi, doa Bunda Elisabeth itu rupa-rupanya juga tidak akan pernah berhenti didoakan oleh banyak para suster yang lain, karena karya kerasulan mereka semakin meluas tidak hanya di Netherland, dan di Indonesia, tetapi juga menjangkau wilayah-wilayah karya misi baru di Cina, di Vietnam, di Kenya, di Australia, di Mexico, di Brasilia dan sekitarnya.

***

Pada bagian akhir dari tulisan ini, perkenankan penulis mengutip sambutan dari Pastor Fleercher pada pesta perayaan ulang tahun Rumah Sakit St. Carolus Jakarta yang ke-25, yang memberikan dukungan kepada para suster CB yang dengan penuh semangat telah mengembangkan karya pelayanan mereka di propinsi Indonesia ini: “Pekerjaan anda di sini bukan hal yang mudah, dan juga tak akan pernah mudah, tetapi itu merupakan kebahagiaan dan juga ketenteraman. Kita memang tahu bahwa Kerajaan Surga merupakan kekuatan, dan kita juga tahu bahwa yang tangguh akan memenangkannya. Dengan pertolongan rahmat Tuhan anda sekalian akan tetap berusaha untuk mencapai yang hebat itu, menurut tradisi anda sendiri, yang diwariskan oleh pendiri anda yang sangat terhormat, yang mengajukan keutamaan indah sebagai dasar dari tradisi: caritas et humilitas, cintakasih dan kerendahan hati.”

Caritas et humilitas – yang berarti: cintakasih dan kerendahan hati – adalah dua kata yang dapat merumuskan secara singkat mengenai semangat dan jiwa para suster CB dalam hidup dan karya pelayanan mereka, suatu tradisi yang diwariskan oleh Sr. Elizabeth Gruyters, bunda pendiri Tarekat Suster-suster Santo Carolus Borromeus ini. Semoga dalam perjalanan sejarah sampai saat ini dan di masa yang akan datang motto Caritas et humilitas ini masih tetap diingat dan menjadi sumber semangat bagi para suster CB dalam rangka mewujudkan visi dan misi Tarekat sesuai dengan suri tauladan Bunda Elisabeth yang tercinta. Proficiat untuk Suster-suster Cintakasih Santo Carolus Borromeus di Indonesia, dan selamat berkarya di bumi Indonesia tercinta. Selamat berpesta dan berulangtahun yang ke-174, nanti pada tanggal 29 April 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar